Selama jeda tiga bulan, Callista tidak menghitung hari. Ia kembali bepergian, mengajar, dan minum kopi tanpa mencari gejala dalam setiap rasa lelah. Lucas menjalani pemeriksaan lanjutan yang menunjukkan hasilnya berubah sedikit tetapi tetap di bawah rata-rata.
Mereka berbicara tentang hidup tanpa anak untuk pertama kalinya tanpa menyebutnya kegagalan. Callista dapat membayangkan terus mengembangkan kurikulum, menjadi bibi bagi anak-anak teman, dan menua bersama Lucas. Bayangan itu mengandung sedih, tetapi juga kehidupan yang nyata.
'Kalau kita berhenti sekarang, apakah kau akan menyesal?' tanya Lucas.
'Mungkin. Kalau kita terus, aku juga bisa menyesali apa yang tubuhku jalani.'
'Jawaban yang sangat tidak membantu.'
'Hidup jarang memberi tabel sebaik milikmu.'
Mereka tertawa. Kemampuan tertawa menjadi alasan Callista merasa siap menilai kembali, bukan tekanan untuk melanjutkan.
Pada akhir jeda, Callista memilih mencoba inseminasi ketiga dengan dosis lebih rendah. Ia mengatakan keputusan itu berlaku satu siklus saja. Lucas setuju dan meminta dokter mencatat bahwa langkah berikutnya tidak otomatis pembuahan laboratorium.
Proses berlangsung lebih tenang. Mereka sudah tahu ruang tunggu, perawat, serta efek obat. Ketahuan tidak menghapus ketakutan, tetapi mengurangi kejutan. Callista tetap bekerja dengan jadwal lebih ringan dan menggunakan cuti saat tubuhnya meminta.
Hari tindakan, Lucas tidak membawa bunga atau hadiah. Ia membawa kaus kaki hangat yang diminta Callista dan buku teka-teki. Mereka mengisi dua halaman sambil menunggu.
'Kalau gagal?' tanya Callista.
'Kita sedih. Lalu kita berhenti sampai memutuskan lagi.'
'Kalau berhasil?'
Lucas menelan napas. 'Kita mungkin tetap takut.'
'Jawaban yang benar.'
Dua minggu menunggu dimulai. Callista menolak menyimpan alat tes di rumah sampai hari yang direkomendasikan. Ia dan Lucas menjalani malam intim hanya ketika ingin, bukan karena hasil sudah ditentukan. Tidak ada pantangan buatan yang menjadikan tubuh Callista benda rapuh.
Pada hari kesepuluh, Callista merasa mual. Ia tahu obat dapat menyebabkan gejala serupa dan tidak memberi tahu Amanda. Pada hari kedua belas, ia membeli tes saat perjalanan pulang lalu menyimpannya di laci.
Hari keempat belas, ia bangun sebelum Lucas. Ia melakukan tes sendiri karena ingin beberapa menit pertama menjadi miliknya. Dua garis muncul perlahan.
Callista duduk di lantai kamar mandi. Ia menunggu kegembiraan besar, tetapi yang datang pertama adalah takut. Tes rumah bukan jaminan kehamilan berkembang. Ia juga teringat semua satu garis yang telah dibuang.
Lucas mengetuk pintu. 'Kau baik-baik saja?'
'Aku tidak tahu.'
'Boleh aku masuk?'
Callista membuka pintu. Ia tidak menyerahkan alat tes, hanya menunjuk tempatnya di wastafel. Lucas melihat dua garis dan menutup mulut. Matanya basah.
'Apakah aku boleh memelukmu?'
'Ya.'
Mereka berpelukan di lantai. Tidak ada kalimat tentang anak laki-laki, pewaris, atau Carissa. Lucas berkata, 'Hari ini ada hasil positif.' Callista menghargai ketepatan itu.
Klinik meminta pemeriksaan darah. Hasil pertama menunjukkan hormon kehamilan, tetapi perlu diulang untuk melihat perkembangan. Dua hari berikutnya menjadi masa tunggu baru. Lucas ingin membatalkan semua jadwal Callista; ia menolak.
'Aku akan mengikuti saran dokter, bukan ketakutanmu.'
