Lampu lorong rumah sakit berdengung putih di atas kepala Bima. Ia duduk di kursi besi yang dingin, menatap pintu kamar 214 tempat Pak Darto berbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Tadi malam, ketika monitor jantung berbunyi panjang, Bima merasa lantai dunia retak. Pak Darto stabil sekarang. Tapi lemah. Dokter bilang biaya operasi pasang ring jantung menembus angka yang tak pernah Bima pegang seumur hidupnya.
Bayangan Bang Sahrul masih menggantung di benaknya. Tadi sore lelaki itu duduk di ruang tunggu, kaki disilangkan, jam tangan emas memantulkan lampu, menawarkan menanggung semua biaya. "Sekali naik ring buatku, Bima. Sekali. Lalu semua masalahmu lenyap."
Bima menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangan kanan itu. Tangan yang sama yang dulu menjatuhkan Reza, tangan yang menahan diri di hadapan Gento. Sekarang tangan itu gemetar bukan karena adrenalin, melainkan karena godaan.
Sinta datang membawa dua gelas kopi plastik. Ia menyodorkan satu, lalu duduk di sebelah Bima tanpa bicara. Blazernya kusut, ada lingkaran gelap di bawah matanya. Ia sudah dua hari ikut bolak-balik rumah sakit.
"Sahrul menemuimu," kata Sinta akhirnya. Bukan pertanyaan.
Bima mengangguk pelan. "Dia tahu kapan harus datang. Pas aku paling lemah."
"Kamu mau menerima?"
Bima diam lama. Di kepalanya, ia melihat dua jalan. Yang satu cepat, gelap, menuntun ke gudang pelabuhan yang berbau karat dan darah. Yang satu lambat, terang, dan tak menjanjikan apa-apa.
"Tiga tahun aku menghukum diriku," kata Bima, suaranya serak. "Kamu pernah bilang menghukum diri itu cuma cara lain buat lari." Ia menoleh pada Sinta. "Kalau aku naik ring Sahrul demi menyelamatkan Pak Darto, aku bilang ke diriku itu pengorbanan. Padahal itu cuma lari yang lebih elegan. Aku membangun lagi semuanya di atas dosa yang sama."
Sinta menatapnya. Mata tajam itu melembut. "Lalu?"
"Lalu aku menolak." Bima menggenggam gelas kopinya sampai plastiknya berderak. "Aku nggak mau Pak Darto sembuh karena uang yang dibasahi darah anak-anak di ring Broto. Dia nggak akan mau itu. Dia akan malu padaku."
Untuk pertama kalinya dalam dua hari, sesuatu seperti harapan muncul di wajah Sinta. Ia mengeluarkan ponselnya. "Kalau begitu kita cari jalan lain. Cara jujur." Jarinya bergerak cepat di layar. "Aku kenal beberapa orang. Komunitas tinju lokal, klub-klub amatir, mantan atlet. Hendra punya jaringan promotor. Kita bisa bikin pertandingan amal — eksibisi, donasi, jual tiket. Buat Pak Darto. Buat sasana."
"Siapa yang mau nonton tukang pel tua bertarung?"
Sinta mengangkat alisnya. "Bukan kamu yang bertarung, bodoh. Tapi nama. Palu Garuda buka sasana lagi untuk anak-anak kampung — itu cerita yang orang mau dukung. Aku jurnalis, Bima. Aku tahu cerita mana yang bikin orang buka dompet."
Bima menatap perempuan itu, lalu menatap pintu kamar 214. Di balik pintu itu, lelaki tua yang menampungnya selama tiga tahun terbaring dengan napas dibantu mesin. Lelaki yang tak pernah sekali pun menanyakan kapan Bima akan berhenti jadi tukang pel dan kembali jadi manusia.
"Oke," kata Bima. Satu kata. Tapi terasa seperti melepas beban dari punggungnya. "Cara jujur."
Pintu kamar terbuka. Perawat keluar, mengangguk pada mereka. "Pasien sudah sadar. Boleh masuk sebentar."
Bima berdiri. Lututnya terasa berat. Ia masuk ke kamar yang berbau antiseptik. Pak Darto membuka mata, mencari, lalu menemukan wajah Bima. Lelaki tua itu tersenyum lemah, bibirnya kering.
"Sasana... siapa yang ngepel?" suara Pak Darto nyaris bisikan, tapi nakalnya masih ada.
Bima tertawa pendek — tawa yang terasa asing keluar dari mulutnya. Ia mendekat, menggenggam tangan tua yang ringkih itu. "Aku, Pak. Selalu aku."
Pak Darto menutup mata lagi, tenang. Di luar jendela, langit pelabuhan mulai memerah pertanda senja. Bima berdiri di samping ranjang, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa berdiri di jalan yang benar — meski jalan itu menanjak dan jauh.
Di kantongnya, ponsel bergetar. Pesan dari Sinta: *Sudah kuhubungi Hendra. Dia ikut. Kita gerak besok pagi.*
Bima menatap pesan itu. Lalu menatap Pak Darto yang tertidur. Esok pagi. Jam empat, pikirnya. Seperti biasa.