Sialannya hari ini Dira pulang jam 11 malam dari kantor di karenakan ia harus lembur. Menyelesaikan report untuk bahan presentasi yang akan berlangsung pada hari Kamis pekan depan. Dira meregangkan otot-ototnya supaya lebih rileks karena sudah seharian duduk di atas kursi, dengan mata berfokus pada layar komputer sementara jari-jarinya menari di atas Keyboard. Dira mematikan laptopnya mencabut kabel charger nya setelah itu ia memasukan laptopnya ke dalam toothbag miliknya. Ia memakai blazer yang ia taruh di belakang kursinya. Memeriksa kolong mejanya memastikan tidak ada barang yang ketinggalan seperti hardisk atau charger ponselnya. Setelah diperiksa semuanya aman tidak ada yang tertinggal. Dira pun langsung bergegas meninggalkan ruangannya.
Dira
mengunci
Dira
dengan langkah gontainya pun langsung berjalan keluar kantor mengunci
kantornya, dan masuk ke dalam lift.
Sampainya
ia di lobi ia berjalan ke meja security wisma Sejahtera untuk menitipkan kunci
kantornya kepada security supaya besok pagi-pagi bisa diambil oleh pak Theo OB
kantornya.
Kalau
pulang malam begini Dira sama sekali tidak takut ia malahan lebih ke bingung.
Bingung karena sekarang sudah jam 11 malam otomatis di jam segini bus yang ke
arah rumahnya sudah berhenti beroperasi. Dia sebenarnya bisa saja naik ojek online, tapi harganya membuat dompet
meronta-ronta karena harganya dua kali lipat dari ongkos busnya. Mau bagaimana
lagi kalau tidak naik ojek online dia
bisa menginap di kantor. Menginap di kantor buat Dira, nggak
banget ya harus nginep nanti gue mandinya gimana ya. Banyak nyamuknya pasti.
Takut ada hantu.
Dira
pun berdiri di depan lobi sambil memegang ponselnya untuk memesan ojek online. Dewi Fortuna sepertinya hari ini
agak sulit berpihak padanya, karena Dira sudah di tolak dua kali tolak oleh
ojek online.
Sama
ojek online saja di tolak apalagi sama
Shaka, pikir Dira. Setelah penolakan yang ketiga kali tiba-tiba motor Shaka
lewat di depannya, dan berhenti tepat di depannya.
Shaka
membuka penutup kaca helmnya, "lo baru pulang?"
Ada
angin apa ini Shaka tiba-tiba menghampiri dirinya lalu berbasa-basi,
seolah-olah ia peduli dengan Dira. "Iya gue lembur. Lagi nunggu ojek online. Tapi, dari tadi belum dapat-dapat
nih. Malah ditolak mulu."
"Bareng
gue aja Dir," kata Shaka.
BOOM!
Seperti mimpi tiba-tiba Shaka menawarinya untuk pulang bareng. Dira jadi ngeri
kalau misalnya Shaka ini sedang ke sambet. "Shaka oke, kan?" tanya
Dira.
"Oke.
Kenapa?"
Tidak
mungkin kan Dira jawab begini tumben banget ngajak pulang bareng' yang ada
nanti Shaka malah marah-marah terhadapnya. "Nggak apa-apa bagus deh kalo
lo oke. Takut lo Sakit ka, jadi gue nanya aja."
"Oke."
Shaka diam sejenak ia seperti sedang memikirkan kata-kata yang tepat diutarakan
kepada Dira. "Gimana?"
"Gimana
apanya?"
Shaka
berdecak kesal Dira ini benar-benar memang bodoh atau pura-pura sih?!
"Pulang barengnya. Mau kan?"
"Ini
Serius?"
"Iya
serius. Ya kali gue bohong!" kata Shaka. "Kalo gue nggak serius
ngapain gue nyamperin Lo kesini. Mau nggak?"
"Oke
deh." Lumayan daripada Dira naik ojek ke rumahnya bisa habis jatah uang
makannya sehari.
Dira
pun langsung memakai helm yang diberikan oleh Shaka, lalu langsung naik ke
kursi belakang di mana diperuntukan untuk yang di bonceng. Shaka pun langsung
menarik gasnya lalu motor pun melaju keluar dari gedung wisma Sejahtera.
