"Yang akan datang seperti biasa Nona, Tuan Peter."
Valerie mengangguk-angguk pelan. Niatnya untuk minta diwakilkan langsung lenyap begitu mendengar Sarah, sekretarisnya memberitahu jika perusahaan yang dibawahi Ryan itu tidak akan mendatangkan pemimpin mereka seperti yang pernah dikatakan Ryan padanya waktu itu. Lega, Valerie bisa kembali tersenyum dan membaca semua proposal yang ia terima dengan tenang.
"Saya sudah siapkan minumannya di meja, dan— jika Tuan Peter sudah datang, saya akan langsung antar dia kesini." Valerie mengangguk lagi. Sarah memang salah satu karyawannya yang sangat rajin dan cekatan, dan ia suka dengan etos kerja yang baik seperti itu "Baiklah, terimakasih." Sarah mengangguk sopan sebelum kembali berjalan keluar ruangan.
Valerie kembali mengedarkan pandangannya pada seluruh lembaran-lembaran kertas di hadapannya lalu merapihkannya perlahan. Setelahnya ia kembali larut dalam banyak proposal yang harus ia pelajari hingga tak sadar tiga puluh menit telah berlalu dan membawa perwakilan perusahaan itu untuk datang dan menemuinya.
tok.. tok.. tok..
Sarah langsung muncul setelahnya dan mengabarkan jika orang yang ia tunggu sudah datang. Dengan segera Valerie mempersilahkannya masuk dan melangkah keluar dari meja kerjanya. Matanya terbelelak sempurna dan tubuhnya reflek menegang saat melihat seorang pria tampan dalam balutan setelan jas mahal yang sangat rapi, berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia menaikkan satu sudut bibirnya nakal dan sempat-sempatnya memandangi Valerie yang masih mematung dari atas hingga bawah, membuat wajah wanita itu memanas dengan sendirinya.
"Aku permisi Nona." suara Sarah seakan menyadarkan keduanya. Tanpa berbasa-basi, Ryan segera duduk di sofa yang telah ditunjuk oleh Sarah sebelumnya. Mau tidak mau, Valerie ikut berjalan menuju sofa itu dan duduk di hadapannya sambil menggerutu dalam hati atas sebuah penipuan ini. Tadi bukankah ia dengar Tuan Peter yang akan datang ? Lalu mengapa—
"Jika aku katakan aku yang akan datang, kau pasti tidak mau menemuiku kan ?" wajah Valerie yang tiba-tiba merona karena ketahuan itu langsung membuat Ryan tergelak dalam hatinya.
Bagaimana dia bisa tahu isi kepalaku ? Bahaya sekali , Valerie hanya bisa menghela napas pasrah. Tidak mungkin ia memanggil wakilnya untuk menggantikannya dalam pertemuan ini. Dan fakta kalau si pemimpin tampan itu sengaja datang hanya karena dirinya juga saat ia mengetahui rencananya untuk menghindar, membuat Valerie makin mengurungkan niat terselubungnya. Ya. Sebagai seorang CEO, ia harus profesional apapun yang terjadi.
Tapi lihat yang ia lakukan sekarang ? Masih membisu sambil memandangi pria di hadapannya yang terus menebar senyumnya dengan tidak suka.
"Kau menipuku."
"Menipu ? Aku bahkan baru datang." Valerie menggeleng tipis "Kau bilang yang datang bukan dirimu, lalu kenapa tiba-tiba kau yang— ah, sudahlah." suara tawa membalas rangkaian gerutuan itu dengan singkat "Jane sudah kirimkan proposalnya padamu kan ? Maksudku— dia mengirimkannya pada Sarah, sekretarismu."
Valerie mengangguk "Semua sudah k****a, hanya saja beberapa belum. Mungkin kita bisa membahasnya hari ini."
"Sekretarismu itu—" Ryan menyeringai tipis "Apa dia sudah punya kekasih ?" Valerie yang baru saja menuangkan teh ke dua gelas langsung mendesah pelan mendengar itu "Kau bisa tanyakan langsung padanya." aneh, bisa-bisanya di pertemuan penting seperti ini seorang Ryan justru menanyakan hal lain yang sangat privasi semacam itu.
