Bel masuk hampir berbunyi ketika Aurelia mempercepat langkahnya di koridor lantai dua. Sepatunya berdetak cepat di atas ubin dingin, napasnya sedikit terengah bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak suka datang terlambat—dalam hal apa pun. Dari balik jendela, matahari pagi menyelinap masuk, memantulkan bayangan panjang tubuhnya di dinding.
Ia berhenti mendadak saat suara tawa keras terdengar di ujung koridor.
Revan.
Axel Revan Dexantara berjalan bersama lingkaran temannya, bahu saling bersenggolan, suara mereka memenuhi lorong seolah sekolah ini milik mereka. Revan selalu mudah dikenali—rambut sedikit berantakan, kemeja tak pernah benar-benar rapi, dan aura bebas yang membuat siapa pun sulit mengabaikannya.
Aurelia tak ingat sejak kapan matanya terbiasa mencari sosok itu. Mungkin sejak pertama kali melihat Revan tampil di acara pentas seni tahun lalu. Atau sejak ia mendengar bagaimana satu sekolah membicarakannya.
Ia menjaga jarak. Bukan karena ingin menjauh, tapi karena ia tahu: terlalu dekat hanya akan membuat perasaannya terbaca. Dan Aurelia tidak suka terlihat lemah.
Revan berhenti di depan kelas 11 IPA. Salah satu temannya menepuk pundaknya, disusul tawa lagi. Sebelum masuk, Revan menoleh sekilas—entah mencari siapa, entah hanya refleks.
Pandangan mereka bertemu.
Hanya satu detik.
Namun d**a Aurelia terasa seperti baru saja diikat lalu dilepas tiba-tiba.
Revan tidak tersenyum. Tidak menyapa. Tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dan justru itu yang membuat Aurelia semakin ingin memilikinya.
---
Di sisi lain sekolah, lorong kelas IPS terasa jauh lebih tenang. Tidak ada sorakan, tidak ada kerumunan yang heboh. Hanya suara langkah kaki yang seperlunya.
Gisella Grylichia Pradipta duduk di bangku dekat jendela kelas 10 IPS 2. Punggungnya tegak, pandangan lurus ke depan, seolah dunia di sekitarnya hanya latar yang tidak perlu ia pedulikan.
“Pagi, Sel,” sapa Silvani di bangku belakang dengan wajah ruang.
Gisella mengangguk singkat. “Pagi.”
Itu saja. Tak ada obrolan lanjutan. Tak ada usaha untuk memperpanjang percakapan. Bagi sebagian orang, Gisella dikenal dingin. Bagi yang lain, ia sekadar tak tersentuh.
Gisella membuka buku catatannya, jari-jarinya bergerak rapi mencatat poin-poin pelajaran. Wajahnya datar, tapi pikirannya melayang jauh ke pagi tadi—ke lorong sepi, ke piano hitam, ke nada-nada yang sempat ia mainkan sebelum bel berbunyi.
Dan ke sosok cowok yang hampir saja menemukannya. Ia menghembuskan napas pelan, nyaris tak terdengar. "Hampir saja," gumamnya dalam hati.
Gisella tidak tahu siapa Revan sebenarnya. Ia hanya mengenalnya sebagai suara langkah, sebagai bayangan sepatu di lantai ruang musik, sebagai seseorang yang bisa menangkap kesedihan dari melodi yang ia mainkan.
Itu cukup untuk membuatnya waspada. Bel pelajaran berbunyi, menariknya kembali ke kelas. Guru masuk, pelajaran dimulai, dan Gisella kembali mengenakan topeng tenangnya.
Namun di luar kelas IPS itu, benang-benang tak kasatmata mulai saling bersilangan.
Aurelia dengan ambisinya. Revan dengan pencariannya. Dan Gisella dengan rahasia nadanya. Tanpa mereka sadari, satu melodi yang sama perlahan sedang mengikat takdir mereka bertiga.
---
Bel jam pertama berlalu. Guru Matematika mulai menuliskan rumus di papan tulis, sementara sebagian besar siswa masih berusaha menyesuaikan fokus. Di bangku belakang, Silvani sudah gelisah sejak lima menit pertama.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, mendekat ke arah Gisella.
“Sel,” bisiknya pelan tapi antusias, “lo tau nggak tadi pagi Kak Gatra senyum ke gue.”
Gisella tetap menatap papan tulis. “Hm.”
Silvani tidak patah semangat. Justru makin semangat. “Serius, loh. Senyumnya tuh—yang ada lesung pipinya. Gue sampe salah jawab absensi.”
Gisella menulis angka di bukunya. “Terus?”
“TERUS?” Silvani hampir tertawa tapi cepat menutup mulut. “Ya terus gue seneng lah! Masa lo nggak kebayang sih?”
Gisella mengangkat bahu tipis. “Kebayang.”
Jawaban itu jelas tidak memuaskan, tapi Silvani sudah terbiasa.
“Lo tuh ya, Sel. Kalo gue cerita Kak Gatra keknya lagi jatuh cinta sama tembok juga reaksinya bakal sama.”
“Dia ketua OSIS,” jawab Gisella datar. “Ramah itu bagian dari tugasnya.”
Silvani mendengus. “Ih, dingin banget sih analisis lo.”
Sebuah kursi di samping mereka bergeser. Declan Argapura baru saja duduk, membawa aroma minuman dingin dari kantin.
“Ngomongin Gatra lagi?” tanyanya santai.
