Jac memutuskan untuk menemui Bila sore ini di rumahnya. Sepulang dari kantor, Jac langsung menuju rumah Bila. Masih mengenakan kemeja yang dia gunakan ke kantor tadi, dengan lengan yang dilipat hingga siku dan membuka dua kancing teratasnya. Jac tidak suka harus mengenakan jas dan dasi ke kantor. Paling hanya rompi jas jika ada pertemuan penting. Dia hanya akan mengenakan jas pada acara resmi saja. Bahkan seringkali ke kantor sekalipun dia hanya mengenakan kaos dipadu dengan celana jeans. Bos yang terlalu santai dengan penampilan.
Perusahaan yang dia pimpin itu bahkan dibuatnya tidak harus mengenakan setelan kemeja resmi. Selama mereka masih berpenampilan rapi dan sopan, maka tidak masalah baginya. Konsep perusahaan menjadi santai dibuatnya. Tapi tidak boleh meremehkan kinerja.
Jam empat sore, Jac sudah tiba di tempat tujuannya. Rumah Bila. Dia akan menunggu gadis itu sampai muncul. Sengaja tiba di sana jam empat karena jam kerja perusahaan tempat Bila bekerja hanya sampai jam empat saja setau Jac. Jac hanya menunggu di dalam mobilnya saja. Menatap ke pintu gerbang rumah sederhana itu.
Dan benar saja, belum setengah jam menunggu, gadis itu muncul dengan langkah santainya. Dengan setelan karyawan kantor pada umumnya. Tapi Bila sudah melepas blazernya dan menggantungnya di tangannya. Matanya kini tertuju pada mobil yang terparkir di depan rumahnya. Mengamati mobil itu, mencoba mengingat siapa temannya yang mempunyai mobil seperti itu. Tapi rasanya tidak ada. Satu-satunya temannya yang punya mobil hanyalah Rena, dan jarang digunakan. Dan bukan tipe mobil seperti itu. Tidak semewah itu.
Jac keluar dari mobilnya saat menyadari tatapan Bila menyelidiki mobilnya. "Hai," sapanya sedikit kikuk. Bukan seperti Jac yang biasanya. Dan semoga saja tidak ada wanita yang tiba-tiba muncul di antara mereka, membuat rencananya untuk mendekati Bila, gagal.
Bila langsung menyadari siapa pria itu. Pria tampan yang banyak dibicarakan orang. Menjadi sasaran empuk wanita yang gila harta. Apa yang dia lakukan di sini? Bila mengamati daerah sekelilingnya juga. Tidak ada siapa-siapa. sepertinya tidak ada juga orang di sekitar sini yang pernah terlibat dengan pria tampan ini. Termasuk masalah bisnis, juga masalah wanita. Bila tau karena dia sangat up to date tentang berita di komplek ini.
Jac mendekati Bila. "Hai, ada apa? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Bila tanpa memudarkan senyumnya.
"Hm, ingin bertemu denganmu. Semalam aku mencarimu di klub, tapi ternyata kamu sudah berhenti. Dan aku dengar kamu bekerja di PT. Alam Sentosa," jelas Jac tidak ingin berbohong. "Aku tidak diijinkan masuk?" tanyanya lagi.
Bila tertawa ringan setelah menyadari kebodohannya. "Eh, ayo masuk dulu. Tapi maaf, rumahku hanya seperti ini. Aku pikir tidak nyaman untukmu."
Keduanya melangkah masuk. Jac duduk di ruang tamu yang berisi empat sofa tunggal membentuk huruf U mengelilingi sebuah meja. Sementara Bila pergi menyiapkan minuman yang ada di dapurnya. Mungkin coffe adalah pilihan paling tepat.
"Memangnya ada perlu apa hingga menungguku di rumah?" tanya Bila setelah menyajikan coffe untuk Jac. Sebenarnya dia juga bingung harus membahas apa, linglung karena keberadaan pria ini.
"Sebenarnya bukan apa-apa. Sejak pertama melihatmu, aku merasa seperti ada sesuatu tentang dirimu yang mampu menarikku. Bukan gombal. Aku sendiri bingung ada apa denganku. Aku hanya merasa seperti itu saja. Tidak ada alasan lain. Kita bisa berteman kan?"
Bila menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Apa yang baru saja diajukan pria ini padanya? Berteman? Dia sudah pasti bukan pria yang kekurangan teman. Relasinya ada dimana-mana yang setara dengannya dan cocok berteman dengannya. Untuk apa dia meminta Bila menjadi temannya. Ataukah ada niat lain yang terselubung?
"Aku pikir kamu bukan pria yang kekurangan teman."
Perkataan Bila membuat Jac tertawa kecil. "Ya, baiklah. Mungkin berteman sebelum tahap selanjutnya," jelasnya langsung.
Bila menundukkan kepala. Dia juga senang akan apa yang diajukan oleh pria yang dia tau bernama Jacqueline itu. Tapi memikirkan kondisinya sendiri membuat dia tidak yakin. Mana mungkin pria itu tertarik padanya.
"Tapi aku pikir kamu tahu bagaimana keadaanku," tolak Bila.
"Aku tidak menilai seorang gadis dari keadaannya. Itu bukan alasan untuk menjalin hubungan."
"Lalu apa?"
Jac terlihat berpikir sejenak. "Tidak ada. Cinta itu tulus, tanpa alasan."
