Di kantor pagi-pagi itu harus langsung bekerja mencatat apa saja yang perlu dikerjakan. Dua orang yang telah berjanji untuk datang ke kantor lebih awal hanya untuk dapat bergosip. Mengik informasi informasi apa yang telah di dapatkan oleh Dira dari prosesnya menjadi mata-mata di sosial media Luna.
"Lo nemu apa?" tanya Fida tidak sabaran.
"Luna terlalu aesthetic." Jujur setelah Dira stalking Instagramnya Luna ia malah terinpirasi dengan akun IGnya yang rapih, dan terlihat aesthetic. "Gue terinspirasi sama dia jadinya."
Fida hanya menatap Dira dengan kebingungan ini kenapa Dira jadi terinspirasi dengan Luna yang katanya sangat aesthetic itu. Terserah kalau memang Dira sangat terinspirasi dengan Luna yang punya feed i********: yang bagus nan aesthetic itu. Dira tidak perlu memberitahunya ia cukup memberitahunya informasi yang lebih penting dari ini.
"Terus lo nggak dapat inspirasi apa-apa dong?" tanya Fida.
"Nggak!"
"Masa sih?"
"Nggak ada yang mencurigakan ataupun sebuah clue yang bisa memberi petunjuk kalau dia orang yang disuka oleh Shaka. i********: tidak terlalu memperlihatkan postingan pribadinya, kayanya Luna menggunakan i********: bukan untuk pamer, tapi lebih kek dia suka aja posting di IG postingnya yah hanya sesuatu yang menarik perhatiannya." Dira begitu serius menceritakan tentang bagaimana i********: Luna, dan dia memang tidak menemukan apa-apa di sana Luna benar-benar sosok yang misterius.
"Dia ada follow Shaka nggak?"
Dira menggelengkan kepalanya, "nggak ada. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Fida yang semakin penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan diutarakan dari mulut Fida.
"Di f*******: mereka temenan, Fid. Ini bikin mengganjal di hati gue. Soalnya kan f*******: itu berisi teman-teman lama dari mulai SD sampe kuliah ada disitu. Apa jangan-jangan mereka ini sudah berteman ya sejak lama?" Walaupun Dira pernah dekat dengan Shaka di masa yang lalu banget Dira tidak pernah mendengar Shaka bercerita tentang Luna.
"Nah ini bisa jadi, Dir." Fida berpikir sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Kalau kita cuma lihat sosial medianya kayanya percuma deh, malah bikin bertanya-tanya. Kenapa lo nggak nanya aja langsung ke Luna, tapi nanya nggak usah to the point. Lo deketin Luna aja, jadi temennya dia kek kalo perlu."
"Caranya gimana Fida, kita aja beda kantor. Gue cuma tau muka dia doang. Eh... tapi di kanto Luna ada temen gue." iya benar di kantor Luna Dira memiliki teman yang bernama Dika, dan Dika ini kebetulan tetangganya Dira. Fida tidak pernah diberitahu soal ini.
"Hah?" Fida agak sedikit terkejut ketiak Dira mengatakan kalau ia memiliki teman. Setahu Fida sahabatnya ini tidak punya teman yang bekerja satu gedung dengannya. Apa memang selama ini Dia tidak pernah cerita soal ini kepada dirinya. Parah banget sih Dira kagak cerita-cerita kalo punya teman dibeda kantor, ucapnya dalam hati. "Lo punya teman di sana? Kenapa nggak cerita? Kenapa lo kagak kepikiran buat nanya-nanya ke teman lo ini. Teman lo cowok apa cewek?"
"Maaf ya gue bukannya nggak kepikiran. Mungkin guenya aja kali ya yang mikirnya telat. Biasanya lah temen lo ini kan emang gini suak telat kalo mikir." ucap Dira tanpa rasa bersalah. "Oh yah nama temen gue itu Dika dia itu cowok kayanya juga emang dekat dengan Dira."
"Nah yaudah lo coba samperin aja si Dika itu."
"Entar yah pas makan siang coba gue ajak dia makan siang bareng sama gue."
"Nah ini." Fida bangkit dari kursi berjalan ke arah dispenser yang jarak tiga langkah dari mejanya, tidak lupa Fida pun mengambil air minum juga untuk Dira, sekembalinya Fida langsng memberikan air minum untuk Dira."Lo mau ngajak makan siang si Dika ini, lo punya kontaknya nggak?"
"Punya tenang aja. Beres aman."
