Nitara mengumpulkan keberaniannya. Sejak Antares duduk di hadapannya, berbagai kalimat yang sudah ia susun semalaman justru menghilang begitu saja dari kepalanya. Padahal, ia sudah berkali-kali berlatih mengucapkan kabar tersebut di depan cermin, membayangkan bagaimana cara menyampaikannya tanpa membuat keadaan semakin rumit.
Namun, menghadapi Antares secara langsung ternyata jauh lebih sulit.
Pemuda itu duduk dengan santai, sesekali mengaduk minumannya. Wajahnya terlihat biasa saja, seolah pertemuan mereka hari ini tidak lebih dari pertemuan dua orang yang sudah lama tidak bertukar kabar. Ia bahkan sempat tersenyum tipis ketika mendapati Nitara terus meremas jemarinya sendiri di atas meja.
Antares tidak tahu bahwa beberapa detik lagi, hidupnya mungkin akan berubah selamanya.
Nitara menarik napas panjang.
“Res, aku mau bicara sesuatu.”
Antares meletakkan sendok kecil yang sejak tadi dimainkannya. Ia kemudian mengangkat wajah, menatap wanita di hadapannya dengan penuh perhatian.
“Bicara saja, Kak. Aku dengar.”
Panggilan itu membuat Nitara semakin gugup. Sudah lama ia tidak mendengar Antares memanggilnya seperti itu secara langsung. Entah mengapa, panggilan sederhana tersebut justru mengingatkannya pada hubungan mereka yang tidak pernah benar-benar sederhana.
“Aku...” Nitara berhenti sebentar, berusaha menelan kegugupannya. “Aku hamil.”
Antares terdiam.
Untuk sesaat, suara riuh pengunjung kafe seakan menjauh dari pendengarannya. Ia menatap Nitara dengan mata sedikit membesar, mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
Hamil?
Nitara hamil?
Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung beberapa detik. Antares perlahan mengangguk kecil, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Begitu, ya.”
Nitara mengerjap.
Hanya itu?
Ia sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan reaksi. Ia membayangkan Antares akan terkejut, panik, mungkin juga marah karena kabar tersebut datang begitu tiba-tiba. Akan tetapi, ia tidak pernah membayangkan pemuda itu hanya akan menjawab dengan tenang seperti baru mendengar informasi biasa.
“Begitu, ya?” ulang Nitara tidak percaya.
Antares mengangguk sekali lagi. “Iya.”
Nitara membetulkan posisi duduknya. Ia melirik beberapa pengunjung di meja sebelah sebelum kembali menatap Antares. Ia tidak ingin percakapan mereka terdengar oleh orang lain, apalagi pembicaraan itu menyangkut sesuatu yang sangat pribadi.
“Res, dengarkan aku baik-baik.”
Kali ini Antares memperhatikan perubahan nada suaranya.
Nitara tampak serius. Wajahnya masih pucat, dan ada kegelisahan yang jelas terlihat di matanya. Pemuda itu pun berhenti bersikap santai, menyadari bahwa wanita di hadapannya sedang berusaha keras menyampaikan sesuatu yang tidak mudah.
“Aku hamil. Itu fakta yang tidak bisa diubah, dan kamu adalah ayah dari bayi ini.”
Nitara mengusap perutnya perlahan. Gerakannya masih canggung, seolah dirinya sendiri belum terbiasa dengan kenyataan bahwa ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana.
“Namun, kamu tidak perlu merasa harus bertanggung jawab atas semuanya. Aku bisa mengurus kehamilan ini sendiri. Kita bisa mencari jalan keluar tanpa harus mengubah kehidupanmu. Kamu masih muda, Res. Kamu masih punya banyak hal yang ingin kamu capai, sedangkan aku...” Ia berhenti sebentar, lalu menghembuskan nafas. “Aku tidak ingin kehadiran bayi ini membuatmu merasa terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu inginkan.”
Antares menatapnya tanpa berkedip.
Semakin lama mendengarkan, semakin sulit baginya memahami cara berpikir Nitara.
“Bagaimana mungkin kamu hamil anakku, lalu aku tidak bertanggung jawab?”
Suara Antares mendadak meninggi.