Bila membulatkan matanya melihat pria di hadapannya. Tidak percaya kalau pria itu benar berpikiran seperti itu. Jantungnya juga berdegup kencang. Tatapan pria itu terlihat tulus. Tidak ada yang disembunyikan di balik pandangan itu.
Bila membuang jauh-jauh pikiran kalau pria tampan itu jatuh cinta padanya. "Tapi cinta juga tidak pernah datang secara instan. Semua butuh proses."
Jac setuju dengan itu. Dan selama ini yang dia jalani sama semua wanitanya bukan cinta, tapi nafsu belaka. Hanya untuk kesenangan sesaat. Kali ini, dia hanya merasa ada yang beda. Jauh berbeda dari semua yang dia jalani sebelumnya. Belum pernah ada perasaan gugup seperti itu. Bahkan, tidak ada yang terasa. Hambar.
Jac menyeruput kopinya. "Itu berarti kita akan menjalanin semua prosesnya?" tanyanya sedikit ragu. Kenapa malah takut ditolak?
"Tapi aku tidak yakin akan berhasil."
"Kenapa harus menyerah sebelum mencoba? Tidak ada salahnya untuk dicoba kan? Bisa saja kita memang jodoh. Kalaupun bukan, aku juga tidak bisa memaksakan."
Ponsel Jac berbunyi sebelum Bila menjawab pernyataannya. "Iya, Jaz," jawabnya setelah melihat siapa yang meneleponnya. Gadis yang menurutnya cerewet itu tidak pernah diam saja ketika memikirkan sesuatu untuk Jac. Selalu saja ada hal-hal di luar dugaan yang akan dilakukannya. Bahkan bisa saja menjatuhkan Jac.
"Kakak dimana?" tanya suara cempreng di seberang sana dengan nada tinggi.
"Kakak lagi ketemu sama teman. Kenapa?" Jac melirik pada Bila dari sudut matanya.
"Di klub?"
"Bukan, di rumahnya. Kenapa?"
"Ah, kakak curang. Kan aku juga pengen ikut sama kakak."
"Mau sampai kapan kamu ikut terus sama kakak? Mandiri dong," sindir Jac dengan nada rendah.
"Udah ah, males ngobrol sama kakak. Aku tunggu di cafe kak, kita makan malam di sana, kakak ajak aja teman kakak itu. Jangan mencoba menghindar. Aku udah di sini sendirian." Ancaman yang sudah sering Jac dengar.
"Kalau dia mau," balas Jac singkat dan memamerkan senyum pada Bila.
Panggilan itu terputus setelah terdengar desisan di ujung sana, membuat Jac semakin melebarkan senyum.
"Adikku mengajak makan malam di cafe tempat kamu bekerja dulu. Kalau tidak bersedia tidak apa. Aku akan memberikan alasan yang jelas untuknya."
Bila terlihat menimang tawaran itu. Haruskah dia menerimanya? Bagaimana kalau ada wanita Jac melihatnya? Bisa habis dia menjadi bulan-bulanan mereka. Apalagi mereka tau kondisi Bila, akan tidak sulit untuk membuat rumor yang jelek tentangnya. Tapi menolak niat baik seseorang juga adalah pantang baginya selama dia masih bisa melakukannya.
***
Ketiga orang itu sedang duduk di salah satu meja Mimi Cafe. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Semuanya terdiam setelah Jaz memesankan makanan untuk mereka. Saling melirik tanpa ada yang menjelaskan.
Flashback
"Tidak apa, aku mau. Hm, tunggu sebentar, aku ingin bersiap." Bila langsung melangkah meninggalkan Jac. Masuk ke dalam kamarnya dengan langkah terburu.
Jac hanya mengendikkan bahunya. Perasaan senang memenuhi hatinya. Belum pernah ia sesenang ini hanya karena akan malam dengan seorang wanita walau dihantui oleh adiknya. Sungguh perubahan yang sangat drastis.
Keduanya mengendarai mobil milik Jac yang dibawa tadi. Melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan sore ibukota. Cukup ramai hingga membuat mereka terjebak dalam kemacetan. Ini memang jam keluar kantor. Sudah hal yang sangat umum jika terjadi macet.
Berkali-kali panggilan dari Jaz yang membuat Jac kesal sendiri hingga mematikan ponselnya. Bila hanya menggerakkan sudut bibirnya dan membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil. Menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi sepanjang jalan. Di trotoar dan halte penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Wajah senyum, wajah lelah, wajah kesal dan sebagainya terlihat disana. Tidak jauh berbeda dengan Bila saat dia kembali dari pekerjaannya.
Jaz hanya bisa melotot kaget saat melihat siapa yang datang bersama kakaknya. Siapa yang kakaknya katakan tadi sebagai temannya. Tidak mungkin dia salah melihat. Ia kenal betul dengan wajah gadis itu. Wajah cantik yang sudah membius kakaknya hingga seperti ini.
"Oh, duduk kak, Bil. Oh ya, kenalin, aku Jaz adik Jac," sambutnya saat keduanya tiba di hadapannya.
Dengan cepat Jaz memanggil seorang pelayan, yang mungkin saja Bila kenali. Memesan berbagai jenis makanan tanpa bertanya terlebih dahulu pada dua orang yang ada bersamanya. Ia tau apa kesukaan kakaknya dan ia menebak saja apa yang mungkin disukai Bila. Dalam tebakannya, Bila sudah mencoba hampir semua menu yang disediakan cafe ini. Tapi dia memesan makanan yang menjadi andalan cafe ini.