"Tapi, kalo si Shaka nggak misterius banget mah. Kita nggak bakal kaya gini yah nyari tahu tentang siapa perempuan ayng sedang di sukai oleh Shaka."
"Iya bener. Lagian kenapa sih. Si Shaka sok misterius kaya gitu." kata Dira.
"Mana gue tau deh. Yaudah kita sudahi pergibahan ini masih pagi udah ngerumpiin orang."
"Yang mulai siapa?" tanya Dira.
"Lo!" kata Dira dengan semangat. Memang benar yang pertama mengajak ngerumpi itu Fida. "Tapi, gue seneng.." Dira tersenyum dengan licik.
"Laksanakan tuga lo nanti pas makan saing ya. Jangan lupa keep update ya."
"Siap komandan." Dira memberikan hormat kepada Fida, dan sahabatnya tidak menanggapinya ia malah memilih membuka komputernya, dan mulai bekerja
Satu persatu orang-orang di kantor pun mulai berdatangan begitu pun dengan sang bos sudah datang, dan masuk ke dalam ruangannya. Dira pun yang sedari tadi belum menyalahkan komputer. Ia langsung bergegas menyalahkan komputernya.
***
Makan siang pun Tiba Dria sudah stand by di depan kantor Luna. Karena ia akan bertemu dengan Dika sembelumnya Dira sudah chatting-ngan dengan Dika untuk makan siang bareng. Syukurnya Dika tidak banyak bertanya, kok tumben banget lo makanb bareng sama gue? Ada angin apa nih? Nggak ada maksud aneh-aneh kan?
Dira sudah yakin kalau Dika tidak akan banyak bertanya begitu. Dira sejak SD memang dikenal orangnya supel bisa bergaul sama siapapun, orangnya baik, tidak nakal, tidak merokok, tidak jelek, dan tidak punya pasangan. Dulu pernah berpacaran sama temannya semasa SMP, Dira tahu soal ini. Soalnya mereka berdua beteman di f*******: Dika waktu masih menjadi kekasihnya wanita itu. Di f*******: kalau upload foto berdua dengan perempuannya itu sangat romantis dan keliahtan kalau Dika ini bucin sekali, kalau kata anak sekarang.
Dira
Dik,lo benaran udah selesai kerjanya?
Apa masih banyak?
Gue pegel nih nunggu lo.
Mana berdiri lagi.
Di kantor lo di luarnya
Kenapa nggak disediain tempat duduk
Besok usul ke bos lo sediain
Tempat duduk
Saran dari gue bilangnya
wkwkwkwk wkwkwk
Dira sudah menunggu Dika hampir tiga puluh menit. Akan tetapi, manusianya itu tidak keluar-keluar dari tadi.
Dika di ruangan masih sibuk dengan kertas yang harus ia serahkan segera ke Manager yang sedang berada di ruangannya. Ia tahu kalau dari tadi ponselnya bergetar tanda panggilan masuk dari Dira. Dika hanya membacanya sekilas ia langsung bergegas ke ruangan Manager untuk menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah ia selesaikan, dan setelah itu ia akan keluar makan siang bersama dengan Dira.
Di luar Dira yang melihat pesan dari Dika hanya dibaca saja, buru-buru ia membalas pesan dari Dika.
Dira
Ihh kok dibaca doang sih!!!
Dika
Dikaaaaaaaaa
Tidak lama setelah Dira membalas pesan dari Dika—Dika pun keluar dari ruangannya, dengan sedikit tergesa-gesa dan tampang wajahnyamerasa bersalah karena sudah membuat menunggu Dira.
"Maaf ya, tadi kerjaan ada sedikit kendala. Nunggu lama ya?" tanya Dika.
"Lama banget udah kaya nunggu penganten lagi di di rias tau! Gue lapar banget ini Yaudah yuk makan lapar banget ini." kata Dira langsung menarik tangan Dika untuk pergi ke kantin karena perutnya ia sudah keroncongan.
***
Nasi goreng sudah tersedia di masing-masing meja; Dika dan Dira. Mereka bukannya langsung melahap nasi gorengnya malah mereka berdua saling pandang seperti dua orang yang baru saling mengenal.
"Kok kita malah lihat-lihatan gini sih?" tanya Dira heran. Ia langsung mengambil sendok dan garpu dan sendoknya mengaduk nasi goreng, dan memasukan satu sendok nasi gorengnya ke dalam mulut. "Lo napa masih ngeliatin gue? Bukannya lo langsung makan tuh nasi goreng."
