Fida menunggu Timo di stasiun Bekasi untuk menjemputnya. Ini adalah kali pertamanya Fida bertemu dengan orang tua Timo; Fida tidak pernah menyangka bahwa bisa sejauh ini. Jujur saja Fida sendiri belum siap atau lebih tepatnya ia takut orang tua Timo tidak menerimanya dengan baik. Karena perbedaan yang ada di antara mereka.
Dinding itu terlalu tinggi untuk bisa
mereka berdua capai, di sana pasti banyak sekali alar melintang yang
menghalangi mereka berdua untuk bersatu.
Fida langsung membuang jauh-jauh perasaan
khawatir itu; memikirkan hal itu malah membuat kepalanya sakit. Fida tidak siap
bila suatu hari nanti harus dipisahkan oleh Timo karena perbedaan ini.
Ponsel bergetar tanda pesan masuk yang
baru saja tiba di ponselnya. Itu satu pesan masuk dari Timo.
Timo
Kamu
udah sampe?
Satu pertanyaan yang tertulis di layar
ponselnya benar-benar membuat Fida emosi. Timo! Dari tadi juga aku udah sampe. Suara Fida sedikit berteriak orang-orang yang
lalau lalang di sekitarnya pun menatap Fida dengan aneh, dan Fida tidak peduli.
Bagaimana ia tidak emosi coba Timo selalu
begitu suka ngaret. Ia sudah sampai di stasiun ini dari 30 menit lalu, dan Timo
masih bertanya 'Kamu udah sampe?'
Jari-jari tangan Fida langsung menari di
atas keyboard ponselnya, ia mengirim pesan kepada Timo dengan huruf besar
semua.
Timo
AKU
KAN SEBELUMNYA UDAH BILANG.
AKU
UDAH SAMPE DARI 30 MENIT LALU!
Seketika ponselnya pun langsung berdering
tanda panggilan masuk, dan itu panggilan masuk dari Timo. Mungkin Timo langsung
panik karena kekasihnya itu mengirim pesan dengan huruf Caps Lock semua.
"Hallo Fida? Lagi nunggu Timo di
stasiun ya?"
"Ya." jawab Fida dengan nada
ketus.
"Gini Fid, aku nggak bermaksud
untuk..." ucapan Timo terpotong karena ia harus memberitahu tulang bengkel
perihal kerusakan motornya. samar-samar terdengar suara kendaraan Fida bisa
menebak kalau kekasihnya itu sedang berada di pinggir jalan. "Aku lagi di
bengkel motor aku mogok. Kamu nunggu lebih lama nggak apa-apa kan?"
Fida menarik nafasnya panjang lalu
menghembuskan nafas dari mulut supaya emosinya bisa terbang bebas ke udara,
jadi ia tidak perlu marah-marah dengan Timo.
"Kenapa nggak ngomong?"
Timo hanya terkekeh pada saat Fida
bertanya begitu bukannya malah berpikir kenapa ia seperti itu. Kenapa ia tidak
berbicara sedari tadi kalau motornya mogok.
"Kanapa kamu nggak bilang dari tadi
Timo!" Fida berteriak kesal pada Timo.
"Aku takut kalau kamu malah nanti
jadi naik ojek. Aku nggak rela kalau pacar aku naik ojek."
"Yaudah berapa lama lagi?"
tanya Fida dengan kesal.
"Lima belas menit lagi suer. Aku
janji nggak bohong."
"Oke." Fida pun setuju.
Telepon pun terputus; daripada Fida
seperti orang yang tidak ada kerjaan menunggu Timo di luar stasiun. Ia pun
langsung memutuskan untuk masuk ke dala. kafe yang ada di dekat stasiun memesan
kopi supaya matanya tidak mengantuk.
Ia pun berjalan ke arah kafe yang
letaknya di sebrang stasiun, membuka pintu kafenya untung saja kafenya sedang
sepi. Fida langsung berjalan ke arah counter untuk memesan satu gelas kopi dan juga
roti keju. Setelah mendapatkan satu gelas
kopi dan rotinya, ia langsung berjalan ke arah counter untuk mencari tempat
duduk syukurlah tempat duduknya masih ada beberapa yang tersedia, biasanya kafe
di sini selalu ramai hari ini kebetulan sedang sepi jadi ia masih kebagian
tempat duduk.
