Adit yang sedang duduk di kursinya sambil kakinya ia naikan ke atas kursinya. Kedua tangannya memegang smartphone nya bersandar di sandaran kursi. "Tim makan siang di mana?" tanya Adit.
Timo yang duduknya di sebelah Adit—yang sedang sibuk mengecek beberapa dokumen; harusnya sebagai team Adit membantu Timo agar pekerjaan bisa cepat selesai, dan mereka bisa makan siang.
"Nggak tau kantin kali!" jawab Timo sama sekali tidak menoleh ke Adit matanya terus fokus pada dokumen-dokumennya.
Adit melihat Shaka keluar dari toilet lalu berjalan ke meja, letak meja Shaka terletak di depan Adit. Shaka kembali mengecek komputer untuk melihat jadwal apakah hari ini ada jadwal meeting. Kalau ada otomatis Shaka akan makan siang di luar bersama dengan klien.
"Makan siang di mana, Ka?" tanya Adit.
"Terserah Timo."
"Kantin katanya, Ka."
"Yaudah."
Adit kesal mendengar jawaban dari Shaka yang sepertinya pasrah sekali. Kenapa temannya ini tidak memberikan opsi?!
"Kok lo pasrah?"
"Pasrah apa maksud lo?"
"Lo kaya pasrah makan di kantin."
Shaka menatap Adit bingung, "otak lo kenapa?"
"Kok sekarang lo bawa-bawa otak sih?"
"Eh Adit!!!! Kan makan emang di kantin mau di mana lagi? Kok lo malah bilang gue pasrah? Nggak nyambung banget."
"Maksud gue adalah; nggak ngasih ngasih pilihan mau makan siang di mana Shaka!"
Memang benar ya ini; Adit paling suka banget ya kalau misalnya mau bertanya sesuatu itu pasti berbelit-belit kaya gini bikin orang emosi saja.
"Kenapa dari tadi nggak nanya kaya gini?!"
"Gue suka yang rumit. Kenapa lo nggak senang?"
Timo yang sedari tadi hanya menjadi pendengar dua orang yang sedang berdebat yang bikin pusing muter-muter. Padahal bisa dengan mudahnya bilang, 'gimana kalo kita makan di tempat di A.'
Timo menggebrak meja dengan keras, "Lo berdua pada bisa diem nggak sih?!"
"Bisa!" jawab Shaka dan Adit bersamaan.
"Gue udah kelar. Lo pada tadi ributkan mau makan di mana, selain di kantin?"
"Warkop mang Otis aja biar bisa ngerokok gue." kata Shaka.
"Lo gimana, Dit?"
"Oke."
"Yaudah berangkat sekarang." ajak Timo kepada kedua temannya.
Adit bangkit dari tempat duduknya,"tunggu dulu."
Timo berdecak kesal, "apa lagi?" tanya Timo.
"Ajak cewek lo Tim!"
"Biar apa?"
"Biar rame aja. Masa kita bertiga aja, ajak juga temannya siapa namanya, Dir.."
"Dira?" jawab Shaka.
"Iya ajak dia juga."
"Jadi berlima kan."
"Oke. Gue tanya dulu yah ke Fida dia mau makan siang di mana. Yaudah kita sebaiknya jalan dulu ke warkop sekarang." Timo langsung mengirim ponsel bertanya kepada kekasihnya mau makan apa? Balasan dari Fida adalah di sendiri pun mau makan apa soalnya di kantin lagi bosen mau coba di tempat lain. Timo mengajak di Warkop Fida pun oke, dan mengajak Dira juga—Dira yang awalnya menolak ajakan Fida, namun saat Fida mengucapkan nama Shaka Dira langsung bersemangat.
Mereka pun sampai di warkop mang Otis yang lokasinya berada di sebrang wisma Sejahtera. Yang sampai terlebih dahulu di Wisma Sejahtera adalah Shaka, Timo, dan Adit. Mereka pun langsung memilih tempat duduk yang cukup untuk berlima. Adit duduk di depan Timo, dan tentu saja nanti di sebelah Timo ada Fida yang akan duduk di sana. Sementara Shaka duduk di tengah-tengah. Shaka langsung mengeluarkan sebatang rokoknya menyalahkan koreknya, dan mengarahkan ke rokoknya. Rokok pun langsung menyalah asapnya pun langsung mengepul ke udara.
