Bendot tertawa melihat Arya yang seperti ketakutan dekat dengan Ningrum . Sedang Ningrum termangu sedih.
" Kalian dari mana kok bawa gerobak?" Tanya Ningrum melihat gerobak ada di samping Bendot.
" Kami baru menjual kayu bakar," jawab bendot apa ada nya.
Ningrum terdiam, ia tahu Arya tak mendapat pekerjaan di desa itu ,karena juragan Kamso memberi peringatan jangan ada yang menerima Arya bekerja kalau tidak mau berurusan dengan nya.
" Aku pulang dulu yah" pamit bendot, ia tak mau jadi sasaran Wanto karena dekat dengan Ningrum. Ningrum mengangguk.
" Aku harus mendapatkan mu Arya!" Gumam Ningrum memandang di mana tadi Arya menghilang ,ia merasa Arya berbeda ,di saat yang lain berlomba mendekatinya Arya malah berusaha menjauhinya, dia merasa kecantikannya tak berguna di hadapan Arya, membuat dia harus mendapatkan Arya .
Arya yang berlari masuk ke dalam hutan tak sadar bila ia di ikuti oleh beberapa preman yang di sewa olehj Juragan Kamso .
" Huh, kenapa ada wanita sialan itu sih, perutku jadi sakit karena berlari sehabis makan." Gerutu Arya , ia duduk di bawah sebuah pohon yang rindang . Setelah hilang penatnya Arya mulai mengumpulkan kayu bakar , berbekal dengan golok pendek yang di bawanya membersihkan kayu kayu kering dari ranting ranting kering yang masih menempel .
" Ha ha ha, ketemu juga kamu!" Para preman yang tadi sudah kehilangan jejak karena Arya berlari sangat kencang hingga mereka tak dapat menyusul.
" Siapa kalian !" Seru Arya waspada.
" Karena kamu mau mati, baiklah aku memberitahukan mu, kami orang yang di sewa untuk membunuhmu !" Teriak kepala preman itu
" Siapa yang menyuruh kalian!?"
" Tebak saja kamu punya permusuhan dengan siapa!" Ucap kepala preman itu sambil menyuruh yang lain mengepung Arya .
" Huh kan sial lagi, kalau ketemu Ningrum , ini pasti suruhan juragan Kamso." Gumam Arya dalam hati.
" Eh, juragan Kamso kok ada di sini?" Tanya Arya tiba tiba , pandangannya menatap ke belakang kepala preman, sontak para preman menengok ke belakang
" Wuush"
Arya langsung berlari menjauh begitu preman preman itu menengok.
" Kurang ajar, kejaaaar!" Kepala preman berteriak marah di kerjai Arya , karena tak ada siapa siapa di belakang, itu hanya akal akalan Arya agar mereka lengah dan ia bisa melarikan diri.
Arya berlari masuk makin dalam karena kalut ia tak tahu bila ia masuk ke dalam hutan Larangan .
Langit mulai gelap. Di balik dahan-dahan lebat pohon beringin raksasa, cahaya senja makin meredup. Arya terus berlari tanpa arah, napasnya memburu, dadanya terasa terbakar.
"Sial! Bodoh banget gua masuk ke tempat kayak gini!" desis Arya sembari menyeka keringat. Suara langkah kaki dan teriakan para preman terdengar makin dekat.
"CEPAT! JANGAN BIARKAN ANJING ITU LEPAS!" Ucap salah satu preman yang mengejarnya
Arya tersandung akar besar. Tubuhnya terguling ke tanah, menghantam bebatuan. Belum sempat bangkit, sebuah kaki menghantam perutnya keras.
" Wuut"
"Ghaaak!"
Arya memuntahkan darah. Lima preman mengelilinginya, wajah-wajah kejam mereka tampak puas.
"Berani-beraninya lo nipu kita, ya?! Mau sok pinter segala nyebut nama juragan Kamso!" bentak kepala preman, sosok kekar dengan bekas luka membelah pipi Bolang, preman bayaran paling bengis dari kota bawah.
Arya bangkit dan balas memukul
"Buk"
"Aaaah"
Bolang yang tak menduga Arya akan memukulnya terkena pukulan Arya dengan telak, Arya ingin memukul lagi
tapi pukulan lain menghantam rahangnya. Darah menetes di dagunya.
"b******n, kalian kalau emang mau ngebunuh gua, ya udah, selesaikan sini aja!" teriak Arya sambil terhuyung.
"Wah, masih bisa teriak juga. Hebat lo. Tapi tenang, kita nggak mau bikin lo mati cepet. Juragan Kamso nyuruh kita bikin lo kapok dulu" Ucap Bolang mendekat, lalu menendang Arya hingga tubuhnya menghantam pohon.
Braak!
"Argh!"