Ponselnya pun kembali berdering tanda ada
pesan masuk dari Timo.
Timo
Kamu
di mana?
Fida
Aku
di kafe ini lagi beli kopi nunggu kamu kelamaan, ngantuk dan lapar
Timo
Okay
aku nanti ke sana ya
Sepuluh
menit lagi aku sampai
Fida tidak membalas pesan dari Timo ia
hanya melihatnya sekilas, dan matanya mendelik kesal. Terserah deh. Paling
nanti sampainya setengah jam atau bahkan lebih. Sambil
menunggu Timo Dira langsung search di Google tentang bagaimana caranya bersikap
yang baik saat bertemu dengan calon mertua.
Saat ia mencarinya di Google malah
membuat jadi pusing, dia memutuskan untuk tidak mencarinya intinya saat bertemu
dengan orang tua Timo nanti ia harus bersikap baik, sopan, dan berbicara dengan
lemah lembut (tidak boleh terlalu keras seperti biasanya. Karena itu tidak
sopan dan akan menyinggung perasaan calon mertuanya. Dira pun memilih untuk
mendengarkan lagu dari ponselnya—ia memutar lagu dari penyanyi perempuan
favoritnya Taylor Swift - All Too Well.
I
walked through the door with you
The
air was cold
But
something about it felt like home somehow
And
I, left my scarf there at your sister's house
And
you've still got it in your drawer even nowOh,
your sweet disposition
And my wide-eyed gaze
We're singing in the car, getting lost
upstate
Autumn leaves falling down like pieces
into place
And I can picture it after all these days
And
I know it's long gone and that magic's not here no more
And
I might be okay but I'm not fine at all
Lagu cukup menyayat hati hingga ekpresi
Fida sangat menggambarkan bagaimana makna lagu tersebut. Matanya terpejam
sambil menghayati setiap lirik yang di papar oleh Taylor Swift di dalam
musiknya.
Cause
there we are again on that little town street
You
almost ran the red 'cause you were lookin' over at me
Wind
in my hair, I was there
I
remember it all too well
Lirik bagian ini benar-benar menyayat
hati Fida tidak pernah mengalami hal seperti di lagu pun bisa merasakan betapa
patah hatinya Taylor pada saat itu. Hingga menghasilkan karya yang sangat
menyedihkan ini.
Saat Dira sedang asyik-asyiknya
menghayati lagu tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang. Fida pun
langsung mencabut earphone lalu menoleh ke belakang, dan ia melihat Timo sudah
berdiri di belakang sambil tersenyum dan memperlihatkan deretan gigih putihnya.
Timo pun langsung duduk di kursi
persis—di depannya Fida. "Kamu marah ya?"
"Iya aku marah. Pertama kamu ngaret
banget. Kedua, kamu ngegetin aku."
"Iya maaf Fida aku nggak bermaksud
begitu. Namanya musibah nggak tau kan kapan datengnya, aku minta maaf ya."
kata Timo dengan memasang tampang memelas andalannya supaya kekasihnya itu mau
memaafkan dirinya. "Untuk yang kedua aku juga minta maaf, karena kamu udah
ngagetin kamu. abis kamu keliatan menikmati lagunya banget. Menghayati banget
yah kamu." kata Timo.
"Soalnya liriknya benar patah hati
banget, Tim." kata Fida.
Timo tanpa meminta izin langsung
mengambil kopi Fida, dan menyedotnya sampai kopinya sisa setengah.
"Timo kebiasaan yah kamu!" kata
Fida lalu merebut kembali gelas kopinya. "Kalo doyan beli Tim."
"Lebih enak minta daripada beli
ini." kata Timo.
"Ayuk jalan. Capek nih nunggu
orang." kata Fida. "Nunggu tuan Timo yang datangnya lama
banget."
"Iya maaf." Timo kembali
melontarkan kata maaf lagi. "Yaudah kamu abisin kopi sama roti kamu. Terus
kita jalan. Oke?"
"Iya Tim."
