Keajaiban dunia ke delapan! Ben memelukku. Iya si anak kecil yang angkuh itu memelukku saat aku pamitan padanya untuk berangkat ke Bangkok. Mungkin saja aksi pelukan ini tidak akan menjadi suatu yang istimewa bila tidak ada story yang menyebalkan sebelumnya. Dulu bahkan aku pernah membayangkan dia akan memelukku waktu pertama kali kami bertemu di airport tapi ternyata sambutan dingin yang aku dapat.
"Hati-hati ya Kak. Sukses dengan pamerannya." Bisik Ben saat aku masih dalam pelukkannya. Hmmm... ini di luar dugaan. Aku mengangguk kemudian tersenyum padanya saat tubuh kami mulai berjarak.
"Kamu juga hati-hati kalau mau ke Ubud nanti. Aku akan telepon kamu kalau pulang." Kali ini Ben yang mengangguk dan tersenyum. Ketika dipeluk Ben tak ada perasaan yang istimewa tapi ketika aku akan masuk ke taksi yang akan membawaku ke airport dan melihat Ben melambai padaku dengan senyum manis yang terus tersungging di bibirnya entahlah aku merasa ada yang beda. Aku sangat menyukainya.
Senyumku yang belum reda saat taksi sudah mulai bergerak tiba-tiba sirna saat Daniel menelponku untuk ke kantor dulu menjemputnya. Bayangkan aku harus ke Sanur dulu menjemputnya karena satu alasan konyol Daniel.
"Aku bawa brosur banyak nih...kamu bantu aku bawain ya." Yaelah ini laki-laki benar-benar aneh. Bawa brosus aja minta pertolongan. Masak dia nggak bisa bawa brosur-brosur itu sendirian? Meskipun kesalku udah sampai ubun-ubun tetap aku tidak bisa menolak perintah si bos. Untunglah jarak Renon ke Sanur bukan jarak yang sangat jauh. Maka berangkatlah aku dari Renon ke Sanur hanya untuk menjemput brosur-brosur itu ditambah bonus satu bule gila.
Dan Oh Dear God! Ternyata brosur-brosur yang akan dibawa Daniel banyaknya memang ngalah-ngalahin sumbangan beras buat para pengungsi. Tapi tetap aja kedatanganku ke kantor harusnya tidak perlu, toh dia kan naik mobil ke bandara dan bukannya jalan kaki sambil menjinjing semua brosur-brosur ini.
Ketika aku protes tentang masalah ini, dia beralasan 'mobil lagi di pakai Artha buat buyer trip'. Apa dia lupa kalau ada kendaraan umum yang namanya Taksi? Heran deh!!! Tapi setelah beberapa menit sampai di kantor aku akhirnya tahu apa yang menyebabkan Daniel 'memaksa' aku untuk datang. Ya ternyata ia kehilangan Passport dan Kitasnya. Oalaaahhh!!! Bagaimana mungkin di saat berapa jam lagi akan tinggal landas ke Bangkok si bule ini malah kehilangan dua barang berharganya itu.
Aku membiarkan dia sibuk mencari barang-barang pentingnya itu sendirian, karena aku lebih memilih untuk memilah-milah dan merapikan brosur brosur yang akan dibawa ke Bangkok. Karena sebenarnya Brosur-lah alasan si bos ini menyuruhku datang kan? Daniel memang keterlaluan seharusnya dia punya asisten pribadi untuk mengurusi segala keperluan pribadinya, kan tidak akan ada cerita lenyapnya Pasport dan Kitas seperti sekarang ini. Ya, setelah pulang dari Bangkok aku harus memaksa Daniel meng-hire seseorang sebagai asistennya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepanikannya saat mencari dua benda penting itu di seluruh ruangannya ini. Dia bahkan tadi sempat pulang ke rumahnya untuk mengeceknya di sana dan seperti sudah diperkirakan kalau benda-benda itu tak ada di sana. Kenapa juga baru hari ini dia mencari?
Beberapa kali dia melirik kearahku dan berhenti sejenak di hadapanku untuk sekedar menarik perhatiannku. Aku tahu dia sebenarnya ingin memintaku membantunya mencari, tetapi aku pura-pura tidak tahu dengan menyibukkan diriku dengan brosur-brosur.
Tapi memang Daniel diciptakan untuk lebih sering membuatku kesal. Dia terus mondar-mondir sambil berkata, "Oh Nat...we are late! We are late!" hingga membuatku untuk tidak bisa tinggal diam saja.
