Persiapan pernikahan membuat Callista semakin sering datang ke kediaman Dixie. Ia tetap masuk sebagai tamu, menyerahkan identitas kepada keamanan, dan menolak kunci elektronik sebelum resmi pindah. Kebiasaan itu membuat beberapa staf bingung karena Amanda telah menyebutnya calon nyonya rumah.
Suatu sore, penata acara mengukur ruang taman sementara Lucia memilih bunga. Callista meninggalkan mereka untuk mencari kamar mandi. Ia melewati koridor lantai dua yang belum pernah didatanginya dan menemukan satu pintu kayu putih dengan gagang berdebu.
Ketika tangannya hampir menyentuh gagang, suara Lucas menghentikan.
'Jangan buka pintu itu.'
Callista berbalik. Lucas berdiri di ujung koridor, wajahnya berubah lebih dingin daripada biasa.
'Aku hanya mencari kamar mandi.'
'Ada di sebelah tangga.'
'Baik.'
Callista berjalan melewatinya tanpa bertanya. Namun Lucas ikut turun dan berkata kepada kepala staf agar koridor tersebut dikunci. Tindakan itu membuat rasa ingin tahu Callista berubah menjadi ketidaknyamanan.
'Apakah itu kamar Carissa?' tanyanya ketika mereka berada jauh dari staf.
Lucas menatap lurus. 'Itu bukan urusanmu.'
'Aku akan tinggal di rumah yang sama. Bila ada ruangan yang tidak boleh kumasuki, aku perlu tahu batasnya.'
'Batasnya sederhana. Jangan masuk.'
'Aku tidak akan masuk. Tapi jangan memperlakukanku seperti pencuri.'
Lucas pergi tanpa menjawab. Callista kembali ke taman dengan perasaan bahwa perjanjian mereka tidak memuat aturan terpenting: seluruh rumah boleh berubah untuk pernikahan baru, kecuali bagian yang masih dimiliki perempuan lama.
Lucia melihat kegelisahannya. Setelah penata acara pulang, Callista bertanya tentang pintu tersebut. Lucia menarik napas panjang.
'Itu ruang kenangan. Dulu kamar kerja Carissa. Lucas menyimpan barang Carissa dan Lucio di sana.'
'Lucio siapa?'
Lucia menatapnya terkejut. 'Lucas belum pernah bercerita?'
Callista menggeleng.
'Lucio kakak kami. Adik Lucas dan kakakku. Dia meninggal pada malam yang sama dengan Carissa.'
Callista merasakan bulu kuduknya berdiri. Selama ini ia mengira Carissa meninggal karena penyakit atau kecelakaan biasa. Dua orang dalam keluarga meninggal bersamaan jelas meninggalkan luka yang lebih rumit.
'Apa yang terjadi?'
'Aku tidak berhak menceritakan semuanya. Tanyakan Lucas.'
Malam itu Callista meminta Lucas bertemu di ruang duduk. Ia tidak menuntut melihat kamar, hanya meminta sejarah yang akan memengaruhi kehidupan bersama.
'Kau mengatakan aku tidak perlu menggantikan Carissa,' katanya. 'Tapi kau juga tidak memberitahuku mengapa namanya membuat semua orang berhenti bernapas.'
Lucas mengatupkan rahang. 'Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil.'
'Bersama?'
'Ya.'
'Apakah Carissa dan Lucio—'
'Jangan.'
Suara Lucas membelah ruangan. Callista berhenti sebelum menyelesaikan dugaan yang terlalu kejam.
'Aku tidak sedang menuduh. Aku mencoba memahami.'
'Kau tidak perlu memahami untuk menjalani pernikahan kita.'
'Itu tidak benar. Aku akan tidur di bawah atap yang sama dengan ruang kenanganmu. Bila kau terbangun karena mimpi buruk atau membenciku karena berdiri di tempat Carissa, sejarah itu akan masuk ke hidupku meski pintunya terkunci.'
Lucas menatapnya lama, lalu duduk. Untuk pertama kalinya tubuhnya terlihat lelah, bukan sekadar dingin.
