Ketegangan sempat terjadi ketika keluarga besar memutuskan bahwa pernikahan Nitara dan Antares harus dilangsungkan lebih dahulu daripada pernikahan Raka dan Naura. Keputusan itu memang dibuat dengan pertimbangan kondisi Nitara yang sedang mengandung, tetapi bukan berarti semua orang bisa menerimanya begitu saja.
Terutama Raka.
Lelaki itu duduk dengan wajah masam ketika ayahnya kembali menjelaskan alasan mereka harus memundurkan tanggal pernikahannya. Selama ini, Raka sudah menantikan hari ketika ia akhirnya bisa membangun rumah tangga bersama Naura. Mereka telah melewati banyak hal untuk sampai pada tahap tersebut, dan persiapan pernikahan yang dilakukan pun bukan sesuatu yang main-main.
Namun, kini ia justru diminta mengalah demi kakaknya yang bahkan tidak pernah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
Lebih menyebalkannya lagi, Nitara akan menikah dengan seorang lelaki yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan menjadi bagian dari keluarga mereka.
“Jadi, pernikahanku harus ditunda karena Kak Tara?” tanya Raka, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar terlalu tinggi. “Aku dan Naura sudah menyiapkan semuanya sejak lama. Kenapa harus kami yang mengalah?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Arman memahami kekecewaan putranya, tetapi sebagai ayah, ia juga tidak bisa mengabaikan keadaan Nitara.
“Raka, kondisi kakakmu berbeda denganmu. Tara sedang mengandung dan kita tidak tahu bagaimana kondisinya nanti. Kita ingin memastikan dia menikah dalam keadaan tenang, dengan dukungan keluarga.”
“Aku juga ingin menikah, Yah. Aku tidak sedang bermain-main dengan Naura.”
“Tentu saja Ayah tahu.”
“Kalau Ayah tahu, seharusnya Ayah juga mengerti kenapa aku kesal.” Raka mengusap wajahnya kasar.
“Aku sudah menunggu hari ini. Aku dan Naura sudah membicarakan masa depan kami berkali-kali. Sekarang, hanya karena Kak Tara mengalami kejadian yang tidak direncanakan, semua persiapan kami harus berubah.”
Ucapan itu membuat Nitara yang duduk tidak jauh dari sana semakin menundukkan kepala.
Ia tidak berani menatap adiknya.
Raka memang tidak mengatakannya secara langsung, tetapi Nitara tahu betul bahwa adiknya sedang menahan kekesalan. Bagaimana tidak? Raka dan Naura telah menjalin hubungan dengan tujuan yang jelas. Mereka saling mencintai dan memang ingin segera menikah. Sementara dirinya dan Antares justru akan melangsungkan pernikahan karena sebuah keadaan yang sama sekali tidak pernah mereka rencanakan.
Rasanya tidak adil jika Raka harus mengorbankan kebahagiaannya demi masalah yang muncul dalam kehidupannya.
“Raka, kami mengerti kamu kecewa,” ujar salah seorang anggota keluarga dengan suara lebih lembut. “Namun, keadaan Nitara saat ini membutuhkan perhatian lebih. Dia sedang mengandung dan masih harus menyesuaikan diri dengan kenyataan ini. Kami hanya ingin memastikan semuanya berjalan baik.”
Raka tidak segera menjawab.
Ia melirik Naura yang duduk di sampingnya. Perempuan itu menggenggam tangannya, memberikan isyarat agar ia mencoba memahami keadaan meskipun rasa kecewanya tetap beralasan.
Naura sendiri tentu tidak senang rencana pernikahan mereka harus berubah. Namun, ia juga tidak ingin persoalan ini membuat hubungan Raka dengan keluarganya menjadi semakin rumit.
“Aku mengerti kondisi Kak Tara,” ujar Raka akhirnya. “Aku juga tidak pernah berharap sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi bukan berarti perasaanku dan Naura tidak perlu dipertimbangkan.”
Arman mengangguk pelan. “Kamu benar. Ayah minta maaf karena keputusan ini membuatmu merasa tidak dihargai. Ayah akan memastikan persiapan pernikahanmu dan Naura tetap berjalan. Kita hanya perlu menggeser waktunya.”
Meski akhirnya bersedia mengalah, Raka tidak serta-merta kembali ceria. Ia tetap terlihat kesal, terutama ketika pembicaraan beralih pada persiapan pernikahan Nitara dan Antares.
Nitara hanya bisa diam.
Ia ingin meminta maaf kepada adiknya, tetapi bahkan untuk mengangkat wajah saja ia tidak sanggup. Ada rasa bersalah yang begitu besar karena tanpa sengaja ia telah mengambil sesuatu yang sangat dinantikan Raka.
Pada akhirnya, pernikahan Nitara dan Antares tetap dilangsungkan sesuai keputusan keluarga.
Persiapannya berlangsung cepat, tetapi pesta yang digelar tetap cukup meriah. Tidak banyak yang perlu diubah karena keluarga memutuskan menggunakan sebagian besar persiapan yang sebelumnya telah disiapkan untuk pernikahan Raka dan Naura.
Gaun pengantin, dekorasi, hingga beberapa detail acara disesuaikan agar cocok untuk Nitara dan Antares.
Kebetulan, bentuk tubuh Nitara tidak jauh berbeda dari Naura sehingga gaun yang sudah disiapkan sebelumnya masih dapat digunakan setelah sedikit penyesuaian.
Semua berlangsung begitu cepat hingga Nitara merasa seperti sedang menjalani kehidupan orang lain.
Satu hari ia masih berusaha mencari cara untuk menyembunyikan kehamilannya dari keluarga. Beberapa hari kemudian, ia sudah berdiri di hadapan penghulu, mengenakan gaun pengantin, dan mengucapkan janji pernikahan dengan seorang lelaki yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi suaminya.