"Daniel...please stop mondar-mandir dan stop saying we are late!! Coba telepon Artha, kali-kali dia tahu dimana passport sama Kitasmu!" Seruku menghentikan aksi Daniel yang sia-sia itu. Laki-laki itu segera tersadar kemudian menyambar ponselnya menelpon Artha yang sedang di Ubud menemani salah satu Buyer dari Jerman. Artha yang terakhir bepergian bersama Daniel dan itu kira-kira sebulan lalu. Kembali seperti sudah diduga Artha pun sama sepertiku, tidak tahu dimana Daniel menyimpan identitas identitasnya itu. Memang Daniel selalu menyimpan passport dan Kitasnya di kantor alias di laci meja kerjanya yang selalu terkunci tapi anehnya dua barang itu tidak ditemukan di sana.
Hiruk pikuk mencari Pasport dan Kitas sudah menyita waktu hampir setengah jam. Aku yang akhirnya dengan keterpaksaan tingkat tinggi ikut juga mencari mulai putus asa. Apalagi Daniel. Aku meminta dia untuk mengingat kembali hari dimana ia tiba dari Jepang sebulan lalu. Apa yang ia lakukan setelah itu. Dan si bule ini memang benar-benar butuh seorang asisten karena daya ingatnya benar-benar sangat di bawah rata-rata.
Dari pada mengandalkan Daniel dengan daya ingatnya yang super buruk lebih baik aku yang coba mengingat-ingat kembali kejadian sebulan lalu ketika Daniel dan Artha pulang dari Jepang. Yang aku ingat seturun dari pesawat Daniel memang mendapat undangan untuk main golf dengan Mr. Lee San. Aku ingat sekali hari itu karena gara-gara undangan ini, Daniel langsung menuju Mulia tempat Lee san menginap. Kecintaan Daniel pada golf membuat dia tidak mau melewatkan kesempatan bermain golf dengan teman Koreanya itu meski baru saja menghabiskan waktu sekitar 7 jam di atas pesawat.
Aku memicingkan mata mencoba mengingat lebih jauh. Sejurus penglihatanku mengarah pada tas golf Daniel yang disenderkan di sudut ruangannya. Dengan langkah pasti aku menghampiri tas Daniel itu dan.... seperti dugaanku. Dua benda penting itu ada dalam salah satu saku tas golf Daniel. Aku menarik kedua benda itu dan mengacungkannya pada Daniel yang sedang terduduk lemas di sudut sofanya.
"Oh s**t!!!" Jeritnya dan dengan langkah panjangnya dia menghampiriku. Disambarnya kedua benda itu dengan senyum penuh kelegaan.
"Sudah...sudah cukup kangen-kangenannya. Taksinya udah nunggu didepan." Sebodo amat Daniel akan bayar berapa Taksinya yang sudah hampir satu jam nongkrong di depan. Aku menyambar tas berisi brosur yang sudah kusiapkan dan melangkah cepat keluar. Aku cukup lega setelah kami sudah berada di taksi aku rasa kami tidak akan terlalu terlambat nantinya.
"Ohh...God!!!" Daniel menjerit di sebelahku. Aku menoleh ke arahnya.
"Apa lagi?"
"Sorry Nat. sepertinya kita harus balik ke kantor. Aku lupa ngasih duit operasional kantor pada si Made."
"You...what?!!!"
"Pak...balik lagi ke tempat tadi ya." Seru Daniel pada supir taksi tanpa peduli dengan jeritanku .
Daniel sukses membuat hidupku semakin tidak tenang. Bayangkan kita hampir seperempat jalan dan Taksi harus kembali ke kantor karena konyolnya Daniel yang lupa memberikan duit operasional kantor selama dia tidak ada nanti pada si Made. Memang kebersamaanku dengan Daniel selalu tidak pernah mulus pasti ada kejadian yang tidak mengenakkan ujung ujungnya. Setelah kemarin masalah Ben, jangan sampai pameran kami berantakan lagi di Bangkok sana. Aneh memang saat Daniel belum menjadi bosku, kebersamaan kami tidak pernah menyebabkan hal kacau seperti ini.
Setelah melalui upacara-upacara nggak penting yang disebabkan Daniel, dari upacara pencarian Passport dan Kitasnya hingga upacara perjalanan balik ke kantor tadi, kami akhirnya sukses berada di pesawat meskipun beberapa detik kami duduk pesawat langsung boarding. Oalahhh...!!
