Dua hari kemudian ….
Pagi hari, di dalam tempat pandai besi di mana Orph menitipkan pedangnya untuk sementara waktu, si penjaga toko sedang membereskan beberapa s*****a dan juga perlengkapan lainnya sebelum tokonya dibuka. Dia baru saja selesai membersihkan pedang-pedang ciptaannya, lalu membawanya dengan sebuah tong kayu ke tempat dia biasa memajang pedang-pedang dagangannya.
Saat dia sedang merapikan beberapa pedang ke tempatnya semula, lambat laun dia mulai menyadari sesuatu yang sangat terlambat sekali untuk diingatnya. Dia berkaca sejenak melalui pedang yang dipegangnya, kemudian adrenalinnya tersentak setelah benar-benar mengingat hal yang dia lupakan. Pedang yang digenggamnya terjatuh ketika dia berdiri. Dia langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan.
“Gawat … aku lupa memberikannya pedang pengganti sementara selama pedangnya berada di sini. Kalau dia sedang dalam bahaya, bagaimana cara dia mengatasinya?” ucap pandai besi itu dengan menyesalnya.
***
Komandan Lowasz baru saja keluar dari penginapan tempatnya menginap untuk mencari angin sejuk di pagi hari. Dia masih menggunakan pakaian biasa tanpa zirah lengkap yang biasa dia kenakan. Suasana yang masih terasa sejuk itu, membuatnya memutuskan untuk berjalan pagi sekaligus mencari tahu semua hal yang bisa dia dapatkan, untuk menangkap orang yang selama dua hari terakhir ini dia cari di sekitar Kota Julla.
Setelah beberapa langkah menjauhi penginapannya, dia berpapasan dengan Condivs yang sudah menggunakan pakaiannya sebagai seorang pemimpin pasukan penjaga kota.
“Selamat pagi, Komandan Lowasz.” sapa Condivs sambil membungkukkan badannya dengan tangan kanannya yang menyilang ke kiri.
“Selamat pagi, Condivs. Berjaga malam atau kau baru mulai sekarang?” tanya Komandan Lowasz datar.
“Aku baru memulainya, Komandan. Kau sendiri? Sedang mencari angin segar?” tanya Condivs dengan tersenyum.
“Hmm … sudah lama sekali aku tidak menikmati cuaca yang sejuk seperti ini,” ucap Komandan Lowasz dengan tersenyum juga.
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengajakmu untuk meminum kopi asli dari kota ini dan ditemani dengan roti gandum yang manis?”
“Boleh saja.”
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke kedai kopi yang dibicarakan oleh Condivs. Sesampainya di sana, Condivs langsung memesan apa yang biasa dia pesan untuk dua orang. Kemudian, mengajak Komandan Lowasz untuk duduk di meja yang ada di bagian luar kedai, agar tetap bisa menghirup udara sejuk yang masih kental terasa.
Tak lama, pesanan keduanya pun datang. Condivs meminumnya terlebih dahulu, disusul oleh Komandan Lowasz.
“Kau benar. Kopi ini enak sekali. Sepertinya aku harus membeli biji kopinya untuk aku bawa pulang. Adikku pasti akan menyukainya,” ucap Komandan Lowasz dengan tersenyum.
“Perkebunan kopi yang ada di kota ini dijaga dan dirawat dengan baik. Konon, ada cara khususnya untuk membuat kopi seenak ini. Tapi, karena demi kerahasiaan resep turun temurun, tidak sembarangan orang bisa tahu apa rahasia kelezatan kopi ini.” ucap Condivs dengan tersenyum juga.
Keduanya menyantap sepotong roti dan kopi mereka sampai habis, sambil beberapa kali bersenda gurau membahas tentang beberapa hal yang ada di kota ini. Namun, pembahasan yang dibahas oleh Komandan Lowasz tiba-tiba saja mengerucut ke bagian orang yang sedang dicari-carinya selama ini. Hal itu membuat Condivs menjadi tidak nyaman.
Sampai akhirnya pandangan mata Komandan Lowasz yang awalnya terlihat tenang dan santai, kini menatap tajam Condivs seakan sedang mengancamnya.
