Air panas sudah siap di kamar mandi sejak sepuluh menit lalu, dan Alana masih berdiri di dapur menunggu air di teko mendidih untuk kedua kalinya.
Jas abu gelap itu sudah ia gantung di lemari. Kemeja kusut Revan sudah masuk keranjang cucian dan Alana berusaha tidak mencium apa pun yang menempel di kainnya. Pipinya masih terasa tebal di bekas tamparan, dan setiap kali ia menelan ludah, tenggorokannya ikut sakit.
Ia menyeduh teh chamomile dan meletakkan cangkirnya di meja makan, di depan kursi Revan. Teh itu kebiasaan sejak awal pernikahan mereka. Dulu Revan pernah bilang teh buatan Alana membuatnya betah di rumah. Alana tidak tahu mengapa ia masih membuatnya pagi ini. Mungkin karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan.
Ia mengulang kalimat di kepalanya. Mas, semalam Mas di mana? Terlalu menuduh. Mas, boleh Lana bicara sebentar? Terlalu lemah. Ia belum menemukan kata-kata yang pas hingga langkah kaki Revan terdengar di tangga.
Pria itu turun dengan kaus rumah dan rambut basah. Wajahnya masih lelah, tapi bau alkohol sudah digantikan sabun. Ia duduk, melirik cangkir teh tanpa komentar, lalu menarik ponselnya.
"Mas." Alana duduk di seberangnya. Jari-jarinya saling meremas di bawah meja.
"Boleh Lana bicara sebentar?"
"Ada apa sih, Lan? aku capek. Kalau bukan hal penting jangan sekarang."
"Soal… semalam, Mas."
Revan mengangkat wajah. "Semalam kenapa?"
"Mas bilang lembur. Tapi semalam ..."
"Ngomong apa sih kamu?"
"Semalam Mas ada di mana?"
"Di kantor lah, meeting dengan klien penting, aku kan sudah bilang di telepon." Revan mendengus.
“Tapi, semalam Lana lihat Mas Revan di hotel,” ucapnya pelan, takut menyudutkan suaminya.
"Jangan halu, Lan! Salah lihat kali kamu, mana mungkin aku di hotel?"
Alana menunduk. Dadanya bergemuruh, tapi tangannya bergerak lebih dulu. Ia mengambil ponsel dari saku cardigan, membuka foto itu, dan menggesernya di atas meja ke depan Revan.
Revan menunduk sekilas. Tidak ada yang berubah di wajahnya.
"Editan itu," Ia mendorong ponsel itu kembali dengan satu jari. "Zaman sekarang apa sih yang nggak bisa dibuat? Foto kamu lagi tidur sama laki-laki lain pun aku bisa bikin."
Kalimat itu mendarat lebih telak daripada tamparan Marissa. Alana menatap suaminya, lelaki yang empat tahun ia layani, dan bertanya dalam hati sejak kapan orang ini bisa mengucapkan hal seperti itu tanpa berkedip.
Tangannya gemetar saat menarik ponsel kembali. Butuh waktu cukup lama sebelum ia bisa bicara.
"Lana melihatnya sendiri, Mas.”
Revan berhenti menggulir layar.
"Semalam, di lounge Hotel Aurelia. Lana berdiri di balik pilar. Lana dengar Mas bilang Ibu sudah merestui. Lana dengar Mas bilang kalau Lana tidak bisa memberi apa-apa."
Teh chamomile di depan Revan tidak disentuh. Ia menatap Alana lama, rahangnya mengeras, lalu bersandar santai ke kursi. Wajahnya yang tadi mengejek berubah menjadi wajah orang yang sudah kehabisan alasan untuk berpura-pura, dan membuatnya lebih menyakitkan daripada penyangkalan tadi.
"Oke," katanya. "Kalau kamu sudah lihat sendiri, ya sudah."
Alana menunggu ia mengatakan sesuatu yang lain. Minta maaf, mungkin.
