Jac terlihat memasang wajah sesantai mungkin. Tidak ingin terintimidasi oleh adik cerewetnya. Tapi mulutnya masih tertutup rapat. Tidak mengeluarkan penjelasan apapun seperti yang diinginkan Jaz.
"Kalian tidak lapar? Sampai kapan akan saling memandang seperti itu? Bukannya kita ke sini mau makan malam?" tanya Bila mencoba memecah keheningan di antara dua kakak beradik itu.
Dua orang yang duduk semeja dengan Bila langsung menatap padanya. Lalu sekejap kemudian tersadar akan keberadaan mereka. Di cafe ini mereka memang bertujuan untuk makan, bukan untuk saling memandang penuh penyelidikan seperti itu.
"Oh iya, selamat makan," kata Jaz.
Mereka makan dalam diam. Hanya dentingan sendok yang terdengar dari meja mereka. Sedangkan dari meja lain terdengar tawa dan celotehan.
"Bagaimana kamu bisa berteman dengan kakakku? Aku yakin kamu bukan seperti wanita kebanyakan yang mengincar harta kakakku. Aku yakin kamu berbeda dari mereka semua. Dan aku pikir kita akan menjadi teman yang baik sebelum aku memanggilmu kakak ipar." Kata-kata Jaz bisa membuat Jac berdecak kesal padanya. Kenapa harus kata-kata itu yang terucap?
"Kenapa kamu bertanya layaknya menginterogasi penjahat?" tanya Jac kesal.
"Kami bertemu beberapa kali tanpa sengaja," jelas Bila tak menghiraukan kata-kata Jac.
"Tapi kamu tau kan sifatnya? Jangan mudah percaya pada gombalannya. Biarkan dia memohon padamu dan menunjukkan padamu kalau dia benar-benar tulus mencintaimu."
Bila tersenyum sekilas dan melihat ke arah Jac. Pria tampan itu memasang wajah kesalnya. Kesal pada adiknya yang mengaku akan membantu, malah membuat jalannya semakin sulit. Terlalu blak-blakan mengucapkan kata-kata tentang dirinya, meskipun memang benar seperti itu. Tapi bukankah akan lebih baik kalau sedikit disaring?
"Ya, aku memang selalu begitu. Mungkin itu yang membuatku hingga seperti ini. Tidak ada yang mudah." Jaz mengangguki hal itu. Setuju dengan apa yang dikatakan Bila kemudian melirik ke arah Jac. Hal ini tentu saja akan membuat kakaknya itu berpikir lebih baik. Hal itu akan membuat Jac lebih menyayangi apa yang dia miliki. Lebih menghargainya karena mendapatkannya butuh usaha ekstra. Dia tidak akan melepaskannya dengan mudah karena sangat berharga. Pelajaran pertama yang sangat penting untuk kakaknya.
Hening seketika terpecah saat deringan ponsel Bila berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Ridhaan yang akan mengeluarkan semua celotehannya. "Hallo." Bila menjawabnya.
"Hai kakak cantik, lagi dimana? Ri kangen sama kakak cantik."
Penuturan singkat itu menggelitik hati Bila. Dengan tawa kecil yang terdengar dari bibirnya. "Kakak lagi makan malam sama teman kakak. Kenapa memangnya?"
"Kan aku bilang kangen kak, makanya aku telepon kakak cantik. Eh, kakak bilang kakak udah lihat kakak ganteng di kantor. Ganteng beneran kan kak? Bener kan yang Ridhaan bilang?"
"Iya, ganteng." Wajah Jac mengeras seketika. Terlebih lagi tadi dia tanpa sengaja melihat nama penelepon di layar ponsel yang dia yakini adalah seorang pria. Membuat hatinya semakin bergemuruh tidak menentu. Ingin meledak tapi tidak punya alasan untuk itu. Serba salah.