Timo pun menunggu Fida menghabiskan
makanannya dengan sabar. Setelah Fida selesai menghabiskan makanannya mereka
pun langsung bergegas pergi ke rumah Timo.
****
Sampai di rumah Timo entah kenapa Fida
malah menahan untuk tidak langsung ke dalam rumah. Fida tiba-tiba ragu kalau ia
masuk ke dalam rumah apakah orang tuanya akan menerima kedatangan dirinya? Fida
sudah membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti orang tua Timo yang
tiba-tiba mengusirnya. Atau mencaci makinya. Karena anaknya berpacaran dengan
gadis yang begitu banyak berbedaan di antara mereka.
"Kenapa?" tanya Timo yang
melihat kekasihnya itu yang sedang cemas, menahan untuk tidak langsung masuk ke
dalam rumahnya. Padahal kini posisi mereka berdua tepat di depan pintu rumah
Timo, Timo tinggal menekan bel rumahnya supaya orang tuanya yang berada
di dalam membukakan pintu untuknya.
"Takut!" kata Fida. "Takut
mama dan papamu nggak nerima aku."
Timo mengusap punggung tangan kekasihnya,
"nggak usah khawatir mama sama papaku nggak bakal gigit kamu, mereka bukan
macam." Timo tertawa kecil ia sedikit menyelipkan joke di kalimatnya
supaya kekasihnya itu lebih rileks.
"Kamu mah bercanda mulu, Tim."
"Tenang yah sayang." Timo pun
langsung menekan bel rumahnya. Tidak perlu lama menunggu kedua orang tuanya ia
langsung membuka pintu rumahnya.
"Siang Tante." sapa Dira lalu
ia menyalami tangan kedua orang tua Timo.
Aminah langsung memeluk Fida dengan erat,
"ini pasti Fida ya, selamat datang ya nak di rumah kami. Kejauhan yah
rumahnya? Pinggir Jakarta banget?" Aminah melepaskan peluknya ia tersenyum
memandang wajah Fida, dan mengelus pipinya.
Diluar ekspektasi Dira—Aminah mamanya
Timo benar-benar menerimanya dengan tangan terbuka. Fida pun langsung
beralih menyalami tangan Sumarno papa Timo. Sumarno pun sama menyambutnya
dengan hangat, "cantik yah Tim pacar kamu." kata Sumarno sambil
melirik ke arah anaknya.
"Siapa yang ngajarin?" tanya
Timo ke Sumarno.
"Papa!"
Mereka pun langsung tertawa mendengar
jawaban Sumarno. Aminah pun langsung meminta Fida untuk masuk, dan wanita paruh
baya itu sudah menyediakan banyak sekali makanan.
Di meja makan Aminah sudah menyiapkan
banyak ayam goreng tepung, sayur capcay, dan juga perkedel. Fida benar-benar
terharu mamanya Timo betul-betul mempersiapkannya untuk menyambut kedatangannya.
"Fida silahkan duduk cobain masakan
tante ya, semoga enak masakannya, dan cocok sama Lidah kamu." Aminah
menggeser bangkunya untuk ia duduki, begitu pun dengan Sumarno ia duduk di
sebelah istrinya. Timo dan Fida juga duduk sebelahan, dan bersebrangan dengan
kedua orang tua Timo.
Aminah mengambilkan satu centong nasi ke
piring suaminya lalu ke Timo kemudian Fida, tapi Fida menolaknya dengan sopan.
"Tante nggak apa-apa biar aku aja yang ambil."
Aminah tersenyum tidak jadi mengambilkan
nasi untuk Fida, "Yaudah kalo gitu kamu ambil sendiri. Oh ya, tadi kok
lama. Macet ya?"
"Nggak macet ma, jalan lancar kan weekend Timonya yang macet."
"Timo! Kamu tega banget yah bikin
cewek nunggu." Sumarno menegur anaknya itu dengan nada bercanda.
"Pa, namanya juga musibah mana tau
si. Si putih tiba-tiba mogok di jalan." Si putih ini warna motor matic
Timo. "Timo juga nggak mau kalau sampai mogok, dan ngebuat kesayangan Timo
ini menunggu."