Setelah empat jam sampai juga kami di Bangkok. Mungkin karena merasa bersalah padaku, saat hendak melakukan penukaran uang, bosku itu memintaku untuk tidak terlalu banyak menukar rupiahku ke Bath. Dia menawariku untuk menggunakan uangnya. Syukurlah untuk masalah ini aku bisa menyebutnya pria gentleman. Dengan menggunakan mobil sewaan, kami diantar ke Western Side, hotel yang letaknya dekat dengan tempat pameran kami.
Aku seketika kecewa saat melihat keadaan hotel yang tidak sesuai harapan. Sebagai perempuan aku membayangkan hotel dengan fasilitas Bathtub dengan kamar mandi yang luas dan bukan sesempit yang aku dapatkan di hotel ini. Ya wajarlah kalau aku menuntut hotel yang bagus karena perjalanan seperti ini sedikit banyak menjadi kesempatan berlibur dengan menikmati fasilitas hotel buat karyawan seperti diriku yang jarang mendapatkan cuti liburan. Untuk ukuran sebuah hotel berbintang, kamar mandi ini tidak cukup nyaman buatku. Aku pun mulai melancarkan aksi merayuku pada Daniel.
"Daniel...kamar mandinya jelek. Pindah aja ya hotelnya."
Aku merengek padanya saat kami akan berangkat makan malam.
"Terus mau kemana?"
"Ya pokoknya cari hotel yang kamar mandinya baguslah. Aku yakin banget kamu juga nggak bakal betah dengan hotel yang kamar mandinya kayak gini." Kataku sok tahu.
"Ya sudah besok kita cari hotel yang lain malam ini kita disini saja dulu." Usul Daniel yang langsung dijawab senyum sumringahku. Daniel terlihat semakin charming di mataku saat ini. Aku tersenyum licik.
Daniel memang tidak ingkar janji, kami akhirnya check out dan pindah ke Holiday Inn. Aku menjerit senang saat melihat betapa lega dan luasnya kamarku apalagi kondisi kamar mandinya yang bisa membuatku betah berjam-jam ngendon di sana.
Lega dan bahagianya pindah ke Holiday Inn tidak serta merta membuat acara kami di Bangkok berjalan mulus. Saat akan menyiapkan barang-barang pameran, kami dikabarkan bahwa barang-barang kami tertahan di port Bangkok. Kecemasan tergambar jelas di wajah Daniel dan aku. Pihak kargo berjanji untuk bisa mengeluarkan barang-barang kami segera. Daniel mencoba untuk tidak emosi dan kami tetap menuju tempat pameran.
Ya seharusnya pihak event organizer pameran ini sudah memberitahukan pada kami bahwa minggu ini ada perayaan ulang tahun raja Bhumibol Adulyadej, raja Thailand yang sangat dicintai rakyatnya itu. Perayaan ini lah yang menyebabkan semua aktivitas dihentikan termasuk bongkar muat barang di pelabuhan.
Seandainya kami sudah diberitahu mungkin kami bisa mengirimkan barang-barang kami lebih awal. Tapi apa mau dikata semua sudah terjadi. Dan kami harus puas hanya dengan memamerkan barang-barang partner kami dari Kamboja. Namun karena barang barang Sotevi, parter Kamboja kami, berupa pernak-pernik kerajinan tangan berkuran kecil maka stand pameran kami tampak kosong melompong dan tidak menarik para pengunjung yang datang.
Melihat kenyataan ini, Daniel mencoba kembali mengubungi pihak kargo tapi masih dengan jawaban yang sama barang-barang kami benar-benar belum bisa dikeluarkan dari Port dan alhasil selama dua hari pertama pameran, stand kami benar-benar lengang dan garing menurutku.
Aku dan Daniel hanya menatap iri dengan Stand Mariyati Trading asal Madura di depan kami yang memamerkan handicraft dari Madura. Barang mereka laris manis. Sedangkan pengunjung yang tiba di stand kami selalu bertanya hal yang sama.
"Ohh what about your good?" dan dengan senyum palsu bercambur keki aku selalu menjawab, "Ohhh...coming soon." Dan setiap kali aku menjawab seperti itu Daniel akan menoleh padaku sambil berbisik, "Yeah..We look like an i***t!"
Malamnya untuk sekedar mengilangkan stress dan kesal yang bertumpuk gara-gara barang-barang kami belum bisa keluar dari Port, setelah makan malam, Daniel mengajakku untuk hang out di Sugar Brown, sebuah Jazz Café di Holiday Inn.