Bolang mengisyaratkan. Dua orang preman lain mengangkat Arya yang sekarat dan menyeretnya.
"Kita buang aja ke lubang setan itu, Bang! Lubang tua yang katanya tempat orang ilang zaman dulu" Saran salah satu anak buah Bolang
"Bagus! Biar bangkainya nggak ketemu!" Ucap Bolang
Dengan kejam, mereka menyeret Arya ke sebuah ceruk di tengah hutan. Lubang besar itu seperti mulut monster, gelap dan dingin.
"Buang!" Perintah Bolang
"AAARGH—!"
Arya menjerit saat tubuhnya dilempar begitu saja. Ia jatuh menabrak akar-akar dan batu tajam, hingga akhirnya terhempas ke dasar lubang yang dalam dan sunyi.
Dasar lubang itu gelap dan dingin. Aroma tanah menyelimuti udara sekitar
Arya mencoba membuka mata. Sakit. Dingin. Tapi ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Sebuah sinar samar menyala dari balik celah-celah batu. Merayap perlahan, hingga menyeruak dari simbol naga yang terukir di batu besar di sisi lubang.
Simbol itu bersinar, lalu terdengar suara berat menggema dalam benaknya.
“Kau yang terpilih. Pewaris darah marah. Warisan Naga Kemala, kini milikmu.”
Mata Arya memerah. Tubuhnya kejang. Darahnya mendidih. Suatu kekuatan kuno masuk melalui tulangnya. Jeritannya menggema seperti auman naga.
"AAAAAAAAAAAHHHHH!!!"
Arya berteriak kesakitan di dadanya terukir relief seekor Naga Kemala ,potongan ingatan tentang sang naga terukir di ingatannya
Seekor naga Kemala yang di khianati , ia terpaksa melarikan diri ke alam tengah dengan sisa kekuatannya. Ia berhasil melarikan diri namun tubuhnya terluka parah dan akhirnya ia tewas karena luka lukanya, namun sebelum tewas ia mengerahkan ilmunya dalam sebuah bola cahaya yang tadi merasuk ke dalam tubuh Arya, sebagian tenaga dalam dan ilmu ilmu nya ia sertakan ke dalam bola cahaya itu ,berharap suatu saat ada yang mempelajari dan membalaskan dendam nya . Di saat Arya pingsan setelah menerima warisan Naga Kemala tubuhnya meregenerasi sendiri, luka luka perlahan mengecil dan hilang namun tubuhnya juga mengeluarkan keringat hitam , keringat beracun dari dalam tubuhnya
Di hari kedua Arya terbangun ,
Hoek" Arya langsung mual. Ia menemukan sebuah kolam kecil berisi air jernih yang mengalir dari celah batu. Tanpa ragu, ia melompat ke dalamnya, membersihkan diri dari keringat hitam yang menjijikan. Airnya dingin, tapi tidak membuat Arya menggigil. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah seluruh energinya diperbaharui.
Setelah merasa bersih, ia melihat pantulan dirinya di air. Wajahnya yang sebelumnya tirus dan kotor kini terlihat lebih bersih dan rahangnya lebih kokoh. Matanya, yang biasanya memancarkan kepolosan, kini memiliki kilau tajam dan penuh tekad.
"Apa yang terjadi padaku?" gumam Arya.
Ia melihat kembali ke tempat ia jatuh. Di sana, sebuah mutiara sebesar kepalan tangan, berwarna merah keemasan, tergeletak di samping ukiran naga di dinding batu. Ukiran itu adalah sumber cahaya yang ia lihat sebelumnya. Begitu matanya menatap mutiara itu, sebuah gelombang ingatan menyerbu benaknya, seperti bendungan yang jebol.
Ia melihat sebuah kota di langit yang megah, naga-naga terbang di antara awan. Kemudian, kilatan pedang dan auman amarah. Ia melihat Naga Kemala, naga yang sama seperti ukiran itu, bertarung dengan makhluk-makhluk bayangan yang mengkhianatinya. Ia melihat naga itu terluka parah, jatuh dari langit ia berhasil melarikan diri ke alam tengah walau dengan tubuhnya berlumuran darah. Arya mendengar raungan kesakitan, amarah, dan pengkhianatan. Ia merasakan sakit dan amarah naga itu seolah itu adalah miliknya sendiri.
Kemudian, naga itu mengeluarkan mutiaranya, menyalurkan semua sisa kekuatan, teknik, dan pengetahuannya ke dalamnya. Mutiara akhirnya tersegel di gua ini menunggu pewarisnya, saat Visi itu berakhir, Arya merasakan sakit kepala yang berdenyut-denyut. Namun, di balik rasa sakit itu, ada sebuah kejelasan.
Ia kini tahu. Ia adalah pewaris dari warisan Naga Kemala.
