Ponsel milik Timo bergetar tepat ketika ia habis keluar dari kamar mandi. Ponselnya itu di taruh di atas meja belajarnya. Timo melirik sebentar siapa yang malam-malam begini menelponnya saat Timo melihat ke ponsel ia melihat panggilan masuk dari Elvira.
Timo tidak langsung mengangkatnya ia diam terlebih dahulu; untuk apa Elvira menontonnya malam-malam begini. Bukankah kalau di Indonesia jam 11 mala kira-kira di Australia jam 2 dini hari.
Timo pun langsung mengangkat telepon dari Elvira, ia menaruh ponselnya di telinganya. "Hallo El? Ada Apa?" Timo berjalan ke arah keluar pintu kamarnya untuk menaruh handuk yang habis ia kenakan.
"Nggak ada apa-apa." jawab Elvira. "Aku mau telepon kamu aja, ganggu ya?"
Timo duduk di sisi tempat tidurnya, "nggak ganggu kok. Gue lagi nggak ngapa-ngapain, abis mandi barusan. Santai aja."
"Kamu mandi malam-malam nggak dingin?"
"Nggak sih. Malah kalo nggak mandi gue gak bisa tidur."
Alasan Timo baru mandi di jam segini karena ia baru sampai kantor jam 10 malam, dan kalau tidak mandi otomatis badan jadi lengket dan malah tidak bisa tidur.
"Bener ya. Kamu pulang kerja malam ya?"
"Iya malam nih." jawab Timo. "Lo kenapa belum tidur?" Timo merebahkan dirinya di atas kasur dengan ponsel masih menempel di telinganya.
Gue nggak bisa tidur karena mikirin lo. Gue kangen banget sama lo Tim, tapi gue nggak bsia ngomong sama sekali. Gue terlalu takut untuk mengungkapkannya. Takut lo nggak ngerasain apa yang gue rasain.
"Lo kok diem El?"
"Eh....iya lo tadi nanya apa Tim?"
"Lo kenapa nggak bisa tidur?"
"Nggak bisa aja."
"Kalo nggak bisa tidur pasti ada alasannya, lo kenapa belum tidur?"
"Insomnia." jawab Elvira.
"Klasik banget alasan lo. Gue ganti deh pertanyaannya. Lo kenapa langsung menghubungi gue?"
DEADLAH KAU ELVIRA. Di benak Timo pertanyaan yang di lontarkan oleh dirinya yah pertanyaan biasa. Akan tetapi, menurut Elvira Itu adalah sebuah pertanyaan yang menjebak. Jadi Elvira harus berhati-hati dalam menjawabnya.
"Gue mau telepon lo aja. Nggak boleh emang?"
Ada jeda beberapa detik dari Timo sepertinya Timo sedang mencari jawaban yang tepat yang ada di kepala. "Biasanya kalo orang telepon pasti ada alasannya."
"Gue nggak ada alasannya." sama kaya gue waktu dulu nerima lo. Tanpa ada alasan apapun.
Timo memiringkan badannya ke kanan sambil memeluk guling, "Biar gue tebak boleh?"
Elvira mengerutkan dahinya, "nebak apa?"
"Nebak alasan lo telepon gue."
"Apa?" Elvira menantang Timo
"Karena lo kangen gue ya?"
Perlu digaris bawahi di sini maksud kangen dari Timo adalah; kangen sebagai seorang sahabat.
"Iya gue kangen sama lo."
Menurut Elvira rasa rindunya kepada Timo lebih dari seorang sahabat, Elvira tetap rindu pada bagian sahabatnya—tapi lebih rindu dengan moment disaat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
"Iya kangen banget. Nggak sabar mau ke Indonesia lagi."
"Iya siapa sih yang nggak rindu punya sahabat kaya gue." Timo masih seperti dulu punya percaya yang terlalu tinggi dengan perempuan.
Di sebrang di sana wajah Elvira terlihat jelas kecewanya, seharusnya memang Elvira tidak perlu beharap apapun tentang hubungan mereka untuk bisa seperti dulu lagi.
"Iya Tim. Gimana hari lo? Lancar sejuah ini?"
"Puji Tuhan lancar banget. Kerjaan gue lancar, acara gue ngedate gue sama Fida pun lancar. Walaupun gue sama dia cuma ngedate di warung pecel deket kantor."
