Mohon maaf cerita ini dalam tahap revisi. Jika menemukan judul dengan tanda (#), harap dilewati dulu karena isinya pasti ngacoh.
***
"Jadwal hari ini ke mana aja, Kak?" tanya Allen sembari mengutak-atik layar tabletnya. Macetnya kota Jakarta membuat mobilnya butuh lama untuk sampai ke tempat tujuan. Allen tak pernah menghapalkan jadwalnya kecuali jam pulang aja. Dia tinggal jalan sesuai arahan manajernya saja.
"Ada meet and great buku autobiografimu di Gramedia sampai jam dua belas. Setelah dhuhur ada pemotretan untuk sponsor outfitmu. Terus talk show setelah magrib. Oh ya, apa kamu udah baca tawaran skrip filmnya Sutradara Jay yang baru? Mereka menunggu keputusanmu mau ambil perannya apa nggak."
"Ambil aja asal bukan genre horor. Kalau Sutradara Jay aku percaya 1000% bakal box office."
Allen mengambil bantal leher berwarna pink berbentuk ulat yang diberikan Sherina tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun lalu melingkarkan benda itu di lehernya. Allen tersenyum kecil karena teringat Sherina. Belum apa-apa dia sudah kangen aja. Bagi Allen bermain bersama Sherina dan melihat gadis itu terus tumbuh adalah rekreasi yang mahal harganya.
Allen mengambil juga buku autobiografinya. Bohong sebenarnya kalau bilang ini autobiografi karena penulis sebenarnya adalah Sherina. Allen cuman ngebacot aja di sebelahnya sambil nyuapin Sherina kacang pilus. Senang sekali dia waktu itu karena mendapatkan cuti seminggu dari segala aktivitas untuk menulis buku ini. Allen langsung ngajakin Sherina kabur ke Pulau Karimunjawa dengan alasan biar fokus menulis. Meskipun mereka sulit keluar dari hotel karena takut kejaran paparazi itu adalah momen yang berharga bagi Allen.
Apa sebaiknya dia merilis buku kedua ya? Penerbit dan agensinya sepertinya bakal setuju saja. Penjualan buku ini saja sudah sampai satu juta kopi dalam tiga bulan terakhir. Wajar saja sih. Bukunya memang bagus. Penuh filosofi dan motivasi bagi orang-orang yang tengah mengejar impiannya. Allen bahkan kaget bacotannya yang tanpa arah itu bisa jadi sangat bermakna di tangan Sherina. Popularitas Allen pun makin meningkat berkat buku ini. Masalahnya Sherina mau nggak kalau disuruh nulis lagi? Allen tidak mau memaksakan Sherina untuk melakukan hal yang nggak dia suka.
Sherina menolak identitas dirinya di ekspose sebagai penulis. Dia meminta Allen mengaku buku itu sebagai karyanya sendiri saja. Sherina bilang dia menganggap buku itu adalah hadiah ulang tahun untuk Allen tahun ini. Allen masih ingat bagaimana susahnya dia merayu Sherina untuk mendapatkan haknya atas buku yang dia tulis.
"Sher, kamu nggak merasa rugi? Ini bukumu terjual satu juta kopi loh! Setidaknya kamu kan bisa pake nama pena."
Dengan santainya Sherina menjawab. "Rugi apa? Duitmu dan duitku juga. Malah kamu yang rugi kalau itu jadi duitku, karena aku nggak bakal kasih ke kamu. Lagian bukunya juga nggak akan selaris itu kalau isinya bukan tentang kamu."
Allen tersenyum kecil. Dia tak menyangka mantan calon Tantenya itu ternyata menganut filosofi Giant, salah satu tokoh di anime Doraemon yang mengakar kuat. Yah, ucapan Sherina memang tidak salah. Segala yang Allen miliki pasti akan rela dia berikan untuk bocah itu. Allen meletakkan buku autobiografinya itu ke atas pangkuannya. Ini adalah buku yang sangat berharga karena ditulis oleh orang yang berharga.
***
Barisan orang mengantri untuk membeli autobiografi dan mendapatkan tanda tangan dari Allen. Allen tak menyangka sih, bakal seramai ini acaranya. Padahal bukunya kan bukan barang baru. Sudah keluar dari tiga bulan lalu. Ternyata masih ada aja orang yang beli ya? Tentu saja Allen tidak akan membiarkan para fans yang sudah mengantri sia-sia. Dia selalu memberikan fans servis secukupnya dengan skinship yang sangat disukai makhluk-makhluk itu seperti di pegang tangan atau dielus rambutnya. Yang tak terduga, Pak Sastro tiba-tiba muncul di depannya. Allen sampai tercengang.
"Halo, Allen," sapa pria berusia empat puluhan itu dengan senyuman sinis khasnya.
"Oh ... Pak Sastro, apa kabar?" Allen mengembangkan senyum terpaksa. Dia benci wartawan dari K-media itu. Pria yang selalu saja penasaran pada kehidupan pribadinya. Bahkan dia juga sempat mengikuti Allen ketika dia dan Sherina berlibur Ke Karimun Jawa. Benar-benar orang yang menyebalkan.
"Kakiku agak capek setelah kelamaan mengantri," ucap Pak Sastro.
