"He will stay at your house?" Daniel mengangkat wajahnya cepat dari layar komputer saat aku mengatakan bahwa Ben akan tinggal di tempatku selama beberapa hari setelah dia keluar dari rumah sakit.
"Ya, dia butuh tempat untuk menyembuhkan luka fisik dan hatinya sebelum dia kembali ke Ubud." Jawabku dengan posisi kepala menunduk saat meneliti satu persatu kertas di hadapanku, dan tak jarang tanganku sibuk menyelipkan poni rambutku yang mulai memanjang ke belakang telinga.
Aku mendongak dan melihat Daniel mengerutkan bibirnya kemudian mengangguk. Kembali kepalanya diarahkan ke depan layar komputer. Bila sedang bersiap untuk melakukan shipping seperti sekarang ini, aku sering menghabiskan waktu kerjaku di ruangan Daniel. Ini dikarenakan aku terlalu malas untuk bolak balik dari meja kerjaku ke ruangannya, hanya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan Daniel yang seharusnya tidak perlu diajukan. Dia hanya malas mencari dan membaca, karena dia merasa dia punya aku untuk menyelesaikan permasalahannya itu.
"You are such a nice person to him. He should not get your kindness after the words he said to you last time." Daniel mengoceh sendiri di depan komputernya. Yeah salah besar aku kemarin mengadu pada Daniel tentang sikap Ben padaku saat aku menemuinya di Ubud. Tapi bagaimana lagi saat itu aku sedang kesal banget dan satu-satunya teman untuk berbagi cerita hanya Daniel.
"It's okay...lagian kata-kata manis apa sih yang kamu harapkan keluar dari mulut seorang yang sedang patah hati." Aku mencoba berpikir positif jauh berbeda dari kesanku dulu saat menghadapai ketusnya Ben.
"Kamu pernah patah hati?" Tanyanya tiba-tiba. Daniel melirikku. Sekian tahun aku bersamanya ehmm maksudku bekerja dengannya kami tidak pernah berbicara tentang cinta atau patah hati. Ya tidak ada pembicaraan pribadi seperti itu, kalaupun ada itu masih sekitar tentang keluarga kami. Seperti yang sudah kubilang Daniel paling sering bercerita tentang keluarga dan kampung halamannya. Mungkin saja itu imbas dari rasa rindunya pada keluarganya.
Bahkan aku sampai tidak pernah menanyakan apakah Daniel punya seorang kekasih. Aku tahu Daniel punya beberapa teman ekspat di Bali ini dan mereka sering ngumpul dan hang out setelah pulang kerja. Dan diantara mereka ada beberapa perempuan tapi aku tidak tahu hubungan Daniel dengan perempuan-perempuan itu.
Dan aku? Selama bekerja di Bali aku bahkan sampai lupa untuk mengenal lagi dengan yang namanya Cinta. Laki laki yang kukenal hanya rekan kantorku dan para klienku. Dan tentu saja dengan mereka tidak ada perasaan hati yang dilibatkan. Sudah cukup lama aku membiarkan hatiku tidak bekerja dengan semestinya.
Agar terlepas dari Daniel, aku seharusnya mempekerjakan lagi hatiku. Membuatnya kembali berdebar. Namun kapan? Dan dengan siapa? Dan Daniel, akan lebih baik lagi bila dia juga punya seorang kekasih. Dan bila ia disibukan dengan seorang wanita maka dia tidak selalu mengganggu hidupku. Kenapa bule yang katanya keren ini sama sekali tidak punya kenalan atau seorang kekasih di sampingnya? Aneh...atau jangan jangan...dia...ah...stop berpikir yang aneh-aneh Nat!
"Tentu, memangnya kamu nggak?" jawabku dengan balas mengajukan nada bertanya dalam kalimatku, secara tidak langsung aku ingin mencari tahu tentang kehidupan cinta Daniel.
"Tidak." Jawabnya penuh percaya diri. Aku mengernyit dan tersenyum tidak percaya. "You don't believe me?" Daniel memicingkan matanya ke arahku. Aku mengedikkan bahuku. Dia tertawa kecil.
"Serious!"
"Ah...you know Daniel, seseorang yang nggak pernah merasakan patah hati berarti nggak pernah merasakan cinta. Sampai usiamu sekarang aku gak percaya kamu belum pernah jatuh cinta." Daniel sedikit mencibir kemudian mengernyit.
