Hari berlalu sangat cepat, Bila semakin dekat dengan semua orang yang baru dikenalnya belakangan ini. Teman di kantornya, juga Mr. Xanders, Jac dan Jaz, bahkan Rehaan yang akhirnya bertemu dengannya atas keinginan Ridhaan. Anak kecil yang bawel.
Hari ini Bila ada janji dengan Jac, menonton konser salah satu band kesukaan Bila. Sudah pasti hal ini adalah rencana pendekatan Jac. Bahkan dia sudah membuat reservasi di salah satu restoran langganannya untuk makan malam. Makan malam romantis yang dia lakukan hanya untuk Bila.
Hubungan kedekatan mereka memang sudah terlihat mengarah. Dengan berbagai cara yang dilakukan oleh Jac untuk merebut hati Bila. Bukan hal yang mudah, berhubung biasanya Jac tidak perlu berbuat apa-apa untuk mendapatkan wanita. Wanita yang hanya mengincar hartanya tentunya. Tapi Bila, dia sama sekali tidak menginginkan harta itu. Dia hanya butuh hati yang tulus. Yang benar-benar menyayanginya. Hal yang biasa kalau Jac menerima penolakan darinya. Berkali-kali Jaz juga harus terlibat di dalamnya.
"Hai," sapa seseorang tepat di depan Bila.
Bila melotot. Seseorang di hadapannya kini adalah pria yang pernah singgah dalam hatinya. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Hubungan mereka berakhir tepat saat nenek Bila juga meninggal. Pria yang dia anggap baik dan perhatian padanya malah meninggalkannya saat dia butuh dukungan. Pria itu sudah tau bagaimana keadaan Bila sebelumnya, tapi tetap ingin bersama Bila dengan berbagai macam alasan. Bila sudah berkali-kali menolak, tapi pria itu masih membujuk Bila dengan berbagai rayuan. Entah apa yang diinginkannya dari Bila.
Tapi pada akhirnya pria itu pergi membawa hati yang sudah terlanjur Bila titipkan padanya, tanpa penjelasana apa-apa. Pergi demi seorang wanita yang mempunyai latar belakang keluarga kaya. Wanita yang menjadi pilihan orang tuanya. Bila menjadi orang yang berbeda setelah itu. Kehadiran Rena yang membuatnya mampu bertahan dan perlahan kembali menjadi Bila yang sebelumnya. Masa lalu!
Bila mundur satu langkah. Tubuhnya tanpa sengaja menyentuh lengan Jac yang berdiri di belakangnya. Tapi pandangannya tidak lepas dari pria itu. Ferdi. Pria yang sangat tidak diinginkannya bertemu dengannya lagi. Pria yang dia benci melebihi benci pada ayahnya. Ya, dia benci ayahnya. Benci karena tidak bertanggung jawab akan perkembangan mental Bila. Tapi benci pada pria ini lebih besar lagi. Pria pembohong! Benci pada dirinya sendiri di masa lalu yang bisa-bisanya menerima pria itu, menitipkan hatinya pada pria itu. Uh, dia jadi benci semua orang.
Tangan Jac terangkat mengelus pundak Bila. Menyadarkan gadis itu kalau masih ada dia bersama Bila. Ada dia yang bisa melindungi Bila sekarang.
"Lama tidak bertemu, Bila. Kamu apa kabar? Kamu bersama seseorang, sepertinya kamu benar-benar baik," kata Ferdi.
Bila mengumpulkan tenaganya, tidak ingin lemah di hadapan Ferdi. "Ya, aku baik. Sangat baik."
"Kamu tidak ingin mengenalkan temanmu?"
"Dia bukan temanku. Dia pacarku. Pria yang telah mengembalikan diriku setelah semua yang dilakukan pria pembohong dan tidak bertanggung jawab," tembak Bila tanpa ragu.
"Bisa bicara berdua?"
"Maaf, aku tidak punya waktu untukmu. Permisi." Bila menarik lengan Jac dan melewati Ferdi.