"Mungkin Bapak kurang olahraga," balas Allen ramah, padahal dalam hatinya dia misuh-misuh. Siapa juga yang suruh dia ngantri!
"Bapak ternyata cukup senggang ya, sampai punya waktu untuk datang ke meet and great saya," sindir Allen, padahal hatinya dia mencemooh pria itu sebagai pengangguran. Apa dia nggak punya kerjaan lain selain menguntit Allen.
"Ya, ini kan buku yang sudah terjual satu juta kopi lebih. Aku kan harus punya juga. Aku nggak menyangka sih ternyata kamu bisa menulis sebaik ini. Kamu pasti sukses juga kalau menjadi jurnalis," senyum Pak Sastro ramah. Allen tertawa kering. Dia tahu orang ini menyindirnya. Tidak mungkin Allen yang drop out dan tidak berpendidikan mampu menulis sebagus ini. Pasti dia mau menuduh Allen menggunakan jasa ghost writer. Ya, itu tidak salah juga sih. Tapi menggunakan jasa ghost writer kan bukan dosa juga toh penulis aslinya yang memang tidak mau namanya di ekspose.
"Saya lebih senang berada di depan kamera daripada di depan layar komputer," jawab Allen sekenanya.
"Begitu ya? Ngomong-ngomong apa kamu ada waktu untuk wawancara sebentar, Allen?" tanya Pak Sastro lagi.
Allen mendengus. Dia menandatangi buku milik Pak Sastro dengan asal-asalan lalu menyerahkan pada orang itu.
"Anda bisa tanyakan pada manajer saya di sana, Pak. Di belakang Anda sudah banyak yang mengantri." Allen menunjuk Dadang yang berdiri di pojokan. Pria itu memelototi Pak Sastro dengan tajam.
Pak Sastro tidak bisa berkata apa-apa meskipun kesal. Apalagi cewek-cewek yang berdiri di belakangnya mengomel karena dia terlalu lama mengobrol dengan Allen.
Allen menghela napas setelah orang menyebalkan itu pergi. Senyumnya pun kembali terkembang pada barisan fans lain yang mengantri untuk meminta tanda tangannya.
***
"Uh, apa aku kena sindrom carpal tunnel? Tanganku sakit sekali. Berapa buku yang aku tanda tangani hari ini kayaknya nggak ada habisnya," keluh Allen sembari memijat tangannya yang nyeri.
"Kata panitianya hari ini terjual seribu tiga puluh dua ekspemlar," sahut Dadang
"Apa! Pantas saja tanganku sakit sekali!" Allen memberengut.
"Jangan mengeluh, itu kan uang. Nanti malam kamu bisa minta dipijat Sherina. Dia kan juga sudah bertanggung jawab karena sudah menulis bukunya," kekeh Dadang.
Ekspresi kesal Allen seketika berbinar-binar. Benar! Bagus juga idenya manajernya itu. Allen jadi ada alasan untuk bermanja-manja nanti malam. Dadang tertawa melihat Allen yang kegirangan. Allen itu emang orang yang simpel.
"Ngomong-ngomong Pak Sastro dari K-media tadi ikut mengantri. Dia bicara apa padamu?" tegur Dadang.
"Nggak penting. Dia minta waktu buat wawancara seperti biasanya. Aku suruh dia tanya aja sama, Kakak. Karena Kakak yang lebih tahu jadwalku. Dia tanya juga Kakak?" tebak Allen.
"Ya, tapi aku tolak. Aku bilang jadwalmu padat," desah Dadang. Dia juga pusing kalau sudah berurusan dengan wartawan senior yang menyebalkan itu.
"Makasih, Kak. Kakak tahu aku banget," senyum Allen senang.
"Ya udah, ayo buruan kita pergi ke lokasi pemotretan. Kalau dia melihat kamu bersantai di sini nanti dia jadi punya alasan merong-rongmu lagi," tutur Dadang.
"Ah, tunggu, aku mau ke toilet sebentar."
Allen berpamitan dan menuju toilet. Setelah selesai menuntaskan hasratnya. Cowok itu mencuci tangan di wastafel. Tahu-tahu pintu toilet terbuka dan Pak Sastro muncul dari sana. Pria itu tersenyum lalu berdiri di sebelah Allen untuk mencuci tangannya.
"Kita memang berjodoh ya, Allen. Kita sering sekali bertemu," senyum Pak Sastro.
Allen tertawa terpaksa. "Tolong jangan bicara yang membuat merinding begitu."
Pak Sastro terdiam sejenak ketika melihat Allen menggulung lengan kemejanya. Seringaian lelaki itu terkembang.
"Aku kira kenapa kamu pakai lengan panjang di cuaca sepanas ini, Allen. Ternyata untuk menutupi itu ya. Apa pacar barumu sedikit ganas?"
Allen mengerutkan kening. tak mengerti maksud wartawan itu. Ketika melihat lengannya, barulah netra Allen terbelalak. Dia baru ingat pada bekas gigitan Sherina yang memerah pada lengannya. Tidak! Dia dalam masalah besar!
***
Halo Kakak-kakakku yang baik hatinya. Terima kasih sudah menemukan dan membaca cerita ini. Jangan lupa di love dan komen ya, biar diriku semangat nulisnya. Mampir juga ke cerita aku yang lainnya yak. Jika sudi, silakan follow i********: aku @shietadm
***