Tawny kaget ketika mendapati mobil Riski belum ada di garasi apartemen.
"Loh? Masa belum pulang sih?" monolog Tawny, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Riski namun ia sangat kaget mendapati banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari pria itu. Tak lama kemudian ponsel Tawny kembali berbunyi dan itu dari Riski, Tawny pun langsung mengangkatnya.
[Halo Ki? Lo dimana? Kok belum pulang? Lo baik-baik aja kan?] tanya Tawny babibu.
[Halo, apa benar ini saudaranya Riski Arandra?] Tawny kaget karena bukan Riski yang menjawab.
[Iya saya saudaranya, anda siapa ya?] tanya Aruna berusaha tampak tenang.
[Saya dari pihak rumah sakit, kini saudara Riski sedang di rawat di rumah sakit.]
[Tolong kirim alamatnya Sus.] Tawny yang langsung kalang kabut begitu mendengar kabar mengenai Riski.
"Baik mbak."
Ting
Tak lama kemudian Tawny mendapat alamat tempat Riski dirawat dan gadis itu langsung bergegas ke rumah sakit.
*****
Kira - kira lima belas menit Tawny sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruangan Riski.
"Bagaimana keadaan saudara saya Dok?" tanya Tawny dengan sangat khawatir membuat sang dokter tersenyum.
"Dia tak papa hanya demam saja, hanya saja tim rumah sakit menemukannya dalam keadaan pingsan dan basah kuyup." Tawny menghela napas mendengar penjelasan sang dokter.
"Syukur lah dok, apa boleh sekarang dia pulang?" tanya Tawny karena Riski itu sangat tak suka tinggal di rumah sakit.
"Tentu bisa," ucap sang dokter.
Akhirnya Kihyun dan Tawny pun pulang, Riski berbaring di kursi belakang dan Tawny yang menyetir.
*****
Setelah perjuangan panjang membawa Riski ke kamar akhirnya kini pria itu sudah berbaring.
"Hah, berat banget sih lo," ucap Tawny lalu langsung menyelimuti Riski, ia hendak pergi tapi Riski langsung menarik gadis itu hingga kini ia tepat di atas tubuhnya.
"Lepasin Ki gue berat tau gak."
"Gak mau, gini aja dulu, gue kedinginan. Kalo ada lo kayak gini kan jadi hangat banget, " ucap Riski dengan mata terpejam, ia menarik tengkuk Tawny dan menyatukan wajah mereka sehingga gadis itu bisa merasakan deru napas Riski yang sangat panas, ia menjadi sangat kasihan pada pria itu. Tawny perlahan menggeser posisinya ke samping Riski, dengan agresif Riski langsung memeluk pinggang Tawny, satu tangannya membuka tiga kancing teratas baju gadis itu lalu menenggelamkan wajahnya di pelukan gadis itu, Riski bagai bayi raksasa untuk Tawny. Tawny dengan setia mengelus rambut halus dan lebat Riski, dapat Tawny rasakan napas Riski masih panas dan memburu tapi gadis itu hanya tetap mengelus rambut Riski karena itu juga membantu pria tersebut merasa lebih baik sampai akhirnya gadis itu ikut tertidur.
*****
Drrttt drtttt drttt
Tawny terbangun karena suara ponsel Riski yang terus mengganggu tidurnya, dia pun mengangkat ponsel Riski tanpa melihat nama yang tertera di sana.
[Halo?] Tawny mengangkat telepon dengan suara khas orang bangun.
[Loh? Kok suara cewek? Ini nomor Riski kan?] Tawny agak kaget tapi dia berusaha tampak tenang.
[Ini saudaranya Riski.]
[Ooooo, Riskinya ada?]
[Masih tidur.]
[Tapi kok hp nya bisa sama Kamu?]
"Lah? Ni orang kok nyebelin yak?" tanya Tawny dalam hati.
[Dia naro hp nya di dekat tv, lupa bawa ke kamar mungkin,] jawab Tawny asal.
[Ooooo iya deh.]
[Ada yang perlu disampein sama Riski?]
