~Flashback On~
Lima tahun lalu.
Setelah Ayahku meninggal, aku langsung pergi ke apartemen Andy.
Aku mau jelaskan semuanya. Video vulgar itu bukan aku.
Tim IT sudah membuktikannya. Video itu hasil rekayasa. Wajahku ditempel ke tubuh orang lain.
Aku lega. Tapi sekaligus hancur.
Percuma ayahku sudah nggak ada.
Ia meninggal dalam keadaan membenciku.
Ya Tuhan, maafkan Ayahku. Dia nggak tahu apa-apa.
Tunjukkan padaku Tuhan, siapa yang melakukan ini semua padaku.
Kalau aku ketemu orangnya, aku nggak akan pernah memaafkannya.
Dia harus dihukum karena sudah mencemarkan nama baikku.
Karena dia, Ayahku meninggal.
Aku sampai di apartemen Andy.
Dan aku melihatnya.
Andy sedang memeluk Catherine mesra di depan pintu kamar.
Dadaku seperti ditusuk ribuan jarum.
Mereka bahkan berciuman di depan mataku sendiri.
“Kalian! Sejak kapan kalian berdua melakukan ini di belakangku?!”
Suaraku pecah. Napasku tersengal. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
Andy dan Catherine terkejut. Mereka langsung melepaskan diri, salah tingkah.
“Silvia, ada apa kamu ke sini? Bukannya hubungan kita sudah selesai?”
Suara Andy datar. Nggak ada rasa bersalah.
Ia berjalan mendekatiku, menatapku meremehkan.
Dulu aku pikir dia lelaki baik. Ternyata aku salah.
“Aku ke sini buat bersihin nama baikku, Dy.
Video itu bukan aku. Ini buktinya.”
Aku sodorkan hasil investigasi Tim IT.
Mereka diam sejenak. Lalu kembali acuh.
Itu yang membuatku yakin. Ada mereka di balik semua ini.
“Sudahlah, lupakan aku sudah nggak nyalahin kamu lagi, kok.” kata Andy santai.
Lalu ia menoleh ke Catherine dan menggenggam tangannya erat.
Mataku terbelalak.
Dadaku sesak.
“Maksudmu apa bilang sudah? Dan ada hubungan apa dengan kalian berdua?!”
“Seperti yang kamu lihat. Aku dan Catherine saling cinta.
Lupakan hubungan kita. Pernikahan telah dibatalkan.”
Aku menatap Catherine tak percaya. Ia tersenyum sinis padaku.
“Kau, sahabat macam Catherine!”
Aku menunjuk Cathrine, tanganku bergetar.
“Kenapa kamu tega?
Sejak kapan kalian berdua mengkhianatiku?
Apa salahku padamu Cath?
Ayahku memperlakukanmu sudah seperti anaknya sendiri!
Apakah kamu juga yang bikin video itu? Jawab aku!”
“Diam, Silvia!”
Andy membentak.
“Jangan nuduh sembarangan. Catherine itu gadis baik-baik.
Tidak seperti kamu. Kamu terlalu akrab sama cowok-cowok di kampusmu.
Catherine-lah yang udah bukain mata hatiku. Ternyata, aku salah pilih calon istri.
Kamu itu gadis murahan!”
Plaaaak
Tamparan itu melayang lagi.
Kedua kalinya aku menampar Andy.
“Aku nggak seperti yang kamu pikir!
Mereka itu teman kuliahku! Aku nggak pernah main hati sama mereka!”
Andy mengusap pipinya yang merah.
“Lihat dirimu. Kamu bahkan berani nampar aku.
Catherine jauh lebih lembut darimu.
Aku nyesel kenapa nggak kenal Catherine dari dulu.”
“Itu karena kamu terus nuduh aku yang nggak-nggak!
Aku nggak akan marah kalau kamu nggak nyudutin aku terus!”
“Mana ada orang percaya kamu nggak selingkuh!
Lupakan pernikahan kita. Ayo Catherine, kita pergi.”
Mereka berdua lewat di depanku dan pergi.
Aku mengejar sampai ke mobil.
“Berhenti, Andy!”
Aku mencengkeram tangannya.
Tapi ia menepis kasar sampai aku terhuyung.
“Kalian harus tanggung jawab!
Ayahku meninggal karena video itu!
Kalian berdua sudah fitnah aku!”
Andy terdiam sejenak.
Lalu berkata dingin,
“Aku turut berduka atas meninggalnya Om Herman.
Tapi soal itu, bukan urusanku.”
Ia masuk mobil dan pergi bersama Catherine.
Aku menangis di tempat.
Nggak nyangka Andy membuangku hanya karena aku dekat dengan teman kuliahku.
Ia nggak peduli bukti video asli yang kubawa.
Dan wajah Catherine...
Ia begitu senang melihatku hancur.
Aku yakin ini semua rencananya.
Tapi aku nggak punya bukti.
Setelah itu, mereka hilang.
Rumah Catherine kosong. Disita bank.
Andy juga nggak ada di apartemennya.
Orang tuanya pun seperti tidak memperdulikannya.
“Kemana mereka pergi?” gumamku waktu itu.
---
Lima tahun berlalu.
Aku hidup sendiri. Nggak ada keluarga lagi.
Ayahku anak tunggal. Ibuku yatim piatu.
Akhirnya aku jual rumah peninggalan orang tua, lalu merantau ke Jakarta.
Awalnya aku bekerja di perusahaan kosmetik.
Tapi nggak bertahan lama.
Aku harus pakai make-up tebal dan baju minim setiap hari.
Banyak mata lelaki hidung belang, yang bikin aku risih.
Sampai aku ketemu Nana.
Motornya mogok di jalan.
Aku bantu perbaiki. Dulu aku pernah diajarin montir teman kuliahku.
Nana berterima kasih, lalu ngajak aku kerja di toko sepatu di mall besar.
Ia seperti petunjuk buatku.
Beberapa bulan kerja di sana, aku ketemu Devan Alvandra.
Dia sering beli sepatu kerja model terbaru.
Ramah, tampan, dan seleranya mirip aku. Sama-sama suka hitam dan merah.
Katanya, sepatu merah itu buat hadiah ulang tahun calon istrinya.
Aku cuma bisa mengaguminya dalam diam.
Sampai suatu hari Nana nunjukin video.
“Ini calon istri Devan, Catherine Angela. Baru naik daun.”
Aku merebut ponselnya.
“Catherine? Dia!”
Suaraku tercekat.
---
~Flashback Off~
Bersambung...