Makan siang kali ini Fida hanya makan seorang Diri. Ia sebelum sudah mengajak Dira untuk makan bersama. Namun sayangnya Dira menolaknya karena ia sudah bawa bekal. Mau tdiak mau—Fida yang hari ini tidak bawa bekal pun pergi ke kantin sendiri.
Sebuah keajaiban dari
yang Maha Kuasa kantin di bawah hanya ada ia, dan laki-laki yang pernah ia
temui sekitar empat tahun. Laki-laki itu bernama Timo; ia sedang duduk sendiri
tanpa seorang teman satu pun. Kebetulan di dekat Timo pun masih kosong belum ada
yang terisi. Dira memberanikan diri untuk menghampirinya masalah di tolak atau
tidaknya lanjut saja terus.
Fida berdiri tepat di
depan meja Timo. Ia memegangi nampan yang berisi makanan untuk dirinya sendiri.
"Timo, izin duduk
di sini boleh nggak?" Fida melihat ke seluruh penjuru kantin
wisma Sejahtera yang
sudah sepi karena sebagian sudah selesai lebih cepat makannya. Sekarang mereka
kembali lagi ke meja kerja masing-masing. Melanjutkan pekerjaannya sampai sore.
Dira memperhatikan Timo yang sedang fokus melahap makanannya pun langsung
menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang ke mejanya. "Penuh
soalnya gue bingung duduk di mana, pas lihat lo lagi sendirian duduk, dan gue
tahu kalau itu lo.'
"Yaudah duduk aja,
Fid."
Fida pun langsung
tersenyum lebar menaruh nampan yang berisi makanan miliknya. Ia pun duduk
dengan posisi berhadapan dengan Timo.
"Thanks ya
Tim," Fida mengaduk mie ayam miliknya, menambahkan saus dan sambal ke
mangkuk mie ayamnya. "Sendirian aja Tim?"
Ini adalah ketiga
kalinya Fida bertemu dengan Timo, mereka tidak janjian bertemu begitu aja.
Apakah ini memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan yang Maha Esa, dan juga semesta
mereka harus dipertemukan lagi dan lagi.
"Iya nih sendiri.
Mau sama siapa lagi, temen pada sibuk. Padahal mereka pura-pura sibuk."
Fida terkekeh,
"bisa aja lo Tim."
"Lo juga kenapa
sendiri?" tanya Timo. "Apa teman lo juga pura-pura sibuk."
"Nggak lah. Mereka emang beneran sibuk, dan ada yang bawa
bekal juga Tim." Memang benar beberapa temannya sedang mengejar deadline yang lain membawa bekal, termasuk Dira.
Fida sendiri heran kenapa itu Dira tumben sekali membawa bekal. Soalnya Dira
jarang membawa bekal, kalau ditanya oleh Fida kenapa tidak membawa bekal saja.
Jawaban dari Dira adalah ia sedang irit—iya iritnya hanya sekali saja.
Besok-besok juga ia pasti boros.
"Nanti pulang
bareng yuk, Fid?"
Entah kenapa Fida malah
terbatuk-batuk ketika Timo mengajaknya untuk pulang bersama. Ia pun langsung
meminum es teh tawarnya. "Hari ini pulang bareng?"
"Iya lah hari ini
Fid. Kan kita sama-sama naik bus ke arah yang sama. Daripada kita pulang
masing-masing kenapa nggak pulang bareng aja?"
"Tapi, gue sama lo
jam pulangnya beda Tim. Gue balik jam 6 sore. Lo jam berapa, jam 5
ya?"
"Iya jam 5."
Timo menyuapkan suapan terakhir siomaynya. "Nanti gue ke kantor lo, gue
tungguin deh lo nggak perlu khawatir, Fid."
Sebuh keajabiban dalam
hidup Fida ada seorang cowok yang mau menunggunya untuk bisa pulang bersama.
Benar-benar sebuah keajaiban setelah sekian tahun ia selalu pulang dengan sopir
bus atau bapak ojek online.
SEBUH KEAJAIBAN
PERMISA!!!!!!!!!!!!
"Ini kagak
bercanda kan Tim, lo nggak bercanda?" tanya Fida.
Timo heran kenapa Fida
menganggapnya bercanda. Apa perempuan di depannya ini tidak melihat tampangnya
yang serius ini. "Emang lo lihat muka gue bercanda ya, Fid?"