Nitara langsung menegakkan tubuh dan mengangkat telunjuk ke depan bibirnya.
“Syuttt! Jangan teriak. Pendengaranku masih sangat normal, dan aku tidak tuli.”
Antares menatapnya sejenak, lalu menghembuskan napas panjang. Ia menurunkan suaranya, tetapi sorot matanya tetap menunjukkan ketidaksetujuan.
“Aku rasa justru kamu yang tidak normal, Kak.”
Nitara mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kamu baru saja mengatakan bahwa kamu hamil dan aku ayahnya. Lalu, ketika aku bahkan belum sempat memikirkan bagaimana kita akan menghadapi semuanya, kamu sudah memutuskan bahwa aku tidak perlu bertanggung jawab.” Antares mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kenapa? Apa aku terlihat tidak meyakinkan di matamu? Apa kamu menganggapku tidak cukup dewasa untuk menjadi ayah?”
“Bukan begitu, Ares.”
“Lalu bagaimana?”
Nitara terdiam.
Ia ingin menjelaskan bahwa persoalannya bukan sesederhana usia. Ada jarak di antara mereka yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang. Ada masa lalu yang membuatnya sulit memandang Antares sebagaimana ia memandang lelaki lain. Ada pula ketakutan bahwa kehidupan pemuda itu akan berubah terlalu cepat hanya karena sebuah kejadian yang bahkan belum sepenuhnya mampu mereka bicarakan.
“Aku hanya tidak ingin kamu merasa terikat karena keadaan,” jawab Nitara akhirnya. “Aku tahu kamu pernah memiliki perasaan kepadaku, tetapi kita tidak pernah benar-benar menjalani hubungan. Aku tidak ingin kamu mengambil keputusan besar hanya karena merasa bersalah atau kasihan kepadaku.”
Antares menghela napas, kemudian menggeleng pelan.
“Case closed, Kak.”
Nitara tertegun. “Apa?”
“Masalahnya sudah jelas. Kamu hamil, dan aku ayah dari bayi itu. Jadi, aku harus bertanggung jawab.” Antares menatapnya lekat-lekat. “Sejak awal pun aku memang berniat bertanggung jawab atas apa yang terjadi di antara kita. Aku tidak pernah menganggap malam itu sebagai sesuatu yang bisa begitu saja dilupakan, apalagi setelah mengetahui kamu harus menghadapi akibatnya sendirian.”
Kata-kata itu membuat d**a Nitara terasa sesak.
Ia tidak menyangka Antares akan bersikap seperti ini. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega karena pemuda itu tidak melarikan diri dari kenyataan. Namun, bagian lain justru semakin ketakutan karena Antares tampak begitu yakin dengan keputusannya.
“Tidak, Res. Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku perlu.”
“Antares, dengarkan aku dulu.” Nitara berusaha mengendalikan suaranya. “Aku akan bertanggung jawab atas bayi ini. Aku tidak akan menghindar dari kewajibanku sebagai ibu. Kalau kamu ingin membantu, kita bisa membicarakannya baik-baik. Tapi aku tidak mau kamu merasa harus mengubah seluruh hidupmu hanya karena—”
“Karena apa?” potong Antares. “Karena kamu lebih tua dariku? Karena menurutmu aku masih terlalu muda? Atau karena kamu memang tidak pernah bisa membayangkan aku menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan?”
Nitara tidak mampu langsung menjawab.
Ketiganya mungkin memiliki bagian dari kebenaran yang selama ini tidak ingin ia akui.
Antares menyandarkan tubuhnya kembali. Kali ini wajahnya tidak lagi menunjukkan keterkejutan, melainkan ketegasan yang belum pernah Nitara lihat secara langsung sebelumnya.
“Aku tahu kamu punya banyak alasan untuk meragukanku. Aku juga tahu kamu tidak pernah meminta semua ini terjadi. Tapi jangan mengambil keputusan atas namaku, Kak. Kamu boleh menentukan apa yang akan kamu lakukan terhadap hidupmu sendiri, tetapi kamu tidak bisa memutuskan bahwa aku tidak boleh mengambil bagian dalam kehidupan anakku.”
Nitara menggenggam jemarinya semakin erat.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi itu yang kamu lakukan.”