"Bila, aku minta maaf. Aku masih cinta sama kamu, Bil," teriak Ferdi saat mereka semakin menjauh. Bila menahan tangisnya. Tak ada kesempatan kedua untuk Ferdi. Tak ingin mendengar suara itu lagi. Apapun alasannya, harusnya dia mengatakan itu dulu, sebelum Bila membenci dirinya terlalu dalam. Saat itu, Bila masih menunggu dirinya, menunggu penjelasan darinya. Tapi Ferdi tak pernah muncul. Ferdi menghilang, bahkan tidak pernah muncul lagi di kampus.
Jac menghentikan langkahnya dan merengkuh Bila dalam pelukannya, tak peduli posisi Ferdi masih bisa melihat mereka. Dia tidak tau kalau Bila pernah mempunyai seorang pria yang mencintainya. Bahkan sempat terpikir olehnya kalau dialah yang akan menjadi pria pertama Bila. Kau terlalu berharap, Jac!
Perjalanan pulang mereka hanya diselimuti keheningan. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Sesekali Jac hanya melirik Bila yang memandang jauh ke luar jendela mobil. Makan malam yang dibayangkan Jac akan menjadi makan malam romantis, berubah menjadi hambar. Bagaimana tidak, mereka makan malam tidak ada yang mengeluarkan suara selain "selamat makan". Terlebih karena makanan juga sudah dipesankan oleh Jac saat membuat reservasi.
Saat tiba di rumah, Bila tidak langsung keluar mobil. Ia masih diam. Pandangannya kosong ke depan.
"Bil, sudah sampai," kata Jac pelan.
Bila menatap Jac sekilas, lalu kembali pada posisi semula. Hening.
Bila membuka pintu dan keluar. Tapi kemudian masuk lagi. Jac menatapnya bingung. Apa yang diinginkan oleh Bila? Seketika batinnya bersorak gembira. Bila masih ingin bersamanya. Tak ingin kecewa, Jac memutuskan untuk tidak bertanya. Hanya memperhatikan gerak-gerik Bila di sebelahnya dari sudut matanya, kemudian memandangi Bila tanpa malu.
Bila yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Jac memutuskan untuk keluar lagi, tapi tidak masuk ke dalam rumah. Ia duduk di kap mobil Jac. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk menenangkan hatinya. Melihatnya, Jac ikut keluar dan duduk di sebelah Bila.
"Kamu orang yang bisa dipercaya kan?" tanya Bila.
"Aku rasa begitu," jawab Jac. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Bila. "Ada apa?"
"Aku benci orang-orang yang tidak bisa dipercaya, tidak bertanggung jawab juga pembohong. Kalau kamu termasuk di dalamnya, sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Pria tadi adalah orang yang paling aku benci sama seperti aku benci ayah. Keduanya sama saja bagiku. Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab. Hanya mengumbar janji palsu." Cerita kehidupan masa lalu Bila mengalir begitu saja dari bibirnya. Kehidupan keluarganya, juga hubungan yang pernah dia miliki dengan Ferdi, pria yang baru saja mereka tinggalkan. Tanpa disadari, butiran bening itu jatuh dari pelupuk mata Bila. Mengingat masa lalu itu membuatnya tak mampu membendung air matanya. Perih.
Bila menyeka air matanya dengan kasar. Menoleh pada Jac dan tersenyum palsu. "Ah, aku mellow sekali," kata Bila memaksa dirinya tertawa.
Jac yang melihat gadis itu bisa merasakan bagaimana perasaan Bila saat itu. Rahangnya bahkan sempat mengeras saat mendengar cerita bagaimana pria itu memperlakukannya. Terbersit rasa ingin membalaskan pria itu, tapi yang paling penting adalah menjaga Bila. Meraih hatinya, dan menjaganya tetap utuh hanya untuknya. Tidak ingin membuatnya terluka lagi.