Dika pun langsung cepat-cepat memakan nasi gorengnya di tengah-tengah acara makan siang mereka, Dika bertanya kepada Dira dengan sedikit curiga. "Lo tumben banget ngajak gue makan siang? Kenapa?" tanyanya.
"Emang nggak boleh yah gue ngajak makan lo?"
"Boleh aja sih. Tapi, feeling gue mengatakan kalo lo pengin dapat info dari gue. Entah tentang apa." kata Dika.
TEPAT SEKALI DIKA! Jadi Dira tidak perlu berbasi-basi terlalu basi hanya membuang-buang waktu saja."Gue mau tahu tentang Luna."
"Buat apa?"
"Buat gue lah."
"Maksud gue ngapain lo mau cari tahu tentang Luna?"
Dira tahu kalau Dika hanya ingin tahu alasannya, dan Dika dikenal sebagai orang yang bisa dapat dipercaya, informasi tidak akan bocor ke mana-mana.
"Ada salah satu teman gue yang suka sama Luna." kata Dira."Nah gue diminta untuk cari tahu tentang Luna, gue nggak kenal Luna sama sekali. Kebetulan lo satu kantor dengan si Luna. Gue butuh informasi dari lo. Lo mau kan bantuiin gue?"
Dika nampak menimangnya antara ia atau tidak membantu Dira. "Kalo gue bantu lo, gue dapat apa nih?"
"Nggak dapat apa-apa sih. Paling ucapan terima kasih aja." Dira nyengir sambil memperlihatkan deretan giginya, dan Fida tidak menyadari kalau di sana ada cabai yang menyelip."Lo kenapa ketawa, Dik?" tanya Dira heran karena tiba-tiba tertawa padahal ia sedang tidak melawak sama sekali.
"Ada cabai tuh menyelip di gigi lo."
Buru-buru Dira langsung mengeluarkan ponsel untuk mengaca di kameranya. Benar di sana ada cabai yang menyelip di sela-sela gigihnya, memang kurang aja si cabai membuatnya jadi malu. "Thanks udah dibilangin. Sekarang gue mau nanya ke lo, gimana lo bantuin gue kagak?"
"Iya gue dapat apa, Dir?"
Ini nih yang tidak di suka oleh Dira dari Dika yang selalu minta imbalan kalau diminati tolong sesuatu. "Kagak ikhlas banget lo jadi orang."
"Di dunia ini tidak ada yang gratis tau."
"Yaudah lo bayarin gue makan siang tiap hari."
CRAZY! SEKALI SANGAT CRAZY! Dikira gaji Dira itu dua puluh digit bayarin makan siang Dika tiap hari. Buat makannya sebulan saja Dira seperti mau bunuh diri ke jurang.
"Itu gue keberatan. Yang lain, gue nego nih."
"Yaudah kirim dua kotak pizza ke rumah gue pas weekend ya. Gimana?"
Memang tidak ada akhlak si Dika ini perhitungan sekali sama teman lamanya ini yang sedang menyelidiki sesuatu yang tidak penting-penting amat. Tapi, harus dicari tahu. Apakah benar Shaka menyukai Luna.
"Gimana?"
"Iya deal." Tidak apa-apalah ia mengirim dua kotak pizza hanya sekali daripada makan siang setiap hari yang ada dirinya malah babak belur. "Tapi, lo janji jangan bilang siapa-siapa."
"Siap." kata Dika semangat.
"Si Luna udah punya pacar?"
Dika tidak langsung menjawab pertanyaan dari teman lamanya itu. Ia terlebih dahulu mengingatkan Dira untuk tidak lupa memesan dua kotak pizza ke rumahnya. Fida pun menjawab dengan lantang Dika tidak perlu khawatir yang penting sekarang, jawab saja pertanyaannya. "Luna belum punya pacar."
"Kenapa? Apa ada orang yang dia suka?" tanya Dira.
"Kagak ada si. Yang ada banyak yang suka sama dia. Termasuk bos gue." Dika mengambil tisu untuk mengelap mulutnya nasi goreng yang ia makan sudah habis. Memang kalau laki-laki rata-rata kalau soal makan itu cepat sekali.
Soal Luna yang disukai oleh bosnya tentu saja Dira sudah tahu kalau soal itu. Akan tetapi, di depan Dika ia pura-pura tidak tahu.
"Bos lo ganteng itu ya?"
"Lo ko tahu kalau bis kita itu ganteng ya?"