"Nggak sih.."
Du! Fida jadi bingung sendiri bagaimana menjelaskan ke TImo bahwa ia sama
sekali tidak bermaksud untuk meragukan ajakan Timo. Hanya saja.. Fida terkejut;
Fida sendiri bingung bagaimana menjelaskannya kepada Timo. "Susah jelasin.
Yaudah kalo lo memang mau nungguin gue ya nggak apa-apa. Kalo misalnya setelah
jam kantor lo ada acara atau apa gitu, lo pulang duluan aja nggak apa-apa gue
mah." kata Fida.
"Gue tetap nunggu
lo!" Timo sendiri tidak tahu kenapa ia begitu komit dengan keinginanya
untuk tetap pulang bersama dengan Fida, entahlah Timo hanya ingin mengenal
dekat sosok Fida.
"Oke deh kalo
gitu." kata Fida. "Gue nggak maksa lo ya." Fida tiper orang yang
tidak suka kalau harus merepotkan orang lain. Kalau ada apa-apa Fida akan
berusaha untuk menyelesaikannya sendiri.
"Iya gue paham
kok, Fid." Timo sudah menghabiskan satu porsi soimay miliknya. "Hobi
lo apa?" tanya Timo.
Fida tidak langsung
menjawab pertanyaan dari Timo ia malah mengerutkan alisnya, "lo nanya hobi
gue?" perempuan itu menyeruput teh manis yang tinggal setengah. "Ini
serius lo nanya gini?"
Timo terkekeh heran,
"lo anggap gue bercanda ya Fid, dari tadi lo ngomongnya gue serius apa
nggak nih." ucap Timo.
"Duh maaf
Tim."
"Lo nggak perlu
minta maaf Dir. Jawab aja hobi lo apaan?"
"Hobi gue ya.
Banyak ya, gue lebih suka baca buku. Buku romance.
Pasti lo anggap gue aneh kan karena sukanya
buku romance?"
"Lo kenapa sih
Fid, selalu nethink sama gue?"
"Nggak nethink.
Gue ngomong gini berdasarkan fakta Timo. Soalnya kebanyakan cowok tuh nggak
suka baca apalagi, baca novel romance."
Timo menyanggahnya,
"gue suka baca kok. Iya, emang gue nggak suak baca buku romance.
Tapi, gue suka baca novel gendre kaya action
atau petualangan, atau tentan kepahlawan, nah sama komik gue juga suka. Dan,
asal lo tahu ya gue anggap cewek yang suka baca romance itu yah wajar normal aja, nggak ada yang aneh
kok. Semua orang punya selera bacanya sendiri-sendiri kok." ujar Timo.
"Iya bener banget
itu, Tim. Gue cuma kesel sama orang-orang yang punya selera yang bagus soal
buku, tapi malah ngeremehin orang yang selera bukunya itu biasa saja tidak yang
wow." Fida menunjuk dirinya sendiri. "Contoh gue yang suka banget
sama Romance. Padahal gue baca buku
romance yah cuma bua refreshing otak gue aja. Gue juga suka kok baca-baca buku
yang berat-berat. Tapi, nggak sampe ngeremehin orang-orang."
"Sama aja kaya
film kan. Orang-orang banyak nonton film yang edgy gitu kan. Terus kita nonton
film yang biasa aja, dianggapnya itu. Apaan sih seleranya kok kaya gitu."
"Nah bener banget
tuh Tim, gue sebel banget sama orang yang kaya gitu ya." Fida menyuapkan
suapan terakhir dari mie ayamnya. "Gue suka film horor yang agak gore aja
dibilang persisi banget kaya psikopat. Padahal gue suka aja filmnnya, ngggak
ada niatan buat jadi psikopat."
"Parah sih parah
sama orang-orang yang kaya gini." Timo menatap Fida sejenak, dan itu
berhasil membaut Fida jadi salah tingkah. "Hal yang memalukan yang pernah
lo lakuin pas kecil?"
Ekspresi wajah Fida
seperti sedang menarik kembali kenangan masa kecil untuk masuk ke dalam
ingatannya. Setelah ia berhasil menariknya, ia langsung memberitahu Timo hal
memalukan apa yang pernah ia lakukan sewaktu kecil. "Gue waktu SD.. sumpah
yah Tim ini tuh kalau diceritaiin benaran deh malu-maluiin."
