Nitara berharap ada seseorang yang bisa membelanya.
Setidaknya, satu orang saja yang berdiri di pihaknya dan mengatakan bahwa keputusan Antares untuk bertanggung jawab tidak harus berakhir dengan pernikahan. Ia ingin seseorang menyadarkan pemuda itu bahwa kehidupan mereka terlalu berbeda, bahwa usia mereka terpaut cukup jauh, dan bahwa sebuah kehamilan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terburu-buru mengikat dua orang dalam ikatan rumah tangga.
Harapan terbesarnya tentu saja tertuju kepada Arman, ayahnya sendiri.
Nitara membayangkan ayahnya akan menunjukkan ketegasan. Sebagai seorang ayah, Arman seharusnya mempertimbangkan banyak hal sebelum menyetujui keinginan Antares. Ia mungkin bisa menerima kenyataan bahwa putrinya sedang mengandung, tetapi bukan berarti ia harus langsung menerima pemuda yang usianya jauh lebih muda sebagai menantu.
Sayangnya, harapan itu tidak berjalan sesuai keinginannya.
Sore itu, ruang keluarga kediaman Arman dipenuhi beberapa orang. Antares datang bersama keluarganya, termasuk Sofia yang sejak memasuki rumah tampak masih sulit menyembunyikan keterkejutannya. Perempuan itu beberapa kali melirik Nitara, seolah masih berusaha memastikan bahwa kabar yang dibawanya memang benar.
Antares, sebaliknya, justru terlihat begitu tenang.
Pemuda itu duduk tegak di sofa, mengenakan kemeja sederhana dengan lengan yang sedikit digulung. Tidak ada sikap canggung yang berarti, apalagi tanda-tanda seseorang yang datang karena terpaksa memenuhi kewajiban.
Di sampingnya, Sofia masih tampak gelisah. Sesekali perempuan itu mengusap kening, kemudian memandang keponakannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ia mengenal Antares sejak kecil. Ia tahu bagaimana pemuda itu tumbuh, bagaimana ia pernah begitu bersemangat mengejar perhatian Nitara, dan bagaimana perempuan yang kini duduk di seberangnya itu dahulu hanya menganggap perasaan Antares sebagai kekaguman anak muda.
Namun, membayangkan keduanya menikah adalah perkara yang sama sekali berbeda.
Sementara itu, Nitara duduk di samping Nada, sang ibu dengan punggung tegak. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, menunjukkan betapa gugup dirinya menghadapi pembicaraan tersebut.
Ia sudah berusaha membujuk Antares agar tidak melibatkan keluarga mereka terlalu cepat. Namun, pemuda itu rupanya benar-benar menepati perkataannya. Bahkan, sebelum Nitara sempat mempersiapkan diri, Antares sudah menghubungi keluarganya dan menyampaikan niat untuk datang menemui Arman.
Sekarang semuanya telah berada di luar kendalinya.
“Aku datang ke sini karena ingin menyampaikan niatku secara langsung kepada Om Arman dan keluarga,” ujar Antares membuka pembicaraan.
Arman mengangguk, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk melanjutkan.
“Aku tahu keadaan ini datang secara tiba-tiba. Aku juga sadar, mungkin keluarga Om tidak pernah membayangkan Kak Tara akan berada dalam situasi seperti ini. Tapi aku tidak akan lari dari tanggung jawabku.”
Nitara langsung memejamkan mata sejenak.
Lagi-lagi kalimat itu.
Tanggung jawab.
Sejak pertama kali mengetahui kehamilannya, kata tersebut seolah menjadi sesuatu yang terus dikejar Antares, sementara Nitara justru berusaha menjauhinya.
“Aku masih muda, Om. Usia kami memang berbeda cukup jauh,” lanjut Antares tanpa berusaha menutupi kenyataan. “Sekarang aku juga belum memiliki jabatan penting di perusahaan keluarga. Aku masih magang dan belajar dari dasar. Aku belum bisa mengatakan bahwa aku sudah memiliki karir yang mapan seperti orang-orang seusia Kak Tara.”
Sofia menoleh cepat ke arah keponakannya. Ia tidak menyangka Antares akan mengungkapkan semuanya dengan begitu terbuka.
Namun, Antares tidak berhenti di situ.
