Dua tahun kemudian
Dengan ransel di punggung, Ilana berjalan pelan menyusuri jalan di sebuah komplek. Matahari sore berpendar dan terasa hangat menerpa kulitnya. Ia tersenyum pada orang-orang yang ia temui di sepanjang jalan komplek itu hingga akhirnya sampai di sebuah rumah. Ia masuk dan langsung melihat adiknya yang sedang belajar di ruang tamu. Ia mencari ibunya yang sedang berada di ruang makan dan mengucapkan salam.
“Ilana, tadi Mamamu menelepon. Pastikan kamu menelepon balik, ya.” suara Gema, ibu tirinya terdengar dari dapur saat Ilana baru saja mendudukkan dirinya di samping adiknya. Ia merogoh saku ranselnya dan melihat ada dua panggilan tak terjawab dari ibunya. Kondisi ponsel yang disilent membuatnya tidak menyadari ada panggilan masuk itu.
Ilana menyukai keluarga barunya. Se