Di malam ruangan yang gelap dan hanya di terangi oleh beberapa lilin berbentuk symbol kramat, beberapa pria menuju usia langsia, berjubah putih panjang, berjanggut putih dan menggunakan topi berbentuk aneh sedang berkumpul.
Tidak lama setelahnya datanglah segerumbul sosok menggunakan pakaian serba hitam dan salah satu diantara mereka ada pemimpin yang mereka sapa dengan panggilan Alfa.
Kini ruangan kecil itu terasa padat walaupun begitu, muncullah beberapa orang lagi dengan penampilan tidak jauh beda tapi beberapa sosok itu ternyata membawa sebuah sosok wanita yang sedang di gotong.
“baringkankan dia di dalam sana” titah salah satu pria tua itu dengan menggerakkan dagu untuk menunjukkan arah.
“baik” jawab beberapa pria secara serentak.
Kini tubuh lemah itu telah berbaring di tempat yang di inginkan. Satu persatu dari beberapa pria yang berpakaian serba hitam meninggalkan ruangan hingga kini ruangan hanya di isi oleh beberapa pria berjubah putit aneh juga alfa dan betanya.
Udara malam ini serasa sangat menusuk kulit tapi ternyata itu tidak menghalangi beberapa sosok yang ada di dalam ruangan itu untuk melaksanakan kegiatan mereka.
Sebuat wadah bewarna emas kini telah berada di tnagan seorang pria itu lalu di sampingnya pria tua lainnya memberi sebuah pedang berukuran kecil dengan ukiran-ukiran indah sebagai pegangannya.
Semua yang ada di dalam ruangan itu mengarahkan pandangannya pada seseorang pria tinggi dengan rambut abu-abu yang sangat terang. Mata indahnya sebiru lautan tengan dan menyejukkan tapi menjadi mat ayang paling mematikan di kerajaan dallas.
“silahkan Alfa” ucap pria tua yang memegang pedang dan sedang mengisyaratkan Alfa untuk menerima pegang yang dia peganggi.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, pria itu menerima kedua bunda tersebut lalu melangkah semakin mendekati wanita yang sedang di baringkan di lantai dengan posisi telentang.
Pria itu terlebih dulu berjongkok lalu menatap wajah wanita yang beberapa hari lalu dia temukannya. Senyum miring seolah sangat mencemoh sosok itu cukup lama.
Entah apa yang dipikirkan pria itu tapi semua sosok masih memperhatikan dengan seksama. Dalam diam semua bertanya-tanya namun ketika melihat sang pria terbahak sangat keras, kebinggungan itu berubah menjadi rasa khawatir.
Tidak ada yang bisa menebak isi pikiran pria itu namun rasa iba seketika hadir saat memperhatikan tubuh kecil, lemah dan tak berdaya itu bergetar hebat menandakan dirinya sedang ketakutan.
Mata wanita itu terbuka lebar seolah menatap tapi pada kenyataanya tak ada lagi cahaya atau gambar yang bisa tertangkap oleh retina matanya.
Dalam deritanya wanita itu terus memohon pertolongan namun nyatanya pertolongan tak kunjung datang untuknya. Masih dalam ketakutan juga kegelapan yang hanya dilihatnya seorang, tiba-tiba sebuah benda dingin menyentuh kulitnya.
Awalnya wanita itu tidak bisa menebak benda apa itu namun ketika rasa perih dan tidak lama setelahnya lengannya yang di sentuh benda itu terasa basah, dia sadar jika tubuhnya sedang menggeluarkan darah segar.
Wanita itu meringis bahkan menjerit dengan sangat keras karena sakit yang di deritanya. Sayatan itu tidak hanya membuat darah segar mengalir dan tertampun di wadah melainkan juga seolah membakar tubuh lainnya
“ampun tuan, ampuni saya. Tolong tolong” jerit wanita itu untuk pertama kalinya.
Tidak ada yang menanggapi rancauan wanita itu, bahkan dengan santainya pria itu menahan tangan si wanita yang berusaha berontak dan di arahkan pada wadah emas.
“ampuni saya tolong …. Saya tidak tahu kesalahan saya … huppp … hupppp”
Suara itu seketika tidak teredam karena sebuah kain sedang menyumpal bibirnya. Selain menyumpal bibir wanita itu, sang pria ternyata tanpa canggung duduk di atas tubuh wanita itu lalu kini menggores lengannya tanpa ragu.
