Pamela's POV
Aku mendengus kesal, ini yang ku tidak suka dari Zoe. Jika ia bersama kekasihnya, ia akan terus menempel sampai lupa jika Aku adalah sahabatnya dan Aku ada disini juga. Kami-Aku, Zoe dan kekasih Zoe memasuki Restoran makan siang yang selalu ramai apabila jam makan siang. Pelanggan di d******i oleh pegawai kantor yang bosan dengan makanan kafetaria di Kantor mereka, contohnya Aku dan Zoe.
Mari Aku perkenalkan, Zoe Alwyn adalah teman kantorku, lebih tepatnya adalah sahabatku. Dia tak jauh berbeda denganku, jal*ng yang cerdik dan cantik. Namun perbedaannya dia sekarang telah memiliki kekasih membuatnya tidak seperti Aku, dia jauh lebih baik saat memiliki kekasih, maksudku ia menjadi jarang ke Club dan menggoda lelaki. Aku juga heran kenapa, namun menurutku wajah kekasihnya tidak terlalu tampan, dan tidak juga panas, kaya? Aku tidak tau itu.
Jika dibandingkan dengan Harry, maka itu seperti Emas dan besi berkarat. "Apakah kalian akan terus saling berpelukan seperti itu? Kalian kenyang jika hanya berpelukan? Ayo cari tempat duduk," ketusku dan si Jal*ng Zoe ini hanya mendecak dan pacarnya yang cupu itu hanya mengusap punggung Zoe.
Restoran ini memang sangat ramai, bukan karena harganya yang murah, namun karena makanannya yang menurutku lezat dan memang letaknya strategis, kesan dari Restoran ini pun mewah membuat para petinggi perusahaan sombong macam ayahku tidak gengsi untuk makan disini. Mereka biasanya rapat disini atau mengobrol tentang keperluan bisnis disini. Bahkan sedari tadi mataku belum melihat adanya meja kosong, akibat Restoran ini terlalu ramai.
"Itu ada satu meja kosong!" ujar kekasih Zoe dan ia menunjuk meja yang paling ujung, dekat kasir, bahkan dekat dengan ruangan karyawan, dan gelap Oh Tuhan. Dan sialnya, meja itu hanya tersedia untuk sepasang, hanya ada dua kursi. Dan dekat toilet! Oh tidak.
"Zoe, jika kau memilih duduk hanya dengan kekasih mu kau bukan sahab---"
"Maaf sekali Pamela, namun hari ini adalah Anniversary kami yang ke dua tahun, jadi---" Zoe memang jal*ng, Aku mendecak dan mendelik padanya. Ternyata dia lebih memilih pacar cupunya ketimbang Aku? Lihat kau, jika si cupu itu membuatmu sedih, Aku akan menghabisimu.
Zoe memberiku tatapan permohonan maafnya, namun Aku tidak peduli dan kembali mengedarkan pandanganku kesegala arah. Aku mengucek mataku, untuk saat ini sepertinya Aku tidak jadi untuk marah pada Sahabatku, justru seharusnya Aku berterima kasih karena ia bisa menjadi alasanku untuk datang kesana.
"It's okay, Zoe. ada tempat lain yang kosong disana," ujarku dan seketika wajah Zoe berubah menjadi bahagia kembali, untung dia sahabatku. Rasanya Aku ingin menendang b****g pacar Zoe yang cupu namun m***m itu, jika ia tampan itu bukan masalah, ini sudah cupu dan jelek. Maafkan Aku namun itu adalah sebuah kebenaran.
Aku menjalankan kakiku kearah Harry dan Maddie, mereka makan disini juga rupanya. Nah tempat yang mereka pilih jauh lebih baik ketimbang tempat dimana Zoe dan Pacarnya duduk, disini lebih terang dan bersih, dekat dengan kaca besar membuat kesan mewah restoran ini keluar.
"Uhm hai Harry, Hai Maddie. Bolehkah Aku duduk disini? Tempat lain sudah penuh," Harry dan Maddie sebenarnya duduk di tempat semacam sofa panjang, itu yang membuatku memanfaatkan ini, lebih luas dan sekalian Aku membuktikan apakah mereka benar-benar hanya teman atau Harry hanya membual lusa kemarin. Bisa saja kan, namanya seorang lelaki, kerjanya hanya berbohong.
"Oh, tentu saja, Pamela," ujar Maddie dengan senyumannya, dia sangat baik dan cantik, dan juga sopan.
Maddie pindah menjadi duduk disebelah Harry, sedangkan Aku berhadapan dengan mereka berdua. Baiklah. "Senang bertemu dengan kalian kembali," ujarku dan Harry tersenyum, begitupula dengan Maddie.
