Daftar tamu upacara kecil menyusut menjadi empat puluh orang. Namun empat puluh orang itu membawa sejarah panjang keluarga Dixie. Callista menyadarinya ketika menghadiri makan malam pertunangan keluarga dan hampir setiap tamu menyebut Carissa.
Seorang bibi berkata Callista lebih pendek daripada Carissa. Sepupu Lucas memuji rambutnya lalu menambahkan Carissa selalu memakai gaya klasik. Bahkan koki lama menyebut menu kesukaan mendiang istri ketika Callista memilih makanan.
Tidak semua berniat menyakiti. Justru perbandingan muncul begitu alami sehingga terasa lebih berat. Callista seolah mengikuti audisi untuk peran yang sudah dimainkan sempurna oleh seseorang yang tidak dapat melakukan kesalahan lagi.
Lucas duduk di ujung meja dan tidak menghentikan satu pun komentar. Ketika bibinya bertanya apakah Callista dapat memainkan piano seperti Carissa, Callista meletakkan sendok.
'Tidak. Saya bisa membuat kopi, mengingat enam pesanan sekaligus, dan mengendarai motor saat hujan. Saya tidak datang untuk mengulang kemampuan Carissa.'
Meja menjadi hening. Amanda memandang kerabatnya dengan kecewa, sedangkan Lucia menyembunyikan senyum bangga.
Bibi itu meminta maaf setengah hati. 'Kami hanya masih merindukannya.'
'Anda boleh merindukannya tanpa menjadikan saya alat ukur.'
Lucas akhirnya berbicara. 'Cukup. Tidak ada lagi perbandingan malam ini.'
Callista menghargai dukungan itu, tetapi terlambat. Seusai makan, ia menemuinya di teras.
'Kau bisa menghentikan mereka sejak pertama.'
'Mereka tidak bermaksud buruk.'
'Dampaknya tetap buruk.'
'Kau menjawab dengan baik.'
'Aku tidak seharusnya harus membela keberadaanku sendirian di meja keluargamu.'
Lucas menatap taman. 'Aku terbiasa mendengar nama Carissa.'
'Aku juga akan terbiasa mendengarnya. Tapi terbiasa bukan berarti membiarkan orang menghapus namaku.'
Lucas meminta maaf dengan kalimat pendek. Callista menerima tanpa menganggap masalah selesai.
Hari berikutnya, tim komunikasi mengirim biografi resmi calon pengantin. Draf menyebut Callista perempuan sederhana yang menyelamatkan Amanda dan memenangkan hati keluarga Dixie. Tidak ada pekerjaan, pendidikan, atau nama orang yang membesarkannya.
Callista meminta bagian itu ditulis ulang. Ia tidak ingin dipasarkan sebagai gadis miskin yang dipilih keluarga kaya. Ia menuliskan sendiri riwayat singkat: bekerja di layanan pelanggan dan kafe, pindah demi kesempatan kerja, bersahabat dengan Audi, serta ingin mengikuti pelatihan pertolongan pertama setelah insiden Amanda.
Lucas menganggap beberapa detail tidak perlu. 'Publik tidak membutuhkan seluruh hidupmu.'
'Benar. Karena itu aku memilih bagian yang kubagikan, bukan timmu.'
Biografi baru diterbitkan setelah Callista menyetujui. Media tetap membuat judul dongeng, tetapi setidaknya sumber resmi tidak ikut menghapus pekerjaannya.
Sebelum persiapan pernikahan selesai, Evelyn menerima dokumen penagihan pamannya. Nama Callista tidak tercantum sebagai peminjam atau penjamin. Kuitansi yang disimpannya hanya menunjukkan pembayaran yang telanjur diberikan, bukan perjanjian baru yang mengambil alih pinjaman. Melalui penasihat mereka, penagih akhirnya menyatakan akan mengejar peminjam dan menghentikan kunjungan ke apartemen Callista. Evelyn menyerahkan salinan kesepakatan serta jalur pengaduan bila gangguan berulang. Pengembalian uang lama tidak seluruhnya berhasil, dan Callista menerima hasil itu setelah menilai pilihannya. Lucas tidak melunasi persoalan tersebut sebagai harga perkawinan.
Konflik lain datang dari nisan keluarga. Tradisi Dixie mengharuskan pasangan menikah berfoto di kapel tempat leluhur dimakamkan. Carissa juga dimakamkan di sana bersama bayi mereka, sedangkan Lucio berada tidak jauh.
Callista tidak ingin hari pernikahannya dimulai dengan foto di depan makam. Amanda mengatakan tradisi dapat diubah. Lucas justru bersikeras datang sendiri pagi sebelum upacara.
