Valerie membelokkan mobil Mercedes-Benz putihnya menuju basement sebuah perusahaan properti terkenal yang dibawahinya dan terletak di pusat kota New York. Setelah mengambil tas bahunya dan beberapa map yang ia bawa, langkahnya kembali ke atas dan berlanjut menuju pintu masuk.
Langkah jenjangnya seakan tercekat begitu melihat sesosok pemuda tampan dengan jaket kulit hitam yang menutupi kaus putih polos dipadupadankan dengan jins yang mencetak jelas paha berototnya, sedang berdiri santai di depan pintu masuk sambil menghisap batang tembakau yang ada di tangannya. Pemuda itu melemparkan senyum manisnya dari sana membuat Valerie kembali tertarik pada kesadarannya.
"Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Valerie langsung dengan wajah tidak suka yang hanya dibalas kekehan "Kau tidak suka ? Padahal aku ingin mengejutkanmu "
Valerie berdecak pelan "Kau benar. Aku memang sangat terkejut melihatmu." matanya turun pada rokok menyala yang masih bertengger manis di sela-sela jari pria di hadapannya "Kau tidak bisa baca ? Dilarang merokok."
Ryan yang masih dalam senyumnya langsung menoleh mengikuti pandangan Valerie "Aku tahu. Hanya aku belum merokok sejak kemarin, jadi— tapi baiklah." ia menjatuhkan rokoknya yang tersisa sedikit lalu menginjaknya dengan sepatu kets yang ia pakai "Jadi benar ini perusahaanmu." wajahnya kembali ia angkat setelah puntung rokok itu terinjak sempurna.
"Darimana kau tahu ?" tanya Valerie yang langsung merasa bodoh di detik berikutnya. Padahal pria itu bisa saja bertanya pada teman-temannya atau juga pada William mengingat mereka semua berteman baik. Ryan sepertinya tahu akan hal itu karena ia tidak menjawabnya dan terus menebarkan senyumnya di hadapan Valerie yang terdiam dengan wajah ketus.
"Aku sudah titipkan sesuatu di resepsionis untukmu. Jangan lupa untuk mengambilnya."
"Apa yang kau titipkan ?" Ryan mengedikkan bahunya sambil tetap tersenyum hangat "Kau bisa lihat sendiri nanti. Dan— sepertinya kita akan sering bertemu setelah ini."
Valerie menautkan alisnya curiga. Ia bukannya tidak tahu kalau Ryan adalah seorang pria ambisius yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hal yang ia inginkan, termasuk— "Kenapa ?"
"Berbincang seputar bisnis mungkin ? Akan ada proyek besar sebentar lagi dan aku yakin kau tahu tentang itu." Valerie mengangguk samar "Lalu kau akan mengaturnya sendiri ? Biasanya kau suruh orang lain mewakili dirimu." Ryan kembali terkekeh mendengarnya, menampilkan deretan gigi rapinya yang sangat menawan "Aku terkejut kau banyak tahu tentang itu Nona. Aku memang sedikit malas untuk mengaturnya sendiri, tapi—" matanya kembali menatap iris coklat di hadapannya nakal "Sepertinya akan jadi pekerjaan yang menyenangkan jika mengerjakannya bersamamu."
Valerie menghela napas sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal. Ia berani bersumpah tubuhnya mendadak geli karena kata-kata juga senyum aneh yang ditujukan padanya itu, dan beruntung Ryan segera mengurainya lalu undur diri dari hadapannya.
"Baiklah, aku harus ke kantor sekarang." Valerie mengangguk tipis lalu tersenyum lega dalam hatinya. Ryan menepuk lengannya pelan "Jaga dirimu sayang." pesannya dengan nakal yang otomatis membuat rona di kedua pipi Valerie muncul bersamaan. Dengan santai pria itu melenggang menuju motornya yang ia parkirkan persis di dekat pintu masuk, memakai helm nya, lalu mengerlingkan mata genitnya sebelum benar-benar berlalu dari situ. Valerie akhirnya bergidik geli dan dengan cepat masuk ke dalam tower.
Dahinya mengernyit bingung begitu melihat isi dari kantung hitam kecil yang diberikan padanya dari Ryan tadi. Ada sebuah kotak berisi cookies-cookies berwarna warni disana, dan segelas s**u putih hangat. Tangannya mengambil secarik kertas yang tergeletak di dalamnya.
Aku harap kau menyukainya. Sarapan baik untukmu, lain kali kita akan sarapan bersama.
Love. Ryan
Valerie hanya mendengus sinis sambil mengedikkan bahunya. Seorang pria yang senang bermain dengan wanita seperti Ryan memang mudah sekali mengumbar kata-kata manis apalagi kata-kata cinta yang menurutnya krusial dan— kau tidak bisa dengan sembarang memberikannya pada semua orang. Itulah cinta yang sesungguhnya. Dan apa yang ia dapat dari seorang Ryan hanyalah nafsunya pada wanita yang sangat menggebu-gebu, seakan seluruh hal itu sudah mencandu dalam darahnya seperti hormon.
Setidaknya begitulah sekilas hal yang ia dapat dari pria playboy bernama Ryan Addison. Dan jauh darisitu, pria ini sudah kembali di ruangannya dengan cepat. Setelah menghabiskan waktu bersiap di kamar pribadinya yang terhubung dengan ruang kerjanya, Ryan kembali berjalan keluar dengan setelan jas mahalnya, jam tangan, dan oxford shoes coklat dengan motif kancing berwarna emas mengkilap yang membuat pesona dalam dirinya semakin mencuat ke luar.
