Sejak pagi itu, kehidupan Nitara terasa sedikit berubah.
Bukan karena pekerjaannya atau Kanara yang terus-menerus menggoda setiap kali melihat wajahnya.
Masalahnya hanya satu, Antares.
Lelaki itu semakin sering menghubunginya.
Awalnya hanya pesan singkat, lalu beberapa jam kemudian panggilan yang tidak pernah putus bertubi-tubi.
Nitara yang membaca pesan-pesan tersebut hanya bisa menghela napas. Ia bahkan beberapa kali sengaja tidak membalas. Namun Antares tidak berhenti.
Jika pesannya tidak dijawab, lelaki itu akan menelepon.
“Halo., kak Tara.”
“Iya.”
“Sudah lebih baik?”
“Iya, Ares. Aku sudah baik-baik saja.”
Ada jeda di seberang. “Aku ingin kita bicara.”
Nitara memejamkan mata, ia sudah menduga pembicaraan ini akan kembali muncul.
“Ares, kita sudah membicarakannya.”
“Belum selesai, Kak.”
“Menurutku sudah.” Nitara menghela napas.
“Dengar. Apapun yang terjadi malam itu, jangan dipikirkan lagi.”
“Kak Tara…”
“Aku serius.”
“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?”
Suara Antares terdengar tenang, tetapi ada kesungguhan yang membuat Nitara justru semakin tidak nyaman.
“Aku akan bertanggung jawab.”
Nitara langsung menyela. “Tidak perlu.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi.”
Nitara menatap keluar jendela apartemennya.
“Aku tidak memintamu bertanggung jawab, Ares.”
Nada suara Nitara berubah lebih tegas.
“Anggap saja itu kesalahan karena kita sama-sama terbawa suasana.”
Nitara menarik napas panjang.
“…one night stand. Itu hal lumrah kan, kita sudah sama-sama dewasa dan nggak perlu memikirkan itu.”
Kalimat itu membuat suasana di seberang telepon mendadak sunyi.
Nitara tahu kalimat tersebut terdengar begitu dingin, namun ia sengaja mengatakannya.
Ia ingin Antares berhenti mengejarnya, ingin lelaki itu memahami bahwa tidak ada hubungan apa pun yang harus dibangun setelah malam tersebut.
“Tidak ada yang perlu dilanjutkan,” lanjut Nitara.
“Kak Tara benar-benar menganggapnya seperti itu?”
“Iya.”
“Padahal Kakak bilang itu pertama kalinya.”
Nitara membeku, Antares mengetahui hal tersebut Nitara pernah mengatakannya dalam percakapan mereka setelah kejadian itu.
Ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.
Namun justru karena itulah Nitara semakin tidak ingin ada sesuatu yang berlanjut.
“Iya,” jawabnya pelan. “Itu memang pertama kalinya.”
“Kalau begitu, bukankah seharusnya aku lebih bertanggung jawab?”
“Tidak.” Jawaban Nitara begitu cepat.
“Aku tidak mau kamu merasa memiliki kewajiban apa pun terhadapku hanya karena itu.”
“Tapi aku ingin. Aku yang menentukan apa yang ingin kulakukan, Kak.”
Nitara mengusap pelipis. “Ares, tolong.”
Untuk beberapa detik tidak ada suara, kemudian Antares berkata pelan.
“Kalau itu memang keputusan Kak Tara, aku akan menghormatinya.”
Nitara mengembuskan napas lega, namun sebelum panggilan berakhir, lelaki itu kembali berkata,
“Tapi aku tidak bisa menjanjikan kalau tanggung jawabku bisa berhenti begitu saja.”
“Ares…”
“Selamat malam, Kak.”
Sambungan berakhir.
Nitara menatap layar ponselnya.
Entah kenapa, ucapan terakhir Antares justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Beberapa hari berlalu, Antares memang mengurangi intensitas pesannya. Namun ia tidak benar-benar menghilang.
Sesekali masih ada pesan juga panggilan dan setiap kali melihat nama lelaki itu muncul, Nitara kembali merasa pusing.
Ia membutuhkan cara agar Antares benar-benar berhenti.
Setelah memikirkan banyak hal, Nitara akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan. Mungkin ia harus memiliki seseorang.
Seseorang yang bisa membuat Antares berpikir bahwa dirinya sudah mempunyai pasangan.
Bukan sembarang lelaki, Nitara menginginkan seseorang yang menurutnya sudah matang, dewasa dan stabil.
