Matahari sudah tinggi ketika mobil tua Alana berhenti di depan rumah. Pagar terbuka separuh. Di jalan yang biasanya sepi pada jam seperti ini, beberapa tetangga berdiri di depan pagar masing-masing. Ada yang menyiram tanaman yang sudah basah, ada yang menyapu halaman yang sudah bersih.
Alana mengenali pemandangan itu. Empat tahun tinggal di sini membuatnya tahu apa artinya ketika semua orang mendadak punya urusan di luar rumah.
Garasi terbuka dan tempat mobil Revan masih kosong.
Ia mematikan mesin dan duduk beberapa saat dengan kedua tangan di setir. Obat Gavin masih di dalam tas. Dosis pagi, pikirnya dan hanya itu yang cukup kuat untuk membuatnya membuka pintu mobil.
Langkahnya terasa berat di halaman. Belum sampai di teras, pintu depan terbuka lebar. Marissa berdiri di sana dengan daster rapi dan rambut tertata, dengan wajah seorang ibu yang seperti semalaman tidak tidur. Wajah itu retak begitu Alana mendekat.
"Dari mana saja kamu?"
"Bu, saya ..."
PLAKK!
Telapak tangan Marissa mendarat di pipi kiri Alana sebelum kakinya menyentuh keset. Bunyinya nyaring di halaman yang sunyi. Kepala Alana terhempas ke samping, tasnya merosot dari bahu, dan telinganya berdenging.
"Anak panti tidak tahu diri!" Suara Marissa naik, dibuat cukup keras untuk menyeberang pagar. "Keluar malam, tidak pulang, pulang-pulang bau minuman! Mertuamu sakit, kamu tinggal begitu saja! Jam dua pagi Ibu harus menelepon dokter sendirian, dan Revan pun tidak bisa dihubungi! Mau jadi apa kamu, perempuan murahan?"
Pipi Alana berdenyut panas. Ia mengangkat kantong plastik dari dalam tasnya dengan tangan gemetar. "Saya cuma membeli obat Ayah, Bu. Ini obatnya."
"Apotek mana yang jual obat sambil jualan minuman keras? Kamu kira Ibu bodoh?" Marissa menepis kantong itu hingga jatuh ke lantai. "Mabuk di mana kamu? Sama siapa?"
"Saya tidak sengaja, Bu ..."
"Tidak sengaja? Perempuan baik-baik tidak pernah tidak sengaja mabuk!"
Dari balik pagar sebelah terdengar bisikan.
"Ya ampun, itu Alana?"
"Kasihan Bu Marissa, sabar sekali orangnya."
"Biar semua dengar sekalian!" Marissa melangkah ke ujung teras dan menunjuk wajah Alana. "Empat tahun menikah, satu cucu pun tidak ada. Mandul! Sudah mandul, murahan pula! Anak saya terlalu baik sampai mau menanggung perempuan seperti ini!"
Alana tidak menangis. Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar, sampai kata-katanya tak lagi menusuk seperti dulu. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya, dan menunggu semuanya selesai seperti biasa.
Namun pagi ini ada yang berbeda. Dadanya terasa sesak, dan ia tahu penyebabnya. Suara Revan di lounge semalam terdengar lagi di kepalanya. Ibuku sudah merestui.
Alana mengangkat wajah pelan-pelan. Matanya bertemu mata Marissa yang masih menyala marah. Ada satu pertanyaan yang naik ke tenggorokannya. Apakah Ibu tahu? Apakah Ibu tahu soal perempuan itu, soal perutnya, soal semua yang dibicarakan di meja itu? Bibirnya terbuka.
"Ada apa ribut-ribut di depan?"
Suara itu serak dan lemah, tapi cukup untuk membuat semua orang berhenti. Roda kursi roda berderit di lantai ruang tamu. Gavin muncul di ambang pintu dengan selimut tipis di pangkuannya, didorong seorang dokter berjas putih yang membawa tas medis.
Wajah Marissa berubah dalam satu tarikan napas. Alisnya melunak, suaranya turun menjadi lembut. "Ayah, kenapa keluar? Kan sudah dibilang dokter harus istirahat."
Gavin tidak menjawab. Matanya yang cekung bergerak dari Marissa ke pipi Alana yang memerah, lalu berhenti di sana.
Alana tidak sempat berpikir. Ia meninggalkan tasnya di keset dan berlari, lalu berlutut di depan kursi roda dan menggenggam tangan Gavin yang kurus dan dingin. Air mata yang tidak keluar sejak semalam jatuh sekaligus.