Aroma parfum mahal yang dipakainya menguar ke seluruh penjuru ruangan seiring langkahnya berjalan kembali ke meja kerjanya.
Tubuhnya segera ia hempaskan ke kursi empuknya lalu mulai melihat banyaknya proposal yang harus ia tanda-tangani. Sebelah tangannya membuka laptop miliknya dan mata tegasnya mulai meneliti semua pekerjaan itu perlahan. Beginilah kehidupan yang jarang dilakukan seorang Ryan Addison. Duduk manis di balik meja kerjanya dan mengerjakan banyak hal sendirian. Biasanya ia memang selalu meminta orang lain yang mengerjakannya dengan iming-iming bonus yang cukup tinggi, setidaknya kau bisa membeli satu tas gucci yang kau inginkan di pusat kota dengan uang itu. Tapi pikirannya yang terus memikirkan Valerie sejak perjumpaan terakhirnya semalam dan tadi pagi, membuatnya bersemangat untuk kembali mengerjakan semua pekerjaannya dengan berharap wanita cerdas itu akan terpesona pada dirinya.
Ya, William banyak bercerita tentang wanita itu. Ryan tersenyum lega saat tahu mereka hanya sahabat dekat meski William sebenarnya menyukai Valerie sejak lama. Ia adalah wanita dengan tipikal serius dan punya selera humor yang rendah. Kerjanya hanya duduk di balik meja kerja dan menyelesaikan semua pekerjaannya sendirian tanpa bantuan orang lain. Ryan mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan itu, menarik.
ddrrtt.. ddrrtt..
Ryan melirik sekilas pada ponselnya yang menunjukkan nama wanita malamnya yang kesekian lalu dengan acuh mengalihkan pandangannya lagi. Tapi tidak lama ponselnya kembali bergetar dan memunculkan nama Cassie, lalu Gloria, Ivana, dan beberapa lainnya yang ia bahkan lupa pernah mengenal mereka atau bercinta dimana. Tidak, bukan bercinta serius seperti yang kalian bayangkan. Ryan adalah tipikal pria yang tidak mau mendobrak keperawanan wanita, meski nyatanya ia mencumbu mereka dengan nafsu bejatnya yang tidak kunjung habis.
Dan sepertinya semua wanita itu menyukainya, dan juga uangnya. Begitulah wanita.
Ryan menaikkan satu sudut bibirnya saat wajah Valerie kembali terbayang dan melintasi benaknya. Wanita itu tidak terlalu cantik, hanya ada sesuatu dalam dirinya yang membuat mata liar seorang Ryan jadi terpesona hingga jatuh hati padanya. Dan sekuat apapun ia menepis bayangan itu, wajahnya akan selalu muncul dan membuatnya bermimpi dapat hidup dengannya suatu saat nanti.
Bukankah aneh ? Seorang playboy ulung yang takut akan komitmen, kini menginginkan adanya status abadi dalam hidupnya bersama seorang wanita.
Ryan menggeleng "Tidak aneh jika aku benar-benar menginginkannya."
*
"Anda akan bertemu dengan perwakilan dari G****** Company seperti biasa Nona. Saya sudah memintanya untuk membawa proposal lengkapnya yang sebagian telah saya kirimkan pada e-mail anda." Valerie manggut-manggut mendengarnya sambil memeriksa puluhan e-mail yang baru saja dikirim itu "Baiklah, terima kasih. Kau boleh keluar."
Wanita dengan rok span dan blazer berwarna senada itu mengangguk sopan lalu berjalan keluar ruangan, meninggalkan Valerie yang kembali terfokus pada pekerjaan di hadapannya. Pikirannya tiba-tiba melayang pada pertemuannya dengan Ryan pagi tadi. Ia ingat pria itu sempat katakan kalau ia akan sering berbincang dengannya untuk urusan bisnis, dan— Valerie melirik sekilas jadwal besar yang ada di dekat laptopnya. Lalu menghela napas pelan begitu melihat nama perusahaan yang dibawahi pria itu terdapat pada jadwal keesokan harinya.
Apa dia benar-benar akan datang ?
Valerie nampak berpikir untuk beberapa saat. Ia tidak begitu nyaman untuk berada lebih dekat dengan pria itu dalam waktu yang lama. Di tempat ramai saja pria itu masih bisa menggodanya, bagaimana jika di tempat yang sepi seperti ruangannya saat ini ? Decakan pelan terdengar setelahnya "Apa lebih baik aku meminta wakilku saja yang menemuinya ?" padahal menurutnya itu adalah sikap yang tidak profesional dalam bekerja. Sesama pemimpin harus bertemu dan bertatap muka langsung untuk saling membicarakan masa depan kedua perusahaan melalui proyek yang dijalankan bersama. Dan selama karirnya sebagai seorang CEO, Valerie belum pernah minta diwakilkan seperti itu. Meskipun ia sakit.
Ia kembali berdecak kesal lalu menggerutu dalam hatinya "Bagaimana ini ?" tangannya mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan pada seseorang setelah berdiam diri untuk memikirkan keputusan yang akan diambilnya.
Aku tidak mau bertemu dengannya.