Tangan Jac terulur mengelus rambut Bila yang lembut. Lalu kemudian dengan mudah meraih Bila dalam pelukannya. Dengan gerakan lembut, Jac mengelus punggung Bila. "Hal itu tidak akan terjadi lagi," bisiknya. Tatapan Jac penuh minat pada Bila sesaat setelah melonggarkan pelukannya. Mata hazelnya menatap setiap centi wajah Bila dan menatap dalam di mata hitam Bila. Demikian juga dengan Bila. Dengan gerakan perlahan, Jac menghapus jarak di antara mereka dengan mata masih saling memandang. Jac sudah mengambil posisi strategisnya.
Di sisa kesadarannya akan hipnotis dari mata Jac, Bila mengangkat kedua tangannya dan dengan cepat menutup mulutnya. Menyadarinya, Jac hanya tersenyum kecil, kemudian mencium punggung tangan itu. Bila masih memelototinya.
Entah bagaimana, Jac meraih kedua tangan itu dan melepasnya. Kini Jac bisa meraih bibir Bila. Diciumnya bibir mungil Bila dengan lembut. Tidak ingin membuat Bila tidak nyaman. Bila yang awalnya terkejut kini juga mulai terlarut dalam suasana karena kelembutan yang dia terima.
Bila mengerang saat Jac melumat bibir bawahnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jac untuk menelusupkan lidahnya. Menjelajah keseluruhan mulut Bila, beradu lidah di dalam sana.
Ciuman itu berakhir saat keduanya kehabisan nafas. Dengan terburu-buru menghirup udara untuk paru-parunya. Tatapan Bila menuntut penjelasan dari pria yang telah merebut ciuman pertamanya.
"Maaf, tidak meminta ijin lebih dulu. Tapi aku akan bertanggung jawab untuk itu," jelas jac.
Bila bukan gadis kecil polos yang tidak mengerti maksud kata-kata "bertanggung jawab" itu. Ia mengerti arah pembicaraan Jac. Dan dia menyadari pria itu juga bukan pria remaja lagi yang meminta gadis dengan terang-terangan menjadi gadisnya.
"Apa kamu benar mencintaiku?" selidik Bila. Tidak ingin terjerumus dengan hal yang sama. Kali ini dia harus memastikan apakah benar pria yang memintanya untuk menjadi wanitanya itu memang mencintainya. Bukan keinginan untuk memilikinya sesaat saja. Ingin memastikan hal itu tulus dari hati. Sakit yang dia dapatkan dari pria masa lalunya masih membekas. Belum pulih sepenuhnya.
"Ya, aku mencintaimu, Bil. Sangat mencintaimu."
Bila menatap, mencari kebenaran di balik bola mata hazel milik Jac. Tidak ada kebohongan di sana. Mata itu sangat tulus.
Kedua tangan Bila mengalung sempurna di leher kokoh milik Jac. Leher yang dibentuknya sekian lama dari ngegym dan olahraga lainnya. Memeluk leher itu erat dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher itu. Menghirup aroma musk yang sangat memabukkan dari pria itu. Oh, sepertinya Bila sedang gila. Gila oleh pria itu. Sedangkan Jac hanya diam menikmati pelukan Bila, menahan hasratnya saat nafas hangat Bila menerpa kulit lehernya. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Dia tidak ingin mengecewakan Bila.
Kali ini Bila yang menciumnya, walau hanya sekedar kecupan singkat. Kemudian memeluk Jac lagi seperti sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Jac tidak memahami kode Bila.
"Bagaimana apanya?"
Jac menahan nafasnya lagi. Hangat nafas Bila di lehernya saat berbicara sungguh sangat menyiksa. Tidak taukah Bila jika hal yang dilakukannya itu bisa membangunkan singa lapar dari tidurnya. Membawa dirinya dalam posisi yang membahayakan.
"Bagaimana jawaban kamu?"