“Aku tidak ingin berpura-pura sudah menjadi lelaki yang sempurna. Aku masih harus banyak belajar, termasuk belajar menjadi suami dan ayah. Tapi aku bersungguh-sungguh ingin bertanggung jawab atas Kak Tara dan anak kami.”
Nitara mengangkat wajah.
Anak kami.
Dua kata itu diucapkan Antares dengan begitu mantap, seolah pemuda tersebut sudah menerima keberadaan bayi itu sepenuhnya. Tidak ada nada ragu, tidak ada upaya menyalahkan keadaan, dan tidak ada sedikit pun kesan bahwa ia sedang mencari jalan keluar.
“Aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhan Kak Tara selama kehamilan sampai anak kami lahir. Aku juga akan memastikan mereka tidak kekurangan apa pun. Kalau aku belum bisa memberikan kehidupan semewah yang mungkin keluarga ini harapkan, aku akan bekerja lebih keras untuk mencapainya.”
Antares menatap Arman dengan serius.
“Aku tidak datang untuk meminta Om menyelesaikan masalahku. Aku datang karena aku ingin menikahi putri Om dan membangun keluarga dengannya.”
Nitara nyaris kehilangan kesabaran.
Ia ingin menyela, mengatakan bahwa tidak ada yang meminta Antares menjanjikan seluruh hidupnya. Ia bahkan ingin mengingatkan pemuda itu bahwa dirinya sendiri belum pernah menyetujui rencana pernikahan tersebut.
Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Arman sudah memberikan tanggapan.
“Antares, Om menghargai keberanianmu untuk datang dan berbicara langsung seperti ini.”
Nitara menoleh cepat kepada ayahnya.
Arman melanjutkan, “Om tentu saja memikirkan masa depan Tara. Dia putri Om, dan Om tidak ingin dia menjalani kehamilan ini dengan ketidakpastian. Kalau kamu benar-benar bersungguh-sungguh, Om ingin melihat kesungguhan itu dalam tindakan, bukan hanya perkataan.”
“Tentu, Om. Aku mengerti.”
“Kalau begitu, menurut Om, pernikahan adalah jalan yang sebaiknya kita pertimbangkan secepatnya.”
Dunia Nitara seolah berhenti berputar.
Ia menatap ayahnya dengan mata membesar, nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Ayahnya tidak menolak.
Bahkan, Arman justru membuka jalan menuju pernikahan yang sejak awal berusaha Nitara hindari.
“Ayah...” panggilnya pelan.
Semua orang menoleh kepadanya.
Nitara menelan ludah, mencoba menyusun kalimat yang tidak terdengar seperti penolakan terang-terangan di depan keluarga Antares.
“Apa tidak terlalu terburu-buru kalau kita langsung membicarakan pernikahan?”
Arman memandang putrinya dengan lembut, tetapi sikapnya tetap tegas.
“Ayah mengerti kamu sedang terkejut. Namun, Antares sudah menyatakan kesungguhannya. Kita perlu memikirkan masa depanmu dan bayi itu. Ayah tidak ingin kamu menghadapi semuanya sendirian.”
“Aku tidak akan membiarkan Kak Tara sendirian,” sahut Antares.
Nitara langsung meliriknya tajam.
Pemuda itu bahkan tidak tampak terganggu oleh tatapan tersebut. Ia justru duduk semakin tegak, seolah setiap penolakan Nitara hanya membuatnya semakin ingin memastikan semua orang memahami keseriusannya.
Sofia akhirnya angkat bicara.
“Terus terang, aku juga masih terkejut dengan semua ini,” katanya, menatap Arman kemudian Nitara. “Aku tidak pernah membayangkan hubungan kalian akan sampai ke tahap seperti ini. Tetapi aku mengenal Antares. Kalau dia sudah mengambil keputusan, biasanya dia akan berusaha menjalankannya dengan sungguh-sungguh.”
Perempuan itu kemudian menoleh kepada keponakannya.
“Ares, menikah bukan perkara sederhana. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan keberanianmu hari ini. Ada banyak hal yang harus kamu pelajari.”
“Aku tahu, Karena itu aku ingin melakukannya dengan benar.”
