Ia tahu kabar itu akan sampai ke telinga yang salah. Di dunia tinju pelabuhan, berita berjalan lebih cepat dari ambulans. Maka Bima tak terlalu terkejut ketika, larut malam di ruang tunggu rumah sakit yang nyaris kosong, sebuah suara halus dan terlatih menyapanya dari kursi sebelah.
"Pak Darto orang baik," kata Bang Sahrul. Ia datang tanpa pengawal mencolok, hanya satu lelaki diam di kejauhan. Setelan Sahrul rapi tapi tak mewah seperti Broto—justru itu yang membuatnya lebih berbahaya; ia tampak seperti pengusaha, seperti orang yang bisa dipercaya. "Sayang sekali. Jantung memang nggak nunggu siapa-siapa."
Bima tak menoleh. "Apa mau kamu."
"Bukan apa-apa." Sahrul duduk, menyilangkan kaki, memandang lurus ke depan seperti Bima. "Cuma kebetulan dengar. Kebetulan peduli." Ia diam sejenak, membiarkan keheningan bekerja. "Operasinya mahal, ya? Penyumbatan jantung di umur segitu. Ring jantung, perawatan intensif, obat seumur hidup. Bisa nyentuh ratusan juta kalau ada komplikasi."
Bima diam. Angka itu menghantam tepat di tempat ia paling lemah.
"Aku bisa tanggung semua." Sahrul mengucapkannya dengan ringan, seperti menawarkan kopi. "Hari ini juga. Satu telepon, kamarnya pindah ke yang terbaik, dokter spesialis terbaik di kota terbang ke sini. Pak Darto operasi besok pagi. Nggak ada antre, nggak ada nunggu galang dana yang lambat." Ia akhirnya menoleh, menatap Bima. "Semua beres. Cuma butuh satu hal dari kamu."
"Aku naik ring buat kamu."
"Sekali." Sahrul tersenyum tipis. "Satu malam. Satu pertarungan. Aku punya panggung yang jauh lebih besar dari gudang murahan Broto. Penonton kelas atas, taruhan miliaran. Si Palu Garuda kembali—orang bakal bayar mahal buat itu. Kamu menang, kamu pulang. Aku tanggung semua biaya Pak Darto. Dan—" ia menambahkan, lembut, "—aku selesaikan urusan Arga sama Broto. Aku punya cara. Anak itu bebas beneran. Semua masalahmu, hilang dalam satu malam."
Bima menatap lantai. Di balik dinding ruang tunggu itu, Pak Darto terbaring dengan selang di hidung. Lelaki yang menampungnya saat seluruh dunia menutup pintu. Dan di sini, ditawarkan dengan sopan, adalah cara menyelamatkannya. Cepat. Pasti. Tinggal mengepalkan tangan sekali lagi, di ring gelap, seperti dulu.
Tangan kanannya gemetar di pangkuan.
Ia teringat Sinta, yang berkata bahwa menghukum diri itu cara lain untuk lari. Ia teringat Arga, yang barusan memohon *jangan*. Ia teringat janji yang ia ucapkan pada bocah itu—*kamu bukan bapakmu, kamu bebas*—dan menyadari, dengan dingin yang menusuk, bahwa kalau ia naik ring gelap demi uang ini, ia justru menjadi bayangan yang ia perangi. Ia membeli nyawa satu orang yang ia sayang dengan kembali ke dunia yang membunuh nyawa-nyawa lain. Dunia yang anak-anaknya tercatat di map kusam Maya. Dunia yang ia bersumpah merobohkannya.
"Pak Darto," kata Bima pelan, "kalau dia sadar dan tahu uang operasinya datang dari ring gelap—dari darah anak orang lain—dia nggak bakal mau hidup pakai uang itu."
"Pak Darto nggak perlu tahu," kata Sahrul lembut.
"Aku yang tahu." Bima mengangkat wajah, dan matanya—mata yang dulu kosong, mata predator yang sempat mati—kini menyala dengan sesuatu yang tenang dan keras. "Dan itu cukup."
Sahrul menatapnya lama. Senyumnya tak pudar, tapi ada sesuatu yang mengeras di baliknya. "Pikir lagi," katanya, berdiri, merapikan jasnya. "Tawaran ini nggak buka selamanya. Dan jantung, Bima—" ia berhenti di ambang pintu, "—jantung nggak nunggu kamu jadi orang suci."
Lalu ia pergi, langkahnya tenang di lorong kosong.
Bima duduk sendirian, kepalan tangan yang gemetar perlahan ia buka, jari demi jari. Di luar, fajar mulai mengintip abu-abu di balik kaca jendela. Ia belum tahu dari mana uang itu akan datang. Ia hanya tahu dari mana ia tak akan mengambilnya.
Ia bangkit, melangkah ke pintu ruang perawatan, dan menempelkan telapak tangannya di kaca kecil di pintu itu, menatap lelaki tua yang tidur di balik selang-selang. "Kita cari jalan yang benar, Pak," bisiknya. "Walaupun lebih lambat. Walaupun lebih susah." Ia menelan sesuatu yang berat di tenggorokannya. "Aku nggak akan beli hidup Bapak pakai cara yang bikin aku malu ketemu Bapak nanti."
Di dalam, mesin pemantau jantung berdenyut pelan, stabil. Untuk sekarang, stabil. Dan untuk sekarang, itu cukup untuk membuat Bima terus berdiri.