Sambil menyaksikan live performance, aku dan Daniel pun ngobrol. Untuk sesaat kami melupakan masalah kargo karena memang pada dasarnya itu bukan kesalahan kami. Seperti biasa Daniel menceritakan tentang keluarganya. Kali ini tentang rencana pernikahan kakaknya yang akan berlangsung tahun depan.
Tidak heran Daniel itu begitu spoil dan menyebalkan. Karena memang dia terlahir dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang pengacara yang disegani di Chicago. Memilih membuka usaha dan bekerja di Indonesia pun tidak terencana sebelumnya. Daniel yang pecinta diving dan surfing sejak ia mulai kuliah di Los Angeles, suatu hari datang ke Bali untuk diving dan memotret di bawah laut bersama teman-temannya, namun di Bali dia diperkenalkan oleh seorang temannya dengan kerajinan-kerjinan Indonesia yang unik dan cantik. Daniel pun tertarik untuk berbisnis eksport barang-barang kerajianan itu ke luar negeri.
Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, sebelum aku bekerja dengannya, pendapatan perusahaan Daniel hanya berkisar 10 ribu atau 20 ribu dollar. Namun ketika aku menjadi Marketing director di tempatnya, aku sudah beberapa kali menggolkan order senilai 100 ribu US dollar. Amazing bukan? Tentu saja Daniel begitu tergantung padaku.
"Daniel....setelah pembicaraan kita mengenai patah hati beberapa hari lalu. Aku penasaran...are you seeing someone right now?" Daniel menyesap minumannya kemudian sejurus menatapku tajam.
"Menurutmu? Apakah kamu pernah lihat aku berkencan?"
Aku mengedikkan bahuku.
"Ya...itu kan privasimu. Kapan kamu mau berkencan nggak harus laporan ke aku kan?"
Dia tertawa.
"Ah....apakah kamu pernah mengencani Aira waktu dia bekerja di sini?" Aku menyebut nama Aira, cewek Australia yang penah bekerja jadi Marketing Director setahun lalu. Aku memang tidak cocok dengan Aira karena mulutnya yang kalau ngomong suka seenaknya. Aira bahkan dibenci oleh para suplierku karena suka memerintah seenak jidatnya. Tapi tetap saja Aira adalah seorang perempuan single yang cantik dan seksi yang pernah menjadi pembicaraan hangat para lelaki di kantorku saat dia baru saja bergabung dengan kami.
"Aira? The bawel?" Daniel ngakak. "Bagaimana bisa kamu menyangka aku berkencan dengan perempuan yang tidak pernah tahu kapan dia harus berhenti bicara itu?
Aku ikut tertawa. Iya ya...tidak mungkin Daniel mau mengencani perempuan bawel seperti Aira meskipun seseksi apapun dia. Bahkan karena sikap buruknya itu Daniel memecat Aira sehingga membuat gadis seksi itu langsung pulang kampung ke Australia. Yeah...tidak mungkin Daniel tega memecat gadis yang ia kencani.
"Trus?" kejarku dengan penuh rasa penasaran.
"Aku suka perempuan yang mandiri tapi kalau dia sudah menjadi istriku dia harus di rumah dan mengurus anak-anakku." Bibirku mengerucut mendengar tipe istri ideal yang baru saja diutarakan Daniel. Sederhana banget tipe istri si bule ini. Tapi tampang Daniel begitu serius saat mengatakannya. Ya tak heran dia memimpikan seorang istri seperti ibunya. Perempuan yang sangat sempurna dalam tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
"Nat...I just wanna say something to you. Pertama kali aku bertemu sama kamu dan berpartner denganmu aku bisa mengatakan bahwa you are different."
Aku mengernyit. Tak kupungkiri hatiku berdesir sedikit.
"Ya...karena kamu kelihatan begitu professional and you like uhm....uhmm....what should I call? Uhmmm...."
Lipatan di keningku semakin bertambah saking penasarannya. Apa yang Daniel pikirkan tentang aku waktu itu? Oke aku akan memberikan waktu baginya untuk memilih vocab paling amazing yang akan membuatku berbangga hati selama berapa tahun ke depan.
"Uhmmm....and you are like....male."
Male??? I am like a male. Daniel memang tidak pantas berada di suasana romantis seperti ini. Masak atmosfer tempat ini sama sekali tidak bisa mempengaruhi otaknya untuk bekerja dengan lebih baik. Memilih kosa kata yang jauh lebih manis kedengarannya.