Kenapa
Shaka bisa mengajak Dira untuk pulang bersama. Pertama, Shaka saat keluar dari
parkiran wisma Sejahtera ia melihat Dira seorang diri berdiri di depan gedung
wisma Sejahtera seperti sedang menunggu jemputan, tanpa aba-aba ataupun
pikir-pikir yang panjang Shaka langsung menghampiri Dira untuk mengajak pulang
bersama. Shaka punya saudara perempuan juga ia tidak tega melihat perempuan
pulang sendirian malam-malam begini; catat baik-baik bukan berarti Shaka
menyukai Dira atau hatinya mulai luluh. Mutlak karena Shaka ingin membantu
Dira.
Dira
setiap kali naik motor bersama dengan Shaka saat ini; di mana mereka berdua
pernah berboncengan seperti ini. Tapi, dalam keadaan saling mengenal tidak
seperti sekarang diam membisu seperti dibonceng oleh patung. Tidak ada yang
bicara sama sekali—Dira adalah tipe orang yang tidak bisa kalau harus diam
begini.
"Shaka?"
panggil Dira sedikit berteriak karena kalau tidak berteriak tentu saja Shaka
belum tentu mendengarnya. Kalian tahu sendirilah bagaimana posisi kita saat
naik motor diajak mengobrol suaranya kalah sama angin.
"Ehmm."
jawab Shaka.
Selalu
saja jawabnya singkat Dira tidak suka bilang orang-orang yang jawab hanya
sekenanya saja padahal berbicara tidak dibayar pakai pulsa atau kouta internet.
"Lo
nggak apa-apa ini anterin gue dulu, nanti kemalamen loh Ka." kata Dira
dengan nada khawatir.
"Santai
aja. Aman."
"Makasih
banyak yah." ucap Dira.
"Sama-sama.'
Obrolan
pun mereka pun hanya sampai di sana memang tidak ada yang perlu dibicarakan
lagi Dira pun sedang tidak ada ide untuk mencari topik apa yang akan
dibicarakan oleh dirinya dan Shaka.
Saat
ini ia hanya bisa memejamkan matanya menikmati sapuan angin yang menerpa
wajahnya, perlahan juga Dira membuka matanya, menikmati setiap sudut kota
Jakarta. Jalanan yang sudah mulai sepi, lampu-lampu yang menerangi setiap sudut
kota yang di kenal keras ini. Kota ini bagi Dira punya andil dalam hidupnya. Ia
lahir di sini, menempuh pendidikan, bertemu dengan cinta pertamanya, patah hati
pertamanya, semua terjadi di sini. Shaka yang sedang memboncengnya ini adalah
cinta pertamanya sekaligus patah hati pertamanya. Dira adalah tipe orang yang
tidak mudah jatuh cinta kepada orang lain, ia butuh waktu yang cukup lama untuk
bisa membuka hatinya untuk menyukai seseorang yang baru—sayangnya sampai detik
ini perasaan tetap stuck di Shaka, dan
Dira tidak tahu kenapa tak ada alasan untuk itu.
Motor
Shaka pun berhenti tepat di depan rumah Dira. Dira pun langsung turun dari
motor Shaka kemudian ia memberikan helmnya kepada Shaka sambil mengucapkan
terima kasih. "Ka makasih loh udah mau repot-repot anterin gue sampe
rumah, makaish banyak ya."
"Sama-sama
ya." jawab Shaka sambil mengaitkan helm yang tadinya dipakai di leher
motor matic kesayangannya.
"Lo
hati-hati di jalan." Sebuah bentuk perhatian kecil dari Dira untuk Shaka—yang
tidak disadari sendiri oleh Shaka.
Seperti
biasa Shaka tidak menghiraukan Dira ia langsung menancap gas, dan menjalankan
sepeda motornya. Selalu aja begitu baik
diawal nih Shaka, minta gue jadiin buah-buahan kayanya. Ucap Dira pada
dirinya sendiri.
Entah
kenapa tiba-tiba bantin memerintah dirinya untuk mengirim pesan kepada Shaka.
Dira yang masih berdiri di depan pagar rumahnya ia mengeluarkan ponselnya
mencari kontak Shaka, ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdoa di dalam
hatinya semoga Shaka membalas pesan darinya.
Dira
Shaka makasih banyak ya.
Hati-hati di jalan ya.
Langsung pulang ke rumah ya.
See you di kantor kalo kita ketemu :D
Dira
pun langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana miliknya. Lalu
melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk
mandi, lalu makan malam perutnya dari tadi sudah keroncong minta diisi. Tapi,
tadi saat ia bersama dengan Shaka Fida tidak merasakan lapar sama sekali.
Dira
kembali ke kamarnya setelah selesai mandi, dan makan malam di ruang makan.
Rambutnya yang digelung oleh handuk kecil karena masih basah habis keramas.
Dira langsung mencari ponselnya berharap dapat balasan dari Shaka.
