Sekitar pukul setengah tiga sore Fida baru sempat mengecek ponselnya karena kerjaan hari ini benar-benar menyita waktunya sekali sampai ia tidak sempat mengecek ponsel pribadinya. Saat ia membuka ponselnya, ada satu pesan masuk dari Shaka.
Isi pesannya cukup membuat dahinya mengernyit. Shaka mengajaknya untuk pulang bersama? Ia kan akan pulang bersama dengan Timo, meskipun ia masih kesal dengan Timo. Akan tetapi, ia sendiri pun tidak tega jika harus mendiami kekasihnya itu dalam waktu yang lama.
Shaka
Fid, nanti lo pulang bareng gue.
Itulah isi pesan dari Shaka untuk dirinya. Kalau memang Timo tidak ingin pulang bersama dengannya ia bisa bulang sendiri, better kan daripada pulang dengan Shaka.
Fida
Ngapain balik bareng lo?
Gue balik sama, Timo.
Aneh sekali Shaka! Fida menunggu balasan dari Shaka; kalau ia memaksa Fida tinggal bilang sama Timo supaya Timo bisa menasehati.
Dira yang sedari memperhatikan temannya itu sedang fokus dengan ponselnya, sepertinya sedang menunggu sesuatu. “Sssstttt!” Dira berdecit dari mejanya, tapi usahanya sia-sia karena Fida tidak menyadari karena terlalu foksu dengan ponselnya.
“FIDA!” kata Dira dengan sedikit berteriak.
Semua orang yang ada di kantor pun langsung menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan kesal karena menganggu konsetrasi mereka yang sedang bekerja. Dira pun memberikan isyarat minta maaf kepada teman sekantornya, dengan menunduk kepala—dan teman-teman kantornya tidak peduli sama sekali mereka kembali kerja.
“Lo kalo manggil tuh biasa aja bisa kali.” kata Fida
“Lo gue panggil dari tadi kagak nyaut.” Dira menarik bangkunya untuk bisa berada di dekat Fida supaya ia tidak berbicara sambil berteriak-teriak. “Lo serius amat sama ponsel lo ada apa sih?’
Fida menunjukkan ponselnya kepada Dira; untuk membaca pesan dari Shaka. Saat Dira membaca pesan dari Shaka ia langsung melotot. Kok Shaka bisa ngajak pulang Dira? Gue nggak diajak pulang gitu sama Shaka? “Kok bisa?”
“Ya mana gue tahu. Gue juga bingung, Dir.” kata Fida. “Lagian gue pulang kan emang selalu bareng sama Timo.” Saat Dira sudah mengembalikan ponselnya ke Fida, ponsel Fida kembali bergetar pesan masuk dari Shaka.
Shaka
Timo ngomong sama gue
Katanya dia masih ngeras gak enak
Badannya, dia mau iizin pulang cepat
Dia minta lo pulang bareng sama gue.
Lo gak boleh nolak
Ini permintaan Timo
Kalo lo nolak
Terus balik sendri gue yang diocehin.
Oke?
Fida menoleh ke arah Dira lalu ia memberithau Dira kalau yang menyuruhnya pulang bersama adalah Timo, karena Timo izin pulang cepat, kekasihnya itu tidak mau ia pulang sendiri. Jujur Dira sendiri di dalam lubuk hatinya merasa cemburu. Akan terapi, ia tidak punya hak bukan untuk cemburu—ia bukan siapa-siapa di mata Shaka. Namun, seketika otak Dira langsung muncul ide yang lumayan bagus. Idenya adlaah membiarkan Fida pulang dengan Shaka, supaya Fida bisa mengorek tentang Shaka yang sangat misterius.
“Lo..” ucapan Fida langsung dipotong oleh Dira.
“Udah lo pulang bareng aja sama Shaka.”
“Nggak apa-apa nih?” Fida masih mencoba meyakinkan Dira, ia tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
“Bagus dong lo pulang sama dia.”
“Bagus apanya, Dir?”
“Bisa korek informasinya soal dia, dan nanti kasih gue. Gimana? Ide gue bagus kan?” Dira tersenyum sambil matanya berkedip-kedip. “Lo nggak usah khawatir gue nggak bakal cemburu.”
“Oke kalau gitu, demi lo gue terima ajakan pulang bareng dari Shaka.”
“Nah gitu dong, jangan lupa informasinya ya.” Dira pun kembali ke meja kerja berserta dengan kursinya, dan lanjut bekerja.
Fida
Oke ka.
***
Fida sudah selesai bekerja kali ini ia selesai dengan tepat waktu, jadi ia memtuskan untuk turun ke lanati tiga di amna temapt Shaka dan Timo bekerja. Timo tadi sempat mengabarinya kalau ia akan pulang duluan, dan Fida akan pulang bersama dengan Shaka. Kekasihnya itu sempat bertanya, apakah masih marah dengannya? Fida tidak memberitahunya lagi dan lagi Fida mengalihkan pembicaraan.
Untuk saat ini Fida sedang tidak ingin berdebat dengan Timo; mungkin nanti entahlah. Mood-nya sedang tidak enak dengan Timo, hari ini.
Fida
Gue udah di depan kantor lo nih.
Si penerima pesan alias Shaka yang sedang merapihkan barang-barangnya untuk dimasukan ke dalam tas ransel miliknya langsung menghentikan aktivitasnya ketika ponselnya bergetar, dan di layar tertera nama Fida.
Shaka pun langsung membalas pesan dari Fida secepat kilat.
Shaka
Oke, gue bentar lagi nih.
Tunggu yaJ
Fida menunggu Shaka sekitar lima menit. Ia melihat laki-laki jakung keluar dari kantornya, melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum dean memperlihatkan leseung pipitnya. Senyuman dengan lengsung pipit Shaka membuat laki-laki terlihat manis saat tersenyum.
