Jarak yang Justru Terasa Dekat
Sebulan terakhir, kedekatan Nitara dan Bayu perlahan berubah.
Tidak ada lagi kesan bahwa mereka hanya sedang saling mengenal.
Bayu mulai menunjukkan keseriusannya dengan cara yang tenang, tanpa membuat Nitara merasa terdesak. Ia mulai lebih sering menjemput Nitara sepulang kerja, mengirimkan makanan ketika tahu perempuan itu belum sempat makan, bahkan mengingat hal-hal kecil yang kadang Nitara sendiri lupa.
Bayu tahu Nitara tidak terlalu menyukai tempat ramai.
Ia tahu perempuan itu lebih senang menikmati waktu luang di tempat yang tenang.
Ia juga tahu Nitara selalu terlihat kuat di depan orang lain, tetapi bisa sangat lelah ketika semua urusan pekerjaan telah selesai.
Perhatian-perhatian kecil itu perlahan membuat hubungan mereka terlihat semakin nyata.
Bahkan bagi orang-orang di sekitar Nitara.
Beberapa teman mulai menganggap Bayu sebagai kekasihnya. Foto-foto kebersamaan mereka yang sesekali Nitara unggah di media sosial semakin memperkuat anggapan tersebut.
Awalnya Nitara melakukan semua itu untuk satu alasan.
Antares.
Ia ingin lelaki itu melihat bahwa dirinya sudah memiliki seseorang.
Ia ingin Antares berhenti membicarakan malam itu.
Berhenti menghubunginya atau menawarkan tanggung jawab yang tidak pernah Nitara minta.
Namun semakin sering Nitara menunjukkan kedekatannya dengan Bayu, semakin aneh perasaan yang muncul dalam dirinya.
Ada kepuasan ketika melihat nama Antares masih sesekali muncul di daftar orang yang melihat unggahannya.
Ada rasa lega ketika ia membayangkan lelaki itu akhirnya memahami bahwa dirinya sudah melanjutkan hidup.
Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang tidak bisa Nitara jelaskan.
Seolah setiap kali ia berusaha membuktikan sesuatu kepada Antares, justru dirinya sendiri yang semakin dipenuhi pertanyaan.
Suatu malam, Bayu mengantarnya pulang setelah mereka makan bersama.
Sebelum turun dari mobil, Bayu memberikan sebuah kotak kecil.
“Untukmu.”
Nitara menerimanya dengan kening berkerut.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
Nitara tersenyum.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Tidak ada alasan khusus.”
Bayu memang seperti itu.
Tidak berlebihan.
Tidak suka membuat kejutan besar.
Ia hanya memberikan sesuatu karena mengingat Nitara pernah menyebut benda tersebut beberapa minggu sebelumnya.
Ketika sampai di apartemen, Nitara membuka kotak itu.
Sebuah benda sederhana terletak di dalamnya.
Bukan sesuatu yang mahal, tetapi jelas Bayu memilihnya dengan perhatian.
Nitara tersenyum. Bayu baik.
Sangat baik.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi pemberian tersebut.
Seharusnya ia bahagia, namun yang muncul justru perasaan kosong.
Nitara menunduk.
“Kenapa aku begini?”
Ia tahu Bayu tidak melakukan kesalahan apa pun.
Justru sebaliknya.
Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik.
masa lalu.
Lalu mengapa Nitara masih merasa ada sesuatu yang kurang?
Pikirannya tanpa sadar kembali pada seseorang.
Antares.
Nitara langsung menggeleng.
“Tidak.”
Ia tidak ingin memikirkan lelaki itu.
Bukankah ia sendiri yang meminta Antares berhenti menghubunginya?
Bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa apa yang terjadi malam itu cukup dianggap sebagai sebuah kesalahan?
Bukankah ia sendiri yang memilih Bayu?
Lalu mengapa sekarang ia justru merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya?
Sementara itu, Antares benar-benar menepati ucapannya.
Ia tidak lagi mengirim pesan setiap pagi atau usaha untuk mencari alasan agar bisa bertemu.
Antares menghormati permintaan Nitara.
Jika Nitara ingin menjauh, ia akan memberinya jarak.
Namun berhenti menghubungi bukan berarti Antares berhenti peduli.
Ia masih melihat unggahan Nitara.
Masih memperhatikan perubahan kecil yang mungkin tidak disadari orang lain.
Termasuk foto-foto bersama Bayu.
Antares tahu lelaki itu bukan sekadar teman biasa.