"Ayah," katanya terisak. "Maaf. Maaf, Yah, Lana terlambat. Obatnya ... Lana sudah beli, tapi Lana ..."
"Sudah, Nak." Tangan Gavin gemetar saat mengusap rambutnya. "Tidak apa-apa, Ayah di sini."
"Pak Gavin sempat melewatkan dosis semalam," kata sang dokter dengan nada tenang dan sopan. "Namun kondisinya sudah stabil. Saya sudah memberikan obat tambahan, jadi Nyonya tidak perlu terlalu khawatir."
Alana mengangguk, tapi tangisnya tidak berhenti. Di belakangnya, Marissa berdeham.
"Ayo masuk. Jangan jadi tontonan di depan rumah." ucap Gavin pelan.
Para tetangga cepat-cepat kembali menyiram dan menyapu.
Gavin menunduk sedikit, cukup dekat supaya hanya Alana yang mendengar. Suaranya nyaris tak terdengar. "Matamu bengkak, Nak. Semalam kamu melihat sesuatu?"
Alana membeku. Isaknya tersangkut di tenggorokan. Ia belum bercerita apa pun kepada siapa pun dan ia tidak tahu bagaimana lelaki sakit di kursi roda itu bisa menebaknya setepat itu.
"Dokter, tolong bawa suami saya masuk," panggil Marissa dari belakang, terlalu cepat dan manis.
Gavin tidak melepaskan pandangannya dari wajah Alana.
Dokter mendorong kursi roda masuk. Gavin masih menoleh ke belakang sampai tikungan lorong menelan punggungnya.
Alana berdiri perlahan. Lututnya gemetar. Ia memungut kantong obat yang tadi dilempar ke lantai dan memeluknya di d**a, lalu menyeka pipi dengan lengan cardigan. Bekas tamparan itu masih berdenyut.
Para tetangga sudah bubar. Halaman kembali sepi.
Langkah sepatu Marissa terdengar mendekat dari belakang. Ia berhenti satu langkah di depan Alana, dan suaranya turun menjadi desis yang hanya cukup terdengar berdua.
"Jangan kira urusan kita selesai karena Suamiku keluar. Kamu pikir aku akan diam saja? Kamu ..."
Suara mesin mobil terdengar memasuki gerbang. Marissa berhenti di tengah kalimat. Ia menoleh ke arah halaman, ke mobil hitam yang berhenti di depan garasi, dan wajahnya berubah. Garis keras di antara alisnya lenyap. Matanya yang tadi menyala marah melunak menjadi binar senang, seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu dan akhirnya mendapatkannya.
"Anak ganteng Mama baru pulang?" Marissa menuruni teras dengan langkah ringan, suaranya manis sekali. "Capek ya, Nak?"
Revan keluar dari mobil dengan kemeja kusut dan rambut berantakan. Wajahnya lelah, matanya merah. Bahkan dari jarak beberapa langkah, bau alkohol yang kuat sudah menyambar hidung Alana.
"Mas." Alana melangkah maju. "Mas Revan, semalam ..."
"Siapkan air panas. Aku mau mandi." Revan melewatinya tanpa menoleh.
"Tunggu apa lagi?" Marissa menimpali tajam, memakai kembali nada yang tadi ia pakai untuk Alana. "Cepat sana siapkan!"
Revan melepas jasnya dan melemparkannya begitu saja ke arah Alana. Alana menangkapnya dengan canggung, dan kantong obat di tangannya hampir jatuh lagi.
Ia menatap jas itu. Jas abu gelap dengan kerut di bagian lengan. Jas yang sama dengan yang tersampir di sandaran sofa dalam foto semalam. Di kerahnya menempel samar wangi parfum yang bukan miliknya.
Marissa menepuk lengan Revan dengan lembut. "Sudah, mandi sana. Habis itu istirahat yang cukup. Kamu harus sehat, Nak." Ia melirik Alana sekilas dengan senyum yang tipis dan penuh arti. "Sebentar lagi ada yang membutuhkan kamu jadi ayah yang kuat."
Revan hanya mendengus pendek dan masuk ke rumah. Marissa mengikutinya dengan senyum yang tidak pernah sekali pun ditujukan kepada Alana.
Alana tetap berdiri di halaman, memeluk jas dan kantong obat. Kalimat itu berputar di kepalanya, pelan tapi jelas. Sebentar lagi jadi ayah.
Ia mendengar semuanya. Dan kali ini ia tidak bisa lagi pura-pura tidak mengerti.
Bersambung…