"Aku tidak merasa diberi pertanyaan. Jadi jawaban apa yang harus aku berikan? Kamu hanya bilang kalau kamu akan bertanggung jawab atas ciuman tadi. Aku terima pertanggung-jawaban kamu atas hilangnya ciuman pertamaku olehmu." Meski terlihat tenang, Bila berusaha keras menutupi kegugupannya. Ia bersyukur keadaan di sini tidak terlalu terang. Jac tidak bisa melihat kalau wajahnya kini sudah merona.
Jac tertawa menyadari kebodohannya. Tidak peka akan sikap Bila. Dan apa tadi? Ciuman pertama? Oh, seperti seorang gadis, dia merasa senang menjadi orang pertama. Sekaligus merasa bersalah akan dirinya yang tidak bisa menjaga ciuman pertamanya untuk gadis yang benar-benar dicintainya.
"Sudah kuduga kalau itu pertama kali. Kamu sangat gugup. Tapi, kita akan membuat lebih banyak lagi. Aku rasa aku candu akan bibirmu. Rasanya manis." Jac tersenyum. Dengan cepat, diciumnya gadis itu. Ciuman yang lebih kasar dibanding sebelumnya. Namun demikian, Bila tetap menikmatinya. Tidak ada protes darinya. Seperti kata Jac, mungkin dia juga sudah candu.
Bila melepaskan dirinya. "Nanti ada yang lihat," katanya sembari memperhatikan sekeliling. Dia baru tersadar kalau posisi mereka saat ini di tempat terbuka. Di depan rumahnya. Tidak baik jika ada yang melihatnya. Orang di sekitar sini akan bisa mengenali kalau itu adalah Bila.
"Bagaimana kalau kita lanjut di rumah?" goda Jac.
Bila memukul lengan Jac. "Sebaiknya kamu pulang saja. Ini sudah malam." Gadis itu bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap pria yang sudah merebut hatinya itu. Membenarkan letak tali tas selempangnya di bahu lantas tersenyum menatap Jac. "Hati-hati nyetirnya. I love you too," bisiknya.
Jac ikut berdiri. Merangkum wajah Bila dengan kedua tangan besarnya. Mendaratkan kecupan di kening Bila dengan lembut. "Baiklah. Aku pulang. Pastikan pintu dan jendelamu terkunci sebelum tidur."
Bila mencibir. "Berlebihan sekali. Selama ini juga tidak ada yang mencuri dari rumahku. Tidak ada juga yang berniat menculikku. Apa yang mau diambil dariku? Sudahlah, kamu pulang saja. Tidak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja."
"Kamu masuklah. Aku akan menunggu sampai kamu menutup pintu rumah."
"Bye." Bila melangkah masuk seperti yang diminta Jac.
Jac memperhatikan punggung yang semakin menjauh hingga akhirnya masuk ke dalam rumah. Gadis itu masih sempat memamerkan senyumnya untuk Jac sebelum menutup pintu.
Suara ketukan di pintu rumah tak bisa diabaikan begitu saja oleh Bila. Ia melirik jam di dinding kamarnya. Ini sudah hampir jam sebelas malam. Siapa yang bertamu pada jam segini? Apakah itu Jac, batinnya. Tapi tidak mungkin. Jac baru saja pulang dan dia pasti akan memberitaukan kalau akan datang.
Dengan langkah gontai, Bila membukakan pintu rumahnya. Matanya melotot menemukan Ferdi ada di hadapannya. Sepertinya pria itu di bawah pengaruh alkohol. Tubuhnya tak bisa berdiri tegak dan matanya memerah dengan wajah yang sangat lusuh. Bila mulai gemetar menghadapi pria ini. Kenangan buruk saat ayahnya pulang dalam kondisi mabuk kembali melintas. Kondisi ini sangat dihindarinya. Berdua saja dengan pria mabuk. Saat dia bekerja di klub juga ingin menghilangkan trauma ini. Tapi nyatanya tidak berhasil. Terbukti sekarang dia merasa sangat ketakutan. Menghadapi orang mabuk dalam kondisi ramai dengan sendiri ternyata sangat jauh berbeda.