"Namanya Nadia. Sekretarisku. Dia hamil, empat bulan. Itu anakku."
"Empat bulan." Alana mengulangnya pelan.
Dua bulan lalu ia mengajak Revan ke dokter untuk tes kesuburan, dan Revan menolak sambil berkata tidak ada yang mandul di keluarganya. Saat itu perempuan itu sudah mengandung.
"Aku nggak mau berdebat, Lan. Intinya aku butuh penerus, dan itu nggak bisa kamu kasih." Revan mengusap wajahnya. "Ibu juga sudah setuju, kok."
"Jadi Ibu sudah tahu?" Suara Alana keluar seperti bisikan. "Dari awal?"
"Ya."
Satu kata itu menjawab pertanyaan yang tadi tertahan di bibirnya di depan pintu.
"Kamu kan baik," lanjut Revan. Nadanya mendadak lunak, seperti sedang membujuk anak kecil. "Kamu pasti ngerti. Aku akan menikahi Nadia. Soal kamu, nanti kita lihat."
"Nanti kita lihat?" Alana nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.
"Ibu dengar semuanya. Bagus kalau sudah paham."
Marissa berdiri di ambang ruang makan dengan tangan terlipat dan wajah yang kembali dingin. Entah sejak kapan ia di sana. Alana tidak melihatnya datang.
"Nadia sedang mengandung cucu Ibu," lanjut Marissa. "Kamu harus tahu diri."
"Bu ..."
"Dan jangan kira kamu bisa pergi seenaknya. Cerai itu aib, dan Ibu tidak akan membiarkan keluarga ini jadi bahan omongan orang sekomplek. Kamu tetap di rumah ini. Jaga Ayah, urus rumah, seperti biasa. Anggap saja balas budi. Kamu besar dari uang donasi keluarga ini."
Marissa melangkah mendekati Revan dan merendahkan suara. Terlalu keras untuk disebut bisikan, dan terlalu sengaja untuk disebut tidak sengaja. "Biarkan saja dia di sini, Van. Siapa lagi yang mau merawat Ayahmu gratis? Lumayan, kita tidak perlu bayar perawat."
Revan mengangkat bahu. "Terserah Ibu."
Mereka meninggalkan ruang makan. Alana duduk sendirian di depan teh yang sudah dingin.
Ia tidak menangis. Pikirannya sibuk menghitung hal-hal yang tidak ia punya: rumah lain, keluarga lain, tabungan yang cukup. Panti asuhan memang masih ada, tapi ia tidak bisa pulang ke sana sebagai perempuan yang diusir suaminya.
Dan di lantai atas ada Ayah. Alana tidak sanggup membayangkan lelaki itu sendirian di kamarnya dengan Marissa sebagai satu-satunya yang mengurus. Itu cukup, katanya pada diri sendiri. Untuk sekarang itu cukup untuk bertahan. Dan mungkin, kalau anak itu lahir, Revan akan kembali menjadi Revan yang dulu.
Ia tahu itu harapan yang tidak masuk akal. Namun ia tetap mempercayainya.
***
Malam itu, Alana membawa bubur ke kamar Gavin. Lampu tidur menyala redup, dan dokter sudah lama pulang. Ia meletakkan nampan di nakas, lalu mendekati ranjang.
"Yah, makan sedikit ya."
Tidak ada jawaban. Napas Gavin pendek-pendek dan berbunyi, wajahnya pucat kebiruan, dan satu tangannya mencengkeram d**a.
"Ayah!"
Nampan bergeser dan bubur tumpah ke lantai. Alana berlari ke pintu. "Ibu! Mas Revan! Tolong!"
Dari lantai bawah terdengar suara televisi yang nyaring. Tidak ada yang datang.
Alana kembali ke ranjang dan meraih ponsel dengan tangan gemetar, menekan nomor dokter. Gavin mencengkeram pergelangan tangannya. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak sempat selesai.
"Nak …”
Bersambung…