"Thank you ya Wir dah ngantarin gue," ucap Tawny pada Wira begitu tiba di apartemennya.
"Sama-sama, kalo butuh apa-apa kabari gue aja ya," ucap Wira.
"Sip," ucap Tawny sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah Wira pergi Tawny pun langsung memasuki apartemennya. Gadis itu langsung semangat masuk begitu mencium aroma masakan Riski.
"Kiiiiiiiii." Tawny langsung terdiam melihat perempuan dengan perawakan mungil membantu Riski memasak. Tawny langsung diam-diam meninggalkan dapur dan langsung ke kamarnya. Entah kenapa Tawny merasa sesak melihat pemandangan itu, like jealous?
[Gue lembur malam ini, gak usah jemput gue bakal diantarin temen.]
Tawny langsung memilih tidur setelah mengirim pesan itu pada Riski, ia menggunakan earphone sembari mendengarkan lagu grup favoritnya dengan judul "Jealousy", ya sepertinya perempuan itu benar-benar cemburu, eh?
*****
Setelah masakan selesai Riski dan Lucya pun makan bersama.
[Ok, kebetulan gue ada temen di apartemen, gak enak ninggalin dia sendirian. Dia mau nginap, nanti di kamar aku aja, aku di kamar Kamu sekalian nunggu Kamu.]
Riski menyimpan ponselnya setelah membalas pesan dari Tawny.
"Selamat makan," ucap Riski dan Lucya bersamaan.
"Masakan kamu enak banget Ki."
"Kamu juga ikut masak kok," balas Riski sambil tersenyum.
"Eyyyy aku cuman ngiris-ngiris doang kok."
"Tapi itu juga bantu kan."
"Terserah lo deh, tapi beruntung banget nanti yang bakal jadi istri Kamu. Punya suami yang pintar masak, rapi, bersih lagi."
"Ya udah Kamu jadi istri aku aja biar Kamu beruntung."
"Hahahh apaan sih."
"Ya aku serius."
"Ada-ada aja Kamu," ucap Lucya sambil tertawa renyah.
Mereka pun menghabiskan makanannya diselingi candaan ringan. Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk menonton film.
"Marathon film yok malam ini," ucap Lucya sambil memilih film yang baru ia download.
"Yakin?"
"Iya, aku baru download banyak film."
"Ok ok, siapin filmnya aku mau nyiapin pop corn sama cola dulu."
"Sip."
Setelah semua selesai Riski dan Lucya pun menonton film dengan tema action romance.
"Kamu suka action ya?" tanya Riski dan Lucya pun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar LCD.
"Gak nyangka aku, aku kira kamu suka animasi. Soalnya muka kamu masih kayak anak-anak gitu, kayak anak SD."
"Ih apa-apaan sih," ucap Lucya kesal lalu memukul lengan Riski sedangkan pria itu malah tertawa berhasil menjahili anak orang.
Mereka pun serius menonton film tanpa ada pembicaraan. Yang ada hanya suara dari layar dan suara kunyahan. Riski Merasakan berat di bahunya, ia menoleh dan melihat Lucya sudah tertidur pulas.
"Eh, dah tidur aja. Katanya mau marathon, dasar anak SD," ucap Riski tersenyum lalu mengacak rambut Lucya, ia pun dengan pelan menggendong Lucya ke kamarnya.
"Good night," ucap Riski setelah memakaikan selimut pada Lucya lalu keluar dari kamarnya.
Ia langsung membereskan ruang tengah lalu ke kamar Tawny.
"Eh? Kapan ni anak pulang?" monolog Riski melihat Tawny yang sudah tertidur pulas.
"Mana belum mandi lagi, dasar pemalas."
"Kebiasaan deh," ucap Riski lalu melepas earphone Tawny dan mematikan musik dari ponsel perempuan itu. Ia pun berbaring di samping Tawny dan memeluk gadis itu bagai bantal guling.
"Good night ma precious," ucap Riski lalu mencium bibir Tawny sekilas kemudian tidur.
*****
Tawny terbangun karena sinar matahari yang menerobos ke kamarnya.
"Lah? Riski mana? Bukannya semalam dia di sini ya? Apa cuman mimpi? Hah, kayaknya cuman mimpi deh, miris amat," monolog Tawny lesu dan memilih tidur lagi.