"Yah, dia memiliki tubuh yang bagus. Aku suka melihatnya." gurau Ryan yang terus memandangi wajah wanita di hadapannya. Tangan lentik yang mengangkat guci keramik itu membuatnya penasaran bagaimana jika tangan lembut itu menyentuh wajahnya atau tubuhnya yang berdesir panas karena lagi dan lagi mata liarnya menangkap siluet belahan d**a dibalik kemeja putih berlengan panjang yang ia pakai. Lalu matanya turun memandangi lekukan pinggangnya yang makin terlihat karena model celana highwaist berwarna hitam yang digunakannya.
Ah... sepertinya aku mulai terobsesi padanya.
Valerie kembali menarik tubuhnya dan mempersilahkan Ryan untuk mengambil gelas miliknya dengan sebelah tangan "Silahkan." Ryan mengambil gelas itu lalu meminumnya sementara Valerie kembali ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa proposal diikuti gerakan mata Ryan yang nyaris tidak berkedip melihat b****g padat yang bergerak berdampingan dengan indah itu sampai akhirnya ia mengalihkan pandangannya lagi saat wanita itu kembali berjalan ke arahnya. Ryan tertawa dalam hati karena kepalanya yang mulai tidak waras karena terus melihat pemandangan semacam ini.
"Setelah membaca semuanya— " Valerie terdiam sesaat lalu mengangguk-angguk saat membaca beberapa baris tulisan di hadapannya "Aku setuju dengan jangka waktu dan pembagian kerja yang kau tuliskan, hanya saja— tidakkah profit share untukku terlalu besar ?"
Ryan mengangkat satu alisnya pura-pura bingung. Ia tahu bagian yang dimaksud dan sebenarnya ia memang sengaja menuliskannya semalam "Benarkah ?" tanyanya yang langsung dibalas anggukan tipis. Iris mata coklat Valerie kembali menelusuri kata-kata yang dibacanya "Disini tertulis kalau kau mau pembagiannya jadi 90:10 . Perusahaanku dapat 90, dan kau hanya 10." ia mengangkat wajahnya kembali "Apa kau salah menulisnya ?"
Ryan menggeleng sambil tersenyum menggoda membuat Valerie keheranan dengan tingkahnya "Kita bisa membaginya 50:50 atau 55:45 atau berapapun agar semua terbagi rata dan kau menyetujuinya." Ryan sejenak terdiam dan berpikir lalu suara seringaian terdengar setelahnya, ia beranjak dari tempatnya dan pindah duduk ke hadapan wanita yang sejak tadi memenuhi bayangannya.
Reflek, Valerie sedikit menjauhkan dirinya dari Ryan yang tiba-tiba duduk sangat dekat dengannya "Aku sudah katakan aku tidak salah menulisnya." tuturnya lembut. Penciumannya yang kembali menangkap aroma manis yang menguar dari tubuh wanita itu perlahan membuat gairah dalam darahnya meletup-letup dan desiran panas yang menjalari hatinya tidak bisa terlewatkan. Ryan memarahi dirinya sendiri karena mulai berpikir terlalu jauh mengenai wanita yang kini sedang memandanginya bingung.
"Kau yakin ? Keputusan ini bisa merugikan perusahaanmu." Ryan menyandarkan kepalanya pada sofa sambil tetap memandangi Valerie lembut "Apapun untukmu sayang. Bahkan kau bisa mengambil semua keuntungannya jika kau mau."
Valerie menggelengkan kepalanya malas "Semua tidak bisa kau samakan dengan hal semacam itu Ryan. Kau seorang pemimpin, dan kau harus bisa berpikir bijak untuk memutuskan hal penting seperti ini." mendengar itu, Ryan jadi tertawa pelan melihat dirinya yang semakin terobsesi dengan kecerdasan wanita di hadapannya "Kau tahu ? Kau sangat pandai menjadi seorang pemimpin." pujinya yang sama sekali tidak digubris "Aku membayangkan jika seandainya kau jadi ibu dari anak-anakku, mereka pasti akan tumbuh dengan baik sepertimu." Valerie melirik tajam mendengarnya "Bisakah kita fokus pada pekerjaan dulu Tuan Addison ?"