Timo menaruh siku
tangan kirinya ia taruh letakan di atas meja semantara itu untuk telapak
tangannya ia taruh didagunnya. "Ceritaiin dong.Gue janji nggak bakal
ketawa nih."
Fida tidak bisa bicara
dalam sejenak ia masih tak menyangka ternyata ada seseorang yang dengan senang
hati ingin mendengarkan cerita absurdnya. "Ini serius?"
Timo memrubah posisi
duduknya jadi bersandar di bangku, "Kalo lo sekali lagi ngomong serius.
Makanan gue belum dibayar lo yang bayar yah, Fid"
"Lah kok gitu sih,
Tim."
"Iya abisnya lo
dari tadi ngomongnya 'serius' mulu. Bosen nih dengernya," Timo menunjukkan
jari kelingkingnya ke Fida. "Sekarang janji dulu sama gue. Lo jangan
bilang seirus lagi yah?"
"Ini gue pegang
jari gue?"
Timo mengangguk. Fida
pun dengan ragu menautkan jari kelingking miliknya dengan jari kelinging milik
Timo.
"Fida berjanji
nggak akan bilang serius lagi." Timo meminta kepada Fida untuk mengikuti
kalimatnya.Fida pun mengikuti kalimat tersebut. "Sekarang lo cerita hal
memalukan apa yang lo lakuin waktu kecil." Timo melepaskan tautan jari
kelikingnya. Memperrsilahkan Fida untuk becerita. "Gue waktu SD pernah
ngompol di kelas Tim, dan itu malu banget. Mana banyak lagi."
Timo sebenarnya ingin
tertawa. Akan tetapi, sekuat tenaga ia menahannya karena sudah berjanji untuk
tidak tertawa.
"Kok bisa sih Fid,
itu gimana ceritanya?" tanya Timo.
"Jadi gini Tim,
gue kan dulu kalu SD selalu di antar sama mama gue ke sekolah. Mama gue
nungguiin noh sampe jam belajarnya selesai, pas istirahat gue ke mama gue. Pas
udah selesai jam istirahat gue balik ke kelas. Mama gue sempet nanyaiin ke gue,
mau buang air kecil nggak. Gue jawab nggak. Pas jam pelajaran gue ngerasa
pengin pipis tuh. Tapi, gue tahan nggak bilang. Padahal bilang aja nggak akan
di hukum ini. Gue nggak bilang, ya hal hasil gue ngompol di kelas."
"Lo salahnya nggak
bilang ya. Yaudah nggak apa-apa sih itu pengalaman."
Fida membalas dengan
senyuman. Ia melirik arloji dan melihat jam menunjukkan pukul satu siang di
mana jam istirahat sudah selesai
"Balik kantor yuk,
Tim. Udah selesai ini jam istirahatnya." ucap Dira.
Timo pun melihat
arlojinya, dan ya memang benar jam istirahat sudah selesai mereka pun pergi
menuju lift untuk kembali ke kantor masing-masing.
***
Benar saja pada saat
Fida keluar dari kantornya ia melihat Timo yang sudah menunggunya duduk di
dekat meja resepsionis. Sedang memainkan ponselnya, Fida pun langsung
menghampiri Timo. Sementara Dira yang ada di belakang Fida pun membuntutinya.
"Hai Tim! Udah
lama ya nunggu gue?"
Timo pun bangkit dari
tempat duduknya, "nggak apa-apa. Belum lama baru tiga puluh menit belum
juga satu jam."
Dira berbisik-bisik di
telinga Fida, "Itu siapa sih? Pacar baru lo? Lumayan ya. Kok Dia mau ya
sama lo?"
Memang Dira ini teman
yang sangat amatlah k*****t disaat temannya ada yang mengajaknya pulang, dan
orangnya adalah laki-laki yang lumayan malah bertanya 'kok dia mau sama
lo?" tidak ada akhlak memang si Dira.
Fida mengabaikan
pertanyaan Dira ia langsung memperkenalkan saja Dira ke Timo, "Tim,
kenalin ini Dira, Dira ini Timo."
Mereka berdua pun
bersalaman mengatakan, dan Dira mengatakan. "Salam kenal ya. Oh yah gue
balik duluan ya. Soalnya lagi buru-buru." Dira berbisik lagi ke Fida.