“Aku tahu kau adalah seorang prajurit yang sangat terlatih, Condivs. Kau juga benar-benar mencintai Kota ini selayaknya rumah yang sangat nyaman bagimu. Tapi, kalau kau melindungi sesuatu yang seharusnya tidak kau lindungi, kau bisa membuat kota ini menjadi tidak nyaman lagi untuk kau tinggali. Jadi, jika aku tahu kau menyembunyikan gadis yang sedang aku cari ini, kau akan tahu apa akibatnya, Condivs.” ucap Komandan Lowasz dengan geramnya.
Condivs hanya bisa menatap balik Komandan Lowasz tanpa mengatakan apapun. Setelah memberitahukan hal itu kepada Condivs, Komandan Lowasz pun bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Condivs.
“Aku harus segera bertindak. Untuk saat ini, sebaiknya aku mencari orang yang bisa menggantikan posisiku. Jadi, kalau aku sampai gagal, ada orang yang bisa menggantikanku untuk menjaga kota ini.” gumam Condivs dengan tersenyum.
***
Dalam pelariannya, Ariesta sudah berada cukup jauh dari Kota Julla. Dengan bermodalkan pakaian yang dia kenakan, sebilah pedang berukuran sedang, tongkat sihir berbahan kayu, dan beberapa bekal makanan, dia pergi dari Kota Julla menuju ke Kota Greenmilla seperti yang sudah diperintahkan oleh Condivs sebelumnya.
Dua hari perjalanan sudah dia lewati. Tidak ada satu pun pertanda kalau ada yang sedang mengejarnya. Tapi, dia harus menghentikan sejenak perjalanannya untuk mencari bahan makanan karena bekalnya sudah mulai habis. Dia memetik tanaman rambat, jamur, dan beberapa buah-buahan yang bisa dimakan.
Di tengah pencariannya itu, di kepalanya terus saja terbayang bagaimana kondisi Condivs saat ini. Bagaimana pun juga, Condivs sudah berkorban agar bisa menyelamatkannya. Dia merasa takut kalau Condivs sampai dibunuh hanya karena menutupi kebenaran tentang dirinya. Tapi, dia sendiri pun juga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa melakukan apa yang Condivs inginkan. Agar pengorbanan Condivs tidak sia-sia.
“Condivs, semoga kau baik-baik saja di sana.” gumamnya dengan tersenyum sambil menatap langit biru di atasnya.
***
Tidak jauh dari tempat Ariesta berada, Orph sedang berjalan meneruskan perjalanan untuk mencari batu khusus, guna mengasah pedang ‘Meteoulark’ miliknya. Sambil berjalan, dia terus memakan wortel yang sudah dibelinya di Kota Julla sebagai makanan utamanya.
“Hanya makan sayuran. Aku ini sebenarnya manusia atau elf?” ucap Orph dengan sedikit tertawa, menertawai dirinya sendiri.
Saat sedang asik memakan wortelnya, tiba-tiba saja terdengar suara gemerisik dari semak-semak yang ada di sekitarnya. Dia pun menahan wortel ditangannya dengan gigi, sementara tangannya merogoh ke arah pedang yang biasa bersemayam di punggungnya. Namun, dia tidak merasakan apapun di sana.
“Aku lupa … pedangku kan sedang dititipkan di tempat pandai besi. Kenapa orang itu tidak memberikanku pedang pengganti untuk sementara waktu? Argh! Menyebalkan …,” geram Orph sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
Suara gemerisik itu semakin keras terdengar. Membuat Orph segera tersadar dari rasa geramnya dan mulai fokus untuk melawan apapun yang berusaha menghadangnya. Benar saja, tak lama keluar sekelompok Rapvit, kelinci bertaring yang biasa memakan daging. Bulunya yang coklat tersamar dengan tanah, serta matanya yang berwarna merah untuk melihat saat malam hari.
“Kalau sudah begini, mau tidak mau.”
Orph yang sudah kehabisan pilihan dan mau tidak mau harus bertarung untuk melindungi dirinya, mengambil tongkat sihir yang tersembunyi di pinggang yang ditutupi oleh jubah hitamnya. Dia pun menghentakkan tongkatnya ke bawah, sehingga tongkat yang tadinya pendek itu, kini menjadi panjang.
“Aku Orph, meminta bantuan pada kau wahai Dewa Portonz. Bola Api Pemusnah!”
Sihir Orph berhasil menghanguskan beberapa Rapvit, sementara Rapvit yang lainnya berhasil menghindar.