Iris mata coklat Valerie yang berkilat langsung membuat Ryan tergelak. Belum pernah dalam hidupnya ada wanita yang berani memberikan tatapan seperti ini padanya. Dan ia sangat menyukainya, sebuah pengalaman baru yang sungguh menyenangkan.
"Baiklah." Ryan menarik tubuhnya mundur dan sedikit menjauh. Valerie kembali membaca proposal yang ada di tangannya lalu meneliti beberapa bagian "Aku akan meminta Tuan Peter menggantinya jadi 50:50 jika kau tidak mau merubahnya. Perjanjian itu juga memiliki namaku disana dan aku belum menandatanganinya." tangannya menutup proposal itu dan meletakkannya di atas meja "Jadi, masih ada beberapa hal yang bisa dirubah karena keteledoranmu. Kau paham ?" Ryan mengangguk samar dengan senyum sumringah. Ia senang sekali memandangi wajah serius Valerie, atau mata berkilatnya yang marah bersamaan dengan kedua rona yang muncul pada pipinya. Menawan.
"Mau makan siang bersama ?" tawar Ryan yang langsung dibalas gelengan "Bagaimana dengan—"
"Maaf, aku masih banyak pekerjaan setelah ini." setelahnya Valerie mulai merapihkan beberapa proposal yang dibawanya hingga akhirnya terhenti saat Ryan menarik sebelah tangannya. Tatapannya yang begitu lembut sempat membuat Valerie terhenyak sebelum kembali tersadar dan menghentakkan tangannya.
"Jangan berani-berani menyentuhku." bentaknya sambil mengacungkan satu telunjuknya. Ryan tertawa pelan "Aku hanya ingin mengajakmu keluar sayang. Kau tidak bosan disini terus ? Bekerja seharian ?" Valerie menggeleng samar "Lebih baik kau kembali ke kantormu dan kerjakan pekerjaanmu."
"Baiklah. Sesuai permintaanmu, karena aku sangat menyayangimu." Ryan langsung beranjak dari tempatnya duduk dan kembali memandangi Valerie yang kemudian bergidik geli dalam hatinya mendengar itu "Tidak bisakah kau memanggil namaku saja ? Apa aku harus memperkenalkan diriku lagi padamu ?"
Ryan tertawa "Aku ingat namamu. Tapi yang lebih aku ingat adalah, kau akan menjadi istriku suatu saat nanti."
"Lebih baik kau segera mengisi perutmu sebelum berhalusinasi yang lebih parah dari ini."
Ya, itulah pesan terakhir Valerie sebelum akhirnya Ryan benar-benar pergi dari situ. Ia benar-benar selalu bergidik geli dengan kesal jika pria itu mulai mengatakan sesuatu yang aneh-aneh padanya. Tapi ia juga bukannya tidak tahu, kalau seorang Ryan Addison bukanlah pria yang takut akan tantangan. Mengingat rasa ambisiusnya untuk mendapatkan banyak wanita, juga semangatnya yang membara membuat perusahaan yang dipimpinnya memiliki keuntungan yang meningkat drastis dalam kurun waktu 2 tahun. Dan hal itu menjadi bukti bahwa anak satu-satunya keluarga Addison itu memanglah pria yang sangat ambisius.
Dan karena itulah, Ryan segera bergerak untuk mencari keseluruhan informasi mengenai Valerie yang kini sudah memenuhi storage ponselnya sebanyak 876mb. Senyumnya terurai begitu melihat informasi baru yang diterimanya. Ia segera mengambil kunci motornya setelah memakai jaket dan mengambil helm miliknya. Kakinya segera berlari menuju motornya dan berlalu pergi membelah malam yang sudah hampir bergerak ke arah jam 12.
*
Valerie mengangkat wajahnya dari laptop di hadapannya dan terdiam sesaat. Suara ketukan di luar apartment nya sayup-sayup terdengar pada pendengarannya. Ia melirik jam dan sedikit terkejut menemukan jarum pendek yang sudah ada di jam 12. Suara ketukan itu masih terdengar. Dan dengan ragu ia melangkah keluar kamarnya lalu berjalan menuju pintu masuk. Tangan kanannya segera membuka kenop pintu di hadapannya, dan matanya terbelalak kaget.
"Kejutan !"