Timo tidak mendapati jawaban yang diinginkan olehnya Fida. Fida malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain. “Makanya kamu itu kalau waktunya makan siang itu makan Tim, jangan fokus aja sama kerjaan. Kesehatan kamu itu lebih penting dari apapun Tim.” Kata Fida.
“Iya maaf.”
“Kamu mah maaf doang, nanti diulangin lagi.” Fida menyuapkan lagi buncis daging berserta nasi ke dalam mulut Timo. “Enak nggak masakan aku?”
“Enak. Kamu beneran bikin ini?”
“Iya beneran bikin. Kamu nggak percaya?”
Gue salah ngomong lagi. Padahal dari cara diemnya dia gue udah paham, kalau Fida lagi marah sama gue.”Udah siap nih?” kata Timo ia mencoba menggoda Fida berusaha membuat kekasihnya itu kembali tersenyum.
“Siapa apa?”
“Jadi istri aku.”
“Jauh banget kamu ngayalnya.” kata Fida.
“Kamu ngggak mau jadi istri aku?”
Fida rasanya ingin berkata begini ke Timo, Gue mah mau aja jadi istri lo masalahnya adalah perbedaan yang ada di antara kita. Kita berdua beda, Tim. Nyadar nggak sih kamu! “iya maulah.”
“Jawab kaya terpaksa ih kamu!”
“Tim aku kayanya harus balik ke kantor nih, ini nasinya kamu habisin ya.” Fida sedang tidak mood dengan Timo. Daripada ia harus marah-marah tidak jelas, apalagi di kantor orang lain bikin rame sekaligus malu.
“Kamu marah sama aku?” tanya Timo.
Fida menaruh kotak bekalnya di atas meja lalu ia bangkit dari tempat duduknya, dan lagi ia tidak menjawab pertanyaan Timo. “Ini nasi kamu abisin ya, jangan sampe nggak. Aku balik ke kantor dulu.”
Fida pun langsung pergi meninggalkan Timo yang masih speechless dengan sikap Fida yang dingin seperti ini. Bagaimana jadinya bila Fida tahu bahwa ia lebih menanggapi pesan-pesan dari Elvira dari pada kekasihnya itu. Bukan lagi sikap dingin yang ditunjukkan oleh Fida, tapi juga murak atau bahkan... Timo langsung membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
Saat Fida akan memasuki lift ia bertemu dengan Shaka. Akan tetapi, ia tidak menyapa Shaka sama sekali. Shaka pun curiga sedang terjadi sesuatu dengan Fida. Ia pun langsung mengirim pesan ke Fida.
Shaka
Fida lo okay?
Shaka pun langsung memasuki ponselnya kembali ke dalam saku celananya kemudian ia langsung masuk ke kantor, dan Shaka pergi ke pantry untuk melihat Timo. Mungkin saja di sana ia kaan menemukan informasi kenapa Fida tiba-tiba pergi dengan tampang murung seperti tadi.
“Tim?” panggil Shaka sesaat setalah ia berada di pantry. Timo sedang menikmati nasi di kotak bekal yang Fida bawakan untuknya.
“Fida kenapa?” Shaka membuka kulkas untuk mengambil minumnanya yang ia taruh di kulkas pantry.
“Maksud lo?”
Shaka memutar botol minumannya sambil berjalan ke meja pantry, duduk di bangku yang tadi di tempati oleh Fida atau lebih tepatnya tempat duduk yang berhadapan dengan Timo. “Lo sama si Fida kagak berantem kan ya?”
“Napa lo tiba-tiba nanya gitu?”
“Tadi gue ketemu sama dia. Mukanya muram banget. Lo nggak apa-apain, kan?”
“Kagak kenapa-napa kok kita. We’re fine.” Timo bukan tipe orang yang dengan mudahnya berceita tentang masalah pribadinya. Jadi, ia menjawabnya dengan berbohong.
“Ohh bagus deh. Kalo ada masalah cerita aja ya, jangan dipendem nggak bakal bertelur.”
Tiba-tiba suara mengema dari seorang Adit yang baru saja masuk ke pantry. Shaka menoleh kea rah pintu masuk pantry yang disambut oleh cengiran dari Adit, yang rasanya ingin Shaka lempar dengan batu kali. Adit berjalan ke arah Timo dan Shaka yang sedang berbincang-bincang.
Adit mendaratkan bokongnya di bangku sebelah Shaka, “lagi pada gosipin apa sih kalian? Kayanya seru banget deh. Boleh ikutan nggak aku?”
“Aku apaan! Sok imut lo.” kata Shaka dengan nada kesal.
“Tim, tumben bawa bekal lo?” Adit tidak menanggapi ucapannya Shaka, ia lebih tertarik dengan bekal yang sedang di lahap oleh Timo. Soalnya tumben sekali temannya itu bawa bekal, biasanya kan tidak pernah, bahkan sampai lupa makan.
“Dibikin Fida, dia bawaiin buat gue.” kata Timo. Lalu Timo menyodorkan kotak bekalnya ke Shaka dan Adit. “Lo pada mau nggak?”
“Mau dong. Gue boleh nyoba nggak?” kata Adit.
“Lo maruk banget sih Adit, biarin Timo yang makan dia lagi sakit. Harus makan banyak, lagian bekal itu dibikinin sama Fida bukan buat lo.” ucap Shaka.
“Kalo lo mau nggak apa-apa lo makan aja,” Timo memang orangnya senang berbagi rasanya kalau makan hanya sendirian. Ia pun menyerahkan kotak bekal ke Adit.