Dulu waktu SMA saat aku patah hati, aku menangis semalaman bahkan sempat sempatnya izin tak masuk sekolah karena tak ingin melihat laki laki yang sudah berhasil membuatku patah hati. Itu dulu saat SMA, saat kehidupan sosialku lebih dikuasai oleh hal berbau cinta dan cowok. Sekarang? Aku pastikan tidak akan menangis sampai berhari hari atau bahkan sampai membenci dunia karena menuduhnya telah berlaku tak adil.
"Daniel, apa kamu pernah begitu sakit hati pada seseorang sampai sampai..."
"No!!" Daniel menggeleng keras telunjuknya mengayun kekiri dan kekanan. "Jangan pernah berpikir tentang hal itu. Aku tidak secengeng orang-orang di roman-roman picisan itu. Sulit jatuh cinta lagi karena pernah begitu tersakiti di masa lalu? Oh come on!!" Daniel mengakhiri kalimatnya dengan cibiran kecil. Yep mungkin aku setuju dengan Daniel untuk hal ini namun cara dia mengungkapkannya sama sekali tidak menawan dan membuatku sedikit berubah pikiran.
Aku terdiam. Susah memang bicara dengan manusia yang selalu berpikir rasional dan nggak pernah menyertakan perasaan di dalamnya. Pantes saja tak ada wanita yang mencintainya. Mungkin saja awalnya banyak wanita yang tergila-gila padanya karena melihat fisiknya tapi setelah itu?? Daniel is totally a heartless jerk omelku dalam hati.
Tapi..Daniel tidak sepenuhnya kejam...buktinya saat di rumah sakit waktu itu, Daniel mempu berperan sebagai seseorang lelaki gentleman. Hatiku sibuk menganalisa laki-laki bule satu ini. Bahkan Daniel pernah menunjukkan sisi sentimentilnya saat kangen dengan ibunya. Owhhh....a heartless mama's boy? Benar-benar kepribadian yang aneh.
"Kenapa orang yang patah hati selalu merasa bahwa dunia seolah memusuhi mereka? Dunia lah yang pada akhirnya akan memberikan mereka yang terbaik." Gumam Daniel dengan tangan yang sibuk memilah milah tumpukan kertas di hadapannya. Sesaat aku terperangah dengan kalimat yang menurutku sangat tidak Daniel tapi keluar dari mulut orang itu.
"Hey ...They still love each other..keadaan yang membuat mereka harus berpisah. Mereka terpaksa Daniel. Just imagine that! It feels like hell dan pantas saja mereka mengaggap dunia sangat tidak adil pada mereka." Balasku meski dalam hati kembali lagi aku setuju dengan kata kata Daniel walau aku tak tahu apakah dia sedang sadar atau tidak saat mengatakannya tadi.
Daniel tersenyum tipis menanggapi kata kataku.
"And also it turns the person into a jerk." Sambungku lagi dengan wajah ditekuk kesal mengingat kejadian malam itu, dan kali ini mampu membuat senyum Daniel berubah jadi tawa.
"Nat...sudah kontak Anna untuk pameran Thailand?" Daniel mengembalikan topik pembicaraan kami. Aku mengangguk. "Good! Semoga anak kecil-mu itu tidak merepotkanmu. Kalau dia tinggal ditempatmu berarti kamu harus meninggalkannya sendirian Rabu besok." Daniel nyerocos tanpa menatapku, seperti biasa pandangannya tetap lekat ke layar laptop dan sesekali ke arah kertas kertas di hadapannya. Aku mencibir.
"It's okay. Dia sudah dewasa. Kalau masalah makan, aku bisa meminta Wayan membantuku menyediakan makan 3 kali sehari untuknya." Ujarku juga tanpa melihat ke arah Daniel.
"Nat..."
"Hmmm..."
"Bagaimana kalau kamu jatuh cinta padanya?"
Aku menoleh kearah Daniel dengan kecepatan kilat.
"What?!!" suaraku naik beberapa oktaf.
"Kamu tidak dengar pertanyaanku?" balas Daniel santai. Kepalanya bergerak menghadap ke arahku. Dia tersenyum tapi sangat menyebalkan.
"Aku dengar tapi yang aku tanyakan itu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" sengitku.
"Aku lihat kecemasanmu waktu itu."
"Come on Daniel. Kan aku sudah bilang kalau dia adik sahabatku. Waktu itu aku hanya memikirkan Rena dan..." Aku segera menghentikan penjelasanku. "Why am I telling you this? Aku rasa aku gak perlu menjelaskan sesuatu pada kamu. Pertanyaanmu benar-benar aneh!"
