***
"Kok lo belum berangkat kerja?"
Pertanyaan itu keluar dari ia, kala waktu pagi yang hampir habis itu, di salah satu perumahan kampung padi. Yang ditanya melengak, menatapnya, tersenyum hangat menambah kerupaan yang apik di wajah sang anak pertama.
"Baru bangun? Tidur jam berapa semalam?" Bukan jawaban, sambil melempar pertanyaan juga, ia merapihkan kertas-kertas yang sedari tadi mampu membuat semua orang mengernyitkan wajah serta menghentikan nafas untuk sementara.
"Apaan tuh? Lo lagi ada proyek ya, Bang?" Lagi, bukan jawaban. Entahlah, sepertinya dua anak adam ini memang sesuai menjadi saudara kandung.
"Ca, lo ke kampus jam berapa? Gue nitip ini dong. Ya, ya, ya." Sekali lagi, bukan jawaban, pertanyaan dan ditambah permohonan.
"Itu apaan, anjir, lo gue tanya ya." Anak ini memekik. Berjalan pelan menghampiri laki-laki yang ia panggil Abang itu. Bau harum mendahului geraknya walaupun ia baru saja bangun dari mimpi panjangnya.
Ia berdiri tepat di hadapan Abangnya. Meraih sebuah dokumen yang bertuliskan "Rahasia Negara" dan memperhatikannya dengan baik.
"Ya, itu proyek gue. Biasalah gue kepengen ada terobosan baru buat menjelang natal nanti." Adiknya mendengarkan, lalu ia melanjutkan, "Gue nitip ya Ca, lu ada kelas keramik kan hari ini? Gue titip ke salah satu mahasiswa di sana lewat lo."
"Kenapa gak lo aja, kenapa gue?"
Terkejut. Ralat, tidak. Ini adalah salah satu sikap anak yang kerap dipanggil Oca. Sambil menatap memohon, laki-laki itu berkata, "Ya ampun Ca gue buru-buru, gak sempat dong. Sekalian lah, tolong Abang lo ini. Gak mungkin kan kalau gue minta tolong sama Sean."
"Lo kirim aja pakai ojol. Gak mau gue. Males." Dengan nyolotnya Oca menolak kemudian pergi meninggalkan Abangnya yang terlihat hampir mengeluarkan u*****n mendengar jawabannya.
***
Oceana Nusantara. Kerap dipanggil Oca dari dulu, nyambung sih sama nama lengkapnya. Ya sudah.
Anak tengah dari tiga bersaudara. Satu-satunya perempuan diantara mereka. Anak yang paling mengenal dirinya sendiri. Setiap kali ada yang mengkomentari hidupnya, berkata ini dan itu, maka Oca akan berkata,
Stop with the nagging, I'll take care of it.
No matter what I become.
I'll take care of it.
I do what I wanna.
Whether I live a normal life or not, just leave it to me.
I'll live my own life, because this life is mine.
Alias singkatnya, Oca akan mengeluarkan satu kata andalannya "Bacot". Tadi, sebelum melakukan ritual dengan air dan wangi-wangian, ia bercakap sebentar dengan yang ia panggil Abang. Sekarang, ia sudah rapih, siap ke kampus bareng sama kekasih sejati yang selalu hadir untuk datang menjemputnya, yakni Ojek Online.
Tersenyum melihat cermin. "Ish, gue cantik banget. Gak ada yang ngalahin." Ya emang sih, benar juga. Baiklah, Oca.
Mengambil tas dan mengunci kamarnya, ia keluar dari tempat nyamannya. Menuruni tangga sambil bersenandung kecil, ia mendongak, mengernyitkan dahinya.
"Lo ngapain masih di sini?" Loh kok seperti mau ngusir. Enggak. Oca memang gitu walaupun yang ditanya itu Abangnya.