Aku langsung merengut.
"Yeah....because you can do everything. And really... you are my everything." Kembali Daniel menyesap minumannya tanpa ada rasa bersalah di wajahnya karena telah menyebutku seperi laki-laki
Beehhh!!! Aku sudah tidak teertarik lagi. You can do everything?! Emang lu kira gue kuli pelabuhan!! Aku mengomel sendiri dalam hati.
Daniel yang menyebalkan dan yang baru saja menyebutku mirip laki-laki ini memang selalu menjadi pusat perhatian di tempat baru dimana dia berada. Aku sempat melihat seorang waiter tertunduk malu malu padanya saat ia akan memesan minum. Ini karena Daniel terbiasa berbicara pada seseorang dengan menatapnya lurus.
Dan bukan hanya perempuan ada juga seorang bartender laki-laki nan gagah sempat tidak melepaskan pandangannya selama hampir setengah menit saat Daniel duduk di hadapannya. Daniel memang tidak menyadarinya karena dia sedang diajak ngobrol oleh seorang tamu perempuan. Yep, bahkan seorang tamu perempuan berani mengajaknya ngobrol di depan mataku. Aku yang malam ini yang notabene adalah 'teman kencan' Daniel.
Seandainya mereka tahu betapa menyebalkan Daniel, mereka pasti tidak akan punya hasrat untuk meliriknya. Aku berdecak sambil memainkan gelas di tanganku yang masih berisi bongkahan es batu.
Mataku kembali kuarahkan pada Daniel memastikan apakah dia masih ditemani perempuan itu? Ternyata bule itu tidak kembali ke meja kami, dia malah melangkah ke atas panggung saat home band café itu selesai menampilkan lagu Fragile milik Sting. Ada apa Daniel naik ke sana. Gitaris band itu mengulurkan gitar akustik pada Daniel.
"Dia mau nyanyi." Gumamku. Aku membetulkan posisi dudukku untuk benar-benar menghadap ke panggung. Aku dengar Daniel memang pandai bermain gitar. Aku pernah ke rumahnya di Nusa Dua dan di sana ada 3 gitar koleksinya. Dan kalau memang sekarang dia mau memperlihatkan aksi bermain gitarnya berarti ini pertama kalinya aku akan mendengar kemahirannya bermain gitar.
Daniel pun duduk di kursi yang tersedia di panggung sambil memangku gitarnya. Dia mendekatkan mulutnya ke arah mike.
"I want to sing this song for the special person. She's my friend. She's my partner. She's my staff. She's my....I don't know...lover?" Dia tertawa kecil.
Aku hampir tersedak saat ia menyebut kata Lover. Unpredictable Daniel!
"Uhm...She's my...basically she's my everything. And she's here tonite." Sambungnya lagi. Mata Daniel sejurus mengarah ke tempat dudukku. Oalahhh...mimpi apa Daniel semalam? Atau barusan makan apa sih dia bisa jadi romantis seperti ini? Aku merasa beberapa pasang mata saat ini sedang mengarah padaku. Aku hanya bisa tersenyum kaku membalas tatapan mereka.
Sepasang old couple di meja sebelahku bahkan tersenyum sendiri memandangku bahkan sempat kulihat bibir si nenek mengucapkan 'that's so sweet'. Yeah...aku harap setelah malam ini tidak akan terjadi disaster. Aku tidak mau terlalu larut dengan romatisme yang Daniel ciptakan malam ini.
Tak berapa lama lagu Close to You mengalun manis dari bibir Daniel.
Why do birds suddenly appears
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you
Haiyaahh.....sungguh seandainya laki-laki yang sedang menyanyi malam ini bukan Daniel aku pasti akan jatuh cinta setengah mati padanya. Aku terus menikmati nyanyiannya hingga semakin lama aku merasa ada yang tidak beres di perasaanku. Kenapa aku begitu merasa terharu. Bahkan tak sadar mataku berkaca-kaca. Apalagi pada kata kata, On the day that you were born the angles got together and decided to create a dream come true...aku merasa everybody is looking at me dengan pandangan iri.
"Hell no!" gumamku mencoba mengusir perasaan mengharu biru ini. Aku bersumpah meskipun Daniel sangat nice malam ini, ini bisa jadi pertanda neraka buat aku di keesokan harinya. Aku tidak tahu itu apa.