Saat Timo menceritakan bagian ia dating dengan Fida. Entah kenapa perasaan yang dinamakan cemburu itu hadir di dalam lubuk hatinya. Apakah ini wajar? Bukankah Elvira seharusnya tidak merasakan ini. Kadang apa maunya hati kita tidak bisa menebak dengan tepat sasaran.
"Fida di mata lo kaya apa?" entahlah Elvira pun tidak tahu kenapa ia malah bertanya soal ini. Padahal ia sendiri sudah tahu jawabannya akan menyakiti dirinya.
Para pembaca harus tahu bahwa ini adalah obrolan terpanjang kedua insan yang dahulu pernah sedekat nadi, setelah empat tahun lebih kisah mereka berlalu.
"Fida ya?"
"Iya."
"Dia sosok yang sangat baik. Perempuan yang unik, kuat, dan sangat mandiri. Dia memang nggak secantik perempuan di luar sana. Dia memang nggak punya standar kecantikan yang memenuhi masyarakat kita. Di mana kalau cantik harus putih, langsing, dan punya rambut yang lurus bak model di televisi-televisi. Kalau mau yang seperti itu ya bisa pacaran sama bihun."
Sontak Elvira pun langsung tertawa mendengar kalimat Timo yang terakhir. Timo pun senang mendengar lagi suara tawa dari Elvira setelah sekian lama ia tidak mendengarnya.
"Lo gimana udah punya pacar baru?"
"Belum."
"Kenapa?"
Karena lo jadi belumnya pacar. "Lagi nyaman sendiri aja Tim. Oh yah long last hubungannya lo sama Fida ya, jangan sampe lo diputusin cuma gara-gara LDR atau mau fokus sama satu hal. Kejadian dua kali."
Mereka berdua pun tertawa. Timo menertawakan dirinya sendiri sementara itu Elvira tertawa sebagai si tersangka.
"Jadi inget gue."
"Inget apa kamu?"
"Inget aku yang jadi korban LDR.'
Sontak mereka berdua pun langsung menertawakan masa-masa mereka saat harus berpisah karena keadaan.
"Proses move on dari gue gimana?" tanya Timo.
"Gampang banget Tim. Sangat gampang." Padahal mah sama sekali tidak mudah untuk Elvira; kalau mudah mungkin ia sudah menerima para pria yang mendekatinya. Tapi, ia menolak karena di hatinya masih ada Timo.
"Iya sama gue juga.. gampang ya. Ternyata kita berdua emang lebih nyaman bersahabat, setelah gue pikir-pikir."
SUMPAH SAAT INI HATI ELVIRA seperti disayat-sayat oleh ribuan pisau yang menghujam jantungnya.
"Iya Tim. Oh yah udah dulu ya." kata Elvira karena ia tidak tahan untuk menangis saat ini juga karena ucapan Timo barusan benar-benar menyakiti dirinya.
***
Sydney adalah kota yang menjadi impian Elvira sejak ia masih duduk di bangku SMA. Mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan adalah impiannya, dan impian itu terwujud dengan kerja kerasnya selama ini; disiplin dalam belajar, dan dukungan dari orang-orang terdekatnya membuatnya jadi semangat.
Sydney kota yang baik untuknya, tapi jahat untuk Timo seseorang yang ia kasihi selama ini; ia memutuskan hubungannya dengan Timo sebagai seseorang kekasih—Syukurnya untuk persahabatan mereka masih terjalin baik meskipun komunikasi mereka makin ke sini makin terasa hambar.
Setelah ia menelepon Timo tadi ia memutuskan untuk keluar dari Apartemennya berniat untuk pergi ke Kafe yang buka 1×24 jam. Bermaksud untuk membuat lebih baik setelah mendengar ucapan Timo di telepon. Timo terlihat sangat bahagia bersama dengan kekasih barunya itu, dan Elvira pun mau tidak mau harus ikut bahagia juga karena Timo sahabat Elvira—selamanya akan menjadi sahabat—atau lebih tepatnya mereka memang lebih baik bersahabat—tidak cocok menjalin hubungan lebih dari seorang pacar.
Elvira merekatkan jaketnya udara malam ini begitu dingin hingga menusuk ke tulang-tulangnya, Elvira berbelok memasuki g**g menembus jalanan besar lalu ia Menyebrangi jalan. Elvira akan pergi ke Kafe di sebrang jalan yang bukanya 1×24 jam.