'Aku perlu bicara kepada mereka,' katanya.
Callista tidak menertawakan atau meminta ikut. 'Pergilah. Tapi jangan terlambat karena aku tidak akan menunggu tanpa kabar.'
Lucas terlihat tersinggung, kemudian mengangguk. Mereka membuat jadwal dan Ben menjadi kontak bila Lucas tidak dapat mengemudi setelah kunjungan.
Sejak makan malam pertunangan itu, Amanda telah menghubungi seluruh kerabat. Ia mengatakan perbandingan berikutnya akan membuat undangan resepsi dicabut. Callista meminta Amanda tidak mengatasnamakan dirinya sebagai perempuan rapuh; aturan itu perlu karena perilaku mereka tidak sopan.
Lucas mengirim pesan kepada bibinya sendiri. Ia menulis bahwa Carissa adalah bagian keluarganya dan Callista bukan pengganti. Tidak ada seorang pun berhak memakai kesedihan Lucas untuk merendahkan calon istrinya.
Pesan tersebut sampai kepada Callista melalui Lucia. Ia bertanya mengapa Lucas tidak memberitahunya langsung.
'Mungkin dia tidak ingin dipuji karena melakukan hal dasar,' jawab Lucia.
Callista tidak mencari Lucas untuk berterima kasih. Pada malam setelah pertunangan, lelaki tersebut mengirim jadwal hari pernikahan yang telah memasukkan kunjungan kapel serta waktu pribadi Callista. Ia membalas setuju.
Malam sebelum pernikahan, Lucas pergi ke kapel lebih awal dari rencana. Ia berdiri di depan nama Carissa serta bayi yang tidak pernah diberi kesempatan bernapas. Di sampingnya terdapat nama Lucio.
'Aku akan menikah besok,' katanya kepada batu.
Kalimat itu terasa seperti pengkhianatan. Empat tahun ia menjaga rasa bersalah sebagai bukti cinta. Melepaskannya berarti takut Carissa akan mati untuk kedua kali.
Ia mengingat percakapan terakhir yang tidak dijawab. Pesan suara Carissa masih tersimpan: ia meminta Lucas pulang lebih cepat karena ingin menunjukkan hasil pemeriksaan. Lucas mendengar pesan itu setelah polisi menelepon.
Selama ini Lucas menyalahkan rapat, hujan, Lucio, dan dirinya sendiri. Ia tidak pernah membiarkan kecelakaan menjadi peristiwa yang tidak dapat dikendalikan.
'Aku tidak tahu bagaimana mencintai orang lain tanpa merasa meninggalkanmu,' bisiknya.
Tidak ada jawaban. Angin bergerak di antara pohon.
Lucas melepas cincin pernikahan lama dari jarinya. Ia tidak membuang atau meletakkannya di makam. Ia memasukkan ke kotak kecil dan menyimpannya di saku. Carissa pernah menjadi istrinya; cincin itu tidak perlu terus berada di tangan ketika ia mengucapkan janji kepada perempuan lain.
Callista menerima pesan dari Ben malam itu: Tuan Lucas sudah pulang dan meminta saya memberi tahu Anda. Ia tidak menanyakan apa yang terjadi di kapel.
Audi membantu merapikan gaun. 'Masih mau melakukannya?'
Callista melihat cermin. Tidak ada jawaban romantis yang menyapu semua keraguan. 'Aku masih memilih ya hari ini.'
'Hari ini cukup,' kata Audi.
Pagi upacara, Lucas tiba dua puluh menit lebih awal. Ben menawarkan membatalkan bila dirinya belum siap. Lucas berkata kesiapan bukan hilangnya duka; itu kemampuan tidak menjadikan duka sebagai hukuman bagi Callista.
Di ruang persiapan, Callista menerima pesan bahwa Lucas telah datang. Ketegangan di bahunya turun. Ia tidak membutuhkan calon suami yang sudah melupakan masa lalu. Ia membutuhkan lelaki yang tidak memakai masa lalu untuk membuat dirinya menunggu tanpa kepastian.
Pagi berikutnya, Callista datang ke kapel kecil keluarga. Lucas berdiri di depan, tangannya kosong dari cincin Carissa. Ia tidak tersenyum, tetapi menatap Callista tanpa membandingkan.
Nama Carissa masih berada pada batu, foto, dan cerita. Callista tidak perlu menghapusnya. Ia hanya membutuhkan ruang agar namanya sendiri dapat diucapkan tanpa selalu diikuti kata tetapi.