“Asyik! Makasih Tim.” Adit menyedok makananya dari kotak bekal milik Timo—milik Fida lebih tepatnya.
“Lo beneran nggak apa-apa Tim sama si Fida?” tanya Shaka khawatir karena memang hubungan mereka selama ini terlihat baik-baik saja.
“Iya beneran nggak apa-apa.” Timo pun beranjak dari tempat duduknyakaena ia piker lebih baik mengerjakan pekerjaan dari pada terus ditaya-tanya oleh Shaka. “Dit abisin aja ya, gue mau lanjut kerja. Duluan ya.” Timo pun keluar dari pantry; sementara Shaka yang pertanyaannya tidak terjawab hanya berdoa semoga hubungan Fida dan temannya itu baik-baik saja.
“Emang si Timo kenapa, Ka?”
“Nggak tahu sih,” Shaka meneguk lagi airnya. “Soalnya tadi gue ketemu sama pacarnya si Fida, pas mau masuk lift mukanya murung gitu. Tapi, feeling gue yakin mereka abis ribut. Menurut lo gimana?”
Meskipun Adit dan Shaka selalu berdebat dalam hal apapun, tapi untuk urusan yang serius mereka akan berbicara dengan serius. Adit tidak langsung menjawab ia seperti berpikir dahulu apa kalimat yang pas untuk dikatakan. “Pas si Fida ke sini mukannya biasa aja kan ya?”
“Iya loh biasa aja.”
“Pas balik dia berubah mukanya.”
“Suram kan jadinya?” kata Adit, dan Shaka mengangguk. “Udah pasti mereka lagi ada masalah. Biarin aja mereka udah gede bisa nyelesaiin masalahnya sendiri.”
“Iya gue harapnya si mereka baik-baik aja.” Shaka memegang pundak Adit, “gue balik kerja dulu ya.” Kata Shaka.
“Oke.”
Saat Shaka hendak membuka pintu pantry ponsel bergetar tanda pesan masuk. Ia tidak langsung membukanya, dan dibuka pesannya pada saat ia sudah berada di mejanya.
Fida
Gue oke kok.
Kenapa?
Shaka
Beneran lo?
Fida
Iya.
Shaka tidak membalas lagi pesan dari Fida, ia memperhatikan Timo yang sedang fokus dengan komputernya. Lalu Shaka bertanya, “lo masih sakit, Tim?” tanya Shaka.
“Sedikit pusing.”
“Nggak niat pulang cepat?” tanya Shaka.
Timo sih ada niatan untuk pulang cepat, jujur kepalanya masih pusing dan perutnya mual. Ia kepikiran dengan Fida pulang sendiri; Fida bisa pulang dengan kendaraan umum. Akan tetapi, Timo khawatir biasanya kan selalu pulang dengannya. Kenapa Fida nggak pulang bareng aja yah sama Shaka? Pikirnya sambil memijat dahinya yang sedang sakit.
“Kalau Fida pulang bareng sama lo gimana?”
“Maksudnya? Gue nanya lo ada niat pulan cepat atau nggak, kok ini malah nyambung gimana kalau gue pulang sama Fida?!”
Timo menimpuk Shaka dengan pulpen, “lo kalo kaya gini mirip Adit. Makanya jangan kebanyakan main sama dia.” Shaka membalas untuk menimpuk Timo. “Gue nanti pulang cepet, nanti lo pulang sama Fida ya. Antar dia balik sampe rumah, jangan lo apa-apain dia.”
Gue malah seneng, Tim. Pulang sama Fida soalnya asyik dia, “Oke gue nanti pulang bareng sama pacar lo.” kata Shaka.
“Makasih ya, maaf ngerepotin lo.”
“Yaelah kaya ama siapa aja.”
Shaka dan Timo memang berteman sangat baik satu sama lain; mereka berteman sejak kuliah sampai sekarang kerja bareng. Selama itu pun, Timo tidak pernah melihat Shaka membawa kekasihnya—peranh sih lihat Shaka jalan dengan perempuan, ya tapi hanya buat main-main. Ini sih yang tidak disukai oleh Timo dari Shaka—suka pemberi harapan palsu ke perempuan lain.
“Tim?” panggil Shaka.
“Apa?’
“Kalau gue jatuh cinta sama pacar lo gimana?”
“Gue santet lo! Ini lo serius apa bercanda?”
“Bercanda, jangan dimasukin ke hati.”
“Kagak. Udah lo berisik, mau kerja nih.”
“Iya iya.” Kata Shaka ia pun langsung membuka komputernya, dan tidak lupa ia mengirim pesan ke Fida untuk memberitahunya bahwa perempuan itu akan pulang bersama dengannya.
Shaka
Fid, nanti lo pulang bareng gue.
Shaka berencana nanti saat pulang bareng ia akan membawa Fida untuk makam malam di tempat langganannya, ia ingin bercerita banyak dengan Fida sebagai seroang teman. Karena selama ini ia hanya mengenal Fida, ya sebatas Fida itu adalah kekasih dari temannya. Shaka tertarik dengan Fida, dan Fida layak untuk dijadikan sahabat baiknya.
Tenang saja, Shaka tidak akan jatuh cinta. Dia tidak akan mengambil apa yang sudah dimiliki oleh sahabatnya, tapi kalau misalnya Timo menyakiti Fida ia akan menjadi orang paling depan yang akan menegur Timo.