Seseorang yang tidak akan membawa hubungan mereka ke dalam drama kekanak-kanakan.
Ketika ia menceritakan hal itu kepada seorang teman, justru nama Bayu yang muncul.
“Bayu?”
“Iya. Kamu belum pernah ketemu?”
“Belum.”
“Dia orangnya baik. Dewasa. Usianya juga lebih tua darimu.”
Nitara langsung tertarik.
“Lebih tua?”
“Sedikit, mungkin tiga atau empat tahun, cocok lah untuk kamu yang suka lelaki matang.”
Nitara mengangguk.
“Bagus.”
Temannya tertawa.
“Kamu cari pacar atau cari wali?”
“Jangan bercanda.” Nitara tersenyum tipis.
“Aku cuma ingin seseorang yang matang.”
Beberapa hari kemudian, Nitara bertemu Bayu.
Kesan pertamanya cukup baik.
Bayu tampan, berpenampilan rapi, tutur katanya tenang, dan tidak banyak bertingkah.
Usianya memang lebih tua daripada Nitara, hal itu justru membuat Nitara merasa nyaman.
Setidaknya, pikirnya, lelaki seperti Bayu tidak akan membuatnya menghadapi persoalan yang sama seperti Antares.
Mereka mulai sering bertemu.
Awalnya hanya makan siang, kemudian minum kopi, lalu makan malam. Tidak ada status hubungan di antara mereka.
Mereka hanya sedang saling mengenal, namun Nitara mulai melakukan sesuatu yang sebenarnya ia tahu cukup kekanak-kanakan.
Ia mulai mengunggah kebersamaan mereka di media sosial.
Foto dua gelas kopi.
Foto Bayu yang duduk di seberangnya, bahkan sekali waktu ia mengunggah foto ketika Bayu mengantarnya pulang. Tidak ada keterangan yang terlalu jelas, hanya kalimat sederhana namun Nitara tahu siapa yang ingin ia lihat.
Antares.
Ia bahkan beberapa kali membuka daftar orang yang melihat unggahannya dan ketika nama Antares muncul, Nitara diam-diam merasa lega.
“Lihat.” Nitara bergumam sendiri.
“Sekarang kamu tahu aku sudah dekat dengan orang lain.”
Ia berharap Antares mengerti dan berhenti menghubunginya juga berhenti bicara tentang tanggung jawab yang membuat kejadian malam itu terus muncul dalam pikirannya.
Namun yang tidak Nitara ketahui, di tempat lain Antares memang melihat setiap unggahan tersebut.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama. Nitara bersama seorang lelaki dan mereka tampak dekat.
Antares menghela napas, jemarinya sempat mengetik sebuah pesan.
Namun sebelum dikirim, pesan itu dihapus.
Pada akhirnya, Antares hanya mematikan layar ponselnya.
Ia tidak tahu bahwa hubungan Nitara dan lelaki itu sebenarnya belum memiliki status apa pun dan Nitara pun tidak menyadari bahwa usahanya untuk membuat Antares menjauh justru berpotensi menciptakan persoalan baru.
Sebab terkadang, kebohongan kecil yang dibuat untuk menghindari sebuah perasaan justru bisa membuka pintu bagi masalah yang jauh lebih besar.
Kedekatan Nitara dan Bayu berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak terburu-buru untuk segera memberikan sebuah status. Sejak awal Bayu memang mengatakan bahwa ia tidak ingin memaksakan apa pun. Mereka bisa saling mengenal terlebih dahulu, menikmati waktu bersama, dan melihat ke mana hubungan itu akan membawa mereka.
Nitara menyukai cara berpikir Bayu.
Lelaki itu memang jauh lebih dewasa daripada dirinya dalam banyak hal.
Sikapnya begitu tenang begitu pengertian.
Awalnya Nitara berpikir, mungkin seperti inilah hubungan yang selama ini ia butuhkan.
Hubungan dengan seseorang yang matang yang bisa memberikan rasa aman.
Namun setelah beberapa minggu berlalu, Nitara mulai menyadari sesuatu. Ada yang kurang.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Mereka bisa makan malam bersama, tetapi setelah itu Nitara tidak merasa ingin memperpanjang waktu.
Mereka bisa berbincang selama berjam-jam, tetapi tidak ada percakapan yang membuat jantungnya berdebar. Nitara tidak menemukan sesuatu yang dapat membuatnya jatuh cinta pada Bayi selain mengagumi sikapnya yang jauh lebih dewasa..