"Iya jelas gue tahu. Gue pernah satu lift sama dia, ada salah satu teman kantor lo satu lift juga Ama gue dan bos lo. Dia manggil bos lo dengan sebutan 'bos'. Dari situ gue tahu itu bos lo, kita kan satu lantai, pas di lantai delapan bos lo masuk ke kantor lo."
Dika mengangguk-angguk pernyataan dari Dira yang cukup masuk akal untuk dicerna, "Oh gitu ya. Gue kadang aneh sama Luna, disukai sama bos, masih muda, dan kaya. Tapi, dia nggak mau. Gue kalau jadi dia mah—sikat aja."
"Luna berarti nggak matre kaya lo."
"Gue bukan cowok matre kok." Dika membela dirinya sendiri.
"Kalau nggak matre kenapa lo minta pizza dua loyang, dan minta untuk dikirimin ke rumah lo pas weekend?" tanya Dira dengan menatap Dika bak seorang peramal.
"Natap guenya biasa aja dong!" kata Dika. Dira pun langsung menyandarkan bokongnya ke bangku. "Gue minta pizza yah sebagai imbalan. Nggak ada yang gratis di dunia ini Dira."
"Iya dah terserah lo." Dira pun mau menanyakan lagi soal Luna, "dia pernah cerita nggak ke lo soal ada cowok yang suka sama dia? Di luar bos lo."
"Nggak pernah sih. Kalo dia cerita ya, tapi gue tahu beberapa cowok yang suka sama dia. Bahkan ada yang mohon-mohon ke gue untuk minta nomor teleponnya. Karena memang mereka tahu kalo gue ini deket banget sama si Luna."
Rasanya Dira ingin bertukar posisi jadi Luna meskipun si Luna ini single, tapi yang mendekatinya banyak tidak seperti dirinya sudah single yang mendekatinya pun tidak ada. Ini mah benar-benar single karena tak ada satu pun yang mendekatinya. Sekalinya ada laki-laki yang disukai oleh Dira—orangnya tidak suka balik dengannya.
"Siapa aja yang suka sama Luna Dik?"
"Ada anak dari lantai satu, dua, lima, sama tiga." jawab Dika.
Lantai tiga; Lantai tiga adalah di mana kantor Shaka berada. Dira tidak peduli dengan laki-laki di lantai satu, dua, dan lima. Yang ia pedulikan adalah laki-laki di lantai tiga. Apakah itu Shaka atau bukan?
"Yang di lantai tiga siapa orangnya?"
Dika mengerutkan alisnya heran, "kok kayanya Lo lebih berfokus sama lantai tiga, nggak nanyain soal cowok di lantai satu, dua, dan lima. Kenapa Dir?"
Dika kenapa lo pakai acara nanya segala sih. Dira menyuapkan satu suap nasi gorengnya lagi dan ia menyeruput teh manisnya. "Emang kenapa Dik? Bukan urusan lo kan kalau gue mau berfokus sama si lantai tiga. Lo cuma cukup kasih informasi aja ke gue soal luna."
"Iya. Iya. Gue nggak tahu yah pastinya siapa orangnya, soal yang ini nggak pernah minta nomor telepon gue. Cuma yang gue tahu dia ngantornya di perusahaan ekspor-impor."
Dira bisa bernafas lega setelah tahu kalau orang itu bukan Shaka. Meskipun begitu Dira belum benar-benar lega karena siapa tahu Shaka ini menyukai Luna dengan cara yang rapih. Seperti laki-laki yang lain—yang mendekati Dika untuk meminta nomornya. Kayanya kalau hanya dapat informasi dari Dika tidak cukup, kayanya ia harus mendekati Shaka memancing untuk bercerita. Ya, itu memang tidak mudah—tapi yah untuk caranya nanti dipikirkan oleh Dira.
"Ohh gitu, ya." Dira melirik ke jam arlojinya. Jamnya sudah menunjukkan pukul satu siang sudah saat ia kembali ke kantor. "Segitu dulu ya yang perlu gue tahu. Nanti kalo ada yang perlu gue tahu lagi, gue tanya lagi ke lo." Dira bangkit dari duduknya. "Untuk pizza tenang aja gue kirim, gue balik kantor dulu ya. Bye! Gue tinggal dulu ya."
"Oke, gue juga mau balik. Tapi, gue mau ke toilet dulu. Mules perut gue."
"Oke. Makasih Dik."
"Sama-sama Dira."