Darah yang mengalur dari lengan sang pria ternyata juga dibiarkan jatuh dan bercampur dengan darah sang wanita. Setelah meresa cukup, bekas sayatan itu seketika tertutup dengan sendirinya bahkan seolah tidak pernah terjadi.
Melihat hal itu, beberapa pria tua tersenyum puas lalu seseorang dari mereka menerima wadah emas tersebut. Ketika wadah telah berada di tangan pria tua, mereka akhirnya membuat lingkaran lalu membaca mantra yang terdengar aneh.
Wadah emas yang awalnya menampul darah seketika bercahaya terang dan warnah darah seketika berubah menjadi biru gelap. seluruh tenaga sang wanita seolah terkuras habis karena harus berontak sekaligus menahan rasa perih yang menjalar namun ternyata itu tidak cukup untuk menghilangkan kesadaran wanita itu.
Setelah mantra telah di ucapkan, mereka menuangkan cairan bewarna biru gelap tersebut ke dalam gelas. Ada dua gelas yang di sediakan. Gelas pertama untuk pria itu dan gelas satunya untuk sang wanita.
Ritual selanjutnya adalah meminum darah itu agar bercampur dengan darah lainnya namun karena kondisi wanita yang memprihatinkan, pria itu tidak kehabisan akal.
Di minumnya segelas darah dengan rakus, lalu di ambilnya gelas satunya lagi. pria itu sekali lagi memindahkan cairan ke dalam mulutnya namun ternyata hanya untuk di tampung selanjutnya pria itu mendekatkan bibirnya ke bibir wanita tersebut.
Di paksanya cairan itu masuk kedalam tenggorokan sang wanita. Walaupun berontak untuk menolak, nyatanya cairan tetap masuk ke dalam mulutnya.
Cairan itu telah masuk dan bercampur dengan cairan darah lainnya tiba-tiba tubuh ringkih wanita itu melayang dan menggeluarkan cahaya merah yang sangat terang hingga membuat mereka yang ada di dalam ruangan itu menutup mata.
“Sesuai yang ku harapkan” ucap pria tampan itu dengan wajah sangat puas.
Tubuh wanita itu masih melayang dan cahaya yang ada di tubuhnya bukannya meredup malah kian bercahaya terang seiring dengan bulan yang bewarna merah.
Seolah tahu jika pemimpin telah menemukan matenya, Suara lolongan terdengar sangat keras bahakn menggema seluruh penjuru hingga mereka yang ada di ruangan hanya bisa tersenyum tipis.
******
Semenjak kejadian itu, pria yang di sebut alfa dan beta tidak pernah lagi menggunjunginya. Entah sudah berapa lama wanita itu berada di ruangan yang sunyi ini. Awalnya wanita ini sudah pasrah menerima takdinya namun saat seseorang yang membantunya menggucapkan kalimat yang menusuk hatinya, gadis itu kehilangan semangatnya untuk hidup. seseorang yang tidak gadis itu kenal berkata
“Kau adalah tawanan yang sangat menyusahkan. Kau sudah cacar tapi kami tetap harus menggurusimu. Kau adalah sampah yang tidak layak” hardiknya lalu melempari gadis itu dengan sisir yang di pegangnya sedari tadi.
“Bangunlah bedebah.” Umpatnya dengan suara keras hingga menggema di ruangan itu.
“Kau sudah tidur selama sebulan dan itu tidak juga cukup untukmu?” Ujarnya meremehkan.
“Apa salah saya pada anda Nyonya?”
“Nyonya?, kau panggil aku Nyonya. Ya seharusnya aku sudah bergelar Nyonya tapi karena kedatanganmu, semua rencanaku gagal” Ungkapnya lalu menarik rambut sang gadis lalu di benturkan ke dinding beberapa kali hingga darah segar menggalir dari kening gadis itu.
“ampun … ampun Nona, ampun mohon anda berbelas kasih pada saya yang buta ini. Ampun Nona, ampun” jerit sang gadis tapi wanita kejam itu tidak juga menghiraukannya.
“sekarang makan ini dan rasakan, rasakan rasa sakit yang tidak sebanding karena kedatanganmu yang menghancurkan masa depanku wanita sialan” katanya sambil memaksa mulut gadis itu terbuka lebar.
Seseorang melangkah mendekatinya lalu tanpa rasa kasihan sama sekali, orang itu menguyur gadis yang terbaring ti lantai tanpa alas apa pun dengan sebaskom air. Air sukses membasahi tubuh sang gadis tapi selain membuka mata, dia tidak bisa melakukan perlawanan. Kini, pelaku utama dengan santainya berkata
Semuanya tidak sampai di situ karena setelah menelan benda padat yang harus di kunyah dan cairan dengan rasa yang aneh, tubuh gadis itu terasa terbakar. Selain itu nafasnya tidak lagi teratur normal dan seolah ada sesuatu yang mencengkram perutnya.