Tapi, Bila menyebut dirinya kakak. Berarti di seberang sana umurnya lebih muda dibanding Bila. Mungkinkah adiknya? Tapi Jac tau kalau Bila tidak punya adik. Bukan hal yang sulit baginya untuk mencari informasi apa saja tentang Bila. Mungkinkah Bila menyukai pria yang lebih muda darinya? Oh, jangan sampai hal itu terjadi.
"Tapi masih gantengan aku kan?" Tawa terdengar setelah ucapan itu. Genitnya anak laki-laki ini malah bertambah. Gedenya jadi anak boyband pasti cocok, batin Bila.
Selanjutnya hanya pembicaraan ringan dari Ridhaan yang terdengar. Anak laki-laki itu sepertinya sangat berharap kalau Bila mau menerima tawarannya. Entah apa yang membuat otaknya berjalan cepat, jauh di luar dugaan. Anak seumurannya seharusnya masih membahas tentang bermain dan bersenang-senang. Tapi anak ini beda.
Percakapan itu berakhir saat Bila menyadari tatapan tidak enak dari Jac. "Maaf," katanya penuh penyesalan. Dia terlalu terbawa suasana jika mendengar suara Ridhaan.
"Adik?" Pertanyaan menyelidik dari Jaz. Sengaja mengajukannya dengan cepat sebelum kakaknya yang menanyakannya. Tidak mudah bagi Jac untuk menanyakan itu dan dia cukup berterima kasih pada Jaz akan satu hal ini. Senyuman kecilnya tertuju pada Jaz yang memahami isi hatinya kali ini.
"Hm... Bukan adik kandung maupun sepupu. Hanya menganggapnya jadi adik. Dia siswa temanku di TK yang ada di komplek perumahan kami," jelas Bila.
Jaz mengangguk-anggukkan kepala sembari melirik kakaknya. Jac terlihat memang wajah sedatar mungkin, ingin terlihat biasa saja tak terpengaruh ucapan itu. Padahal dalam hatinya senang mendengarnya. Ternyata orang yang dicemburuinya tadi hanyalah anak TK. Bocah yang masih jauh di bawah umur. Kekanakan sekali kau, Jac, batinnya.
"Kalian terlihat kompak sekali," lanjut Jaz.
"Ya, aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri." Bila sengaja membatasi ceritanya. "Dia anak kecil yang lucu dan pintar," tambahnya.
"Oh ya, bagaimana dengan kantor baru? Kamu terlihat lebih senang padahal baru sehari pindah," tanya Jac mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin terpancing akan hal-hal sepele lagi.
"Ya, aku lebih senang karena tidak harus bekerja hingga subuh. Hal itu cukup membuat lebih tenang. Dan aku bekerja dengan duduk tenang, tidak seperti sebelumnya yang harus berdiri atau berjalan sepanjang siang hingga malam. Aku senang." Wajah Bila tulus terlihat senang. Ia benar-benar menikmati pekerjaannya saat ini.
"Aku ikut senang kalau begitu. Kamu bisa lebih santai dan menjaga kesehatan. Tidak begadang lagi sepanjang malam," kata Jaz. Bila mengangguk mengiyakan. Ia memang meniatkan hal itu. Sudah cukup tubuhnya menikmati udara malamnya. Waktunya memulihkan.
Selanjutnya mereka bertiga larut dalam pembicaraan ringan. Terlihat sisi lain dari seorang Bila maupun Jac. Keduanya bisa tertawa lepas tanpa ada beban sama sekali dan terlihat menikmati suasana seperti ini. Bila memang sudah lama tidak melakukan hal ini dengan teman-temannya sejak menjadi pelayan di dua tempat yang berbeda. Semasa kuliah dulu, dia masih sering mengadakan makan malam seperti ini, bahkan jauh lebih ramai. Hingga memenuhi satu restoran tanpa menyisakan kursi kosong. Dan tawa riuh mereka akan memenuhi seluruh restoran. Hal yang sangat menyenangkan dan melepaskan segala beban di pundak. Bila benar-benar merindukan hal itu.