Sofia menghela napas. Ia masih tampak belum sepenuhnya menerima kenyataan tersebut, tetapi ia tidak bisa mengabaikan kesungguhan Antares begitu saja.
Nada pun ikut menyampaikan dukungannya agar keputusan dibuat dengan pertimbangan matang, tanpa mengabaikan kondisi Nitara yang membutuhkan ketenangan selama kehamilan.
Semakin banyak orang berbicara tentang masa depan, semakin pusing kepala Nitara dibuatnya.
Tidak seorang pun tampak benar-benar mendukung keinginannya untuk menunda semuanya. Keluarganya melihat kesungguhan Antares sebagai jaminan bahwa ia tidak akan ditinggalkan. Keluarga Antares pun menghargai niat pemuda itu untuk mengambil tanggung jawab.
Hanya Nitara yang merasa seolah-olah sedang menyaksikan hidupnya diputuskan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Padahal, ia belum pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menikah.
Ia bahkan belum tahu bagaimana harus memandang Antares setelah semua yang terjadi.
Yang paling membuatnya kesal, pemuda itu justru menjadi orang yang paling lantang memperjuangkan pernikahan mereka.
Nitara sempat berharap Antares akan berubah pikiran setelah mengetahui keadaan sebenarnya. Ia mengira pemuda itu akan merasa takut, menyadari besarnya tanggung jawab yang menanti, kemudian memilih jalan yang lebih sederhana.
Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.
Antares tidak mundur.
Ia berdiri paling depan, menawarkan kesanggupan untuk menafkahi Nitara dan anak mereka, sekalipun kariernya masih berada di tahap awal.
Dan ketika pembicaraan berakhir, kedua keluarga mulai sepakat untuk mempersiapkan pernikahan dalam waktu dekat.
Bahkan, keadaan itu membawa satu kejutan lain bagi keluarga mereka.
Raka, adik Nitara, sebenarnya sudah menyiapkan pernikahannya dengan Naura yang rencananya akan berlangsung tidak lama lagi. Beberapa persiapan bahkan telah dilakukan. Namun, karena keadaan Nitara yang sedang hamil, keluarga akhirnya memutuskan untuk memprioritaskan pernikahan sang kakak lebih dahulu.
Akibatnya, sebagian persiapan yang semula diperuntukkan bagi Raka dan Naura kini harus dialihkan untuk Nitara dan Antares.
Raka sendiri hanya bisa mengembuskan napas panjang ketika mengetahui keputusan tersebut. Ia masih ingin memastikan kakaknya benar-benar tidak sedang mengambil keputusan karena tekanan, tetapi melihat Antares yang begitu tegas dan keluarganya yang telah memberikan persetujuan, ruang untuk menunda pembicaraan semakin sempit.
Nitara menatap adiknya dengan harapan tipis.
Sayangnya, Raka pun tidak mampu memberikan pembelaan yang ia inginkan.
Malam itu, setelah para tamu pulang dan pembicaraan keluarga berakhir, Nitara masuk ke kamarnya dengan kepala penuh pikiran.
Ia duduk di tepi ranjang, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Pernikahan.
Kata itu terus terngiang di telinganya.
Beberapa hari lalu, ia hanya ingin bertemu Antares untuk memberitahu tentang kehamilannya. Ia berharap mereka bisa membicarakan semuanya secara tenang, mencari jalan keluar yang tidak mengikat kehidupan mereka lebih jauh daripada yang diperlukan.
Namun, sekarang tanggal pernikahan mulai dibicarakan.
Keluarga mereka telah menyetujui.
Antares telah menyatakan kesanggupannya.
Dan dirinya sendiri bahkan belum sempat menerima kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ibu.
Nitara menurunkan tangannya, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin.
Ia tampak seperti perempuan yang sama, dengan kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Namun, kenyataannya tidak lagi demikian.
Dalam waktu dekat, ia akan menikah dengan seorang lelaki yang jauh lebih muda darinya, lelaki yang dahulu hanya ia anggap sebagai anak kecil dan yang paling menyakitkan bagi Nitara adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan dimulai seperti ini.
Bukan karena cinta atau keinginan untuk membangun kehidupan bersama.
Melainkan karena sebuah kejadian yang tak pernah ia rencanakan, dan seorang pemuda yang kini bersikeras berdiri di sampingnya.