sebetulnya kalau mau jujur, Jati lebih suka sekolah di kotanya sendiri. Sebuah kota kecil saja memang tapi rasanya justru kampung halamannya itu ia seperti mendapatkan kepuasan tersendiri. Tak seperti akhir-akhir ini yang dirasakannya. Memang sih, kalau dibanding dengan SMA di kota kecilnya, disini jauh lebih baik mutunya, jauh sekali bahkan.
Walau demikian, apalah artinya itu kalau justru dirinya sendiri tak mampu menerima pelajaran demi pelajaran yang disampaikan. Dirinya banyak ketinggalan. Hampir-hampir jati tidak naik kelas dua. Bukankah memalukan sekali seandainya hal itu terjadi? Padahal dari SMP asalnyam jati termasuk yang mendapat ringking.
Setidak-tidaknya diurutan ke tiga mampu ia duduki. Sehingga nilai yan sedikit lebih rasanya rugi kalau hanya meneruskan dikota. Makanya ia p