Sedangkan Jac, walaupun dia memang tertawa saat berkumpul, bersenang-senang dengan temannya, tapi terlihat dengan jelas kalau tawa itu bukan tawa yang tulus. Tawa yang hanya ada di bibir, tidak dari hati. Dan hasilnya, hanya senang yang sesaat. Berbeda dengan yang dia alami saat ini. Berbeda.
Jac dan Jaz mengantarkan Bila pulang setelah makan malam itu. Jac tidak akan bisa melepaskan tanggung jawabnya yang satu ini. Dia yang membawa Bila, dia juga yang harus mengantarkannya pulang meskipun Bila sudah berkali-kali menolak. Otoriter pria itu tidak mudah diabaikan. Penuh penekanan yang tidak mudah untuk ditolak. Mungkin ini yang membuat perusahaan yang ada di bawah kuasanya berkembang pesat, tentu saja dengan ide cemerlang dari otak cerdasnya yang tidak bisa dianggap remeh.
***
"Sabila. Benar kan?" tanya pria berwajah tegas pada Bila saat di dalam lift hanya ada mereka berdua. Entah bagaimana Bila bisa terjebak dalam kondisi ini sebelumnya. Ia sangat tidak ingin terlibat dengan atasannya yang terkenal galak itu.
"Ya, mister," jawab Bila menunduk.
"Saya tidak meminum darah manusia dan tidak akan menerkam kamu. Tidak perlu menunduk seperti itu. Apa saya semenakutkan itu bagimu?"
Hal itu membuat Bila sedikit mengangkat wajahnya, namun tidak berani memandang atasannya secara penuh. Hanya melirik dari sudut matanya. Sepertinya memang menakutkan walau tidak semenakutkan menerkam Bila.
"Kinerjamu sehari kemarin cukup bagus. Awalnya saya pikir kamu sudah pengalaman sebelum masuk ke sini. Ternyata lulusan baru."
"Terima kasih, mister."
"Oh ya, bagaimana kalau kamu yang mendampingi saya ke ruangan CEO setelah ini. Beliau meminta bertemu pagi ini. Tidak biasanya. Tidak masalah kan?" tanya Mr. Xanders.
Bila melotot. Mungkinkah dia akan berhadapan langsung dengan sang CEO di hari kedua kerjanya. Oh, sangat mengejutkan. "Tidak masalah, mister. Tapi apakah tidak apa-apa jika beliau berhadapannya dengan karyawan baru yang bahkan belum sepenuhnya memahami pekerjaannya," tanya Bila takut-takut.
"Tidak apa. Baru atau bukan, tidak masalah. Tapi saya melihat kinerjamu cukup bagus. Itu sebabnya saya yakin membawamu."
Bila terdiam. Tidak bisa menolak lagi.
Ting!
Mereka tiba di lantai sepuluh. Dimana ruangan mereka berada, berdampingan.
Sebuah map diletakkan di meja Bila. "Tolong periksa ulang hal ini. Saya ada keperluan sebentar," perintah Mr. Xanders dan langsung berlalu tanpa menunggu balasan Bila. Perintah yang tak tertolak lagi.
Bila memeriksa kembali isi map itu sesuai perintah. Memastikan tidak ada yang kurang, sekaligus mempelajarinya. Kali ini yang akan dia hadapi adalah orang pertama di perusahaan ini. Tidak boleh ada kesalahan. CEO perfeksionis yang tidak mentolerir kesalahan!
Mr. Xanders muncul beberapa saat kemudian dan membantu Bila memastikan isi map itu. Setelahnya mereka bergegas menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangan CEO. Bila memperhatikan ulang penampilannya. Apakah cukup pantas untuk bertemu dengan CEO mereka. Ia sedikit menyesal tidak mengenakan blazer yang baik tadi. Kalau tau akan begini, sudah pasti dia akan memperhatikannya. Sekarang dia hanya mengenakan kemeja ditambah scarf kerja yang senada dengan celana kantornya. Semoga saja tidak masalah, batinnya.
