Halaman belakang Arya memang di tanami beberapa singkong dan pepaya , tidak terlalu banyak karena Arya hanya menanam seadanya .
" Ya , Arya!?" Teriak seseorang dari depan rumahnya , Arya menaruh singkong yang baru di cabutnya dan keluar dari kebun
" Bendot, ada apa?" Tanya Arya melihat teman nya terengah engah di depan rumahnya. Arya mengambilkan air minum dan memberikan pada bendot.
" Nich minum dulu" bendot langsung meminum air yang di sodorkan Arya
" Emang ada apa kamu sampe ngos ngosan gitu Dot?" Tanya Arya setelah Bendot selesai minum.
" Aku kesini mau ngeliat keadaan kamu, kata tetangga aku kamu di hadang Wanto lagi!" Seru bendot, ia memperhatikan Arya dengan seksama,
" Kamu ga di pukuli Wanto ?" Tanyanya melihat Arya tak terlihat terluka.
" Engga" sahut Arya
" Syukurlah, aku takut kamu kenapa napa, " Bendot menghela napas lega," kamu lagi ngapain tadi di belakang?" Tanya bendot lagi.
" Aku lagi nyabut singkong, buat makan " jawab Arya santai
" Emang kamu belum makan??" Tanya bendot lagi , Arya menggeleng
" Kamu ga punya uang?" Tanya nya lagi
" Punya , aku tadi udah beli nasi bungkus , tapi jatuh di tabrak Ningrum sialan!" Ucap Arya kesal mengingat Ningrum .
" Ha ha ha, kamu di tabrak wanita cantik kok malah kesal sih?" Bendot tertawa mendengarnya
" Huh cantik kalau buat sial terus untuk apa, buat kamu aja kalau kamu mau?" Ketus Arya .
" Kalau dia mau aku ga nolak , lagian di sukai wanita secantik Ningrum kok nolak" sahut Bendot.
" Aduuh kita ini harus tahu diri, jarak dia sama kita itu bagaimana!" Seru Arya. Ia mengambil singkong yang baru saja di cabut, dan membersihkannya bendot mengikuti dari belakang.
" Emang kenapa kamu ga suka sama Ningrum Ya?" Tanya Bendot penasaran.
" Ga, setiap ketemu dia aku itu apes , pertama ketemu aku masuk angin, ketemu lagi aku berantem sama Wanto, dan tadi malah nasi bungkus yang aku beli jatuh " tutur Arya kesal ,
" Terus nyesel kamu udah nolongin Ningrum waktu mau tenggelam?" Tanya Bendot lagi.
" Ya ga lah, menolong sesama itu udah kewajiban, eh kamu punya gerobak kan?" Tanya Arya
" Iya kenapa?" Tanya Bendot heran
" Aku sekarang ngumpulin kayu bakar nanti di jual ke pak Pujo.
" Wah ide bagus tuch?" Ucap Bendot bersemangat.
" Ya sudah besok kamu besok bawa gerobaknya, nanti kamu ikut menjual ke pak Pujo " ucap Arya .
" Siap komandan" sahut Bendot bersemangat.
" Udah simpen singkongnya, sekarang ikut aku dulu" bendot menarik tangan Arya yang masih sibuk membersihkan singkong.
" Ada apa sih,?" Tanya Arya bingung, ga biasanya bendot memaksanya.
" Di panggil ibu, ayo cepetan !" Ucap Bendot lagi tak sabar.
" Sebentar, aku rapihkan ini dulu" Arya membereskan dapurnya yang berantakan karena bekas kulit singkong .
" Emang ada apa ibu, apa ibu sakit?" Tanya Arya sedikit khawatir, Arya memang dekat dengan keluarga bendot . Ibu Aminah ibunya bendot sudah di anggap ibunya sendiri oleh Arya.
" Ibu sehat, tapi pulang dari pasar ibu langsung mencariku di suruh memanggil kamu" sahut Bendot.
"Ya sudah ayo" ajak Arya setelah selesai membersihkan dapurnya.
Rumah bendot dan Arya agak jauh , karena rumah Arya terpencil sendiri.
" Assalamualaikum" salam Arya sambil mengetuk pintu rumah, Arya celingukan karena bendot yang tadi bersamanya malah menghilang .
" Waalaikum salam, terdengar suara sambutan salam dari dalam ,
Kriiiet
pintu terbuka,Bu Aminah , ibunya bendot keluar dari dalam rumah,.
" Eh nak Arya, mari masuk" ucap Bu Aminah .
Arya duduk di sofa , Bu Aminah membuatkan air minum untuk Arya.
" Nak Arya ada apa tumben main kesini?" Tanya Bu Aminah .
" Lho, bukannya ibu yang manggil Arya Bu?" Tanya Arya bingung.
" Engga , ibu ga manggil kamu siapa yang bilang?" Tanya Bu Aminah.
" Bendot Bu?" Jawab Arya.
" Hmm, dasar anak itu yah, mana sekarang dia!" Ucap Bu Aminah , Arya nyengir karena di kerjain oleh bendot
" Tadi sama saya kemari Bu, tapi pas ngetuk pintu dia ga ada?" Sahut Arya.
" Ya sudah, kamu makan dulu sebelum pulang" ucap Bu Aminah , ia mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya.
Arya malu tapi ia juga lapar. Dengan penuh rasa terima kasih Arya menerima piring yang berisi nasi dan lauk pauknya .