Namun tiba-tiba Aku teringat sesuatu. Oh tidak, seharusnya Aku tidak mengingat - ingat ini kembali. Namun melihat wajah tampan si Harry Styles ini membuatku teringat dengan itu.
"Karena seekor macan lebih menarik, seperti menyelipkan kertas, meminta nomor ponsel dengan cara halus dan bertanya apakah kau suka Kucing atau Macan. Agresif." Oh Tuhan. Sial ini memalukan dan rasanya Aku ingin mengubur diriku kedalam tanah.
Harry tiba-tiba saja terkekeh, membuatku menoleh padanya, dia sedang menatap kearahku pula, oh Tidak. Apa yang ia pikirkan?
"Kau kenapa, Harry?" tanya Maddie mewakili isi otakku.
"Tidak, ada sesuatu dijalanan," ujar Harry menunjuk jalan dan akhirnya Aku dengan Maddie menoleh kesana, tidak ada apa-apa.
"Mereka sudah pergi."
Maddie mengedikkan bahunya, lantas dia menoleh kearahku dan tersenyum, "kau belum memesan, Pamela. Kau ingin memesan apa?" tanya Maddie membuatku menepuk keningku. Tujuanku kesini untuk makan.
"Uhm, mungkin Jus nanas dengan mozarella chicken wings," ujarku dan ia memanggil pelayan.
Maddie menyebutkan pesananku, kenapa ia sangat baik?
Ponselku terasa bergetar, lantas Aku mengambilnya di Tas-ku dan mengeceknya, siapa yang mengirimi ku pesan disiang hari pada waktu makan siang seperti ini? Jika mereka mengajakku makan siang, maka terlambat.
Harry.
Lupakan perkataanku kemarin, namun kau sesungguhnya memang macan penggoda yang cerdik. Xx. H.
Oh Tuhan bisakah kau mencabut nyawaku sekarang juga demi apapun Aku rasanya ingin bersembunyi dibawah ketiak Ibuku. Demi apapun!
Aku lantas mengabaikan ponselku tanpa membalasnya, biarkan saja. Dengan cara membalasnya, julukan macan penggoda yang cerdik untukku akan hilang dan berganti dengan macan penggoda yang t***l. Aku cukup merasa bodoh kenapa si Tampan ini bisa membaca pikiranku, ini benar-benar memalukan. Lebih baik aku tidak makan siang atau melihat wajah jelek pacar Zoe ketimbang seperti tadi.
Maddie tersenyum kembali, kenapa ia sangat mudah tersenyum, ia membuatku iri karena sangat cantik dengan senyumannya itu. "Aku sudah memesannya, mungkin makanan kita bertiga akan datang bersamaan," ujarnya.
Saat melihat kearah Zoe di ujung ruangan, Aku hampir saja memuntahkan isi perutku, walaupun sepertinya perutku tidak ada isi karena Aku sangat lapar sekarang. Namun kuyakin kalian akan jijik jika berada di posisiku, Zoe dengan pacarnya yang cupu itu, berfoto sambil berciuman, bukan berciuman, ada seutas spaghetti di antara bibir mereka, bagaikan spaghetti itu adalah jembatannya dan mereka berfoto dengan gaya tersebut. Aku bahkan tau umur Zoe lebih tua daripada Aku namun mereka berpacaran dengan gaya bocah 12 tahun.
Aku menatap Zoe tajam, yang mana ia menyadari itu. Setelah mengambil foto, ia memeletkan lidahnya padaku. Mengejekku.
Aku mendecak dan memutuskan pandanganku dari mereka, namun lagi - lagi ponselku bergetar. Tatapanmu langsung tertuju pada Harry, seperti mengajukan tuduhan padanya. Yang mana ia sekarang sedang memainkan ponselnya juga dan mengobrol dengan Maddie. Pasti itu dia. Aku yakin.
Slutty Zoe.
Kau lebih baik membantu pelayanan mengantarkan makanan ketimbang menjadi nyamuk di tengah-tengah mereka. Kau seperti wanita haus belaian yang menunggu suami orang, b***h. Lihat aku dan Sammy.
Me.
Kau! Sahabat macam apa kau?! Harry dan Maddie hanya teman biasa, Aku bisa merebut Harry darinya dan mengalahkan kalian. Jelas-jelas Harry lebih panas ketimbang Sammy-mu yang cupu itu.
Slutty Zoe.