“Udah siap untuk pulang?” tanya Shaka.
“Keliatannya?”
“Yaudah yuk!”
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju lift, dan mereka tidak perlu menunggu dahulu liftnya karena saat mereka sampai pintu lift pun terbuka. Kebetulan liftnya tidak terlalu ramai. Hanya berisi mereka berdua, dan dua bapak-bapak bertumbuh tambun.
Fida dan Shaka berdiri di depannya. Masing-masing orang yang beradas di dalam lift mengobrol dengan partener masing-masing.
“Timo balik jam berapa, Ka?”
“Jam tiga.”
“Bekalnya habis.”
Habis, dihabisin sama Adit. “Abis kok, dia sempet nawarin gue sama Adit, tapi kita nolak.” Adit nggak nolak, tambah Shaka dalam hatinya.
“Bagus deh.”
“Lo beneran oke, Fid?”
Pintu lift terbuka di basement parkiran. Mereka berdua berjalan menuju ke parkiran motor, dan motor matic Shaka berada di tengah-tengah (di antara motor-motor lain).
“Iya oke.” Fida tersenyum—tersenyum lebar yang dipaksakan.”Emang kenapa sih?”
“Nggak apa-apa nanya aja. Kalo ada apa-apa, atau butuh teman cerita. Cerita aja ke gue.” Shaka berjalan ke motornya, dan ia mengambil helm-nya lalu helm candangan yang selalu ia bawa diberikan kepada Fida.
Fida pun agak heran dengan Shaka yang selalu bawa helm dua padahal Shaka selalu pulang berdua, ia pun langsung bertantanya ke Shaka. “Lo kenapa selalu bawa helm dua?” kini Fida sudah memakai helm di kepalanya, sambil memperhatikan Shaka yang sedang mengeluarkan motornya dari barisan motor lainnya.
“Persiapan aja.”
“Persiapan?”
Shaka menyalahkan starter motornya lalu ia memint Fida ntuk naik ke motornya. Fida pun langsung naik ke motor Fida, dan mengulangi pertanyaannya setelah ia naik ke motor dengan posisi duduk yang menurut Fida sudah pas “Persiapan kalau ada yang mau pulang bareng sama gue.”
Masuk akal. “Oh gitu, siplah. Lo emang baik ya, Ka. Cuma orang-orang disekitar lo selalu anggap lo bad boy.”
Kini Shaka dan Fida sudah berada di laur gedung wisma Sejahtera. Motonya mulai membelah jalanan ibu kota yang suasana sudah sangat ramai, karena ini jam pulang kantor.
“Menurut lo gue gimana?”
“Ganteng, tapi jutek abis.”
Shaka menanggapinya dengan tertawa, “makasih lo atas komentar positif.”
“Ka?”
“Hah?!”
“Shaka?”
“Iya apaaaa?”
Maklum kalau berteriak kalau tidak berteriak berbicara di atas motor malah nanti jadi salah tangkap dengan apa yang dimaksud lawan bicaranya.
“Di wisma Sejahtera ada nggak cewek yang lo taksir satu aja?” Fida di dalam bantin langsung memuji diri sendiri, karena umpan pancingan sangat profesioanal.
“Ada..”
HAH? SERIUS? Ada yang disukai oleh Shaka di wisma Sejahtera. Ini benar-benar informasi yang sangat berfaedah untuk Dira, tapi Fida harus terus mengorek siapa perempuan yang diam-diam sedang disukai oleh Shaka.
“Siapa?”
“Ko lo kepo sih?”
Hei Shaka gue sebenarnya nggak kepo yah sama lo, gue cuma menjalankan amanat dari temen gue. Rasanya Fida ingn mengatakan kalimat di atas. “Gue mau tanya, emang gak boleh?”
Kini mereka berhenti di lampu merah, jadi untuk sementara ini di antara keduanya tidak ada yang perlu berbicara dengan cara saling membentak.
“Boleh banget. Tapi, untuk sekarang gue nggak mau kasih tahu, itu adalah sebuah secret.”
“Yaudah deh kalau gitu.” Fida juga tidak ingin memaksa. Kalau memaksa malah Shaka curiga kalau Fida ingin mengorek informasi dari Shaka. Lampu merah pun berubah menjadi hijau, Shaka pun langsung melajukan motornya untuk sampai di rumah Fida, alias tempat makan pecel ayam di pinggir jalan langganan Shaka.
Akan tetapi, Fida tidak akan menyerah begitu saja. Demi sang sahabat yang ingin tahu informasi penting mengeanai Shaka, akan ia lakukan. Syukur-syukur sahabatnya dan Shaka menjadi sepasang kekasih yang sangat serasi.
“Ka ini kita mau ke mana?” Shaka harus belok ke kiri untuk sampai k erumah Fida ini malah belok kiri.
“Makan ya, gue laper. Lo gue traktir Fid tenang aja.”
“Jadi lo nggak langsung pulang nih?” tanya Fida
Kepala Shaka mengangguk, “iya. Gue pengin ngobrol aja sama lo.”
“Jangan sampe malem, kasihan adik gue.”
“Pulangnya kita beliin adik lo makanan atau apa kek terserah.”
“Oke, makan doang ya? Jangan ke mana-mana.” Fida tidak bisa meninggalkan ruamh terlalu kasihan adiknya itu apa-apa harus disediaiin, kalau lapar gimana? Tidak ada yang memasaknya.
“Oke.”
“Tapi, jangan lebih dari jam 10.”
“Siap bos!”
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Sampainya mereka di warung pecel lele langganan Shaka sejak ia masih duduk kelas 8 SMP.