Drrttt drtttt drttt
[Halo?]
[Morning Princess.]
[Morning Wir,] balas Tawny sambil tersenyum, ya selain Mark kini Wira yang mendekati Tawny. Dan sejauh ini Wira lah pria yang paling kencang mendekati Tawny, Tawny suka? Eum .... Ya gimana ya, dia cuman merespon baik aja, kalo ditanya soal hati dia pasti tertawa aja, dia langsung ngalihin topik.
[Kayaknya lo baru bangun ya?]
[Heheheh iya, mumpung free hari ini.]
[Enak ya, gue sampe jam 3 hari ini.]
[Enakin aja Wir, fighting.]
[Makasih Princess, denger suara Kamu aku jadi semangat.]
[Hahahhha bacot anda saudara.]
[Gak lo, gue serius.]
[Hahahh serah lo deh. Ya udah sana kuliah lo nanti telat.]
[Ok ok, see you princess.]
[See you, good luck God Bless U
You.]
Pip
Tawny meletakkan ponselnya di nakas dan kembali tidur, rasanya ia malas melakukan apa-apa.
Baru sekitar lima belas menit memejamkan mata Tawny terbangun karena ada yang memeluknya seperti tadi malam.
"Malas banget sih, bangun napa?" tanya Riski, berbanding terbalik dengan Tawny yang belum mandi ataupun sekedar cuci muka, Riski sudah segar dan wangi karena sebelumnya mengantar Lucya pulang.
Bukannya menjawab Tawny malah memeluk Riski dengan erat.
"Gue gak lagi mimpi kan? Ini nyata kan?" tanya Tawny sambil mendusel-dusel di leher Riski.
"Gak kok, ini nyata," ucap Riski sambil mengelus rambut Tawny.
"Soalnya tadi malam kayak ada yang meluk gini juga tapi pas paginya gue bangun gak ada." Riski tertawa mendengar ucapan Tawny lalu menangkup wajah gadis itu. Ia menciumi wajah Tawny bagai anak bayi.
"Gemes banget sih," ucap Riski lalu lanjut menciumi wajah Tawny sehingga gadis itu mendorong wajah Riski.
"Apa-apaan sih? Lo pikir gue bayi?"
"Lah emang bayi kok buat gue."
"Hhhh apaan sih, gak jelas."
"Pagi-pagi udah ngambek aja. Tadi malam itu nyata kok cuman jam 6 tadi aku nganterin temen aku pulang."
"Cewek atau cowok?"
"Lo maunya apa?"
"Idih, jijik."
"Cewek, yang aku cerita semalam. Kenapa? Lo cemburu?"
"Geer banget, gebet lah kalo cewek."
"Emang lo gak cemburu?" tanya Riski membuat Tawny membuat ekspresi ingin muntah.
"Hahahah ngegemesin banget sih lo," ucap Riski lalu menangkup wajah Tawny.
Ia menatap intens wajah Tawny dan dalam hitungan detik bibir Riski sudah mendarat di atas bibir pink nan ranum Tawny membuat gadis itu otomatis memejamkan mata. Riski mengeratkan pelukannya pada Tawny, menghilangkan jarak diantara mereka. Riski memperbaiki posisi sehingga kini Tawny di atasnya. Pria itu menekan pipi Tawny dan lidahnya semakin liar mengajak lidah Tawny bergulat sampai gadis itu rasanya kehabisan tenaga. Tawny memukul pelan lengan Riski, pria itu pun pengertian dan melepas tautan bibir mereka. Riski duduk sehingga kini Tawny berada di pangkuannya. Ia kembali menangkup wajah gadis itu.
"Makasih ya buat semuanya," ucap Riski sambil merapikan rambut Tawny.
"Makasih juga," ucap Tawny lalu mengecup bibir Riski sekilas.
"Kalo gue suka sama orang lain boleh gak?" tanya Riski, rasanya hati Tawny ditusuk beribu pedang di saat yang bersamaan mendengar perkataan Riski.
"Terserah lo dong, sebelumya juga lo sering sama cewek kan," ucap Tawny tersenyum padahal hatinya sudah perih.
"Makasih banyak ya," ucap Riski lalu mencium kening Tawny dan gadis itu mengangguk.
"Gue gak ngerti Ki, lo giniin gue tapi lo bilang lo suka sama orang lain."