Walaupun
tidak mendapatkan balasan ya tidak apa-apa; Dira pun tidak terlalu berharap
soal ini. Karena kalau berharap sama manusia itu menyakitkan. Dira terlonjak
kaget Shaka membacanya dan di layar ada tulisan 'sedang mengetik' cukup lama.
Dira langsung berekspetasi kalau Shaka akan membalasnya dengan pesan yang
panjang. Namun, pada kenyataan itu zonk permisa.
Shaka
Ok.
Hanya
'OK' banyangkan Dira mengirim pesan sebegitu panjangnya hanya dibalas 'OK'.
Dira langsung membanting ponselnya sembarangan ke kasur. Susah sekali ya
mendekati Shaka yang sedingin kulkas dua pintu. Shaka memang sedari dulu itu
sudah dingin, tapi lebih dingin sekarang. Shaka yang dulu bahkan lebih banya
bicara daripada dirinya. Dikarenakan Dira tidak gabut
ia kembali mengambil ponselnya untuk membalas pesan dari Shaka. Siapa tahu
kan obrolan mereka menjadi panjang.
Dira
Ok doang?
Tentu
saja pesan dari Shaka akan di balas lama, dan Dira mau menunggunya untuk sambil
menonton Drakor. Setelah menonton dua episode Drakor Dira baru mendapatkan
balasan. Bayangkan teman-teman dua episode DRAKOR PESANNYA BARU DIBALAS.
BAYANGKAN. Di mana satu episode itu 1 jam lebih berarti Shaka membutuhkan waktu
untuk membalas pesan Dira adalah 2 jam lebih. Benar-benar yah menang si Shaka
ini minta di toyor kepalanya sama Dira.
Shaka
Terus gue harus ngapain?
Shaka pake nanya lagi lo mah. Yah lo
bales sebagaimana mestinya. Rasanya Dira ingin membalas dengan kata-kata ini—tapi dia
urungkan karena takut malah nomornya kena block.
Ia terus memperingati dirinya sendiri untuk tetap menjaga sikap supaya
tidak terjadi peperangan lalu nomornya di block.
Dira
Bales bilang makasih kek
Iya gue langsung balik.
Tumbennya
Shaka membalas pesannya dengan cepat pesan dari Dira
Shaka
Makasih banyak yahhhhh!!!!!
Dira
loncat-loncat di atas kasur kegirangan karena Shaka membalas dengan kalimat
yang cukup panjang. Ini adalah sesuatu yang 'WOW' yang terjadi dalam hidup
Dira. Ia akan menceritakan ini ke Fida
***
Saat
ia bertemu dengan Fida di hari Minggu di toko buku dekat rumah sahabatnya itu.
Hari ini langit cerah tidak terlalu panas, jadi mereka pun memutuskan untuk
berjalan kaki untuk sampai di toko buku.
"Shaka
kemarin anter gue."
Fida
menghentikan langkah kakinya. Terkejut mendengar pernyataan dari sahabatnya.
"Jangan bercanda, Dir."
"Siapa
yang bercanda coba." Dira mengeluarkan ponselnya untuk melihat bukti chat nya dengan Shaka. "Nih ada chat nya. Gue kalo kaya gini caranya jadi
pengin lembur terus Fid."
Fida
tahu kalau Dira memang kemarin malam itu lembur, tapi... "Shaka lembur
juga dong berarti? Kalo jam pulang sama kaya lo." Ucapnya.
Dira
mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Fida. "Dia emang lembur ya,
gak tau kenapa Tuhan kaya baik banget gitu sama gue; di jam yang sama pun gue
sama Shaka pulang."
"Jodoh
itu."
"Aamiin
paling serius ini." kata Dira.
Mereka
pun sampai di toko buku; padahal mereka tidak berniat beli apa-apa.Tapi, kalau
misalnya ada buku yang bagus pasti mereka beli. Kalau tidak ada ya mereka
ujung-ujung cari makan, dan mereka berniat untuk makan bakso yang tidak jauh
dari tempat toko buku ini.
"Apa
sih yang buat lo suka sama Shaka?" tanya Fida.
"Banyak
yah Dira. Salah satunya adalah ketampanan dia. " Sebenarnya bukan tampang
Shaka yang disukai oleh Dira, tapi kepribadiannya yang membuat dirinya
benar-benar jatuh kepada seseorang yang awal kedatangannya sangat menyebalkan,
tapi benar-benar membuat Dira terkesan sampai saat ini. "Nah lo sendiri
kenapa bisa suka sama Timo?" tanya Dira banyak. "Padahal kan yah lo
berdua itu ngejalanin hubungan LDR."