"Enaknya rokok apa, Ka?" tanya Adit sebagai seseorang yang tidak merokok.
"Bikin ilang stres gue. Apalagi kalau lagi Ama lo Rokok itu penting banget, biar nggak stress amat liat muka lo yang songong."
Timo kadang heran sama kedua temannya ini kenapa senang sekali memancing keributan. Timo mau melihat sampai di mana ini keributan akan berlanjut.
"Lo kenapa sih, Ka? Kaya sensi banget sama gue? Perasaan selama ini gue nggak pernah tuh bikin lo kesal. Gue anak yang baik yang selalu membuat teman-temannya senang." kata Aldo dengan percaya diri dan tidak sadar akan hal itu.
"Pala lo!"
"Pala gue kenapa?" tanya Adit.
"Pala minta gue tusuk pakai penghancur es batu. Mau?"
"Ih sereeeem tau!"
Untuk kali ini Timo tertawa mendengar perdebatan dua temannya—menang kadang-kadang suka begini mereka; debatnya ada yang bikin emosi ada yang tidak tergantung dengan mood masing-masing.
"Psikopat lo Ka!"
Tidak lama kemudian Fida dan Dira pun datang. Dira pun langsung memilih tempat duduk di sebelah Adit bisa saja ia memilih duduk di tempat Shaka, tapi tidak jadi karena melihat Shaka sedang merokok, dan Dira baru tahu kalau Shaka adalah perokok dulu Shaka bukan perokok.
"Dir?" panggil Fida saat Dira baru saja mendarat bokongnya di sebelah Adit.
"Lo kok duduk disitu?"
"Kan ini kosong. Gue boleh dong duduk di sini," Dira pun bertanya ke Adit yang sedang fokus dengan game-nya. "Iya nggak Adit?" ucap Dira.
"Iya."
"Lo duduk disebelah Shaka!" Fida di sini agak sedikit memaksa. Karena ia ingin Dira ngobrol layaknya teman sama Shaka, sama Adit saja bisa berteman masa sama Shaka tidak bisa. Ini patut dipertanyakan sih.
Shaka pun menyahuti ucapan Fida, "udah sih Fid. Kalau orang tidak mau duduk di sana yaudah nggak apa-apa. Nggak usah dipaksa."Shaka mematikan rokoknya di atas asbak."
"Noh denger Fid," Dira menoleh ke arah Shaka dan pada saat itu pun pandangan mereka bertemu. Cepat-cepat Dira lansgung menoleh ke arah Dira. "Nggak baik memaksa."
Timo yang geram mendengarkan perdebatan itu pun langsung mengakhirinya supaya perbedaan ini tidak terjadi berkepanjangan, dan itu akan sangat menjengkelkan bila itu terjadi.
"Kalian mau pesan apa?"
Adit yang paling gercep (cepat sekali) menjawab pertanyaan dari Timo. "Gue mau pesan mie goreng kornet, sausnya banyak, dan nggak pake cabai. Terus buat minumnya. Gue mau minum... es Milo."
Saat Timo bertanya ke Shaka mau pesan apa Shaka bilang ia hanya ingin dipesankan sama dengan Adit. Untuk Fida dan Dire mereka pun sama—sama-sama pesan roti panggang dan good coffee dingin.
"Yaudah lo pada coba ngobrol dulu. Gue mau pesan dulu."
"Adit Lo nggak pegel apa ya, main game. Mata Lo nggak sakit apa?" tanya Dira.
"Lebih baik main game daripada main cewek." Adit jawab begini tak lain adalah untuk menyindir Shaka yang memang suka sekali main perempuan.
"Lo nyindir gue nih jadinya?" ucap Shaka yang merasa tersendiri. Sebenarnya Shaka bukan merasa tersindir ya. Tapi, lebih ke sudah paham kalau ucapan Adit begitu berarti menyindirnya karena memang Adit paling suka mencari gara-gara.
"Gue nggak ngomong lo ya. Lo yang merasa tersendiri."
Timo yang sudah memesan makanan untuk teman-temannya, dan juga dirinya sendiri pun kembali ke meja tempat. Duduk di tempat semula yaitu tepat di sebelah Fida. "Kenapa lagi nih?" tanya Timo yang sudah mempunyai feeling kalau Adit dan Shaka mulai berdebat lagi. Entahlah Timo sendiri heran kenapa Adit dan Shaka kalau lagi dekat suka sekali ya berdebat. Apa mereka tidak lelah berdebat terus setiap hari?