Dokter tidak melarang bekerja, hanya meminta Callista menghubungi bila ada nyeri berat atau perdarahan. Ia mengurangi perjalanan panjang atas pilihan sendiri dan menyerahkan satu pelatihan kepada Rina.
Hasil darah kedua meningkat sesuai harapan. Perawat memberi selamat dengan hati-hati dan menjadwalkan pemeriksaan awal. Callista menangis setelah telepon, kali ini dengan rasa bahagia yang berani muncul sedikit.
Mereka sepakat memberi tahu hanya Miriam dan Dr Helen sampai pemeriksaan. Namun Lucas menyadari pembayaran klinik dapat terlihat pada pengelola keuangannya. Ia mengubah akses agar tagihan medis pribadi diproses tanpa rincian oleh staf. Ben bukan lagi penjaga rahasia mereka, dan mereka tidak menunjuk pengganti baru.
Callista perlu mengubah dua sesi yang melibatkan perjalanan malam. Ia memberi tahu Mateo bahwa ada kondisi medis sementara tanpa menyebut kehamilan. Mateo menyetujui penyesuaian berdasarkan kebijakan yang berlaku untuk semua anggota dan tidak meminta surat berisi diagnosis. Callista sempat ingin mempercayakan kabar kepada Audi, tetapi menunggu sampai merasa siap. Menjadi sahabat tidak menciptakan hak otomatis atas berita tubuh.
Lucas juga membatalkan satu acara publik agar dapat menghadiri pemeriksaan, tetapi tidak mengatakan alasan kepada universitas. Ketika penyelenggara menawarkan menjadwal ulang seluruh kelas, ia menolak keistimewaan itu dan mencari pengajar pengganti berbayar. Kehamilan Callista tidak boleh diam-diam mengubah pekerjaan banyak orang di sekitar mereka.
Seminggu sebelum pemeriksaan, Callista mengalami bercak darah ringan. Ia panik dan menelepon klinik. Perawat menjelaskan bercak dapat terjadi tetapi harus dipantau. Karena ada nyeri ringan, mereka diminta datang.
Lucas mengemudi terlalu cepat sampai Callista menyuruhnya menepi. Mereka bertukar tempat dengan sopir layanan yang dipanggil.
'Kau tidak membantu kalau membuat kita mengalami kecelakaan,' katanya.
Lucas mengakui tubuhnya bereaksi pada kenangan malam Carissa. Di ruang tunggu ia menggunakan latihan napas dan tidak meminta prioritas karena nama.
Pemeriksaan menunjukkan kehamilan berada di tempat yang benar dan perkembangan sesuai usia yang masih sangat awal. Detak belum dapat dipastikan, sehingga dokter menjadwalkan kunjungan ulang. Bercak berhenti malam itu.
Callista tidak mengatakan semua baik-baik saja. Ia mengatakan hari ini tidak ditemukan tanda bahaya. Lucas mengikuti bahasa tersebut. Mereka merayakan bukan dengan membeli barang bayi, melainkan makan sup dan tidur.
Pada pemeriksaan berikutnya, layar menunjukkan titik kecil dengan gerakan cepat. Dokter membiarkan Callista memilih apakah ingin mendengar penjelasan. Lucas menggenggam kursi sampai Callista mengulurkan tangan.
'Itu aktivitas jantung,' kata dokter. 'Ukuran sesuai perkiraan.'
Lucas menangis tanpa meminta maaf. Callista juga menangis, lalu tertawa karena keduanya tidak dapat membaca apa pun di layar tanpa bantuan.
Mereka pulang membawa satu cetakan dalam amplop tertutup. Callista menaruhnya di laci bersama foto Lucas kecil, bukan di media sosial atau meja keluarga.
Dua garis akhirnya muncul. Garis itu tidak menghapus bulan negatif, tidak menjamin akhir, dan tidak mengubah Callista menjadi wadah bagi harapan semua orang. Ia hanya membuka satu hari berikutnya. Pada hari itu, Callista masih memiliki tubuhnya, Lucas masih harus meminta, dan mereka memilih berharap dalam ukuran yang sanggup ditanggung bersama.