Alana tidak bergerak. Kakinya seperti menempel di lantai marmer yang dingin, dan seluruh tubuhnya lupa caranya bekerja.
Pria di sofa itu tidak menoleh. Jemarinya sudah lepas dari papan ketik, tapi matanya tetap tertuju ke layar, seakan kehadiran seseorang di ambang pintu tidak layak ia pedulikan.
Seumur hidupnya, Alana hanya mengenal dua tempat. Panti asuhan tempat ia dibesarkan, dan rumah keluarga Mahardika tempat ia tinggal setelah menikah. Selebihnya hanya pasar, apotek, dan jalan di antara semuanya. Ia tidak pernah bermalam di tempat yang tidak ia kenal. Tidak pernah ada kamar dengan lampu kristal, jendela yang memperlihatkan seluruh kota, atau pria asing yang duduk tenang seperti pemilik tempat itu.
"Ma, maaf," suaranya keluar kecil dan serak. "Ini di mana?"
Tidak ada jawaban. Pria itu bahkan tidak berkedip.
Alana mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi. Punggungnya menyentuh bingkai pintu kamar. Potongan-potongan malam tadi muncul lagi, tawa Revan, gelas yang pahit, d**a seorang pria. Alana memeriksa pakaiannya sekali lagi dengan tangan gemetar. Cardigan masih terpasang, kancingnya utuh, tapi rasa lega itu hanya sebentar. Tidak seorang pun tahu ia ada di sini, dan ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.
Ia berlari kecil ke nakas, meraih tasnya, dan memeluknya erat di d**a. Sepatunya tersusun rapi di sisi ranjang, dan itu justru membuatnya makin takut. Seseorang sudah melepaskannya.
"Ayah," bisiknya tiba-tiba, dan seluruh darahnya terasa turun ke kaki. Ia meninggalkan Gavin semalaman.
"Selamat pagi, Nyonya."
Alana hampir berteriak. Seorang lelaki berjas hitam sudah berdiri di ambang kamar, tidak terlalu dekat, dengan kedua tangan terlipat di depan. Wajahnya sopan dan tenang. Alana mengenalinya sebagai lelaki di lorong semalam.
"Mohon jangan takut," kata lelaki itu. Nada bicaranya baku dan pelan. "Nama saya Bima. Saya mewakili Tuan Ellio untuk menjelaskan keadaan Nyonya. Tas Nyonya tidak disentuh siapa pun. Silakan diperiksa."
Alana tidak percaya begitu saja. Ia membuka tasnya di hadapan Bima dan menghitung satu per satu: dompet, ponsel, kunci mobil, kartu identitas. Di dasar tas, kantong plastik berisi obat Ayah masih tersegel. Tidak ada yang hilang, tapi tangannya tetap dingin.
"Semalam Nyonya dalam keadaan mabuk," lanjut Bima. "Nyonya menabrak Tuan Ellio di lorong lantai dasar, lalu kehilangan kesadaran. Tuan memerintahkan kami menyiapkan kamar ini. Seorang petugas perempuan membantu melepaskan sepatu Nyonya. Tidak ada hal lain yang terjadi."
"Saya ... menabrak." Alana menelan ludah. "Orang itu ... beliau?"
"Benar. Dan Nyonya sempat muntah di jas Tuan."
Wajah Alana memucat. Perlahan ia menoleh ke ruang duduk. Sebuah jas hitam tergantung di sandaran kursi dekat jendela, tampak sudah dibersihkan, tapi bagian bahunya masih lembap. Alana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan. Maaf. Saya benar-benar minta maaf." Ia melangkah ke ambang pintu ruang duduk dan membungkuk dalam-dalam ke arah pria di sofa. Namun, Pria itu masih tidak bereaksi.
"Jas seperti itu pasti mahal dan tidak boleh dicuci sembarangan. Tolong katakan berapa biaya laundry-nya, akan saya ganti. Atau kalau boleh, biar saya yang mencucinya sendiri. Saya terbiasa mencuci pakaian halus dengan tangan, dan saya akan berhati-hati sekali."
Bima melirik pria di sofa. Pria itu akhirnya membuka mulut.
"Tidak perlu."
Dua kata itu rendah dan datar, tanpa menoleh sedikit pun. Alana tersentak. Itu suara yang sama dengan yang ia dengar di lorong semalam.
"Tuan tidak memerlukan penggantian apa pun, Nyonya," tambah Bima.
"Tapi saya tidak enak. Itu ..."
"Pengisi daya ponsel ada di meja samping sofa," potong Bima dengan halus. "Nyonya bebas memakainya."