Suara lonceng kafe berbunyi saat Elvira memasuki kafe tersebut; tidak terlalu ramai pengunjung mungkin ini sudah malam. Elvira milirik ke arah jam dinding yang ditekankan oleh pemilik Kafe di depan counter. Lalu ia pun segera memesan satu gelas vanilla latte minta di antar ke meja nomor 20 yang letaknya di paling pojok. Tempat yang pas untuk dirinya merenung atau menikmati kegalauan hatinya.
Elvira sendiri pun tidak paham kenapa ia masih tidak bisa move on dari Timo. El lo liat Timo udah move on dari lo udah bahagia sama pacar barunya. Masa lo masih stuck aja sih!
Seorang laki-laki bertubuh tinggi, agak sedikit gemuk, masuk ke dalam Kafe memesan satu hot coklat. Pada saat mata biru laki-laki itu melirik ke arah tempat duduk yang paling pojok di mana Elvira sedang duduk. Setelah hot coklat yang ia pesan jadi. Ia langsung menghampiri Elvira. Laki-laki itu bernama David, teman kuliah Elvira di Australia.
"Hei! Nona cantik sedang apa kau di sini?" sapa David. Elvira yang sedang melamun pun langsung mendongakkan kepalanya, melihat ke David dan ia tersenyum. "Bolehkah aku duduk di sini?"
"Tentu saja boleh, David. Kau ini seperti dengan siapa aja." kata Elvira.
Davi pun langsung duduk, "sedang apa kau malam-malam begini berada di kafe seorang diri. I guess, kau sedang sedih soal mantan pacarmu itu yang berada di Indonesia."
Di sini David lah yang menjadi tempat berkeluh kesah Elvira. Menceritakan soal keresahan hatinya perihal ia yang ternyata tidak bisa move on dari mantan kekasihnya itu.
"Tidak. Aku hanya sedang suntuk saja dengan tuga-tugas kuliah yang sangat menyita waktuku untuk bersantai, seperti saat ini." kilah Elvira berbohong.
David tahu kalau Elvira berbohong. Akan tetapi, David tidak mau memaksa Elvira untuk bercerita. "Baiklah kalau memang begitu, boleh aku temani kau di sini malam ini?"
"Of course."
David sebenarnya sudah menyukai Elvira sejak pertama kali mereka bertemu di Opera House, dan takdir mempertemukan mereka di satu kelas yang sama. Ternyata David satu kampus dengan Elvira dari sanalah mereka mulai berteman sampai saat ini. David menyukai Elvira, namun pria itu tidak pernah memberitahukan hal itu karena ia paham kalau Elvira masih belum selesai dengan masa lalunya.
"Kau ini tahu, El." kata David.
"Tentang apa?"
"Tentang kehidupan; tentang manusia yang dipertemukan, lalu dipisahkan. Kita semua pasti sangat bahagia ketika pertemuan itu terjadi, akan tetapi pada saat perpisahan itu terjadi wajah kita langsung berubah murung, tidak terima, merasa tidak adil, bahkan sampai marah ke Tuhan."
"Kau berbicara seperti ini tidak sedang menyindirku, kan?" Elvira bertanya ke David dengan curiga.
"Tentu saja tidak El." David menatap mata Elvira dengan tatapan yang sangat intens. Matanya yang sebiru samudera benar-benar membuat Elvira tenang saat menatap David. "Aku hanya ingin bercerita supaya kau dan aku dapat prespektif yang berbeda. Tentang sebuah pertemuan dan perpisahan. Sekarang begini kau kuberi pilihan. Kau ingin di mulai dengan perpisahan atau pertemuan?"
Elvira menjawab dengan mantap. "Perpisahan."
"Baiklah." David berdehem dahulu sebelum ia memulai bicara. "Perpisahan adalah bagian dari kehidupan, El. Kita akan dipisahkan oleh orang-orang yang kita sayangi, dengan cara yang berbeda. Ada yang dipisahkan karena kematian, perceraian, mengejar cita-cita, perbedaan prinsip, dan sebagainya." Dira mengangguk setuju dengan ucapan David. Lalu David melanjutkan lagi. "Perpisahan itu tidak ada yang enak, semuanya pasti meninggalkan luka di hati kita. Semakin lama orang itu pergi, semakin kita ingat kenangan saat-saat kita bersama—saat masih dekat sebelum akhirnya menjadi stranger."
"Kalau memang dipisahkan, kenapa harus dipertemukan?" tanya Dira. Beginilah loh; kalau kita bertemu dengan seseorang lalu dipisahkan kembali, sebaiknya tidak perlu dipertemukan buang-buang waktu saja.
