“Ini enak nggak pecel lelenya?” tanya Fida begitu memasukin tenda warung pecel lele. Warung pecel lele ini sama saja seperti warung pecel lele pada umumnya.
Fida dan Shaka pun langsung masuk ke dalam tenda pecel lele. “Iya ini langganan gue waktu SMP dari kelas 8.” Shaka dan Fida pun duduk berdampingan.
“Lama juga ya, ama makanan kesukaan aja setia ya. Apalagi ama pacarnya nanti.” ledek Fida lalu ia melihat menu makananya berpikir sejenak untuk memesan apa yang ingin ia makanan. Sepertinya ia sudah lama tidak makan pecel ayam, lalu ia pun memesan satu ayam goreng dan es teh manis satu. “Lo pesen apa, ka?” tanya Fida.
“Samaiin aja kaya gimana.” ujar Shaka. “Udah lama gue nggak makan ayam goreng beserta dengan es teh manis.”
“Oke.” Fida pun langsung memesankan makanan untuk dirinya dan juga Shaka.
“Lo beneran nganterin gue balik?” tanya Fida. Fida benar-benar tidak enak dengan Shaka harus mengantarnya pulang karena jarak rumah mereka beda arah.
“Nggak apa-apa. Itung-itung bantuin Timo, kan?”
“Oke sih kalo nggak keberatan, kalo keberatan bilang aja, nanti gue naik kendaraan umum” Fida menerima dua es manis yang diberikan oleh mas penjual pecelnya. Satu gelas untuknya, satu gelasnya lagi untuk Shaka. “Makasih ya, Ka.”
“Makasihnya belakangan aja, sampe rumah juga belum.” Shaka menyeruput teh manis menggunakan sedotan warna putih.
Suasana warung pecel lele hari ini tidak terlalu ramai seperti biasanya. Mungkin karena masih habis magrib jadi belum terlalu ramai, mungkin kalau agak malam akan ramai. “Kalau ada yang diem-diem suka sama lo gimana?”
Shaka mengernyit heran; kenapa Fida tiba-tiba kepo dengan hubungan pribadinya. Apa jangan-jangan si Fida ini suka dengannya, pikir Shaka. Mungkin sajas seperti cerita roman picisian diam-diam Fida menyukai Shaka, tapi perasaannya itu tertahan karena Fida sendiri sudah memiliki kekasih.
“Lo kenapa tiba-tiba bertanya begini, Fid? Lo suka ya sama gue.”
Fida rasanya ingin melempar lalapan yang ada di depannya ke wajah Shaka. Bisa-bisanya ia berpikir kalau dirinyalah yang menyukainya. Sudah tahu yang menyukai adalah Dira—sahabatnya sendiri. “Lo ini kepedean banget ya, Ka. Yakali gue suka sama lo. Lo bukan selera gue.”
“Terus kenapa lo nanya soal ini?”
Ya karena gue ingin mendapatkan informasi yang diinginkan oleh teman gue, yaitu si Dira.”pengin tahu aja siapa yang lo suka. Siapa tahu kan ya gue bisa bantu.” Bagus Fid lo ngeles! Fida bertepuk tangan pada dirinya sendiri, ia harap dengan begini Shaka tidak curiga.
Pesanan mereka berdua pun sudah matang ayam gorengnya, dan mas penjualnya menyerahkan dua porsi pecel ayam. Fida pun mengambilnya satu porsi untuk dirinya, satu porsinya untuk dirinya sendiri.
“Sebenarnya gue bisa sendiri gak perlu bantuan siapa-siapa, tapi masalahnya orang ini udah punya pawing.” Kata Shaka ia mencelupkan tangan kanannya yang dipakai untuk makan ke dalam kobokan air yang sudah disediakan oleh mas pecel lele.
Fida tidak mengerti apa yang dimaksud dengan’pawang’ yang dikatakan oleh Shaka. “Maksudnya pawang itu apa ya ka?” tanya Fida.
“Maksudnya nih orang udah punya pacar. Itulah sebabnya selama ini gue diam tidak bergerak maju. Gue gini-gini juga gak bakal nusuk temen sendiri.”
Menusuk teman sendiri? Maksud teman yang mana ini? Ini menyelidiki Shaka kenapa jadi tambah clue-nya. Temannya siapakah itu? Aditkah? Timo kah? Tapi, kalau Timo itu tidak mungkin—masa Shaka menyukai dirinya itu adalah hal yang mustahil. Mungkin teman kantornya yang lain.
“Siapa teman lo?” tanya Fida.
“Ada, sori gue nggak bisa ngasih tau lo.”
Memang susah ya mengorek-ngorek informasi dari Shaka benar-benar misterius orangnya. Dira kalo gue kasih tau kaya gini, malah dia tambah kepo. “Oke deh kalo gitu, lo sekarang lagi nggak deket sama siapa?”