“Cih … kelinci karnivora menyebalkan,” geram Orph dengan kesalnya.
“Aku Orph, meminta bantuan pada kau wahai Dewi Vlaminz. Hujan Jarum Es!”
Kali ini, sihir Orph berhasil membunuh semua Rapvit yang ada dengan jarum es sihir yang menancap tepat di badan para mahkluk buas itu.
“Hah … kalau ada pedang, aku tidak harus memakai sihir seperti ini,” ucap Orph dengan lesu.
Setelah memakai sihirnya, Orph melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada satu pun orang yang melihatnya. Setelah dirasa aman, dia pun memasukkan kembali tongkatnya di balik jubah dan kembali melanjutkan perjalanannya.
***
Siang hari di Kota Julla, Condivs baru saja selesai menyantap makan siangnya dan sedang meminum segelas rum. Suasana ramai di tempat itu berubah menjadi sunyi ketika Komandan Lowasz beserta anggota prajuritnya datang. Pandangan mereka semua tertuju pada seorang laki-laki muda yang sedang dalam kondisi babak belur, diseret oleh prajurit Komandan Lowasz.
Sementara para prajuritnya tetap berada di depan pintu, Komandan Lowasz menghampiri Condivs yang sedang meminum rumnya tanpa memperdulikan hal itu.
“Sudah aku bilang, Condivs. Kalau kau ikut campur dalam urusan ini, aku tidak segan-segan akan menghukummu.” ucap Komandan Lowasz dengan geramnya.
Condivs berdiri dari kursinya, menghadap Komandan Lowasz dan menatapnya dengan tajam. “Kita berduel sampai mati. Aku kalah, aku akan memberitahukan segala hal yang ingin kau tahu. Aku menang, kau harus tinggalkan kota ini seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Bagaimana, Komandan Robsguard Lowasz Ormov?” tanyanya dengan sedikit tersenyum.
Komandan Lowasz menarik pedangnya dari sarung, lalu mengarahkannya ke hadapan Condivs. “Aku terima tantanganmu … siapa nama panjangmu?” tanyanya datar.
Condivs juga menarik pedangnya, dan menyilangkan pedangnya ke pedang milik Komandan Lowasz. “Vleszi Condivs Parm,” ucapnya dengan tersenyum lebar.
Keduanya pun keluar dari bar itu, diikuti juga dengan semua orang yang ada di dalam bar. Mereka menuju ke alun-alun kota di mana tempat itu begitu luas dan cocok dijadikan tempat untuk berduel. Condivs dan Komandan Lowasz berdiri saling berhadapan dan saling menatap. Kemudian, keduanya mundur sepuluh langkah.
“Pertarungan ini diizinkan untuk menggunakan sihir, Condivs. Jadi, jangan segan-segan mengeluarkan sihirmu.” ucap Komandan Lowasz datar.
“Tidak perlu, Komandan Lowasz. Aku tidak membutuhkannya,” ucap Condivs dengan sedikit tertawa.
Mendengar perkataan Condivs, membuat Komandan Lowasz geram karena merasa diremehkan olehnya. Adrenalinnya pun mencuat semakin tinggi, bersiap untuk menghabisi Condivs dengan sekuat tenaga, tanpa segan-segan. Dia pun mengatur napasnya perlahan, memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali.
“Aku Lowasz, dengan tubuh ini aku butuh kekuatan wahai Dewa Worza. Perisai Baja Tak Tertembus!”
Sihir yang diucapkan oleh Komandan Lowasz membuat sekujur tubuhnya dialiri dengan guratan sihir berwarna merah, tanda kalau sihirnya sedang aktif.
“Sihir penguat tubuh. Sihir tingkat lima yang hanya bisa digunakan oleh prajurit kelas atas. Dia sedang meremehkanku, ya? Hanya menggunakan sihir seperti ini untuk melawan pemimpin pasukan yang sudah mulai tua,” gumam Condivs dengan tersenyum.
Condivs menyentuh pedangnya dari atas gagang sampai ujungnya dengan dua jari. Dia berkonsentrasi sejenak dengan memejamkan matanya dan membukanya kembali.
“Aku Condivs, dengan pedang ini aku butuh kekuatan wahai Dewa Ormaill. Ular Hitam Bermata Merah!”