"Jadi, ini bukan mimpi," Gumam Arya, ia mengambil mutiara itu. Saat di pegang Mutiara itu terasa hangat di tangannya, berdenyut dengan energi yang sama seperti yang ia rasakan di tubuhnya.
Selama beberapa hari berikutnya, Arya hidup di dalam gua. Mutiara itu bukan hanya sumber energi, tetapi juga ensiklopedia tentang kekuatan naga. Ia menemukan ingatan tentang Cincin Pusaka, sebuah cincin yang bisa menyimpan barang dan memperkuat energi naga. Setelah beberapa pencarian, ia menemukan cincin itu di sudut gua, tersembunyi di balik tumpukan batu. Cincin itu tampak seperti batu biasa, tapi saat ia memakainya, cincin itu bersinar sebentar dan terasa pas di jarinya.
Dengan bimbingan ingatan dari mutiara naga, Arya memulai pelatihannya.
Arya mencoba mengalirkan energi dari mutiara ke tangannya. Ia duduk bersila, matanya terpejam, fokus pada energi di dalam dirinya. Awalnya, energi itu terasa liar dan sulit dikendalikan. Tangannya gemetar, dan energi itu kadang-kadang meledak dalam kilatan cahaya kecil. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus mencoba, berjam-jam lamanya, hingga akhirnya ia bisa mengendalikan energi itu, membuatnya mengalir dari bahu ke lengannya, ke tangannya, lalu terkumpul di telapak tangannya.
Arya mulai mencoba teknik pernapasan naga. Teknik ini akan membantu memurnikan dan mengkonsentrasikan energi di dalam dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Setiap napas terasa seperti menyerap energi murni dari udara, dan setiap napas keluar terasa seperti melepaskan kotoran dari dalam dirinya. Setelah beberapa hari, ia mulai bisa merasakan perbedaan. Kekuatan yang ia miliki terasa lebih terkendali dan lebih stabil.
Arya mulai belajar jurus pukulan naga. Jurus ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi tentang menyalurkan energi naga ke dalam pukulan. Ia memukul udara, kemudian mencoba memukul dinding batu. Awalnya, pukulannya hanya meninggalkan bekas kecil. Tapi seiring waktu, dengan menyalurkan energi naga ke dalam tangannya, pukulan-pukulannya mulai meninggalkan retakan di dinding. Ia juga belajar teknik pertahanan dan menghindari serangan, mengingat pertarungan naga dengan para pengkhianat.
Meskipun latihannya berjalan lancar, Arya menghadapi konflik batin. Ingatan naga dipenuhi dengan amarah dan keinginan balas dendam. Naga itu ingin agar Arya membalaskan dendamnya. Di satu sisi, Arya merasakan amarah itu, ingin membalas dendam pada Wanto dan Juragan Kamso. Tapi di sisi lain, ia teringat pada Neneknya, yang selalu mengajarkannya tentang kebaikan dan pengampunan.
"Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah," bisik Neneknya dalam ingatannya.
"Kebaikan adalah kekuatan sejati."
Arya termenung. Ia tahu bahwa balas dendam buta bisa membuatnya menjadi monster. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia tidak bertindak, Wanto dan Juragan Kamso akan terus menyakiti orang lain. Ia akhirnya membuat keputusan. Ia akan membalas dendam, tapi bukan dengan membunuh. Ia akan menunjukkan pada mereka bahwa ia tidak bisa dihancurkan, dan ia akan menggunakan kekuatannya untuk melindungi yang lemah, seperti yang ia lakukan pada Ningrum.
Setelah sebulan penuh berlatih, Arya merasa siap. Tubuhnya terasa lebih ringan, pukulannya terasa lebih kuat, dan ia merasa bisa mengendalikan energi naga di dalam dirinya. Ia menemukan jalan keluar dari gua. Ternyata, lubang yang dilewati preman itu hanya pintu masuk yang tersembunyi. Ada jalan keluar lain yang mengarah ke hutan yang lebih jarang dilalui.
Di Rumahnya Bendot mondar mandir , sudah beberapa hari Arya tak kembali , semenjak pergi mencari kayu bakar.
" semoga kamu tak mengalami apa apa Arya" doa Bendot
" ha ha ha ,kamu pasti sedang menunggu anak sialan itu, ga usah di tunggu, dia sudah mati di hutan!" tiba tiba suara Wanto terdengar , Bendot dengan cepat membalikan badannya ke arah asal suara.
" kamu, apa kamu melakukan sesuatu pada Arya Wanto!!" teriak Bendot emosi
" ha ha ha, kenapa emangnya?, kamu mau lapor polisi?" lapor saja " ucap Wanto santai ia tak takut karena salah satu pamannya menjadi polisi di sana dengan jabatan yang cukup tinggi. itu membuat juragan Kamso semakin bertindak arogan .