[Gak usah deh, bilang aja ya kalo dia udah bangun kalo gue nelepon.]
[Ok ok, tapi namanya siapa ya?]
[Oh gue Lucya satu kelas Riski.] Entah kenapa rasa aneh muncul di hati Tawny.
[Oh ok, nanti gue sampein.]
[Ok makasih ya.]
[Sama-sama.
Pip
Tawny meletakkan kembali ponsel Riski, ia menghela napas lalu mengecek suhu tubuh pria itu.
"Gak panas lagi, syukur deh," gumam Tawny.
"Gue dah gak demam lagi kok," ucap Riski.
"Eh? Udah bangun?" tanya Tawny dan Riski hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Jadi kenapa tadi gak lo angkat teleponnya?"
"Malas."
"Ih? Aneh deh, temen lo itu."
"Gue lagi pengen sama lo."
"Gue gak pengen."
"Bohong," ucap Riski dan mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Tawny."
"Gak niat bangun ni?" tanya Tawny sambil memainkan rambut Riski dan terkadang menciuminya.
"Jam berapa?"
"Jam delapan."
"Oh."
"Oh?"
"Gue gak ada kelas hari ini, lo ada kelas ya? Atau ada janji."
"Gak ada sih, cuman kerja aja kayak biasa. Lo gak ada job memang?"
"Hari ini kebetulan gak ada."
"Oooo, eh btw hubungi sana temen lo."
"Bentar lagi ah gue malas."
"Seorang Riski Arandra ternyata bisa malas juga ya."
"Iya gue lagi malas banget ngapa-ngapain. Maunya sama lo aja, makanya gak usah kemana-mana dulu, kita di sini aja seharian," ucap Riski sambil mengusap-usapkan wajahnya di baju Tawny.
"Gak mau ah seharian kayak gini."
"Kenapa?"
"Ya gue juga lapar kali Ki."
"Delivery aja ya kali ini, sumpah gue sekarang maunya nempel sama lo aja."
"Eum, ya udah pesen sekarang ya."
"Iya iya."
"Terserah aku mesen apa."
"Iya Tawny iya."
Setelah memesan makanannya kini Tawny menyamakan posisinya dengan Riski.
"Ki."
"Eum?"
"Kancingin baju aku ih, kebiasaan."
"Hehehhe maaf ya, soalnya d**a kamu buat nyaman, serius deh," ucap Riski tanpa rasa bersalah, jangan salah paham ya, Riski hanya membukanya dan menempatkan wajahnya di pelukan Tawny, tak lebih.
"Nyaman ndasmu." ucap Tawny, Riski hanya terkekeh lalu mencium pipi Tawny dan kemudian mengancingkan bajunya.
Kini gantian wajah Tawny yang di d**a Riski dan pria itu mengelus rambut Tawny.
Ting Tong
"Deliverynya udah datang, aku mau ambilin dulu." ucap Tawny tapi langsung di tahan Riski.
"Gak usah, biar aku aja nanti dia ngiler liat body kamu." ucap Kihyun, tak bisa dipungkiri lekuk tubuh Tawny itu buat laki - laki langsung menggila, makanya dia gak pernah make baju yang ngekspos lekuk tubuh dia, di rumah aja dia selalu pake baju oversize.
"Ya udah buruan sana." ucap Tawny.
Kini Riski dan Tawny sedang menikmati makanan yang mereka pesan tadi, ada pizza, burger, tteokbokki, bakso bakar, mi goreng, bakso dan cola, makanan mereka udah mengglobal ya. Mulai dari yang lokal, Western, hingga Korea, mereka pun menikmati makanan ditemani dengan film yang sekedar mengisi keheningan. Tangan Riski dari tadi tak lepas dari pinggang Tawny sehingga gadis itu dengan telaten menyuapi pria tersebut.
"Gini aja ya sampe jam empat sore, kalo cape tidur. Aku lagi pengen sama kamu terus," ucap Riski lalu mencium pipi Tawny.
"Asal kamu senang deh," ucap Tawny sehingga Riski tersenyum lalu mengecup bibir Tawny.