Memangnya Harry mau denganmu? Dia itu penggemar wanita polos seperti wanita didepanmu itu. Buktikan padaku bahwa kau dapat mencari perhatian dia, dia sedari tadi hanya sibuk dengan Maddie-Maddie itu.
Aku mendecak dimana membuat perhatian Harry dan Maddie teralihkan, lantas menatap tajam kearah Zoe yang sedang terkekeh.
Me.
Lihat nanti, pastikan si Sammy itu lebih jantan ketimbang Harry dan jangan menyesal.
Aku menyeringai lantas mengirim pesan itu ke Zoe sialan. Makanan kami bertiga datang, lantas Aku dan yang lain mulai memakannya. Lihat Maddie, dia makan dengan sangat sopan. Tak lupa dia mengambilkan Harry garpu dan pisau, dia terlihat seperti wife material untuk Harry.
Aku memulai makanku, jangan sampai Zoe sialan itu pulang sebelum Aku membuktikan padanya jika Aku juga bisa sepertinya. Bahkan menurutku Aku jauh lebih baik ketimbang dirinya, Sammy cupu dan jelek jika Harry tampan, panas dan tentu Kaya. Dan Aku akan lebih bangga jika menunjukan itu di depan Zoe.
-
15 menit cukup untukku menghabiskan makanku, Harry juga sudah siap sedangkan Maddie masih menghabiskannya.
Aku tersentak namun berusaha menjaga wajahku saat ujung kaki Harry tidak sengaja terkena betisku yang tidak tertutup apa-apa, Aku hanya memakai kemeja dengan rok pensil yang hanya menutupi batas lututku.
Pikiranku kembali pada saat Harry mengirimiku pesan tadi, membuatku kembali membuka ponselku dan membuka history chat-ku dengan Harry yang hanya berisi pesan darinya tadi.
Me.
Aku tidak memikirkan apapun. Apa maksudmu? Bisakah kau menjelaskannya?
Tak lama kemudian, Harry membalasnya. Mata tajamnya melirik kearahku sedikit.
Harry.
Ada Maddie disini.
Me.
Ke toilet.
Aku berdiri, meminta ijin untuk ke toilet dan Harry seperti mengulum seringainya disana. Lantas Maddie mengangguk begitupula dengan Harry
Ini bisa kujadikan untuk membuktikan pada Zoe itu. Pintu toilet tepat didepan meja mereka. Bagus sekali.
Aku memasuki toilet perempuan, menunggu dan mendapat pesan dari Harry.
Harry.
Tunggu aku.
Aku mengintip wajah Zoe saat dia melihat Harry lewat di depan mejanya, dia terperangah dan melihat kearahku. Aku menyeringai padanya. Dia menatapku tidak percaya.
Slutty Zoe.
Kau gila. Aku hanya bercanda, bodoh. Aku tidak mau anak dari bos-ku ketahuan bercinta di dalam toilet.
Oh tidak. Aku tidak mungkin bercinta dengan Harry. Bisa saja, namun tidak secepat ini.
Harry muncul didepanku, seringainya juga ikut menghiasi wajahnya. Aku sengaja tidak menutup rapat pintu toilet agar Zoe sialan dapat melihatku.
"Apa yang kau maksud?" tanyaku, Aku bersender pada dinding sedangkan Harry berdiri didepanku. Satu tangannya berada di sebelah kepalaku. Bagus.
"Kau terkadang menjadi macan dan terkadang menjadi anak kucing. Anak kucing yang agresif," bisiknya ditelingaku pada akhir kalimat.
Aku merapatkan pahaku, kenapa Aku yang menjadi ketakutan?
Aku memegangi bahunya, "Aku tak mengerti."
Dia melipat bibirnya kedalam, lantas setelah itu menjilat bibirnya guna membasahi bibir tipis nan seksi itu. Aku tersentak saat merasakan benda basah itu menempel pada bibirku.
Aku mengerang, dan dengan refleks memijat bahunya, "Mendesahlah, buktikan kau adalah kucingku yang cerdas dan penurut."
"Ahh."
Dia menyeringai, namun tiba-tiba Aku mendorong bahunya saat melihat seorang pegawai restoran ini hendak masuk membawa gagang pel.
"s**t," erang Harry.
Harry buru-buru keluar dan saat itu aku merasakan ponsel di sakuku bergetar dua kali.
Zoe.
Ukur miliknya dan bandingkan dengan milik Sammy, itu belum menjadi bukti yang akurat jika ia lebih jantan ketimbang Sammy.
Si bodoh itu benar-benar membela kekasihnya.
Harry.
Aku tak tau berciuman dengan kucing agresif senikmat itu.