"Biasa saling sindir Tim, mereka itu." kata Fida yang memang sudah paham kelakuan mereka; karena Fida sering diajak nongkrong bareng sama Timo—sama mereka.
"Adit lo suka cewek, kan?" tanya Dira yang khawatir jangan-jangan Adit tidak menyukai perempuan di dunia nyata malah ke lebih suka dengan karakter perempuan yang game dimainkan oleh Adit.
"SI k*****t!" teriak Adit kesal karena game nya over. ketika kalah barulah Adit berhenti bermain game. "Lo tadi nanya apa Dira?" tanya Adit.
"Lo suka cewek, kan?"
"Maksud lo?" nada bicara Adit naik satu oktaf.
Dira menyadari kalau dirinya ini salah nanya aturan ia tidak perlu bertanya begini, "maksud gue bukan lo gak normal ya. Tolong digaris bawahi yah Adit. Gue cuma ngeri lo nggak bakalan suka sama perempuan di dunia asli. Sukanya sama cewek di game. Lo gak gitu kan?"
"Nggak. Gue belum deket sama cewek mana pun ya karena gue memilih nggak mau pacaran."
"Bilang aja kagak laku." sahut Shaka.
"Ka!"
Timo menaruh jari telunjuknya di mulut meminta Adit dan Shaka untuk berhenti berdebat hal yang sama sekali tidak penting. Makanan pesanan mereka pun sudah datang. Timo meminta untuk teman-teman tidak berbicara apapun selama sedang makan.
Bukannya Timo jahat atau bagaimana. Kalian tahu sendirilah bagaimana peningnya kepala Timo mendengarkan perdebatan di antara mereka berdua.
***
Sepulang kantor Dira sengaja menunggu Shaka di parkiran. Terserah orang mau bilang apa tentang dirinya yang terlihat murahan karena menunggu seorang laki-laki yang dari sikapnya pun sudah menunjukkan kalau Shaka tidak menyukai Dira.
Sebenarnya kalau Dira dan Shaka tidak pernah bertemu sebelumnya; pernah dekat kalau mereka berpisah—lost contek—mereka tidak ada masalah apapun. Namun, tiba-tiba saat mereka dipertemukan kembali Shaka malah tidak ingat sama sekali soal dirinya.
Ditambah sekarang Dira benar-benar penasaran siapa perempuan yang disukai oleh Shaka, apakah Luna atau yang lain.
Pintu lift terbuka Shaka keluar dengan membawa helm di tangan kirinya sementara itu tangan kanannya memegang kunci motor. Dira pun langsung menghampiri Shaka. Suasana parkiran di sore hari begini memang sudah agak sepi.
"Shaka?"
Shaka yang sedang mencoba membuka kunci motornya, langsung mendongakkan kepalanya terkejut dengan siapa yang kini ada di depannya. "Dira? Ngapain."
"Gue mau nanya sesuatu sama lo."
"Nanya apa?"
Jujur Fida ingin sekali langsung to the point. Akan tetapi, ia urungkan niatnya. "Gue boleh pulang bareng nggak sama gue?"
"Kenapa harus bareng sama gue?"
"Karena kartu gue buat naik bis ilang. Nggak tahu ilang di mana."
"Kenapa harus gue?"
"Maksudnya harus gue apa?"
Kunci motor sudah berhasil menancap di tempatnya Shaka langsung naik ke motornya. Ia mengeluarkan motornya dari barisan parkiran. Kini posisi motornya sudah keluar dari barisan dan mengarah keluar dari parkiran. Tapi, Dira menghalanginya.
"Jangan pergi dulu."
"Kenapa?"
"Gue mau bareng."
"Kenapa harus gue?"
"Karena teman-teman gue udah pulang. Jadi, gue mau pulang bareng sama lo Ka."
"Nggak bisa. Naik ojek online aja. Lo pinggir sana, apa mau lo gue tabrak?"
"Psikopat lo Ka." Dira langsung menaruh kedua telapak tangannya di depan d**a memasang wajah semelas mungkin supaya Shaka merasa iba kepada dirinya, dan akhirnya mau mengantarnya. "Pulang bareng gue yah. Gue mohon ya, Ka."