Timo pikir kedua orang tuanya akan
memihak dirinya ternyata ia salah. Ayahnya malah memihak kepada Fida.
"Fid, maafin anak om emang tukang ngaret dia. Omelin aja."
Fida hanya tersenyum melihat Sumarno
menggoda anaknya hingga membuat tampang Timo berubah jadi kesal, "pa kok
gitu sih sama anaknya."
"Kamu memang anaknya ngaret dari
dulu. Dulu Elvira juga suka kesel sama kamu kalau mau berangkat bareng selalu
ngaret." Aminah menimpali ucapan suaminya. Ia membenarkan memang Timo
anaknya ini tukang ngaret.
"Coret aku ma, pa dari kartu
kelurga."
Sontak kaliamt Timo barusan mengundang
gelak tawa kedua orang tuanya, dan juga Fida. Susana makan siang menuju sore,
maksudnya adalah di sini adalah sekarang sudah jam setengah tiga sebentar lagi
jam tiga berarti sudah sore.
Di meja makan mereka pun menikmati
masakan Aminah; Jujur menurut Fida masakan Aminah itu super enak sekali.
Memakan masakan Aminah membuat teringat akan Almarhumah ibunya.
"Gimana Fid sama masakan tante enak?"
Fida mengangguk sambil mengatakan,
"iya enak banget ini tante aku suka. Apalagi perkedel jempol
pokoknya." Fida mengacungkan ibu jarinya.
"Emang masak mama itu paling enak.
Kamu harus belajar dari mama Fid."
"Kapan-kapan aku belajar yah sama
tante." Fida sungguhan ini belajar masak dengan Aminah; siapa tahu mereka
berjodoh kalau menikah jadi tidak malu-maluin.
"Tentu saja dong sayang."
"Info dari Timo nih yah," ujar
Suwarno."kamu masih kuliah yah?"
"Iya om."
"Jurusan apa kamu kuliahnya?"
"Psikologi."
"Motivasi kamu belajar psikologi itu
apa?"
Entah kenapa Fida merasa seperti sedang
di wawancara kerja oleh Sumarno. Fida tidak langsung menjawab pertanyaan
dari Sumarno ia mencari kata-kata yang tepat terlebih dahulu, agar tidak
terlihat bodoh atau ia kuliah di jurusan psikologi hanya ikut-ikutan.
"Saya ikut kuliah jurusan psikologi;
sejak SMA saya udah tertarik dengan ilmu yang mempelajari tentang manusia.
Karena menurut saya manusia itu unik dan kompleks ya om?" Sumarno
mengangguk. "Karena kompleksnya la yang bikin saya pengin mempelajari
kenapa manusia bisa begini, dan selain itu saya ingin membantu orang-orang yang
memang butuh bantuan untuk menyembuhkan mental mereka. Kalau dari luar mereka
terlihat seperti baik-baik saja, di dalamnya kita gak pernah tahu kan om. Di
dalam diri mereka serapuh apa?"
Semua yang ada di ruang makan menyimak
obrolan Fida dengan serius. Fida pun merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa
ia tidak merasakan grogi atau nada bicaranya kelihatan seperti orang yang
sedang grogi. Fida biasanya kalau sama orang baru tidak bisa bercerita mengalir
begini. Keluarga Timo di hari pertamanya ia bertemu benar-benar membuatnya
nyaman.
"Bener banget om setuju sama apa
yang kamu bilang ya, di Negara kita ini masih banyak yang menganggap kalo orang
punya masalah dengan gangguan mental itu orang gila. Nggak boleh dirangkul,
apalagi di dekatin, seakan-akan hina. Padahal mereka yang memiliki sakit mental
itu butuh dukungan dari orang-orang sekitarnya. Nggak heran sih, kenapa banyak
kasus bunuh diri. Padahal orang yang sedang sakit mental hanya butuh seseorang
yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka, merangkul mereka untuk bisa
sembuh." kata Sumarno.
Fida tidak menyangka Sumarno yang lahir
bukan di generasiya ternyata begitu peduli dengan kesehatan mental; biasanya
orang-orang yang berada di generasi Sumarno masih skeptis soal kesehatan
mental.