Fida
yang sedang memilah buku-buku ber-gendre fantasi pun langsung menghentikan
aktivitasnya memilah-milah buku. Ia langsung menoleh ke arah Dira."LDR
apaan lo? Apa Bekasi dan Jakarta bisa disebut LDR?"
Dira
menepuk jidatnya, "bukan itu maksud gue." Dira mengambil buku tentang
bagaimana caranya menjadi percaya diri; ia sendiri pun tidak tahu kenapa
mengambil buku ini. "LDR rumah ibadah Fida yang cantik."
Benar
juga apa yang dikatakan oleh Dira; mereka ini berpacaran secara LDR (berbeda
rumah ibadah) tidak ada yang lebih pedih dari LDR beda rumah ibadah. Kalau beda
kota bertarungnya dengan jarak, kalau beda rumah ibadah bertarung sama Tuhan
masing-masing ini cukup menyakitkan sih.
"Iya
juga ya. Gue kadang bertanya kenapa ya gue masih bertahan sampai sejauh ini;
yang ujungnya pun masih abu-abu." Tampak wajah Fida pun langsung murung.
"Kok
lo sedih gitu? Udah nggak usah dipikirin omongan gue jangan dihiraukan. Lo sama
Timo pasti akan menemukan jalan keluarnya." Dira sendiri pun tidak tahu
sebenarnya jalan keluar apa. Jalan satu-satunya salah satu di antara mereka
harus ada yang mengalah pindah agama, tapi kayanya itu keputusan yang berat
untuk keduanya. "Mending kita makan yuk Dir."
Dira
pun langsung menarik tangan Fida untuk keluar dari toko buku. Akan tetapi,
sahabatnya itu menahan tangan Dira. "Gue mau ambil buku Jhon Green dulu.
Gue mau beli." Fida pun langsung mengambil salah satu buku karya Jhon
Green yang berjudul 'Looking For Alaska'.
Setelah
mengambil bukunya Jhon Green mereka pun berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Fida pun membayarnya setelah selesai membayar mereka pun langsung keluar dari
toko buku, dan bergegas untuk pergi ke toko buku yang letaknya di sebrang toko
buku ini.
Sampainya
di kedai bakso yang selalu ramai mau hari weekday
dan weekend selalu ramai. Untunglah
Fida dan Dira masih nemenukan bangku yang tersisa satu-satunya untuk mereka
berdua.
"Timo
mau nggak yah pindah keyakinan ikut gue?" tanya Fida.
Dira
yang sedang mengelap meja dengan tisu pun langsung menghentikan gerakannya.
"Lo masih kepikiran soal omongan gue ya?" Dira benar-benar merasa
bersalah dengan dengan ucapannya yang asal jeplak saja tidak dipikirkan
terlebih dahulu. "Maaf ya gue nggak bermaksud..."
Fida
memotong ucapan Dira, "nggak. Gue nggak mikirin kata-kata lo. Gue udah
terlanjur sayang banget sama Timo, gue nggak mau berpisah sama dia. Dan gue
juga kalo diminta untuk pindah keyakinan mengikuti Timo, gue nggak bisa. Gue
maunya Timo ikut gue. Egois nggak sih gue kaya gini?"
Dira
tidka langsung menanggapi ucapan Fida ada intermezo karena bakso pesanan mereka
sudah datang. Setelah semua pesanan mereka sudah ada di meja barulah Dira
angkat bicara lagi. "Gue kalau ada diposisi lo juga akan melakukan hal
yang sama. Lo jangan terlalu memikirkan ini ya, yaudah makan aja dulu. Nanti
pasti kalo Tuhan merestui berhubungan kalian pasti Tuhan pasti akan memberikan
jalannya."
"Iya
bener Dir."
"Gue
berdoa lo berjodoh sama Timo ya. Kalian berdua itu udah cocok banget."
ucap Fida.
"Aamiin.
Gue juga doain lo jodoh sama Shaka."
"Aamiin."
Mereka
pun menikmati makanannya dengan penuh semangat karena memang bakso ini paling
top, paling mantap, dan paling bikin rindu.
Benar
apa yang dikatakan oleh Dira kalau memang ia dan Timo pasti ada jalan untuk
bersama. Akan tetapi, kalau sebaliknya bagaimana? Akankah Fida sanggup berpisah
dengan Timo? Apakah ia akan bisa menerimanya dengan cepat kalau dirinya dengan
Timo memang tidak pernah bisa bersatu. Entahlah Fida hanya bisa berdoa semoga
Tuhan memberikan yang terbaik untuk hubungannya dengan Timo.