Alana menyambungkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar, berdiri sejauh mungkin dari sofa. Layar menyala dan langsung bergetar berkali-kali. Sembilan belas panggilan tak terjawab dari Ibu. Tidak ada satu pun dari Revan. Di bawahnya ada satu pesan: Ayah mual dan kamu tidak ada di rumah. Pulang sekarang, atau tidak usah pulang sekalian.
Napas Alana tersangkut. Ayah sendirian semalaman. Ayah yang tidak boleh melewatkan dosis, yang biasanya ia selimuti sebelum tidur. Pandangannya mengabur oleh air mata, dan ia menggigit bibir supaya tidak terisak di depan orang-orang asing itu.
"Mobil Nyonya sudah kami pindahkan ke lobi," kata Bima. "Namun sebelum Nyonya pergi, Tuan ingin menyampaikan satu hal."
Alana mengusap mata cepat-cepat. Pria di sofa menutup laptopnya dan kini menatapnya langsung. Matanya gelap dan tidak menyimpan keramahan apa pun.
"Saya mendengar semuanya semalam."
Alana terpaku. "Anda ... mengikuti saya?"
"Tuan berada di lounge," jelas Bima. "Nyonya berdiri di tempat yang terlihat jelas dari sofa Tuan. Kami mendengar apa yang dikatakan suami Nyonya di meja itu."
Wajah Alana terasa panas, lalu dingin. Ia memeluk tasnya lebih erat.
"Saya bisa membuat mereka menyesal," kata pria itu.
"Suami Nyonya, keluarganya, dan perempuan itu," sambung Bima. "Nyonya cukup menyatakan setuju."
Alana menatap keduanya bergantian. Dadanya berdebar kencang. "Balas dendam?" bisiknya. "Siapa sebenarnya Anda?"
"Itu tidak penting saat ini, Nyonya," jawab Bima.
Alana terdiam cukup lama. Ia takut, dan ketakutan itu membuat suaranya bergetar, tetapi ia memaksa dirinya bicara. "Terima kasih sudah menolong saya semalam. Tapi saya tidak mengenal Anda, dan saya tidak bisa menyerahkan urusan rumah tangga saya pada orang asing. Revan masih suami saya. Mungkin ada hal yang tidak saya ketahui. Saya mau pulang dan bicara dengannya."
"Anda mendengarnya sendiri," ujar pria itu.
"Iya. Saya dengar semuanya." Suara Alana pecah di akhir kalimat. "Tapi saya masih istrinya."
Pria itu tidak membantah. Ia memberi isyarat kecil dan Bima maju membawa sebuah kartu hitam. Kartu itu polos, tanpa nama, hanya sederet nomor telepon dan huruf V kecil di sudutnya.
"Nomor ini tersambung langsung kepada Tuan," kata Bima. "Nyonya tidak perlu memakainya. Cukup disimpan."
Alana ingin menolak, tetapi ia takut menolak lagi. Ia menerima kartu itu dengan dua tangan dan menyelipkannya ke dalam tas, di samping obat Gavin
"Terima kasih, Tuan Ellio," katanya pelan.
Pria itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk sekali. Hanya itu.
Bima mengantarnya ke lift. Selama turun, Alana berdiri kaku di sudut kotak logam itu. Tawa Revan di lounge terdengar lagi di kepalanya, juga kalimat tentang penerus dan tentang istri yang tidak bisa memberi apa-apa. Air matanya akhirnya jatuh tanpa suara.
Sebuah tisu terulur dari samping.
"Silakan, Nyonya," kata Bima, menatap lurus ke depan.
"Terima kasih, Mas." Alana menghapus pipinya. "Tolong sampaikan lagi pada Tuan Ellio, saya sungguh minta maaf soal jasnya."
"Akan saya sampaikan, Nyonya."
Di lobi, para pegawai hotel berdiri berjajar dan menunduk dalam saat mereka lewat. Alana terlalu kalut untuk bertanya mengapa. Ia hanya melangkah cepat ke pintu, dengan kepala tertunduk dan tas di d**a.
Di dalam mobil tuanya, ia duduk lama dengan kedua tangan di atas setir. Ia ingin pulang dan ia takut pulang. Ia ingin percaya semua ini hanya salah paham, dan ia takut pada jawaban yang menunggunya di rumah.
Di lampu merah pertama, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal yang sama dengan semalam.
Sudah percaya sekarang?
Alana meremas setir. Lampu berubah hijau, dan klakson di belakangnya mulai bersahutan.
Bersambung…