Cara Bayu berdiri di samping Nitara.
Cara Nitara tersenyum ketika bersamanya.
Perhatian yang terlihat begitu jelas dari beberapa foto yang diunggah.
Antares tidak menyukai kenyataan tersebut.
Namun ia tidak memiliki hak untuk merasa keberatan.
Nitara sudah memilih dan ia harus menghormatinya.
Suatu sore, Antares kebetulan melihat Nitara keluar dari sebuah restoran bersama Bayu.
Ia sedang berada di dalam mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat tersebut.
Antares tidak turun.
Ia hanya memperhatikan dari balik kaca.
Mereka berbicara sebentar sebelum Bayu mengantar Nitara menuju mobil.
“Kalau itu membuat Kak Tara bahagia…”
Kalimat itu berhenti di dalam pikirannya.
Ia tidak tahu apakah Nitara benar-benar bahagia.
Tetapi ia tidak berhak mencari jawabannya.
Antares menyalakan mesin dan pergi.
Ia memilih tidak mengganggu.
Setidaknya untuk saat ini.
Beberapa hari kemudian, Nitara duduk bersama Bayu di sebuah kafe.
Mereka sedang membicarakan hubungan mereka.
Bayu tampak serius.
“Aku ingin hubungan ini punya arah.”
Nitara menatapnya.
“Arah?”
Bayu mengangguk.
“Aku tidak ingin hanya menjadi seseorang yang datang ketika kamu sedang punya waktu. Aku memang tidak terburu-buru,” lanjut Bayu. “Tapi aku ingin tahu apakah kita sedang menuju sesuatu yang sama.”
Pertanyaan itu membuat Nitara kehilangan kata-kata.
Ia seharusnya bisa menjawab.
Selama ini ia sendiri yang memperlihatkan kepada orang-orang bahwa Bayu adalah seseorang yang dekat dengannya.
Namun ketika Bayu meminta kepastian, Nitara justru merasa gugup.
“Aku nyaman sama kamu.”
Itulah satu-satunya jawaban yang bisa diberikan.
Bayu tersenyum kecil.
“Aku juga nyaman sama kamu.”
Nitara menunduk.
“Kalau begitu…”
Ia berhenti. “Kita pikirkan pelan-pelan.”
Namun setelah percakapan itu selesai, pikirannya justru semakin kacau.
Ia ingin hubungan itu diakui.
Bukan hanya karena Bayu, tetapi karena ada seseorang yang ingin ia yakinkan.
Ares.
Nitara ingin lelaki itu tahu bahwa dirinya sudah benar-benar melupakan malam mereka.
Ia ingin Ares melihat bahwa hidupnya tetap berjalan.
Bahwa dirinya bisa memiliki seseorang yang lebih matang, seseorang yang dianggap lebih cocok.
Namun semakin kuat keinginannya membuktikan hal itu, semakin besar pula kegelisahan yang muncul.
Seolah ada bagian dari dirinya yang menolak semua kebohongan tersebut.
Malamnya, Nitara kembali membuka media sosial.
Ia melihat foto terakhir bersama Bayu.
Jempolnya berhenti di layar.
Foto itu terlihat sempurna.
Semuanya terlihat seperti hubungan yang bahagia.
Namun Nitara tahu apa yang tidak terlihat di balik foto tersebut.
Ia tidak sedang melihat Bayu ketika mengambil foto itu.
Sebagian kecil pikirannya justru sedang menunggu apakah seseorang akan melihat unggahan tersebut dan ketika ia menyadari hal itu, Nitara langsung merasa bersalah.
“Kenapa aku masih melakukan ini?”
Ia meletakkan ponsel.
Nitara mulai mempertanyakan siapa sebenarnya yang sedang ia perjuangkan.
Bayu?
Dirinya sendiri?
Atau Antares?
Di tempat lain, Antares duduk sendirian di balkon apartemennya.
Ponselnya tergeletak di atas meja.
Sebuah unggahan Nitara baru saja muncul.
Foto bersama Bayu.
Antares menatapnya beberapa saat.
Kemudian layar ponsel dimatikan.
Ia tidak akan menghubungi Nitara, selama perempuan itu masih menginginkan jarak.
Namun Ares seolah masih menunggu, bahkan jika hitungannya benar dan malam itu memang membuahkan hasil, hanya dalam hitungan minggu semuanya akan terjawab. Jadi, selama ini Ares diam bukan mengabaikan, ia justru menghitung sesuatu yang dipelajari dari beberapa akun media sosok dokter kandungan.