“Aku tidak tahu, apa yang Alfa pikirkan sampai memeliharamu” Ujarnya sarkis.
“Tolong jangan menyakitiku Nona” pinta gadis itu lembut.
“Aku sudah sangat sabar denganmu. Kau seharusnya tahu diri” Bentaknya pada gadis buta yang sedang dia aniaya.
“Maafkan saya Nona. Anda bisa tinggalkan saya sendiri kalo anda tidak suka” Perintah si gadis buta.
“Kau berkata seolah kau adalah ratu di istana ini. Seharusnya kau sadar” Katanya lalu memukul kepala gadis buta itu.
“Ampun Nona ampun. Saya mohon Nona jangan pukul saya” pintanya dengan tangis yang tidak bisa di bendungnya lagi.
“Seharusnya kau mati saja agar tidak menambah beban kami di istana ini” ucapnya sambil menarik rambut sang gadis dengan keras hingga gadis itu mengadu kesakitan tapi tidak bisa melawan.
“Aku sudah mengawasimu selama lima bulan demi bertemu alfa tapi sampai saat ini, Alfa juga tidak datang. Gosip yang mengatakan kau adalah Queen ternyata salah.” Bebernya sekaligus menggerutu.
“Sekarang kau pilih kau ingin mati dalam keadaan seperti apa?” hardik sang wanita
“ampun nona ampuni saya tolong jangan siksa saya” jerit wanita itu namun wanita yang sedang menarik rambut wanita bernama anne itu seolah sudah tidak memiliki belas kasih hingga dengan teganya menarik rambut Anne hingga turun dari tempat pembaringan.
Kini tubuh ringkih itu akhirnya terbaring di lantai dengan rambut yang masih di tarik oleh wanita lain, tubuhnya mengeluarkan darah segar di beberapa tempat, bahkan wajahnya pun tidak lolos dari pukulan wanita itu.
Ketika wanita itu terus menyeret tubuh Anne, pintu kamar seketika terbuka hingga membuat sang wanita terbelalah takut menatap tubuh tegak dan berkarisma di hadapannya.
“alfa. Saya menyambut kedatangan anda” ujarnya lirih karena tubuhnya terlanjur bergetar ketakutan.
“sambutan yang menabjubkan” ucapnya sarkis sambil sedikit menunduk memperhatikan tubuh ringkih matenya yang terbaring di lantai dengan posisi telentang.
“al .. alfa, saya … saya bisa menjelaskannya” ujar wanita itu lagi dengan terbata-bata.
“bawa wanita ini ke penjara” titah Alfa dengan wajah dan suara yang datar.
Tidak lama setelah mengucapkan kalimat itu, beberapa pengawal memasuki ruangan lalu mereka mengeret sang wanita keluar dari kamar. Wanita it uterus menjerit memohon ampun dan belas kasih sang alfa namun hingga sosok juga suaranya tidak terdengar lagi, pria yang di sapa alfa tak kunjung membuka mulutnya.
“saya tidak tahu kesalahan apa yang telah saya lakukan tuan” ujar Anne dengan isak tangis yang lolos dari bibirnya.
“saya tidak bisa berbuat apa pun sekarang ini” katanya lagi lalu terbahak di akhir kalimat namun jelas tawanya bukan tawa kebahagiaan.
“saya sekarang buta dan lumpuh. Untuk apa saya hidup dan mengapa anda membuat saya masih hidup” jerit Anne menggeluarkan semua amarah yang terpendam selama ini.
Tubuhnya kini tidak bertenaga bahkan saat ia berniat menggerakkan tangan dia tidak sanggup. Tersadar tidak sadar, nyatanya hanya kegelapan yang terlihat hingga ia memilih memejamkan mata kembali.
Dalam diam pria itu mendekati wanita buta lalu dengan sekali gerakan, wanita itu telah berada di gendongan sang Alfa. Alfa segerah meraih tubuh wanita itu lalu dengan sekali gerakan, tubuh alfa dan sang gadis sudah berpindah tempat.
Dikamar yang berbeda dari sebelumnya, Alfa lalu membaringkan sang gadis di tempat tidur dan tidak butuh waktu lama, alfa sudah berhasil menghacurkan pakaian yang di gunakan sang gadis dengan sekali gerakan.