Daniel tertawa lagi dan kali ini jauh lebih menyebalkan.
"Okay we will see." Sahutnya di sela sela sisa tawanya dan semakin mmembuatku kesal. Aku bangkit dari sofa kemudian membanting kertas-kertas berisi list barang-barang yang akan dikiutsertakan dalam pameran di Bangkok weekend ini di meja di hadapannya.
"Aku mau ke bagian produksi." Tukasku. Sikap kasarku malah diladeni Daniel dengan tawanya. Aku kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangannya. Masih terdengar sisa tawa Daniel mengiriku langkahku ke luar.
****
Kakiku baru saja menginjak teras paviliunku saat sayup terdengar dari dalam kamar lagu With or Without You, lagu dari salah satu album terbaik U2 menurutku. Aku masih terpaku di depan pintu. Terasa sangat aneh saat tahu ada orang lain yang saat ini tinggal di rumahku apalagi orang itu berjenis laki-laki.
Selama Ben pindah kerumahku setelah keluar dari rumah sakit, aku belum sempat bicara dengannya. Dan ini hari kedua Ben berada di rumahku dan tidur di tempat tidurku. Aku yang menjemputnya keluar dari rumah sakit kemarin dan setelah mengantarnya ke rumah, aku langsung kembali ke kantor. Semalam aku lembur untuk mempersiapkan shipping barang-barang yang akan diikutsertakan dalam pameran di Bangkok hingga pukul 10 malam dan setiba di rumah Ben sudah tidur dan belum bangun saat aku sudah berangkat ke kantor. Terbiasa hidup sendiri dan bebas mengenakan apapun di rumah, membuat aku cukup kagok saat Ben ada di sekitarku. Aku bahkan hampir berganti pakaian di kamarku kalau tidak cepat ingat saat itu Ben masih tertidur pulas di atas tempat tidurku. Huuuffffftttt!!!
Tiba-tiba pintu perlahan terbukan, Ben cukup kaget dengan keberadaanku yang tepat di bibir pintu dengan kondisi mematung. Ada keheningan tercipta sesaat. Mulutku sempat membuka sedikit hendak mengatakan sesuatu namun tak ada kata yang keluar yang artinya aku sendiri tidak tahu harus berkata apa. Kecanggungan begitu terasa antara aku dan Ben di saat kami sedang tidak diliputi oleh emosi masing-masing. Ternyata emosi memang cukup efektif membangun komunikasi diantara dua pribadi. Meski itu bukan komunikasi yang mengenakan. Tapi berada di situasi tanpa emosi seperti ini malah membuat aku semakin bingung menghadapi Ben. Aneh. Kenapa bisa seperti itu? Ini bukan seperti diriku yang sebenarnya. Bagaimana mungkin aku kehilangan komunikasi di depan laki-laki ini.
"Baru pulang Kak?" Senyumnya tersungging meski masih belum sempurna karena luka disudut bibirnya baru mulai mengering. Aku mengangguk kemudian balas tersenyum kaku. Aku cepat melintas di hadapannya berusaha menyembunyikan rasa canggungku yang kurasa mulai berlebihan. Terdengar langkah kakinya mengikutiku.
"Kak, maaf aku tadi melihat koleksi CD nya dan aku.." Aku berbalik mencoba tampil percaya diri di hadapannya. Bersikap wajar seperti seorang kakak dan pemilik rumah. Dia tidak melanjutkan kata-katanya hanya menatapku sambil berharap aku paham dengan maksudnya.
"Nggak papa. Anggap aja rumah sendiri. Lagian kamu kamu udah seharian tidur nggak bangun-bangun." Aku tersenyum tipis memaklumi apa yang baru saja ia lakukan. Dia mengangguk pelan ada sekilas senyum yang kembali tersungging di bibirnya.
"Maaf ya kak. Gara-gara aku, kakak jadi tidur di sofa." Dia kembali tersipu. Aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya kemudian mendaratkan tubuhku di sofa. Tempat aku tidur semalam. Dan hey....tidakkah kamu dengar? Dia sudah ber-aku-aku sekarang. Berarti dia sudah meruntuhkan tembok keangkuhannya sekarang. Aku tersenyum dalam hati dan merasa lebih rileks saat ini. Dan sikap Ben dengan senyumnya yang diobral membuat aku bisa menguasai diriku dan bersikap normal seperti diriku yang biasanya.