Belum sampai di tujuan, lift itu terbuka. Seseorang masuk menemani mereka. Oh, astaga. Kenapa harus Rehaan juga? Batin Bila semakin berkecamuk. Rehaan yang belum mengenalinya tentu saja bersikap sewajarnya saja. Menundukkan kepala, menghormati Mr. Xanders yang jabatannya memang lebih tinggi.
Tujuan mereka bertiga saat ini sama. Ruangan CEO.
Rehaan terlihat seperti sedang menyadari sesuatu. Rehaan menoleh pada Bila. Pandangannya seakan sedang menilai Bila, membuatnya sedikit tidak nyaman. Tapi keberadaan Mr. Xanders membuatnya tak mengeluarkan isi hatinya yang menyimpan sebuah pertanyaan untuk Bila. Hanya satu. Pria irit bicara itu malah menyimpannya sendiri. Uh, Bila tidak suka dalam keadaan ini. Bersama pria-pria yang dingin. Yang bisa dia lakukan hanyalah menikmatinya. Ini hanya sebentar. Hanya melewati beberapa lantai saja.
***
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Bila yang diajukan pertanyaan itu menoleh pada si penanya. Rehaan. Pria yang kini berjalan di sebelahnya itu melihat Bila, tapi hanya sejenak. Terlihat seperti menghindari kontak mata.
"Saya pikir tidak, pak. Ini bahkan baru hari kedua saya bekerja di tempat ini. Saya hanya melihat bapak di kantin kemarin," jawab Bila.
Rehaan hanya menganggukkan kepala, tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Hanya itu yang ingin dia tanyakan pada Bila. Mr. Xanders juga masih ada di dekat mereka. Mereka baru saja keluar dari ruangan CEO dan menunggu lift terbuka untuknya.
Bila juga memilih diam, tak ingin dikira cari perhatian oleh orang lain.
Denting lift yang menandakan lift tiba di lantai empat belas, dimana ruangan Rehaan berada sedikit membuat Bila lega. Tidak secanggung sebelumnya. Setidaknya dia hanya berhadapan dengan seorang saja.
"Gue pikir lo nggak masuk di hari kedua lo kerja," ledek Cindy saat melihat Bila memasuki ruangan dengan Mw. Xanders yang berjalan beberapa langkah lebih cepat di depannya.
"Nggak mungkin lah. Gila aja lo. Gue abis nemenin Mr. Xanders ketemu pak Christian," jelas Bila dan duduk di kursinya.
"What?" Cindy menganga tidak percaya. Demikian juga dengan Rani yang duduk di sebelahnya. Keduanya melotot, membulatkan mata dengan mulut ang menganga lebar. Tapi kemudian kembali normal saat mendapat tatapan tajam dari Mr. Xanders. Suara Cindy tadi pasti telah membuat Mr. Xanders terganggu.
"Lo seriusan abis ketemu pak Christian? Demi apa?" tanya Cindy lagi tak sabaran. Tapi kali ini dengan suara pelan.
Bila menatap bingung pada kedua temannya. Memangnya kenapa jika dia bertemu pak Christian? "Iya, gue abis nemenin Mr. Xanders ke sana. Memangnya kenapa sih? Ada yang aneh dengan itu?" Bila rasa tidak.
"Nggak sih. Tapi secepat itu? Kita aja hanya melihat dari jauh. Tidak pernah berhadapan langsung."
"Iya, gimana orangnya?" tambah Rani.
"Biasa aja. Lebih serem Mr. Xanders malah," bisik Bila tak ingin terdengar karyawan lain. Bila menatap dalam dua teman barunya itu. Sepertinya ada yang lain di pikiran mereka. "Tenang aja, gue nggak tertarik sama om-om," lanjutnya yang membuat mereka tertawa tertahan.
Hari yang sedikit lebih menenangkan dibanding kemarin. Entah kenapa. Meski bertemu dengan orang nomor satu di perusahaan ini, Bila tidak setakut sebelumnya.