"Ca tolong banget gue titip ini yak. Gue udah dicariin sama sekretaris gue. Orangnya siapa gue wa lo ya, Ca. Thanks banget." Berkata jelas, ia buru-buru memakai jasnya beranjak keluar.
"Wait!" Oca berseru "Bagi gue ongkos, Bang Sam, hehe."
Sambil menatap pasrah adiknya, ia meninggalkan uang dua lembar warna merah di atas dokumen yang ia titipkan.
"Sudah ya, hati-hati nanti ke kampusnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Abang gantengkuh muah." Sambil kissbye Oca sumringah memungut uang dan dokumen lalu menunggu Abang Ojolnya datang menjemput.
***
Ini semua seperti sebuah siang yang kebocoran neraka. Laki-laki ini duduk sambil menyeruput ice americano nya. Ia punya agenda menunggu seseorang yang membawa dokumen. Lalu ketika matahari semakin naik, naik lagi, ia bete. Kelamaan.
"Bandung apanya yang dingin, dah. Panas banget gila."
Kembali melihat layar berukuran enam inci itu, melihat pesan masuk dari seseorang yang ia tunggu-tunggu kehadirannya.
"Lo yang namanya Sebastian ya?"
Ia menoleh. Seorang perempuan cantik dengan tampang yang agak jutek sekali. Ia tersenyum tipis, memandang bingung. "Mmm, si-"
Belum selesai melanjutkan perkataannya, ia di sela. "Nih titipan buat lo, udah kan. Bye."
Ia agak kaget dengan semua keajaiban yang datang hari ini kepadanya kurang dari lima menit. Pertama, perempuan itu siapa, terus ini apa. Sebuah amplop besar warna coklat bertengger manis di meja dekat minumannya.
"From Samudera Nusantara." Tulisan di pojok kanan memberitahukan dengan jelas apa ini. "Oalah. Ini mah yang aing tunggu-tunggu. Belegug nya maneh mah, Bang Sam, aing geus lila teuing sabar ini."
"Tapi, teh tadi saha euy. Cakep pisan, bidadari kali. Au ah, wah sial udah jam kelas aja si anying." Sambil buru-buru merapikan semuanya, ia kembali melihat pesan masuk tadi dari Bang Sam sekaligus menanyakan kepada siapa ia menitipkan dokumennya ini.
Begitu keluar dari cafe itu, ia bingung melihat isi pesannya. Sambil menerka-nerka, ia membalasnya dan melanjutkan jalannya dengan berlari-lari kecil.
***
Oca sudah sampai di kelas kesukaannya. Kelas keramik, ia suka banget. Semenjak melihat Abangnya membua kerajinan itu, ia merasa dunia keramik mengambil alih dirinya. Ia juga suka suasana dan orang-orang di FSRD ini. Beda banget sama teknik, pikirnya.
"Ocaaaa." Sapaan yang ditujukan kepadanya tidak berhenti semenjak ia menginjakkan kakinya dari pintu masuk fakultas sampai di kelas ini.
Dibalasnya dengan senyuman saja, ia sejujurnya tidak terlalu mengenali nama mereka, hanya mengingat wajah-wajah yang pernah ia mintai tolong atau bercakap sebentar mengenai keramik.
Suasana kelas masih ramai. Mahasiswa masih ngobrol di sana-sini, tertawa bersama. Lalu, Pak Agus tiba-tiba masuk dengan diikuti salah satu manusia yang terlihat lebih muda darinya.
"Siang semua, langsung saja selama satu bulan ke depan saya mohon izin untuk tidak bisa mengajar dulu dikarenakan saya ada proyek dari Pak Dekan. Jadi, kalian belajar sama..."
Oca tak terlalu mendengarkan perkataan Pak Agus, namun satu hal yang ia yakini bahwa seseorang yang ada di depan sana bersama Pak Agus adalah,
"Perkenalkan nama saya, Sebastian A-"
"Loh, elo!"
"Eh!?"
Detik itu juga semua orang bingung.
***