Shaka menarik nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan berharap emosinya tidak meluap-luap. Ia harus tetap tenang menghadapi buaya betini di depannya ini. "Lo mau bareng?"
Dira mengangguk.
"Gue capek sejujurnya ya. Kerjaan gue banyak, ketemu lo. Mood gue yang sudah hancur dari pagi pun, tambah hancur banget gara-gara lo ada di sini. Gue gak mau debat juga, yaudah lo bareng sama gue. Untuk selanjutnya nggak ada lagi bareng-bareng lagi."
Dira pun tersenyum penuh kemenangan tanpa memperhatikan kalimat terakhirnya. Ia meminta helmnya dari Shaka, "lo nggak mau pakaiin helm buat gue?" tanya Dira dengan kepercayaan diri yang overdosis.
"Lo banyak maunya. Mau gue lempar ke kali nggak?"
"Nggak juga, Ka."
"Yaudah naik cepatan."
Ditengah-tengah perjalanan ada saja kendalanya. Kasus pertama, Dira tidak tahan untuk buang air kecil ia meminta Shaka untuk berhenti di pom bensin.
Shaka menunggu Dira di luar; Shaka kalau tidak memandang Fida ini temannya sudah pengin Shaka masukin karung lalu dicemplungkan ke laut. Tidak lama Dira pun keluar menghampiri Shaka, mengambil helmnya lagi dan memakainya.
"Nunggu lama ya?"
"Udah tahu kok lo malah nanya?"
"Gue kan cuma basa-basi Shaka."
"Hidup penuh dengan basa-basi." Shaka kembi menyalahkan mesin motornya. "Awas lo ditengah jalan minta yang aneh-aneh lagi. Beneran Lo gue turunin di tengah jalan ya." kata Shaka.
"Ancaman anda seram sekali ya?"
Shaka tidak menanggapinya kalau ditanggapi perempuan yang ada di belakangnya ini malah keenakan tidak tahu diri.
Kasus kedua ban motor Shaka bocor halhasil mereka berdua harus mendorong motornya. Sepertinya memang semesta menginginkan mereka untuk bisa bersama lebih lama.
"Orangnya ganteng motornya mogok."
Shaka tidak menanggapi ucapan Dira ia lebih memilih untuk berfokus mendorong motornya untuk bisa sampai si bengkel.
"Ini tukang tambal bannya masih jauh?" tanya Dira. "Gue udah capek banget."
"Sepuluh menit lagi."
"Ya ampun gue udah capek banget ini."
"Lo banyak ngeluhnya ya? Ngeluh nggak akan bikin nih motor sampai di tambal ban."
"Iya iya maaf."
Akhirnya mereka pun sampai di tambal ban samping rumah sakit swasta ternama di Jakarta. Mereka berdua diminta menunggu oleh tukang tambal bannya untuk duduk terlebih dahulu samb minum.
"Cuaca panas ya, Ka."
"Udah tahu panas. Nggak perlu lo kasih tahu." kata Shaka yang kesal.
Dira memperhatikan dahi Shaka mengeluarkan bulir-bulir keringat. Dira pun bergegas mengeluarkan tisu dari tasnya, dan memberikannya kepada Shaka. "Nih lap keringat lo pake tisu."
"Nggak usah gue bisa pake sendiri."
"Apa perlu gue pakein?"
"Nggak perlu," jawab Shaka seraya mengambil tisu dari tangan Dira dengan kasar."gue bisa pake sendiri."
Tidak lama ban motornya Shaka pun sudah selesai di tambal. Shaka pun mengucapkan terima kasih ke pemilik bengkel, dan membayar jasa. Shaka berdoa semoga tidak ada lagi kejadian lain yang menghambatnya untuk sampai di rumah.
Kalau ada kendala lagi; berarti itu ia harus berlama-lama dengan Dira, dan Shaka tidak mau itu terjadi. Sementara Dira ia malah senang kalau harus berlama-lama dengan Shaka. Dira berdoa semoga semesta mengabulkannya sayangnya tidak, tidak ada masalah lagi di jalan soal Shaka mengantar Dira dengan selamat. Rencana awal untuk bisa tahu sedikit tentang sosok yang si sukai oh Shaka pun pupus sudah. Dira malah lupa untuk menanyakan itu, ia terlalu terhanyut dalam moment saat ini.