Tiga bulan pertama mencoba hamil terasa hampir sama dengan kehidupan sebelumnya. Callista menghentikan kontrasepsi setelah berkonsultasi dengan dokter, mencatat siklus untuk kesehatan, dan berusaha tidak mengubah setiap kedekatan menjadi perhitungan.
Pada bulan keempat, aplikasi di ponselnya mulai mengirim perkiraan masa subur. Callista memberi tahu Lucas karena informasi itu memengaruhi keputusan bersama. Mereka tertawa canggung saat pertama kali menjadwalkan malam di kalender.
'Tidak terlalu spontan,' kata Lucas.
'Kita menjadwalkan terapi, makan, dan perjalanan. Mengapa ini harus pura-pura kebetulan?'
Masalah bukan jadwal itu sendiri. Masalah muncul ketika jadwal menjadi perintah. Suatu malam Lucas pulang lelah dari seminar dan mengatakan tidak ingin berhubungan. Callista menjawab baik, lalu diam terlalu lama.
'Kau kecewa,' katanya.
'Ya. Hari ini mungkin kesempatan terbaik bulan ini.'
'Apakah kau ingin aku tetap melakukannya?'
Callista tersentak. 'Tidak. Tentu tidak.'
'Wajahmu membuat tidak terasa seperti jawaban boleh.'
Mereka berhenti membicarakan kehamilan malam itu. Callista tidur sendiri, marah kepada keadaan dan malu karena kekecewaannya berubah menjadi tekanan. Pagi hari ia meminta maaf tanpa mengatakan hormon atau kalender sebagai pembenaran.
'Aku boleh kecewa pada kesempatan yang hilang,' katanya. 'Aku tidak boleh membuat tubuhmu bertugas menghilangkan kecewaku.'
Lucas menerima. Ia juga mengakui pernah memulai kedekatan saat tidak sungguh ingin karena takut Callista mengira dirinya menarik diri dari rencana anak. Mereka membawa persoalan itu ke Miriam.
Terapis meminta mereka memisahkan tiga jenis ajakan: keinginan akan kedekatan, keputusan mencoba pada masa subur, dan sentuhan yang tidak menuju hubungan seksual. Setiap jenis tetap memerlukan persetujuan. Menyetujui mencoba hamil tidak menjadi persetujuan otomatis pada malam tertentu.
Mereka menghapus jadwal bersama dari kalender rumah. Callista menyimpan informasi tubuhnya dan memilih kapan membagikan. Lucas boleh bertanya apakah ia ingin membicarakan siklus, bukan memantau aplikasi.
Bulan kelima berlalu tanpa kehamilan. Callista melihat satu garis dan menangis di toilet kantor. Audi sedang di Boston; Rina duduk bersamanya melalui pintu tanpa mencoba memberi harapan.
'Aku bahkan baru beberapa bulan,' kata Callista. 'Aku merasa tidak berhak sesedih ini.'
'Perasaan tidak perlu antre berdasarkan siapa paling lama menunggu,' jawab Rina.
Callista pulang dan menunjukkan tes kepada Lucas karena ingin berbagi. Ia tidak menyimpan semua benda negatif. Mereka membuangnya bersama setelah membicarakan rasa kecewa.
Amanda menaati larangan bertanya, tetapi kegembiraannya bocor melalui hadiah makanan sehat dan komentar tentang kamar ketiga. Callista mengingatkan batas.
'Aku tidak bertanya,' kata Amanda.
'Tekanan bisa datang tanpa tanda tanya.'
Amanda meminta maaf dan berhenti mengirim makanan. Ia membawa harapannya ke terapi serta kelompok teman, bukan kepada tubuh menantunya.
Pada bulan keenam, rekan Callista mengumumkan kehamilan. Callista mengucapkan selamat, kemudian menangis di tangga darurat. Ia tetap membantu mengubah jadwal kerja agar rekannya aman, tetapi menolak menjadi penyelenggara pesta bayi.
'Aku takut aku menjadi orang buruk,' katanya kepada Lucas.
'Kau bisa bahagia untuknya dan sedih untukmu.'
'Aku mengatakan itu kepada orang lain. Sulit mempercayainya ketika aku yang iri.'
Lucas tidak menyuruhnya bersyukur atas hidup mereka. Ia memasak makan malam dan menerima ketika Callista hanya makan sedikit.
