Masa dua tahun yang dahulu mereka sepakati telah berlalu. Mereka tidak langsung menilainya ulang, dan tidak ada alarm yang mewajibkan mereka mencoba. Callista mengingat tanggalnya ketika menemukan foto Lucas kecil di laci dapur. Foto itu berpindah dari rumah besar ke rumah baru dan kini terselip di antara resep serta tagihan listrik.
Ia memegang gambar anak berwajah marah itu sambil menyadari pikirannya telah berubah. Bukan menjadi kepastian, melainkan keinginan untuk membicarakan kemungkinan memiliki anak tanpa suara Amanda, pewaris, atau majalah di dalam kepalanya.
Perceraian Lucia membuatnya ragu memulai. Ia takut pertanyaan itu terdengar seperti penilaian bahwa pilihan Lucia kurang lengkap. Karena itu ia menunggu sampai Lucia sendiri mengatakan hidup orang lain tidak harus berhenti pada keputusannya.
'Kalau kau ingin anak, inginkan karena hidupmu,' kata Lucia. 'Jangan tidak ingin sebagai bentuk solidaritas kepadaku.'
Callista berbicara kepada Lucas malam berikutnya.
'Aku ingin menilai kembali keputusan kita,' katanya. 'Aku mulai bisa membayangkan mencoba hamil.'
Lucas terdiam cukup lama hingga Callista merasa dada menegang.
'Aku belum tahu,' jawabnya.
Callista tidak menyangka rasa kecewa begitu kuat. Selama ini Lucas yang sesekali membayangkan anak, sementara dirinya menjaga pintu tertutup. Sekarang posisi mereka berubah.
'Kau tidak mau?'
'Aku tidak bilang tidak. Aku takut jawabanku menjadi ya hanya karena kau menginginkannya.'
'Itu jawaban yang adil.'
Meski demikian, Callista tidur di kamar sendiri dan menangis. Lucas tidak mengejar masuk. Ia mengirim pesan bahwa dirinya tersedia bila Callista ingin ditemani. Callista menjawab bahwa ia perlu sendirian malam itu.
Mereka kembali ke Miriam. Callista menjelaskan keinginannya bukan muncul dari satu pengalaman ajaib. Ia menyukai kehidupan bersama Lucas, merasa tubuh serta pekerjaannya kini cukup milik sendiri, dan dapat membayangkan membagikan rumah dengan seorang anak. Ia juga takut kehamilan, perubahan karier, serta kehilangan.
'Aku tidak merasa seratus persen siap,' katanya. 'Aku hanya tidak lagi merasa jawabanku belum.'
Lucas mengakui pikirannya masih menghubungkan kehamilan dengan panggilan terakhir Carissa, ruang bersalin yang tidak pernah terjadi, dan tiga nama di taman. Ia takut berharap akan mengkhianati bayi yang meninggal. Ia juga takut menjadi seperti Victor: ayah yang menyebut perlindungan sambil mengambil pilihan.
Miriam bertanya apakah ketakutan berarti ia tidak menginginkan anak atau ia menginginkan tetapi takut pada dirinya sendiri.
'Aku belum bisa membedakan,' jawab Lucas.
Mereka sepakat Lucas mendapat waktu tiga bulan untuk mencari jawaban tanpa Callista menunggu setiap hari. Mereka menghentikan evaluasi pada tanggal yang jelas, tetapi tidak menjadikan tanggal sebagai kewajiban mengatakan ya. Kontrasepsi tetap digunakan.
Lucas membahas duka dengan Dr Helen dan mengikuti kelompok bagi orang tua yang kehilangan kehamilan. Ia awalnya merasa tidak pantas karena Carissa yang mengandung, tetapi fasilitator mengatakan kehilangan pasangan tidak sama dengan pengalaman tubuh Carissa dan tetap merupakan duka yang nyata.
Dalam kelompok, seseorang berkata anak berikutnya tidak harus menyembuhkan anak sebelumnya. Lucas menyadari selama bertahun-tahun ia menolak kemungkinan bukan hanya karena takut kehilangan, tetapi karena takut orang lain menyebut bayi baru sebagai pengganti.