"Konsep tidak seperti itu, El." kata David. "Setiap orang yang datang ke kehidupan kita mau dia menetap ataupun pergi itu pasti meninggalkan pembelajaran untuk kita. Kamu bilang kalau akhirnya dipisahkan kenapa harus bertemu? Tuhan Adil El. Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang ada di bumi ini, karena Tuhan ingin kita belajar supaya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dari kita yang sekarang. Memang pelajarannya tidak langsung ada di depan mata kita pada saat orang itu pergi. Butuh waktu yang tidak sebentar. Bisa sebulan, dua bulan, atau bahkan bertahun-tahun kau baru mengerti pembelajarannya."
"Pembelajaran apa yang kau dapat dari perpisahan?" tanya Elvira. Mengobrol dengan David itu jarang sekali mengobrol tentang hal-hal yang receh. Selalu berbicara hal-hal yang berat seperti sekarang ini.
"Waktu aku masih berumur delapan tahun. Waktu itu ayah dan ibuku tinggal di Amerika. Kami tinggal di rumah nenek kami di California. Pada saat itu kakek sedang sakit keras, dan hidupnya tidak akan lama lagi. Kakekku masuk rumah sakit, dimasukkan ke ruang ICU sampai beberapa tidak sadar diri. Sampai akhirnya di nyatakan meninggal dunia pada saat malam natal di musim dingin. Kau tahun, El? Kau sangat dekat dengan kakekku ini. Pada saat kepergiannya aku benar-benar terpukul; aku merasa marah pada saat itu. Pada keadaan, pada diriku, pada dokter, bahkan pada Tuhan."
"David, sorry for hear that. Kau pasti sangat terpukul pada saat itu kacau. Apalagi kakekku itu orang yang paling dekat denganmu. Lalu bagaimana kamu mengobati rasa kehilangan itu?"
"Menerimanya."
"Tapi, nggak mudah." Kehilangan seseorang yang kita sayangi itu menerima tidak mudah.
"Memang tidak mudah," kata David. "Ada prosesnya. Aku pada saat itu untuk bisa menerima kematian kakekku adalah sekitar enam bulan. Itu pun aku tidak langsung menerimanya seratus persen. Aku masih berkata pada diri sendiri Andaikan kakekku tidak meninggal mungkin aku tidak akan pindah ke Australia. Aku benci Australia pada awalnya kau harus tahu itu."
"Kenapa kau membencinya."
"Karena aku harus meninggalkan Amerika tempat terbaikku untuk hidup. Banyak sekali kenangannya di sana. Boleh aku lanjut?" tanya David. Elvira pun mempersilahkan David untuk lanjut bercerita.
Elvira mengangguk.
"Sesuatu yang begitu aku benci dan tidak aku suka, tidak selama buruk. Salah satunya saat aku pindah ke Australia; aku tidak langsung merasakan kalau pindah ke sini adalah sesuatu yang terbaik. Beberapa tahu kemudian aku baru merasakan. Pindah ke sini bertemu dengan orang-orang baru, termasuk kau. Meninggal kakekku juga memberiku pelajaran bahwa kematian itu pasti mau kita siap atau tidak siap menerimanya. Pasti kematian itu akan datang sendiri." kata David.
"So deep." ucap Elvira seraya menyeruput kopinya.
"Untuk pertemuan. Kau percaya tidak, kalau setiap pertemuan kita dengan seseorang selama perjalanan hidup adalah untuk memberi pelajaran ke kita atau menetap. Semua yang terjadi dalam hidup ini pasti ada hikmahnya. Nikmati saja moment selama mereka masih ada di sisi kita." tukas David.
Kata-kata David memang ada benar. Dari perpisahan setiap dari kita pasti ditengah perjalanan pasti akan dipisahkan oleh seseorang atau sesuatu, bukan karena Tuhan jahat atau tidak adil. Tuhan hanya ingin memberi pelajaran ke kita bahwa apa yang ada di dunia ini tidak ada yang sia-sia.
Mengobrol dengan David selalu membuat Elvira merasa lebih baik dari sebelumnya, dan Elvira sangat beruntung dipertemukan oleh David—apapun ending nya ia dengan David. Suatu hari nanti Elvira akan mengenang David sebagai seseorang yang paling baik di hidupnya. Untuk Timo meskipun mereka berpisah sebagai sahabat, tapi mereka berdua masih bersahabat sampai sekarang.