Pamela's POV
Aku memegang kepalaku yang mulai pusing, sialan. Minuman sialan, tempat sialan, semuanya sialan karena sekarang semuanya terlihat berputar. Aku menoleh kesana kemari, mencari seseorang yang mungkin saja kukenal untuk sekedar menemaniku berbicara atau yang pastinya memastikan ku tetap baik-baik saja. Aku tidak mau berakhir seperti sebulan yang lalu dimana Aku terbangun dengan pria tua dan perut buncit miliknya. Setidaknya Aku harus berakhir dengan lelaki tampan atau kaya, yang jelas ia harus tampan.
Aku menepis tangan lelaki berotot yang hendak memeluk pinggang ku sambil menyeringai, tubuhnya memang atletis dan berotot, sangat menggoda. Namun tidak dengan wajahnya, dia terlihat seperti gigolo kurang pelanggan. "Oh, ayolah sayang," godanya membuatku mengecak menghempaskan tangannya lantas segera turun dari kursi yang tiba-tiba menjadi lebih tinggi saat Aku mabuk. Sial.
Setelah berhasil turun, kepalaku sedikit berkunang karena pusing, namun hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk kembali berdiri tegap. Aku tak tau apa yang membuatku kemari, ke tempat ini lagi. Tak ada masalah, dan akupun sedang tidak lelah. Aku hanya ingin, tololnya Aku tidak membawa teman. Aku bosan.
Aku berjalan, memutuskan untuk keluar dari Club sialan ini beserta orang yang ada didalam nya, lantas berjalan menyusuri ruko atau bangunan disini. Tidak ada yang memperdulikanku, terlihat disana Ibu muda yang menggendong anaknya membuatku mendecak. Tuhan, mereka masih muda dan sudah memiliki anak? Tidak-kah mereka merasakan bagaimana keluar bersama teman, atau ke Club, menggoda lelaki tampan atau yang lain?
Aku hampir terjatuh kembali jika saja tidak menyandarkan tubuhku pada Tembok yang ada disebelah ku, Aku mendecak lagi dan lagi saat menyadari Stiletto ku terlalu tinggi untuk ku yang sedang dalam keadaan mabuk seperti ini. Lantas Aku melepasnya dan menenteng nya, aku tak peduli tubuhku tiba-tiba pendek atau apapun, Aku terlahir untuk menjadi tinggi dan cantik lantas kenapa?
Aku terus berjalan sambil sesekali hendak terjatuh, Orang-orang Eropa memang seperti itu, sibuk dengan urusannya sendiri - sendiri namun kupikir itu lebih baik ketimbang mengurusi hidup orang lain. Namun kau terkadang merasakan sisi negatif dari itu semua. Bukti nya sekarang, sudah beberapa orang yang berpapasan denganku dan tak ada satupun yang melirikku, apalagi hendak membantuku.
Aku berhenti saat mendengar suara klakson yang super kuat membuatku berbalik dan menghentakkan kakiku. "Kau sangat beri---"
"Pamela?" orang pemilik mobil mewah itu membuka jendelanya, oh Aku seperti pernah melihatnya.
"Harry?" tanyaku berusaha mengingat, wajahnya tak terlalu jelas karena kunang-kunang sialan itu seperti seorang penggemar darinya, mereka mengerubungi wajah tampan Styles itu.
"Kau butuh tumpangan? Kupikir kau dalam keadaan tidak baik-baik saja," ujarnya membuatku berpikir sejenak. Tidak, Aku tidak berpikir karena sekarang otakku sedang tidak bisa untuk berpikir.
Lantas Aku langsung saja mengangguk dan berjalan sempoyongan kearah kanan, disebelah Harry. Saat membuka pintunya, Aku terkejut ketika mendapati wanita yang sedang duduk disana. "Maaf," ujarku dan menutupnya kembali lantas membuka pintu di belakang.
Aku memijat ujung hidungku untuk meredakan rasa pusing ku, kepalaku tiba-tiba saja kembali pusing saat melihat wanita asing yang ada disebelah Harry. Oh, apakah itu kekasihnya? Atau tunangannya? Atau istrinya? Tidak-tidak, Ayah berkata Harry tidak memiliki istri ataupun tunangan. Itu hanya pacar, ya hanya pacar dan Aku bisa saja merebutnya. Jiwa jalangku memang 80 persen lebih sering keluar ketika Aku mabuk.
"Hai, Aku Madison, kau dapat memanggilku Maddie," Wanita itu meliukkan badannya kebelakang, menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan denganku, dia tersenyum ramah dan terlihat sangat baik.
"Pamela," ujarku.
"Nice to meet you, Pamela. Kau cantik sekali," ujarnya dan Aku Mengangguk.
Aku tau.
"Ya, Terima kasih, kau juga. Aku tak tau ucapanmu benar atau tidak karena Aku sedang mabuk sekarang," dia tersenyum lagi, dan kembali menghadap depan untuk menatap jalanan.
"Pamela, dimana alamat Rumahmu?" tanya Harry.
"Ada di antara jari-jarimu tadi pagi," jawabku dan tiba-tiba saja Maddie, wanita cantik itu terkekeh kecil, sangat lembut.
Harry tertawa kecil dan mengusap kepala Maddie. Oh.
"Tak apakan Aku mengantar Maddie ke Rumahnya dulu lalu mengantarmu, Pamela?" tanya Harry membuatku mengangguk.
"Tentu."