"Ada apa?" tanya Bila dengan suara bergetar.
Ferdi melangkah dan hampir terhuyung. Tangannya dengan cepat merengkuh tubuh mungil Bila. Ingin rasanya Bila menjerit, tapi tak mampu dilakukannya. Tenggorokannya tercekat.
Tangan Ferdi memeluk erat tubuhnya, membuat Bila semakin sulit bergerak. "Aku mencintaimu, Bil. Aku mencintaimu. Aku minta maaf sudah meninggalkanmu dan membuatmu terluka. Maafin aku, Bil. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku," racau Ferdi.
Bila hanya mematung. Debaran jantungnya kali ini bukan karena masih menyimpan rasa pada Ferdi. Debaran itu hanya karena dia dalam ketakutan sekarang. Rasa yang dulu sudah dikuburnya dalam-dalam. Sakitnya cinta pertama itu tak ingin diingatnya lagi.
Bila merasakan kalau Ferdi mulai bergerak gelisah. Pria itu berusaha memposisikan wajahnya sejajar dengan wajah Bila. Saat tiba-tiba Ferdi mendekatkan wajahnya, Bila berpaling. Pria itu sepertinya berniat buruk padanya. Haruskah dia meminta bantuan pada orang lain? Tapi mengingat ini sudah hampir tengah malam, Bila tidak yakin.
Bila menyiapkan seluruh tenaganya, berjaga-jaga kalau saja pria itu bertindak semakin jauh.
Ferdi mendorong tubuh Bila hingga akhirnya membentur dinding. Kedua tangan pria itu kini menguncinya. Menatapnya dengan mata sayu. "Aku mencintaimu, Bil. Please balik sama aku."
"Kita udah selesai tiga tahun yang lalu, Fer. Kamu yang udah ninggalin aku. Sekarang aku nggak bisa lagi sama kamu. Aku sudah sama orang lain."
"Please, Bil. Aku minta maaf soal itu. Aku akan menjelaskan semuanya. Kasih aku kesempatan kedua, Bil."
"Aku nggak mau. Aku udah sama orang lain. Sekarang kamu pergi dari sini sebelum aku teriaki maling," ancam Bila dengan suara meninggi.
"Kalau aku nggak bisa, maka nggak akan ada orang lain yang bisa miliki kamu, Bil. Kamu hanya milikku." Ferdi berusaha meraup bibir Bila, ingin menciumnya. Bila selalu menghindarinya dengan sekuat tenaganya. Dirinya kini hanya milik Jac. Ia meyakini hanya Jac yang bisa menyentuhnya. Dan, b******n sekali pria ini menganggap semuanya mudah.
Bila semakin berontak saat Ferdi juga semakin mengarahkan tenaganya untuk menahan Bila. Saat kekuatannya kini hampir habis, Bila mengangkat lututnya untuk memukul pria b******n itu tepat di selangkangannya.
Ferdi meringis kesakitan menerima p*********n Bila. Sementara gadis itu menarik nafas cepat dan memegangi dadanya. Masih tidak yakin dirinya hampir saja mengalami hal buruk. Keringat bercucuran di wajah cantiknya. Benar sekali dugaannya. Melawan orang mabuk itu tidak mudah. Bagaimana jika dia berhadapan dengan Ferdi yang sadar sepenuhnya. Akankah sesulit itu?
Ferdi bangkit lagi dengan satu tangan memegangi selangkangannya. Sepertinya rasa sakitnya sudah berkurang, dan kini terlihat bersiap menyerang Bila lagi. Pria itu juga sepertinya mulai sadar. Apa yang harus Bila lakukan saat ini? Akankah tenaga pria itu akan bertambah? Bila sudah kehabisan tenaga.
Setelah kejaran singkat, Ferdi berhasil merengkuh tubuh Bila. Memeluknya paksa dan melakukan hal seperti sebelumnya. Berusaha mencium Bila dengan kasar. Dan Bila hanya bisa menghindar dengan memalingkan wajahnya.