Setelah makan Arya mencuci piring yang bekas makannya, ia memang selalu begitu bila di rumah bendot , dan ibu Aminah juga tak pernah melarang.
Arya pulang setelah selesai mencuci piring bekas ia makan .
Bendot ternyata sedang ngopi di rumahnya dengan santai.
" Lha kok udah di sini?, tadi kemana?" Tanya Arya ,
" He he he , sengaja kalau ga begitu kamu ga mau kerumah" Bendot hanya terkekeh kecil .
♠️♠️♠️♠️♠️♠️
Di rumah Wanto, juragan Kamso memanggil beberapa preman desa , ia berencana memberi pelajaran pada Arya yang sudah memukuli anaknya.
" Kalian cari anak ini, dan beri pelajaran" juragan Kamso mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto Arya.
"Siap juragan " ucap preman preman itu mengangguk. Setelah mendapatkan uang dari juragan Kamso dengan cepat mereka pergi dan mengatur rencana agar bisa menghajar Arya tanpa ketahuan siapa pun, akan jadi panjang bila ada yang melihat mereka memukul Arya, yang nantinya akan berurusan dengan pihak berwajib.
Arya menyusun dengan kayu kayu bakar di gerobak bendot
" Ayo berangkat " ucap Arya setelah kayu bakar tersusun rapi di gerobak.
Arya menarik gerobak itu, sedangkan bendot mendorong dari belakang.
" Itu orang yang di maksud juragan bukan" kepala preman yang melihat Arya menarik gerobak bertanya pada anak buahnya.
" Iya bos , itu anak yang di maksud juragan , ayo kita hajar" jawab salah seorang anak buahnya dan berjalan menuju Arya.
" Tunggu, ada banyak orang lagian dia ga sendiri" kepala preman itu menarik baju anak buahnya yang ga sabaran.
" Maaf bos, gatal tangan saya" ucap nya nyengir
" Kita lihat dulu, nanti kalau di tempat sepi dan sendirian baru kita bertindak." Ucap kepala preman itu.
" Ya bos," ia mengangguk .
Arya dan bendot yang tak tahu bila sedang di intai santai saja menarik gerobak sambil bercanda dengan bendot yang mendorong dari belakang.
" Wah banyak sekali" pak pujo yang melihat Arya membawa kayu dengan gerobak menjadi senang, dia bisa menyuplai semua permintaan arang dari pelanggannya . Pelanggan pak pujo yang rutin membeli biasanya pedagang pedagang ayam bakar dan juga sate, ada juga pembeli dari kota yang bila membeli sangat banyak , karena untuk di jual lagi di kota, pelanggan ini lah yang sering kebagian sedikit, karena pak Pujo memprioritaskan pedagang sate dan ayam bakar yang telah lama menjadi langganannya.
" Ini uangnya Ya" pak Pujo memberi uang selembar seratus ribuan pada Arya,
" Ga kebanyakan pak" Arya sedikit kaget mendapat uang yang lumayan banyak hanya dengan segerobak kayu bakar.
" Memang segitu, ada 3 kubik , satu kubiknya 30 ribu, yang sepuluh ribunya buat beli es, he he he" pak Pujo tertawa kecil .
" Kalau begitu terima kasih pak, kami permisi" ucap Arya berpamitan.
" Ya , hati hati , besok bawa lagi yah" sahut pak Pujo
" Iya pak " Arya dan bendot berlalu dengan senang hati mendapat uang dari pak Pujo .
" Kita beli makan dulu " ucap Arya yang melihat bendot sudah berkeringat .
" Ya , tapi di bungkus aja" ucap bendot.
Arya membeli dua bungkus nasi dan es teh ,dan di bawah pohon ia makan bersama bendot .
" Sisa uang beli makan 70 ribu, nich buat kamu 35, aku 35" Arya memberikan uang bagian Bendot, tapi bendot hanya mengambil 20 ribu saja.
" Aku segini saja, kamu yang capek nyari kayu dan narik gerobak" ucap bendot
" Ga bisa begitu ,kan gerobaknya punya kamu" protes Arya,
" Ga , segini aja, kalau ga besok ga usah make gerobak , kita panggil sama sama aja" tolak bendot, Arya mengambil kembali uang itu.
" Ya sudah, makasih yah , nanti kamu langsung pulang aja, aku mau langsung nyari kayu bakar" ucap Arya , tak jauh dari Arya dan bendot ,ternyata Ningrum sedang berjalan mengendap endap dari belakang dan memberi kode pada Bendot agar tak memberitahu Arya bila ia di belakang Arya.
" Iya , apa ga perlu di temani bawa gerobak" sahut Bendot.
" Ga bisa, kan jalan nya kecil, gerobak ga bisa masuk ke hutan" ucap Arya
" Eh jangan masuk ke hutan di luarnya saja" seru Bendot khawatir , hutan itu hutan angker kadang tiap malam terdengar suara menyeramkan .
" Iya, ya udah aku mau kesana duluan" Arya bangun hendak mengambil tali untuk nanti mengikat kayu bakar.
" Nah kena" baru saja Arya berdiri, Ningrum memeluk lengan Arya.
" Eh, lepasin, lagi lagi kamu, awas jangan dekat dekat" Arya menghentakan tangannya hingga pelukan Ningrum terlepas, Arya berlari menjauh dan langsung menuju hutan mencari kayu bakar.