“Halo, apa kabar, Cath? Senang ketemu lagi. Sudah berapa lama ya kita nggak berjumpa?”
Silvia tersenyum manis ke mantan sahabatnya itu.
Ia yakin, hati Catherine sekarang sedang bergejolak.
Tapi Catherine nggak bisa meluapkannya.
Ia takut ketahuan Devan kalau sebenarnya mereka saling kenal.
Setelah Devan memperkenalkan mereka berdua, ia pamit ke kamar.
Mau mandi dan ganti baju sebelum makan malam.
Matanya nggak lepas dari meja makan.
Menu yang Silvia hidangkan wangi dan terlihat menggoda.
Jakunnya naik turun. Perutnya tiba-tiba lapar berat.
Sekarang, hanya ada Silvia dan Catherine di ruang makan.
Saling berhadapan.
Cathrine melotot tajam. Tangannya mengepal di bawah meja.
Seolah ingin menerkam Silvia sekarang juga.
Tapi ia harus menjaga citranya.
Ia harus pura-pura tidak mengenalinya.
“Kamu mau minum nggak, Cath? Kayaknya kamu kehausan.”
Silvia menyindir pelan, lalu memberi isyarat ke Bibi Sari.
Bibi Sari menuang air putih ke gelas, lalu meletakkannya di depan Catherine.
“Silakan diminum dulu, Nona Catherine.”
“Terima kasih, Bi. Bibi boleh pergi dulu. Nanti aku panggil kalau perlu.”
Bibi Sari mengangguk dan pergi.
Keheningan kembali menyelimuti.
Silvia meneguk minumannya santai, matanya nggak lepas dari Catherine.
“Minum dulu, Cath. Tenangin hati kamu.
Aku yakin sekarang kamu lagi tegang lihat kenyataan ini, bukan?”
*Braak!*
Catherine menggebrak meja.
Ia berdiri cepat, suaranya ditekan biar nggak kedengaran sampai ke kamar Devan dilantai atas.
“Jangan pancing emosiku, dasar wanita gila!
Aku yakin semua ini sudah kamu rencanakan! Benar kan?!”
Jarinya menunjuk wajah Silvia kasar.
Silvia tertawa pelan.
“Rencana apa?
Apa aku sebodoh itu sampai sengaja nabrakin diriku ke mobil Devan biar ketemu dia? Begitu maksudmu?”
Wajah Catherine makin merah.
“Dasar licik! Aku tahu kamu mau hancurin pernikahanku dengan Devan!
Ngaku aja kalau kamu sebenarnya ingin balas dendam!”
Silvia menopang dagu, menatap Catherine dari atas ke bawah.
Catherine memang cantik. Sekarang malah lebih glamor dari lima tahun lalu.
Silvia menduga, banyak uang lelaki yang sudah ia habiskan.
Buktinya rumah orang tuanya disita bank.
Kemana Andy sekarang?
Apa dia sudah dibuang juga, setelah Cathrine dapatkan Devan?
“Balas dendam? Lucu.”
Silvia terkekeh.
“Ngomong-ngomong, mana mantan kekasihku yang kamu rebut lima tahun lalu?
Ups, maaf... maksudku mantan calon suamiku dulu.”
Catherine mendengus.
Ia memejamkan mata rapat-rapat.
Nggak mau terpancing.
“Dengar baik-baik, Silvia. Jangan kebangetan.
Devan menikahimu karena kasihan.
Ia nggak cinta kamu. Ia cuma cinta aku.
Lihat villa ini. Ini villa aku.
Dia berjanji akan memberikannya padaku setelah kami menikah.
Sebentar lagi kamulah yang akan diusir dari sini.
Karena ia hanya mau menjadikanku satu-satunya istrinya.”
Silvia mengangkat satu alis.
“Oh ya?”
Ia sama sekali nggak takut.
“Mari kita buktikan siapa yang lebih dulu dicampakkan. Aku atau kamu.
Tuhan itu Maha Adil, Catherine.
Dia akan menolong hamba-Nya yang dizalimi.
Aku nggak akan pernah lupa.
Fitnah yang kamu sebar lima tahun lalu, hingga merenggut nyawa Ayahku.
Kamu tahu sendiri kan, kalau Ayahku punya penyakit jantung.”
Wajah Catherine berubah pucat.
“Huh! Apa buktinya kalau aku yang melakukannya?
Jangan asal nuduh!” elaknya
“Aku tahu itu cuma alibimu.
Ayahmu bangkrut, punya banyak utang, rumah disita bank.
Makanya kamu berhenti kuliah tanpa kabar.
Lalu tiba-tiba ingin dekat sama Andy.
Kamu licik, Catherine.
Kamu halalkan segala cara buat merebut calon suamiku.
Biar gampang nguras hartanya. Dan_”
“Cukup!!”
Catherine menutup telinganya.
Ia nggak mau dengar lagi.
“Ada apa ini?”
Suara Devan membuat Catherine tersentak.
Ia menoleh. Devan berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua bingung.
Tenggorokan Catherine tercekat.
Ia takut Devan dengar semua obrolannya dengan Silvia tadi.
“Catherine, kamu kenapa? Wajahmu terlihat pucat?”
Catherine menarik napas panjang.
Lalu ia menjatuhkan diri lemas ke lantai.
“Cath! Ya Tuhan!”
Devan berlari, memangku Catherine.
“Ada apa ini sebenarnya? Kamu apain kekasihku, Silvia?”
Ia menoleh tajam sebelum membawa Catherine ke kamar.
Silvia mengangkat bahu, tetap duduk santai sambil ngemil.
“Mana aku tahu. Dia tiba-tiba pingsan.
Aku dari tadi duduk di sini.”
Devan mendecak kesal.
Ia langsung membawa Cathrine ke kamarnya.
“Kenapa kamu menjerit tadi, sayang?”
Devan mengusap keringat di dahi Catherine dengan sapu tangan.
Catherine menggenggam tangan Devan erat.
“Dev... berjanjilah padaku.
Kau akan menikahiku, dan menceraikan wanita itu.
Aku nggak sanggup lagi diduakan.”
Suaranya bergetar. Air matanya jatuh.
---
Bersambung...