Shaka tidak langsung menjawab pertanyaan dari Fida ia memilih untuk diam—Shaka fokus dengan makanannya. Setelah ia menelan makanannya ia pun berkata, “gue sih mikirnya ya, Fid. Kalau gue itu deket sama orang itu. Tapi, nggak tahu dianya deket nggak sama gue.”
Fida sama sekali tidak paham ia tidak langsung menanggapi pernyataan dari Shaka. Ia mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Shaka. “Orangnya kaya gimana?” tanya Fida lalu ia menyuapkan nasi berserta ayamnya ke dalam mulut.
“Nggak cantik…”
Fida langsung memotong pertanyaan dari Shaka. “Tunggu deh? Nggak cantik?” Fida rasa mustahil kalau Shaka suka dengan perempuan yang tidak cantik—berarti Dira ada kesempatan untuk mendapatkan Shaak. Maksud Fida di sini ia sama sekali tidak menganggap kalau Dir aitu tidak cantik, Dira cantik dengan carannya sendiri.
“Gue nggak yakin lo nggak suka sama yang nggak cantik.”
“Lo denger dulu, kalimat gue jangan dipotong dulu.” Shaka protes, lalu ia melanjutkan kalimatnya lagi. “Nggak cantik yang dibuat-buat, maksudnya dia itu cantik wajahnya, dan juga baik hatinya. Kaya lo Fid.”
Jujur saja Fida sebagai peremupan di puji seperti itu pipinya jadi blushing dipuji begini, “makasih lo ya, Ka.”
“Sama-sama ya,” Shaka tersenyum. “Yang gue bilang lo cantik itu benaran kok Fid.”
“Iya gue percaya.”
“Timo beruntung punya lo.”
“Gue yang beruntung punya Timo.” kata Fida.
“Lo berdua sama-sama beruntung.” Shaka sudah menyuapkan suapan terakhirnya ia meminta ke ma specel lele untuk mengambilkan ia air koboakan yang baru, untuk Shka mencuci tangannya. Setalh mencucui tangannya Shaka langsung mengelap tangannya dengan tisu. “Gue bahagia liat kalian kayanya adem ayem hubungannya, sebagai sahabat baik Timo.”
Fida menatap wajah Shaka—di sana ia di menyiratkan perasaan bahagia. Bukan berarti Shaka benci dengan hubungannya dengan Timo. Shaka tidak mungkin seperti itu, dia teman yang baik. Entah kenapa Fida merasa ada yang tersakiti di dalam diri Shaka, yang ia sendiri pun tak tahu.
“Doain aja ya, kita langgeng.”
“Iya gue doaiin yah.” pandangan Shaka lurus ke depan seperti sedang berpikir sesuatu, “kok gue telat yah ketemu lonya.”
“Maksudnya?” tanya Fida.
“Maksud gue gini lo, andai kita ketemu lebih awal, daripada lo ketemu Timo. Mungkin kita bisa aja…mungkin kita bisa jadi..eh...udahlah nggak usah dibahas.”
“Lo ganteng-ganteng nggak jelas. Lo kalo ngomong tuh jangan setengah-tengah, gue tau nih kenapa lo masih jomblo sampe sekarang.” ucap Fida.
“Kenapa emangnya?”
“Iya lo gak jelas.”
“Iya biarin nggak jelas, tapi gue orang yang jeals diam-diam memperhatikan seseorang yang nggak pernah ngeliat gue ada.” kata Shaka sambil merenungi nasibnya yang tidak begitu beruntung karena mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih.
Mereka berdua pun sudah selsai makannya, setelah membayar pesanan masing-masing. Akan tetapi, diperdebatkan oleh mereka berdua. Shaka ingin membayar semua pesanannya, bekata kepada Fida bahwa ia yang meneraktir. Sementara itu Fida berkata bahwa ia harus yang membayarnya karena sudah menumpang dengan Shaka.
Setelah memlewati perdebatan yang cukup sengit hingga mas pecel lele pun bingung dengan mereka berdua hanya untuk membayar saja harus berdebat.
“Yaudah gini aja,” Shaka pun akhirnya mendapatkan solusi dari kepalanya saat setelah lelah berdebat dengan Fida, “gue bayar makannnya nanti lo kasih uang bensin ke gue, seharga pecel ini gimana? Lo deali?”
Kalau seperti itu kan enak. Fida jadi tidak perlu merasa berutang budi aatuapun kepikiran bagaimana cara membalas. Fida tahu kalau ini keterlaluan, tapi kalau kita bisa saling kenapa tidak? Akhirnya Fida pun menyetujui saran dari Shaka.
“Oke deal”
Akhirnya yang membayar pecel ayam yang mereka pesan adalah Shaka. Kemudian mereka berdua pun pulang—lebih tepatnya Shaka mengantar dahulu Fida pulang baru ia mengantar dirinya sendiri ke rumah memang Shaka itu love self banget.