Ia mengunjungi pohon ketiga di taman dan membacakan nama yang tidak pernah dipilih. 'Aku tidak akan menggantikanmu,' katanya. 'Aku juga tidak akan menjadikan kematianmu alasan semua pintu setelahmu harus tertutup.'
Callista menggunakan tiga bulan untuk mempelajari kenyataan praktis. Ia berkonsultasi dengan dokter tentang usia, kesehatan, obat, dan risiko tanpa Lucas di ruangan pertama. Pemeriksaan tidak menjanjikan kesuburan, hanya menunjukkan tidak ada hambatan jelas. Dokter menekankan mencoba tidak berarti hasil pasti.
Safe Service menilai cuti, perlindungan kehamilan, dan penggantian kepemimpinan. Callista menemukan kebijakan mereka sendiri hanya memberi cuti penuh kepada anggota yang telah bekerja satu tahun, sementara mentor baru mendapat lebih sedikit. Ia membawa ketidakadilan itu ke rapat tanpa menyebut rencana pribadi. Koperasi memperluas dana cuti bagi semua anggota berdasarkan kebutuhan dan jam rata-rata.
Callista juga menghitung siapa akan melakukan pekerjaan perawatan. Kekayaan Lucas memungkinkan bantuan, tetapi mereka tidak ingin menyerahkan seluruh kedekatan kepada pekerja. Lucas harus menjadi orang tua aktif, bukan penyedia dana yang sesekali hadir.
Pada akhir tiga bulan, mereka bertemu di meja dapur. Lucas membawa catatan, lalu menyimpannya sebelum bicara.
'Aku ingin mencoba memiliki anak bersamamu,' katanya. 'Aku masih takut. Jawabanku ya bukan janji bahwa aku tidak akan panik atau salah.'
'Jawabanku juga bukan janji tubuhku akan berhasil atau aku selalu bahagia kalau hamil.'
Mereka menyusun kesepakatan sebelum menghentikan kontrasepsi. Mereka akan mencoba secara alami selama satu tahun tanpa mengubah hubungan menjadi kalender tugas. Pemeriksaan lanjutan dilakukan bersama, tetapi keputusan medis pada tubuh Callista tetap miliknya. Bila tidak terjadi kehamilan, teknologi reproduksi atau adopsi akan dibahas sebagai pilihan terpisah, bukan tangga otomatis.
'Adopsi bukan cadangan untuk bayi biologis,' kata Callista.
'Dan seorang anak bukan pewaris perusahaan,' tambah Lucas.
Mereka juga sepakat kehamilan, bila terjadi, tidak diumumkan oleh tim hubungan publik. Nama keluarga seorang anak akan dibahas tanpa menganggap Dixie pilihan otomatis, dan foto tidak menjadi aset perusahaan atau keluarga. Warisan finansial disimpan dalam perwalian yang tidak memberi kewajiban bekerja di Common Line. Bahkan sebelum ada anak, mereka berlatih melihatnya sebagai manusia yang mungkin memilih hidup berbeda.
Amanda diberi tahu hanya setelah mereka siap. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu bertanya aturan apa yang harus diikuti.
'Jangan bertanya setiap bulan,' kata Callista. 'Jangan membeli barang bayi. Jangan memberi tahu siapa pun.'
'Boleh aku merasa bahagia?'
'Boleh. Perasaanmu tidak perlu kami kelola selama tidak berubah menjadi tekanan.'
Amanda menaati selama minggu pertama, kemudian hampir menyebutnya kepada teman dan menghentikan diri. Ia meminta maaf tanpa menunggu ketahuan.
Malam ketika mereka memutuskan mulai, Lucas dan Callista tidak menyalakan lilin atau menjadikan kedekatan sebagai prosedur. Mereka membicarakan persetujuan seperti biasa, tertawa ketika kereta lewat terlalu keras, lalu menutup pintu. Apa yang terjadi setelah itu hanya milik mereka.
Pagi hari tidak ada perubahan yang terlihat. Callista pergi bekerja, Lucas menghadiri kelompok arsip, dan foto masa kecil kembali ke laci. Mungkin telah memasuki hidup mereka bukan sebagai perintah dari keluarga atau jaminan akhir bahagia. Ia datang dari dua orang yang bebas mengatakan tidak, kemudian pada waktu berbeda menemukan ya yang dapat mereka ucapkan bersama.