---
Kami sampai di depan Rumah minimalis dengan kesan vintage, mungkin akan semakin indah jika dilihat pada siang hari. Maddie mengucapkan sampai berjumpa lagi padaku dan tentunya Harry. Harry terlihat sangat perhatian padanya, mengingatkannya untuk makan, minum dan tidur. Kupikir Maddie bukan lagi anak kecil berumur lima tahun.
"Kau bisa pindah kedepan sini, Pamela," ujar Harry membuatku mengangguk. Jika bisa Aku hendak melangkah langsung saja, namun untuk menjaga kesopanan ku yang mana sebenarnya sudah rusak sejak awal, Aku membuka pintu ku lalu pindah kedepan. Disamping si kaya raya ini.
"Ke apartemen Oak? Kupikir Mr. Crawford tinggal serumah denganmu," ujar Harry membuatku terkekeh.
"Tidak, dan tidak ingin. Aku terlalu muak," ujarku dan Harry seperti tampan kebingungan, Aku menyadari itu walaupun Aku mabuk.
Harry berusaha tidak bertanya lagi dan mengangguk, saatnya Aku bertanya, bukan bertanya namun terselip maksud tertentu di dalam ucapanku. Lihat nanti.
"Kekasihmu tadi cantik sekali," ujarku. Arti lainnya, yang tadi kekasihmu?
"Ya, Maddie memang cantik. Namun ia hanya teman sejak kecilku, dia memiliki kembaran yang sama cantiknya, dengan wajah yang sama persis," ujarnya membuatku mengangguk. Oh, mereka bukan sepasang kekasih. Aku memang cerdas.
Oh satu lagi. Aku belum tau nomor ponselnya sedangkan dia sudah tau nomor ponselku. Jelas ini tidak adil. Namun menanyakan nomor ponsel langsung padanya bukan hal yang keren apalagi saat mabuk, bisa- bisa ia akan benar-benar menganggapku jalang pada pertemuan kedua kami. Walau nyatanya memang Aku seperti itu.
Aku mengorek-ngorek tasku, mencari ponsel yang jelas-jelas ada di tasku. Namun bukan di kantung utama tasku, ada di pocket kecil sampingnya. "Uh, dimana ponselku?" gumamku.
Dari ujung mataku, Aku dapat melihat Harry melirik kearahku, "Ponselmu?" sahutnya membuatku mengangguk.
"Tidak ada disini. Bisakah kau menelfon nya agar Ponselku berbunyi? Jika tidak ada bunyi, Aku yakin benda itu hilang atau tertinggal," ujarku dan dia mengangguk.
Dia mengeluarkan ponselnya, "Kau ingat nomormu?" tanya Harry membuatku berasumsi ia tidak menyimpan nomor ponselku yang tadi ku berikan. Sialan.
"+4471673849289" ujarku. Dan setelah itu tasku bergetar.
"Oh Tuhan, ternyata ia terselip disini," Aku membuka pocket disebelahnya dan mengambil ponselku. "Terima kasih, Harry."
Harry mengangguk dan kembali menyimpan ponselnya, setidaknya Aku sudah mendapat nomornya. Walaupun Aku mabuk, otakku tetap cerdas. Aku tarik kata-kataku yang tadi jika Aku tidak bisa berpikir. Nyatanya Aku bisa mendapat nomor ponsel si tampan ini.
"Kau bekerja dimana?" tanya Harry membuatku menoleh padanya.
"Perusahaan Ayahku," ujarku membuatnya mengangguk.
Jika boleh jujur, Aku masih sangat penasaran dengan Maddie itu. Kenapa mereka sangat dekat, kenapa Harry si tampan ini sangat perhatian? Seperti, kau tau-- mereka seperti sepasang kekasih. Maddie terlihat seperti wanita baik-baik dengan wajah polos.
Ku asumsikan lelaki ini adalah pecinta wanita berwajah polos atau yang bersifat polos, yang tentunya jauh jika dibandingkan denganku. Bagaimana caranya agar ia mengakui jika ia lebih menyukai wanita polos atau beringas?
Ayo berpikir, Pamela. Apartemenmu sudah didepan mata.
Oh sial, Mobil ini berhenti didepan Apartemenku, namun Aku melihat seekor kucing disana.
"Oh lihat, kucing itu seperti Macan. Apakah benar?" tanyaku membuatnya tertawa.
"Ya. Mungkin."
"Kau menyukai kucing? Macan?" tanyaku membuatnya menoleh padaku. Baru kusadari ia memiliki mata hijau. Okay, nilai nya bertambah tinggi dimataku.
"Macan."
"Kenapa? Itu bisa membunuh. Bagaimana jika kau digigit? huh, di terkam? Itu berbahaya!"
"Karena seekor macan lebih menarik, seperti menyelipkan kertas, meminta nomor ponsel dengan cara halus dan bertanya apakah kau suka Kucing atau Macan. Agresif."
Oh tidak. Macan itu Aku.
Aku menunduk sebentar, dan saat mendongak Aku melihatnya menyeringai, lebih menggoda ketimbang tadi pagi saat di Kantornya.
Dia memajukan wajahnya, membuatku sedikit mundur. Oh, kami baru bertemu dua kali. Sial. Dia mengecup ujung bibirku, secara tiba-tiba. Semuanya bergerak seperti slow motion. Aku memejamkan mataku. Dia mengecup ku tidak tepat di bibir, hanya di ujung dekat pipi. Sial.
Aku menatapnya, "Aku takut mencium macan. Akankah ia menarikku dengan otak cerdasnya nanti?"