***
Sampainya di depan rumah Fida. Fida turun dari motor Shaka melepaskan helm dari kepalanya lalu memberikan ke Shaka. Tata adik Fida yang sangat kepo. Kalau setiap kakanya pulang di antar oleh laki-laki yang bukan Timol, ia akan kepo. Lihat saja sekarang Tata berdiri di depan jendela di balik hordeng mengintip kakaknya pulang dengan siapa.
Wah sama siapa tuh ka Fida, ganteng juga cowok. Komentar Tata sambil matanya terus fokus pada melihat gerak-gerik kakanya dengan sosok laki-laki—sosok laki-laki yang bernama Shaka.
“Ka gue masuk dulu, lo mau ikut nggak? Mampir gitu, ketemu adek gue sekalian. Dia suka cowok-cowok ganteng kaya lo.”
“Adek lo umur berapa?”
“16 tahun.”
“Gila gue bukan p*****l, k*****t!”
“Siapa tahu lo suka yang muda-muda gitu.”
Se-single nya Shaka yang tidak mungkin menyukai anak SMA yang baru 16 tahun. Fida sama TImo memang kadang otaknya suka sama, kayanya si Fida tertular dengan Timo. Tapi, tingkat kewarasan si Timo masih lebih baik daripada Adit.
“Nggak lah. Gue balik dulu yah Fid, tapi makasih ya.”
“Untuk apa?”
“Untuk hari ini.”
“Gue yang makasih.”kata Fida. “Makasih udah repot-repot anter gue.”
“Sama-sama ya Fida, yaudah gue balik. Bye!” kata Shaka. Shaka pun menyalahkan mesin motornya ia membenarkan posisi helmnya di kepalanya, kemudian melajukan motornya.
Fida baru masuk ke dalam rumahnya setelah melihat Shaka menghilang di tikungan. Ketika Fida sudah berada di dalam rumah ia melihat adiknya Tata sudah berdiri di sana sambil tersenyum seperti orang yang tidak waras.
“Kamu kenapa?” Fida membuka sepatunya lalu menaruh di sepatunya di rak sepatu di di belakang pintunya.
“Siapa itu?”
“Kebiasaan deh kamu kepo.” Fida menaruh kunci rumah cadangan yang selalu ia bawa supaya ketika ia datang larut malam tidak menganggu tidur Tata.
“Nggak kepo ka. Cuma nanya.” Tata mengikuti langkah kaki kakaknya ke dapur, ia kini berdiri tepat di belakang kakanya yang sedang membuka pintu kulkas.
“Kepo.” Fida membuka menutup botol air minum menuangkannya di dalam gelas lalu meneguknya. “Yang tadi itu temennya ka Timo.”
“Kakak selingkuh sama temennya ka Timo?”
Fida langsung menoyor kepala adiknya, “kamu kalo mikir jauh amat dah. Kalo mikirnya hal-hal yang positif sih tidak apa-apa, tapi kalau negatif kaya gini? Buang jauh-jauh deh.”
“Iya-iya ka. Tapi, ganteng ya ka Shaka. Enaknya dipanggil ka Shaka, mas Shaka, atau my husband Shaka ya?”
“Tata! Kamu sekolah yang bener. Kamu itu udah kakak..”
“Biayain sekolah, makan, transport, bla bla bla.” Kata Tata melanjutkan kalimat kakaknya yang kalau ngomel pasti hal itu yang di ucapin. “Nggak perlu di lanjut ya, gue udah hafal di luar kepala. Ngantuk nih dah malam aku mau bobo dulu, bersih-bersih, terus makan ka, dan kemudian tidur. Jangan sibuk mulu, luangkan waktu lah untuk dirimu sendiri.”
“Siap bu Tata!”
Tata pun masuk ke dalam kamarnya. Adiknya Fida memang seperti itu sok tua, tapi Fida akui kalau curhat dengan Tata sangat nyaman. Adiknya itu pendengar yang baik meskipun kadang mengesalkan minta dijual. Fida menguap, matanya sudah benar-benar mengantuk rasanya ingin segera tidur mengingat besok ia masih harus bekerja.
Ia pun langsung naik ke atas—ke kamarnya. Akan tetapi sebelum itu, ia bersih-berish dahulu seperti mencucui muka, cuci kaki, dan tangan. Ia memutuskan untuk tidak mandi karena sudah malam.
Sampainya di kamar Fida pun langsung merebahkand dirinya di kasur, ia mengeluarkan ponselnya ternyata ponselnya lowbet. Kemdian ia mencolok kabel charge-nya ke ponselnya saat ponselnya menyalah banyak pesan masuk dari Timo.
Pesan dari Timo yang membuat ia tersenyum, padahal di hatinya ia masih kesal dengan Timo—dan rasanya ingin marah. Akan tetapi, entahlah Timo seperti punya tongkatnya Harry Potter yang bisa menyihir seketika, membuatnya yang tadinya marah menjadi tidak marah.