"Jangan lupa nanti cerita-cerita ya." Dira pun langsung meninggalkan
dua orang yang sedang PDKT, pikir Dira. Padahal mereka berdua tidak ada niatan
PDKT-an mereka sangat menikmati pertemanan ini.
Teman lo lucu yah,
Fid." kata Timo setelah Dira pergi.
"Yah begitulah
dia. Yuk kita balik."
"Sebelum kita balik. Gue
mau nanya satu hal dulu sama lo Fid." ucap Timo.
"Apa?"
"Gue nggak anter
langsung balik. Gue mau ajak lo pergi makan dulu, mau nggak? Gue nggak masak
ya. Lo berhak untuk nolak gue ya. Nggak maksa gue."
Tanpa pikir panjang
Fida langsung menjawab, "oke gue juga lapar. Lo punya rekomendasi makanan
enaknya apa?"
"Makan ketoprak di
Meruya yuk! Disitu ketoprak enak banget, ada telur dadarnya. Lo harus coba
pokoknya." ucap Timo.
"Naik apa ke
sana?"
"Kebetulan gue
bawa motor. Jadi kita naik motor."
"Untuk
helmnya?" tanya Fida.
"Gue bawa dua. Lo
nggak ada yang mau ditanyain lagu kan? Kalo pun ada tanyain nanti aja kalo kaya
gini kita nggak jalan-jalan ini." ucap Timo.
Mereka berdua pun
langsung bergegas jalan untuk ke arah lift untuk turun ke parkiran.
Saat di dalam lift
tidak ada yang bicara di antara mereka. Entah kenapa moment akward terkadang
suka hadir ditengah-tengah mereka padahal udah beberapa kali bertemu, mungkin
karena masih baru jadinya wajar saja kalau mereka masih ada moment
akward.
Mereka berdua berjalan
secara berdampingan pergi menuju motor Timo yang berwarna putih. Timo pun
langsung menyerahkan helmnya untuk Fida. "Bisa pakenya kan, Fid?"
tanya Timo.
Fida tertawa
mendengarkan ucapan Timo, "yah bisa la."
"Kalo nggak bisa
pengin gue pakein. Itu pun kalau lo mau ya."
"Nggak perlu, tapi
makasih ya." ucap Fida.
Timo pun langsung
menyalahkan mesin motornya, kemudian Fida naik ke motor Timo—Lalu Timo
menjalankan motornya keluar dari parkiran.
Sampainya di tempat
ketoprak bang Sahid kalau kata Timo, Timo pun langsung memesan dua prosi
ketoprak yang pedas satu, dan yang tidak pedas satu. Yang pedas tentu untuk
Fida, yang tidak pedas untuk Timo.
"Makasih yah bang
Sahid." ucap Timo kepada bang Sahid saat menyerahkan sepiring ketoprak
begitu pun dengan Fida. "Gue yakin lo pasti bakal ketagihan."
Fida menyuapkan satu
sendok ketopraknya mengunyahnya meresapi rasanya, dari bumbunya telur dadarnya,
dan juga kerupuknya yang garing. "Ini beneran enak banget Tim. Makasih
banyak loh udah mau bawa gue ke sini. Gue sih pasti bakal ketagihan."
"Nah kan."
"Tim?"
"Iya?"
"Sekarang jam
setengah delapan malam, sekarang kita makan, terus entar lo anter gue
balik. Apa nggak kemalaman sampe rumahnya Tim? Gue jadi nggak enak nih. Gue
naik ojek aja nih Tim."
"Pulang malem mah
gue udah biasa. Santai aja, udah nikmati aja ketopraknya."
Kalau memang Timo tidak
apa-apa Fida pun tidak bisa memaksa; anggap saja ini rezeki pulang kali ini ia
tidak perlu ongkos. Fida memperhatikan Timo yang sedang menikmati ketoprak, entah
kenapa ada perasaan yang berbeda saat ia menatap Timo. Kupu-kupu yang berada di
perutnya seperti sedang berterbangan di perutnya. Apakah Fida mulai menyukai
Timo? Ia pun langsung membuang jauh pikiran tersebut ia tidak boleh suka dengan
Timo daripada akhirnya malah menjadi rumit. FIDA KAMU TIDAK Boleh MENYUKAI
TIMO. Fida memperingati diri sendiri untuk tidak jatuh hati kepada Timo. Mau
sebaik apapun perilaku Timo terhadapnya.