Bulan ketujuh, tekanan berbalik. Lucas tidak dapat mempertahankan gairah saat mereka sepakat mencoba. Ia menjadi malu dan meminta maaf berulang kali. Callista hampir mengatakan tidak masalah dengan nada yang sebenarnya kecewa, lalu menghentikan diri.
'Kita berhenti malam ini,' katanya. 'Bukan mencoba lebih keras.'
Lucas mengira dirinya gagal sebagai lelaki dan calon ayah. Dr Helen membantu membongkar keyakinan bahwa tubuh harus patuh pada rencana. Pemeriksaan dasar tidak menunjukkan masalah mendesak, tetapi stres dapat memengaruhi respons.
Mereka mengambil jeda satu bulan dari usaha hamil. Kontrasepsi dipakai lagi agar jeda memiliki batas jelas dan tidak berubah menjadi kemungkinan yang terus dipantau. Keputusan itu terasa seperti mundur bagi Callista, tetapi juga mengembalikan sentuhan yang tidak memiliki tugas.
Mereka pergi dua hari ke kota kecil tanpa menyebut perjalanan sebagai bulan madu kedua. Tidak ada vila terpencil atau pintu terbuka yang mengulang pulau. Mereka tinggal di penginapan biasa, berjalan di pasar, dan berdebat soal peta.
Pada malam pertama, Callista ingin dekat. Lucas bertanya apakah keinginan itu berasal dari mereka atau rasa takut membuang waktu. Callista berpikir lalu menjawab keduanya.
'Kalau begitu kita boleh memilih bagian yang kita mau,' katanya.
Mereka berciuman, berhenti, makan kue di ranjang, lalu tidur. Malam berikutnya mereka saling memilih tanpa kalender. Pintu tertutup dan kisah tidak mengikuti lebih jauh.
Setelah pulang, Callista memutuskan aplikasi kesuburan tidak akan dipakai lagi. Ia tetap mencatat kesehatan di kalender pribadi dan berkonsultasi sesuai jadwal dokter, tetapi tidak ingin setiap suhu tubuh menjadi laporan kinerja.
Pada akhir bulan jeda, mereka bertemu dokter bersama. Dokter menjelaskan kebanyakan pasangan belum dianggap mengalami gangguan kesuburan hanya berdasarkan beberapa bulan dan usia menentukan kapan evaluasi dianjurkan. Mereka boleh melanjutkan, menunggu, atau memulai pemeriksaan dasar.
Callista serta Lucas memilih pemeriksaan agar mendapat informasi, bukan karena salah satu tubuh dituduh. Tes dilakukan pada keduanya. Mereka berjanji hasil tidak akan disebut kesalahan siapa pun.
Klinik meminta izin mengirim semua hasil ke satu portal keluarga. Callista menolak dan meminta akun terpisah; setiap orang menerima data tubuhnya lebih dahulu, lalu memilih membagikan. Lucas membayar bagian yang tidak ditanggung asuransi, tetapi pembayaran tidak memberinya akses catatan Callista. Mereka juga menolak paket pemeriksaan tambahan yang dijual sebagai jalan tercepat sebelum dokter menjelaskan manfaatnya. Kekayaan tidak harus mempercepat setiap langkah hanya karena mampu.
Mereka menentukan siapa yang boleh tahu. Miriam dan dokter masuk daftar; Amanda, staf rumah, serta tim komunikasi tidak. Jika janji mengganggu kerja, Callista hanya mengatakan ada urusan medis. Safe Service tidak berhak meminta diagnosis pendirinya, sama seperti perusahaan tidak berhak meminta diagnosis anggota lain.
Sebelum meninggalkan klinik, Lucas menggenggam tangan Callista setelah bertanya. 'Kalau proses ini membuat kita kehilangan kemampuan mengatakan tidak, aku ingin berhenti.'
'Aku juga,' jawabnya. 'Aku menginginkan anak. Aku tidak menginginkannya dengan harga mengubah kita menjadi alat.'
Kalender tetap memiliki tanggal dokter dan masa tunggu. Namun cinta tidak lagi diberi kotak yang harus dicentang. Mereka boleh berharap tanpa membuat tubuh berutang hasil, dan boleh berhenti di tengah jalan tanpa menjadikan semua bulan sebelumnya sia-sia.