Antares tampak jauh lebih tenang daripada Nitara.
Pemuda itu mengenakan setelan formal yang membuatnya terlihat semakin dewasa. Wajahnya menunjukkan kesungguhan ketika mengucapkan ijab kabul, tanpa keraguan sedikit pun.
Dan ketika pernikahan itu dinyatakan sah, tepuk tangan serta ucapan selamat segera memenuhi ruangan.
Nitara tersenyum tipis di tengah ucapan selamat yang diterimanya. Ia berusaha membalas keramahan keluarga dan para tamu, meskipun pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum selesai.
Kini ia resmi menjadi istri Antares.
Sebuah kenyataan yang terasa asing, bahkan ketika cincin pernikahan sudah melingkar di jarinya.
Di sisi lain, Antares tampak tidak mempermasalahkan apa pun. Ia menerima ucapan selamat dengan sopan, sesekali melirik Nitara untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja. Tidak ada tuntutan agar Nitara terlihat bahagia atau berpura-pura mesra di hadapan orang lain.
Namun, sikap tenang itu justru membuat Nitara semakin sulit memahami isi kepala suaminya.
Bagaimana mungkin Antares bisa setenang itu, sementara dirinya merasa seluruh kehidupan yang dikenalnya telah berubah?
Setelah acara selesai, keputusan mengenai tempat tinggal menjadi satu-satunya hal yang masih ingin dipertahankan Nitara.
Ia tidak ingin pindah ke rumah keluarga Antares. Bukan karena membenci keluarga pemuda itu, melainkan karena ia belum siap tinggal bersama orang-orang yang akan terus mengingatkannya bahwa pernikahan ini terjadi akibat kehamilan yang tidak direncanakan.
Apartemennya adalah satu-satunya tempat yang masih membuatnya merasa memiliki kendali atas kehidupannya sendiri.
“Aku ingin kita tinggal di apartemenku,” kata Nitara ketika mereka akhirnya memiliki kesempatan berbicara tanpa kehadiran keluarga.
Antares tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah istrinya yang terlihat lelah setelah menjalani acara panjang.
“Kalau itu membuat Kak Tara lebih nyaman, aku setuju.”
Nitara sedikit terkejut karena tidak menyangka Antares akan menerima permintaannya semudah itu.
“Aku tidak ingin terlalu banyak perubahan sekaligus,” jelasnya. “Aku masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan semuanya.”
“Aku mengerti.”
Hanya itu jawaban Antares.
Tidak ada perdebatan, tidak ada upaya memaksakan kehendak, dan tidak ada tuntutan agar Nitara segera menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Nitara merasa sedikit lega.
Malam itu, Antares datang ke apartemen Nitara membawa dua koper berukuran sedang. Ia meletakkannya di dekat pintu sebelum memandang sekeliling ruangan.
“Aku membawa barang-barang yang paling penting dulu,” jelasnya. “Sisanya akan kubawa perlahan. Tidak banyak yang perlu dipindahkan.”
Nitara mengangguk, kemudian memperhatikan kedua koper tersebut.
Dua koper itu mungkin tidak terlihat istimewa bagi orang lain, tetapi bagi Nitara, keberadaannya menandakan sesuatu yang jauh lebih besar.
Antares benar-benar akan tinggal di sini.
Mulai malam ini, apartemen yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat dan menikmati kesendirian akan dihuni oleh seorang lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya.
Nitara berjalan menuju ruang tengah, berusaha menyibukkan diri dengan merapikan beberapa barang yang sebenarnya tidak perlu dirapikan. Sementara itu, Antares membawa kopernya ke kamar yang telah disiapkan.
“Aku bisa tidur di sofa kalau Kak Tara belum nyaman berbagi kamar,” ujar Antares ketika kembali.
Nitara berhenti bergerak.
Ia menoleh, sedikit terkejut mendengar tawaran tersebut. Ia sempat mengira Antares akan menganggap pernikahan mereka sebagai alasan untuk langsung menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana pasangan lain.
Namun, pemuda itu justru memberikan pilihan kepadanya.
“Tidak perlu,” jawab Nitara setelah beberapa saat. “Kamu bisa menggunakan kamar tidur. Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri.”
Antares mengangguk. “Baik. Kalau ada yang membuat Kak Tara tidak nyaman, bilang saja.”
Nitara tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya kembali merapikan barang-barang di meja, menyembunyikan kegugupan yang semakin sulit dikendalikan.
Malam semakin larut. Setelah memastikan semua barang Antares berada di tempatnya, Nitara duduk di tepi ranjang dan memandang cincin di jarinya.
Pernikahan yang tidak pernah direncanakannya telah benar-benar terjadi.
Ia kini tinggal bersama Antares, lelaki yang dahulu hanya ia anggap sebagai anak muda yang menyimpan perasaan sepihak kepadanya.
Dan meskipun Antares tampak siap menjalani semuanya, Nitara tahu dirinya masih membutuhkan waktu panjang untuk menerima kenyataan tersebut.
Ia mengembuskan nafas perlahan, lalu berbaring dengan pikiran yang belum juga tenang.
Di ruangan lain, Antares juga belum tidur. Pemuda itu duduk di tepi sofa sambil memandangi ponselnya, menyadari bahwa kehidupan yang selama ini ia bayangkan bersama Nitara akhirnya dimulai dengan cara yang sama sekali berbeda.
Mereka memang sudah resmi menjadi suami istri.
Namun, untuk menjadi pasangan yang benar-benar saling menerima, keduanya masih memiliki perjalanan panjang yang harus dilalui.