'Lucio mengemudi malam itu. Carissa meneleponku sebelum mereka berangkat, tapi aku sedang dalam rapat dan tidak menjawab. Mobil mereka keluar jalur saat hujan.'
'Mengapa mereka bersama?'
'Lucio menjemputnya dari rumah sakit. Carissa sedang hamil.'
Callista menutup mulut. 'Anakmu?'
'Ya.'
Lucas berdiri kembali, seolah duduk terlalu lama membuat pertahanannya runtuh. 'Itu cukup.'
Callista tidak mengejar. Kini ia memahami kehilangan Lucas bukan hanya istri, tetapi bayi yang belum lahir serta adiknya. Namun pemahaman itu tidak otomatis membenarkan cara Lucas menyakiti orang hidup.
'Aku turut berduka,' katanya. 'Dan aku tidak akan membuka kamar itu tanpa izin. Tetapi aku juga tidak akan tinggal dalam rumah yang menjadikan pertanyaan sebagai pelanggaran.'
'Apa yang kau inginkan?'
'Aturan ruang yang jelas. Kamar itu tetap privat. Ruang lain yang akan kupakai tidak boleh diatur seolah Carissa masih tinggal di sana. Aku ingin kamar sendiri, meja kerja, dan lemari yang tidak berisi barang orang lain.'
Lucas mengangguk setelah beberapa detik. 'Kau akan mendapat sayap tamu sebelah barat.'
'Jangan sebut sayap tamu kalau aku akan tinggal sebagai istri.'
'Kamar sebelah barat,' koreksinya.
Callista meminta memilih warna serta perabot bersama staf. Ia tidak menghapus foto keluarga di ruang umum, tetapi menolak foto pernikahan Lucas dan Carissa ditempatkan di kamar barunya. Lucas menyetujui.
Keesokan hari, seorang desainer datang. Ia membawa palet pucat yang katanya disukai keluarga Dixie. Callista memilih biru hangat dan kayu sederhana. Ia menyisakan ruang bagi buku, pakaian kerja, dan meja kecil untuk belajar.
Amanda menawarkan lemari perhiasan Carissa karena kualitasnya baik. Callista menolak dengan lembut. 'Barang itu sebaiknya tetap menjadi miliknya dalam ingatan keluarga. Saya ingin memilih barang saya sendiri.'
Amanda terlihat sedih, lalu memahami. Ia meminta staf mencari lemari baru tanpa membuat Callista merasa harus bersyukur berlebihan.
Lucas melewati kamar ketika Callista sedang menata contoh kain. Ia berhenti di pintu, tidak masuk.
'Aku sudah meminta kunci ruang kenangan disimpan olehku dan Lucia,' katanya.
'Terima kasih sudah memberi tahu.'
'Jika suatu hari kau ingin melihatnya, tanyakan.'
Callista terkejut. Ia tidak menerima tawaran itu sekarang. 'Suatu hari, bila kau juga siap berada di sana.'
Lucas pergi. Pintu kamar kenangan tetap terkunci, tetapi percakapan telah membuka celah kecil. Callista tahu cinta tidak dapat dibangun dengan membongkar makam orang lain. Ia juga tahu pernikahan baru tidak akan hidup bila seluruh rumah tunduk kepada hantu.
Evelyn kemudian menambahkan daftar ruang privat sebagai lampiran perjanjian rumah. Kantor Lucas, ruang kenangan, dan kamar masing-masing memerlukan izin. Ruang makan, taman, perpustakaan, serta dapur menjadi ruang bersama yang tidak dapat ditutup sepihak.
Kepala staf menerima salinan aturan operasional, bukan isi kontrak pribadi. Callista meminta jalur keluhan staf tidak hanya melalui Lucas atau Amanda. Ia tidak ingin perubahan penghuni membuat pekerja harus menebak siapa yang paling berkuasa.
Lucas menganggap lampiran itu terlalu rinci, tetapi menandatanganinya. Ketika Callista bertanya mengapa, ia berkata aturan jelas lebih mudah daripada pertengkaran berulang. Callista menerima alasan tersebut. Mereka belum memiliki kelembutan, namun setidaknya mulai membangun rumah yang tidak bergantung pada suasana hati satu orang.