Pedang Condivs berubah menjadi pedang yang menyatu dengan ular dan bisa memanjang sebebas-bebasnya. Pedangnya juga dialiri aura berwarna hitam pekat.
“Hanya sihir ini yang bisa aku gunakan. Lebih dari ini, akan membahayakan tubuhku.” gumam Condivs sedikit ragu.
Keduanya pun langsung menerjang ke depan melancarkan serangannya. Ayunan pedang Condivs bisa dipatahkan oleh Komandan Lowasz dengan pedangnya. Begitu juga dengan ayunan pedang Komandan Lowasz, bisa dipatahkan dan juga dihidari oleh Condivs.
Pertarungan itu berlangsung semakin sengit, karena keduanya sama sekali belum terkena serangan. Tapi, berbeda dengan Komandan Lowasz yang terlihat masih kuat dan segar, Condivs justru terlihat sangat kelelahan dan aura di pedangnya pun kian memudar secara perlahan.
“Ada apa dengannya? Sihir itu seharusnya tidak membuat dirinya melemah secepat ini. Gerakannya juga masih bagus meskipun dia sedikit lebih tua dariku. Tapi, apa sebenarnya alasan dia bisa sampai kelelahan seperti itu? Jangan-jangan …”
Komandan Lowasz mulai menyadari sesuatu. Dia pun melepas kekuatan badan baja dari dalam tubuhnya dan mengganti dengan jurus yang lain.
“Aku Lowasz, dengan tubuh ini aku butuh kekuatan wahai Dewa Ormaill. Macan Kumbang Penguasa Hutan Utara.”
Berbeda dengan sihir sebelumnya, Komandan Lowasz membuat tubuhnya dialiri dengan sihir berwarna jingga yang mengalir di sekitar kedua kakinya. Dengan cepat, dia bisa tiba-tiba berada di hadapan Condivs. Bersiap menghunuskan pedangnya ke badan Condivs, namun Condivs langsung mengayunkan pedangnya ke arah depan. Tapi, Komandan Lowasz sudah berada di belakangnya. Karena sudah tidak bisa menghindar, pedang Komandan Lowasz berhasil menghunus bagian belakang tubuh Condivs sampai menembus ke depan.
“Kau menusukku dari belakang. Jadi, inilah yang pantas kau terima, Condivs.” ucap Komandan Lowasz, menarik kembali pedangnya dari tubuh Condivs.
Condivs pun terkapar tak berdaya, bersimpah darah di sekujur badannya. Mulutnya juga mengeluarkan darah, tanda kalau dia terlalu banyak menggunakan sihir.
“Kau adalah seorang pemimpin pasukan penjaga kota, sihir seperti itu tidak akan membuatmu kelelahan secepat itu. Artinya, kau sedang menggunakan sihir atau menanamkan sihir pada seseorang. Dan orang itu adalah gadis yang sedang aku cari selama ini. Inilah jadinya kalau kau melakukan hal yang tidak perlu, Condivs.” ucap Komandan Lowasz datar.
Saat Komandan Lowasz ingin pergi darinya, Condivs menahan kaki Komandan Lowasz agar dia tidak segera pergi menjauhinya. “Lowasz … jangan lupa beli kopi dari kota ini sebelum kau kembali,” ucapnya dengan tersenyum.
Mendengar perkataan terakhir Condivs, Komandan Lowasz pun membantu menutup kedua mata Condivs agar dia bisa lebih tenang di sana. Setelah pertarungan itu selesai, seorang prajurit datang menghampiri Komandan Lowasz dengan tergesa-gesa.
“Komandan, lapor. Aku bisa merasakan kembali hawa keberadaan gadis ini,” ucap prajurit itu dengan lantang.
“Terima kasih laporannya. Siapkan segala hal yang diperlukan, dalam setengah jam kita akan mulai pengejaran gadis ini. Satu lagi, belikan aku dua kantong kopi khas dari kota ini.” ucap Komandan Lowasz datar.
“Baik, Komandan!”
Setelah prajuritnya pergi, Komandan Lowasz menutupi bagian wajah Condivs dengan kain. “Kenapa dia sampai melindungi gadis ini dengan mempertaruhkan nyawanya? Siapa sebenarnya gadis ini?” gumamnya heran.
Bersambung.