"Ben!" Aku menepuk sofa disebelahku kemudian menggerakan kepalaku ke samping meminta ia duduk. Ben berjalan ke arahku dan kemudian duduk di sampingku.
"Kapan aku harus beritahu Rena?" Ben menunduk. Sikapnya persis seperti anak SD yang siap mendapat ceramah dari gurunya. Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya tampak sedang berpikir. Masih dengan menunduk dia menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Entah kenapa tiba-tiba hatiku berdesir. Sialan kenapa aku seperti ini? Sialan Daniel! Pasti gara-gara omongannya aku jadi tersugesti. Aku cepat mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
"Kalau boleh masalah ini...uuhmmm...Kak...tolong bantu aku ya. Kalau boleh Kak Rena dan Mama nggak perlu tahu masalah ini. Aku sudah bilang ke Sam untuk juga merahasiakannya. Setelah luka-luka ini sembuh aku akan kembali ke Ubud untuk nerusin pekerjaanku"
Aku berpikir sebentar. Ya kalau melihat keadaan Ben saat ini mungkin lebih baik Rena danTante Eta nggak perlu tahu. Karena Tante Eta hanya tahu Ben berada di Bali untuk bekerja.
"Oke kalau begitu memang sebaiknya Rena dan tante Eta nggak perlu tahu masalah ini." Kataku pelan.
"Kak, masalah biaya rumah sakit. Aku akan membayarnya kembali." Ben memperbaiki posisi duduknya. Ia memutar tubuhnya menghadapku.
"Itu duit Daniel bosku. Nggak harus ganti sekarang."
"Nanti aku transfer ke rekening Kak Ata aja, bagaimana?"
Aku mengangguk.
"Oke terserah kamu. Oh ya...hari Rabu besok aku ke Thailand ada pameran di sana. Kamu nggak papa sendiri di sini?" Kening Ben sedikit mengernyit.
"Uhmm...kalau masih boleh aku nginap disini dulu sampai Minggu." Ben berkata hati-hati.
"Oke nggak apa-apa. Nanti kuncinya kamu titipkan ke Wayan aja."
Aku kemudian bangkit. Namun tangan Ben cepat menangkap tanganku. Aku lumayan kaget.
"Kak..." Ben masih menggenggam tanganku. "Malam ini aku yang tidur di sofa." Ben kemudian ikut bangkit. Kini posisi berdiri kami cukup dekat. Aku langsung kagok dengan situasi seperti ini. Yang akhirnya aku bisa lakukan adalah...
"Luka kamu udah mulai mengering." Refkeks tanganku menyentuh luka di sudut bibirnya dan seketika Ben merintih kesakitan dan terlepaslah genggaman tangannya. Ouch.... sepertinya aku menyentuhnya terlalu keras.
"Ben...maaf..." aku meringis ngeri melihat ekspresi wajah Ben yang menahan sakit. Ben mengayunkan telapak tanganya sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja.
"Nggak apa-apa Kak." Ben masih meringis. Tiba-tiba ada rasa geli menjalar di hatiku. Aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Sorry...." Kataku di sela tawa. Hal ini akhirnya membuat Ben pun ikut tertawa bersamaku. Kecanggungan itu sudah mulai berlalu. Setelah mandi aku membantu Ben mengoleskan obat di beberapa luka di wajahnya dan membantu mengganti perban di bagian kepalanya.
Ben bahkan membantuku menyiapkan makan malam kami.
"Udah kamu nggak usah ikut di sini. Duduk sajalah di depan sana." Aku mengusir Ben yang bersikeras membantu mengupas bawang Bombay. Aku memang berniat membuat Spaggheti dengan bahan seadanya yang tersedia di kulkas. Aku tersenyum melihat Ben mulai mengiris bawang Bombay dengan gaya kakunya. Aku memotong sosis sapi dan membuka kaleng kornet.
"Sering masak sendiri kayak gini Kak?" Tanya Ben sambil tangannya sibuk menghalau aroma pedas yang keluar dari bawang Bombay yang sedang ia iris.
"Kalau lagi pengen aja. Kebenaran sekarang lagi pengen makan Spaggheti Ala Me." Dengan bangga aku menunjuk diriku sendiri. Ben tertawa memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih. Melihat Ben seperti ini aku begitu penasaran dengan sosok Amelia, kekasihnya itu. Pasti gadis itu sangat cantik dan tentu saja sangat serasi bila ada di sisi Ben.
"Ben..." Aku memindahkan irisan sosis ke dalam piring kosong kemudian memasukan Spaggheti ke dalam air rebusan yang baru saja mendidih.