Aminah yang melihat keseriusan obrolan
sang suami dengan Fida yang sedari tadi hanya diam, dan memperhatikan mereka
berdua pun bangkit dari tempat duduknya untuk merapihkan piring-piringnya.
"Kalian serius banget, yaudah mama izin ya mau beresin piring-piring
kosong punya kalian."
Fida sebenarnya masih mau mengobrol
dengan Sumarno lebih jauh lagi. Akan tetapi, ia tidak enak kalau misalnya tidak
membantu Aminah untuk merapihkan piring-piring kotor."Om obrolan kita
nanti dilanjut ya, aku mau bantu tante untuk beres-beres ya."
"Silahkan, Fid. Om juga ada yang
perlu dikerjaiin mendadak nih." Sumarno mempersilahkan Fida untuk membantu
sang istri. "Oh yah Fid, om sejauh ini senang bisa mengenal kamu. Nanti
kita cerita-cerita lagi ya." Sumarno yang hendak bergegas pergi ke ruang
kerja malah kembali lagi ke meja makan, "kalo Timo ngapa-ngapain kamu.
Tolong lapor ke om."
"Papa!!!' protes Timo.
Sumarno hanya tertawa kemudian berjalan
menuju ruang kerjanya yang terletak di belakang ruang keluarga. "Tim yang
sabar ya, papa bercanda."
"Iya ma, Tim ke kamar dulu ya. Ada
yang mau di cek bentar di laptop." kata Timo pamit kepada Aminah dan juga
Fida untuk pergi ke kamarnya. Karena barusan Shaka mengirim pesan kepadanya untuk
segera mengirim report meeting bulan lalu.
***
Fida sudah selesai memebanti Aminah untul
beres-beres rumah. Kini mereka berdua sedang berada di depan teras rumah sambil
memakan cemilan ubi goreng. Udara hari ini sedang sejuk sehabis hujan.
"Tante makasih ya."
Aminah yang duduk di samping Fida dengan
matanya yang sedang memandang ke pot bunga yang daunnya masih basah habis
terkena air hujan. Langsung menoleh ke arah Fida menatapnya heran kenapa gadis
ini mengatakan terima kasih kepadanya.
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah mau nerima
Fida..." Entah kenapa Fida jadi canggung ia pun langsung melanjutkan
ucapannya. "Makasih karena tante udah baik banget, nyambut Fida dengan
baik, dan juga masakan tante."
Aminah tersenyum mendengar ucapan dari
Fida, "sama-sama ya, tante seneng kamu ada di sini. Sering-sering ya main
ke sini sama tante soalnya tante kalo di rumah itu sendirian." ucap
Aminah.
Fida pun langsung mengangguk, pasti Fida
akan main ke rumah Aminah, selain untuk makan. Untuk ketemu sama Timo juga.
"Kamu di sini tinggal sama siapa
Fid?" tanya Aminah.
Rasanya hati Fida jadi nelangsa kalau
ditanya begini mengingat dirinya tinggal di Jakarta hanya bersama dengan Tata
orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan; peristiwa itu membuatnya
menjadi yatim piatu berjuang untuk hidup bersama adiknya Tata.
"Ibu sama bapak saya sudah meninggal
Tante karena kecelakaan." ucap Fida dengan nada sedih.
Aminah pun langsung memeluk Fida,
"maaf yah tante nggak bermaksud apa-apa. Kamu jangan sedih ya, masih ada
tante di sini, anggap aja tante ini ibu kamu sendiri, anggap kita
keluarga ya. Jangan sungkan kalau ada apa minta tolong ke Timo atau tante, atau
papanya Timo ya."
"Tante makasih banyak yah."
Fida melepaskan pelukannya dari Aminah, "Fida jadi ngerasa punya keluarga
lagi."
Aminah mengangguk, "lain kali bawa
adik kamu juga main ke sini ya." pinta Aminah.
"Pasti tante."
Pertemuan pertama Fida dengan keluarga
Timo benar-benar berkesan. Keluarganya menerima dirinya dengan baik terlepas
dari perbedaan yang ada di antara mereka.