“Ares, aku hanya ingin semuanya tetap masuk akal. Coba pikirkan bagaimana reaksi keluarga kita nanti. Bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Ayah dan Raka? Bagaimana kamu akan menjelaskannya kepada keluargamu? Kita bahkan tidak pernah membicarakan hubungan kita secara serius, dan sekarang tiba-tiba ada bayi yang harus kita pikirkan.”
“Aku akan bicara dengan keluargaku.”
Jawaban itu meluncur begitu cepat hingga Nitara kehilangan kata-kata.
Antares kemudian berdiri dari kursinya. Ia meraih jaket yang tadi disampirkan pada sandaran kursi, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Nitara mendongak, terkejut melihat sikapnya yang mendadak berubah.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Sekarang?”
“Iya. Aku harus membicarakan masalah ini dengan keluargaku.” Antares menatapnya dengan serius. “Mereka harus tahu bahwa aku akan menjadi seorang ayah. Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu sebesar ini dari mereka.”
“Res, tunggu dulu. Kita belum selesai bicara.”
“Menurutku, sudah cukup untuk hari ini.”
Antares tidak bermaksud mengabaikan Nitara. Ia hanya menyadari bahwa semakin lama mereka berbicara, semakin besar kemungkinan ia akan mengatakan sesuatu karena emosi. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya, dan keluarganya perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya sebelum keputusan besar apa pun dibuat.
Namun, bagi Nitara, sikap itu terasa seperti sesuatu yang menakutkan.
Ia belum siap menghadapi keluarganya sendiri, apalagi membayangkan Antares akan pulang dan menceritakan semuanya kepada Sofia.
“Antares!”
Pemuda itu sudah berbalik ketika Nitara memanggilnya dengan suara tertahan.
“Ares!”
Kali ini panggilannya terdengar lebih keras.
Antares sempat berhenti di dekat pintu cafe. Ia menoleh sekilas, menatap Nitara yang masih berdiri di samping meja dengan wajah panik.
Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan Nitara. Ia ingin meminta Antares tidak terburu-buru, tidak langsung mengambil keputusan, dan tidak membuat keadaan menjadi semakin rumit sebelum mereka benar-benar memahami apa yang harus dilakukan.
Namun, semua kalimat itu tertahan di tenggorokannya.
Antares hanya berkata, “Aku akan menghubungimu setelah bicara dengan keluargaku, Kak. Untuk sekarang, istirahatlah dan jaga kesehatanmu.”
Setelah itu, ia melangkah keluar.
Nitara tetap berdiri di tempatnya, menyaksikan pemuda itu berjalan cepat menuju area parkir. Beberapa saat kemudian, Antares sudah mengenakan helm hitamnya dan menyalakan motor sport yang terparkir di depan kafe.
Suara mesin motor terdengar sesaat sebelum kendaraan itu meninggalkan halaman.
Nitara perlahan kembali duduk.
Tangannya meraih gelas air mineral, tetapi ia hanya menatap permukaan air yang sedikit bergetar. Pertemuan yang sejak semalam membuatnya gelisah ternyata tidak menghasilkan apa yang diharapkan.
Ia datang dengan niat meyakinkan Antares agar tidak merasa terbebani.
Sebaliknya, pemuda itu justru pulang dengan keputusan untuk melibatkan keluarganya.
Nitara menundukkan kepala, kemudian menyentuh perutnya dengan gerakan hati-hati.
“Bagaimana ini, Nak?” bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban, tentu saja.
Namun, Nitara menyadari bahwa ia tidak lagi bisa mengendalikan seluruh keadaan seorang diri.
Ada seorang bayi yang akan lahir.
Ada Antares yang menolak menjauh dan ada dua keluarga yang sebentar lagi akan mengetahui rahasia yang selama ini ia coba sembunyikan.
Nitara mengusap wajahnya perlahan.
Hal yang paling ditakutkannya akhirnya benar-benar terjadi. Bukan semata-mata karena ia hamil di luar rencana, melainkan karena lelaki yang menjadi ayah dari bayinya itu ternyata tidak bersedia menjadi orang asing dalam kehidupan mereka.
Antares ingin bertanggung jawab dan Nitara belum tahu apakah dirinya siap menerima tanggung jawab itu bersamanya.