"Ya..."
"Uhmmm...apakah kamu udah benar-benar putus kontak dengan si Amel?' Ben terdiam. Tangannya saja yang bergerak memindahkan irisan bawang Bombay ke piring yang sudah berisi sosis.
"Begitulah.." Jawabnya pendek bahkan suaranya hampir menyerupai bisikan.
"Maaf ya...aku bikin kamu.."
"Nggak apa apa Kak." Dia memaksa tersenyum.Telunjuknya kemudian mengarah pada panci yang sedang merebus Spaghetti.
"Itu nggak kelamaan Kak? Ntar terlalu lembek.." Aku tahu Ben sedang berusaha menghindari pembicaraan mengenai Amel. Aku hanya tersenyum tipis kemudian beranjak mendekati kompor. Kutarik sehelai Spaghetti dari dalam panci sehingga membuat aku sedikit menjerit karena panas. Wajah Ben cukup panik saat melihatku menjerit namun kemudian lega saat melihat aku menertawai kebodohanku sendiri.
Potongan Spaghetti di tanganku tadi kulempar dengan sekuat tenaga ke arah tembok dan potongan mie tersebut sukses mental ke lantai. Ben hanya terpana melihat aksiku yang aneh tadi.
"Itu tandanya mienya belum matang." Kataku menjawab kebingungan Ben. "Kalau mienya sukses nempel di tembok itu artinya udah matang." Sambungku lagi sambil memungut potongan mie yang tadi jatuh ke lantai. Ben tersenyum kemudian tertawa kecil.
"Ternyata begitu caranya. Ajaib juga ya.." tukasnya. Kami kemudian tertawa bersama. Kami makan sambil kembali mengenang masa kecil di Solo. Tak ada nama Amel yang disebut karena aku rasa Ben lebih baik melupakan sesaat tentang perempuan yang katanya ia cintai itu.
***
"How's your little boy?" Daniel menghempas tubuhnya si sampingku. Pertanyaannya benar-benar membuatku kesal. Aku malas menjawabnya dan lebih memfokuskan perhatianku pada pekerjaan yang ada di depanku. Mempersiapkan pameran di Negara orang memang jauh lebih merepotkan.
"Is he alright?" Daniel kembali merecokiku dengan pertanyaan tentang Ben. Aku tahu dia hanya ingin menggodaku. Seharusnya memang pekerjaan ini kulakukan di mejaku saja ketimbang di ruangan si bule ini.
"Baik." Jawabku singkat. Mataku tetap fokus pada kertas-kertas di depanku.
"Good. Berarti dia bisa ditinggal sendirian kan selama kamu di Bangkok." Daniel menarik lembaran kertas di meja.
"Hey...why are you so serious this morning?" Daniel kembali mengusik.
"I am working Boss! And please don't bring that personal thing during office hour." Gerutuku. Daniel malah tertawa kecil.
"Hey kamu marah karena aku bertanya-tanya tentang si little boy itu."
"C'mon Daniel...stop saying 'little boy'. Hate it!"
"Oke...oke...calm. Sorry. Oh ya tolong kirimkan file Catherine yang terakhir?" Daniel mengubah topik. Yeahhh right....mana pernah Daniel tahu file buyer-buyernya itu disimpan.
"Daniel udah waktunya kamu mengingat dan menyimpan semua file yang aku kasih ke kamu." Aku berkata dengan nada yang diseret karena memang aku sudah bosan mengulang kata-kata ini.
"Aku kan punya kamu Nat." jawab Daniel enteng. Aku berdesis kemudian menggeleng tak percaya.
"I am not your assistant Okay! I am your Marketing Director. Remember that!" jawabku tegas. Daniel tertawa tanpa suara di sebelahku.
"Daniel, sudah saatnya kamu punya seorang asisten." Usulku sambil melirik ke arahnya.
"No. Aku nggak suka ada orang lain yang mengutak-atik hal-hal pribadiku." Aku mengernyit kemudian berdecak.
"Terus selamanya kamu mau buat aku repot?" Aku melotot padanya.
"Okay...aku janji sekarang akan mulai menyimpan email-email klien kita dan tidak akan merepotkanmu dengan hal-hal yang nggak penting." Daniel mengacungkan dua jarinya tanda dia sedang bersumpah.
"Okay...we will see.." dengan nada kuseret karena aku sangat yakin janji Daniel hanyalah janji di mulut belaka.