Silvani langsung berbalik. “IYA LAH. Tiap hari juga.”
Declan terkekeh. “Pantesan kelas ini nggak pernah sepi gosip.”
Gisella melirik Declan sekilas, lalu kembali ke bukunya. Tidak ada ekspresi khusus.
Declan memperhatikan Gisella beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena tertarik—lebih ke rasa penasaran yang tidak bisa ia jelaskan.
“Lo nggak pernah tertarik sama siapa pun, Sel?” tanyanya spontan.
Silvani langsung menoleh tajam. “Eh jangan gitu, Clan. Gisella tuh beda.”
Gisella menghela napas pelan. “Aku tertarik sama hal yang nggak ribet.”
“Kayak apa?” tanya Declan.
“Sunyi,” jawab Gisella singkat.
Declan terdiam sejenak. Silvani mengerutkan dahi. “Ya ampun, Sel. Hidup lo berat amat.” Gisella tidak menanggapi. Tapi di dalam kepalanya, suara piano kembali terngiang. Ia merindukan nya.
" Gua bilangin Gatra lah Silvani suka sama dia, " Kata Declan jahil. Wajah babyfacenya terlihat menggemaskan.
"Ih gua cubit juga lo ntar, yang sopan dikit. Gatra Gatra engga ada embel-embel 'kak' nya, " Jawab Silvani sewot.
"Lah suka suka gua lah, wleee, " Declan menjulurkan lidah nya.
Silvani mendecak kesal, tapi sudut bibirnya ikut terangkat. “Dasar. Nih ya, Sel,” ia kembali menoleh ke depan, “kalo suatu hari Gatra tau perasaan gue dari orang lain, gue sumpahin lo yang pertama kena semprot.”
“Kenapa aku?” Gisella menoleh sekilas.
“Soalnya lo keliatan paling kalem. Orang pasti percaya kalo lo yang ngomong,” jawab Silvani asal.
Gisella kembali menatap buku. “Aku nggak ngomongin perasaan orang lain.”
Declan menyandarkan dagu di telapak tangannya. “Tenang aja, Sel. Rahasia Silvani aman… selama dia sendiri nggak bocorin ke seluruh sekolah.”
“EH!” Silvani memukul lengan Declan pelan. “Gue bisa jaga rahasia, tau.”
Declan terkekeh. “Iya, lima menit.”
Guru berdehem dari depan kelas. Obrolan mereka pun mereda. Namun di balik buku dan papan tulis, pikiran masing-masing berjalan ke arah yang berbeda.
Silvani dengan Gatra-nya. Declan dengan rasa penasarannya. Dan Gisella—dengan nada piano yang diam-diam ia simpan, takut suatu hari sunyi itu direnggut darinya lagi.
Gisella memalingkan wajah ke jendela. Cahaya siang memantul di kaca, menyilaukan, tapi pikirannya justru kembali ke ruang musik yang sepi itu. Ke tuts-tuts putih yang pernah ia tekan dengan ragu, lalu berani. Ke nada yang mengalir tanpa ia rencanakan. Sunyi yang ia maksud bukan tentang kesepian—melainkan tempat di mana ia bisa bernapas tanpa harus menjelaskan apa pun.
“Eh, Sel,” Silvani menyenggol lengannya pelan. “Lo tuh sebenernya kalo mau ngomong, ngomong aja. Jangan disimpen sendiri.”
Gisella menoleh sekilas. “Ngomong capek.”
Silvani mendengus. “Yaelah. Sok dingin. Padahal dalemnya ribut.”
Declan terkekeh, lalu memutar bolpoin di jarinya. “Tapi bener sih. Gisella tuh tipe yang kalo udah suka sesuatu, disimpen rapet-rapet.”
Tatapan Gisella menajam sebentar. “Gue nggak suka apa-apa.”
“Yaelah,” Silvani dan Declan kompak bersuara.Tanpa mereka sadari suara mereka terdengar sangat nyaring.
Pak Orzan yang sedang menjelaskan di depan kelas berhenti menulis. Spidolnya mengetuk papan tulis pelan sebelum ia menoleh dengan tatapan tajam.
“Kalian berdua,” katanya dingin, “saya tidak suka ada yang mengobrol di jam saya.”
Kelas langsung hening.
“Hormat bendera di lapangan. Sekarang.”
Silvani dan Declan saling pandang.
“Pak—” Silvani baru membuka mulut.
“Sekarang,” potong Pak Orzan tanpa ekspresi.
Mau tak mau, mereka berdiri dan melangkah keluar kelas. Begitu sampai di lapangan, matahari siang menyambut tanpa ampun.
Declan mengangkat tangan hormat dengan malas. “Ini semua gara-gara lo,” gerutunya. “Kulit gua bisa ireng kalo kebakar gini. Nanti gua nggak imut lagi.”
Silvani melirik tajam. “Najis lo. Malah nyalahin gua.”
Ia membetulkan rambutnya yang mulai berantakan. “Ihh, gua nggak mau ya kalo sampe Kak Gatra liat gua dihukum gini. Jatuh citra gua nanti.”
Declan menyeringai tanpa dosa. “Eleh. Kak Gatra aja belum tentu kenal sama lo. Peduli apa dia?”
“KENAL KALI,” bantah Silvani sewot.
Declan tertawa kecil. “Kenal sebagai… siswi yang dihukum hormat bendera?”
Silvani mendengus kesal, tapi tetap berdiri tegak. Di kejauhan, bayangan gedung sekolah memanjang di aspal.