Semua bahan makanan sudah terkumpul oleh Ariesta. Dia hanya perlu mencari air untuk persediaan dalam perjalanannya. Dia terus menelusuri dan mengikuti suara aliran sungai yang terdengar samar di telinganya. Hingga dia sampai di sebuah aliran sungai yang tidak begitu besar, yang memotong hutan menjadi dua.
Ariesta mencelupkan botol kain yang dibawanya agar bisa terisi penuh dengan air, baru setelahnya dia membasuh wajahnya yang terlihat mulai lusuh. Ketika bisa melihat dengan jelas wajahnya dari pantulan air, adrenalinnya tersentak sampai dia melompat mundur ke belakang. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia kembali melihat pantulan wajahnya pada air sungai dengan terus meraba seluruh bagian wajahnya.
“Sihirnya telah sirna. Jangan-jangan, Condivs …”
Ariesta tertunduk dan mengepal kuat kedua tangannya. Wajah aslinya kembali seperti semula, menandakan bahwa Condivs, orang yang menanamkan sihir pada wajahnya telah tiada. Dia pun meneteskan air matanya karena merasa sangat kehilangan. Baginya, Condivs sudah seperti kakak yang selalu membantunya selama ini.
***
Satu bulan yang lalu ….
Di tepi hutan dekat wilayah Kota Julla, Condivs sedang mengadakan patroli karena ada laporan beberapa barang hilang dari masyarakat yang ada di kota. Berbekal pedang dan lampu minyak, Condivs menelusuri gelapnya hutan di kegelapan malam. Dia tidak sendiri, dia ditemani oleh ketiga rekannya yang lain. Mereka berempat berjalan agak berjauhan, guna meminimalisir serangan yang berasal dari arah yang berbeda.
Di tengah pencarian itu, rintik hujan perlahan mulai membasahi tanah. Mereka berempat berhenti sejenak dan berkumpul di tengah, memutuskan untuk tetap mencari atau menyudahi penelusuran malam ini.
“Bagaimana, Condivs? Sudah gelap dan mulai turun hujan. Sebaiknya kita hentikan pencarian ini,” ucap salah satu rekan Condivs.
Condivs menatap satu-persatu wajah kelelahan dan keraguan yang tergambar di wajah ketiga rekannya. “Kalian kembalilah. Aku teruskan sebentar lagi. Tenang, aku akan kembali sebelum hujan deras.” ucapnya dengan tersenyum.
Ketiga rekannya pun menyetujui perkataan Condivs, meskipun agak ragu. Di satu sisi mereka khawatir, tapi di sisi lain mereka tahu kalau Condivs adalah orang yang sangat berambisi. Jadi, mereka bertiga hanya bisa mendoakan agar Condivs baik-baik saja dan bisa kembali ke Kota Julla dengan selamat.
Setelah ketiga rekannya pergi, Condivs melanjutkan penelusurannya. Dia menggantungkan lampu minyak yang dibawanya di pinggang, lalu memegangi kedua telinganya dengan tangan.
“Aku Condivs, dengan kedua telingaku ini aku butuh kekuatan wahai Dewi Urzulla. Tajamkan pendengaranku seperti kelinci.”
Setelah menggunakan sihirnya, Condivs mulai berjalan kembali dengan menyiagakan pedangnya dan memasang kuda-kuda untuk melindungi dirinya. Dia hanya mendengar beberapa suara langkah kaki hewan yang membuat semak-semak terus bergerak, tanpa menemukan adanya pergerakan dari seorang manusia. Tapi, penelusurannya pun terbayar.
Suara semak-semak yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya, bergerak begitu kasar layaknya dilewati oleh seorang manusia yang sedang berlari. Condivs memejamkan matanya, memastikan letak pasti dari asal suara itu. Setelah yakin, dia mengeluarkan pisau kecil yang disarungkan di pinggangnya, lalu melemparkannya ke arah asal suara itu.
“Argh!”
Suara teriakan perempuan tiba-tiba saja terdengar oleh Condivs. Tak lama suara itu muncul, suara semak-semak yang tertimpa dan tanah yang bergetar pun dapat didengarnya. Condivs pun menghampiri gadis yang berteriak itu.
Setelah sampai di asal suara teriakan yang didengarnya, adrenalin Condivs tersentak. Dia tidak tahu kalau orang yang diserangnya adalah seorang bangsawan. Dia mengetahui hal itu karena melihat kalung yang dikenakan oleh gadis itu.
“Maafkan aku. Aku sedang mencari seorang kriminal yang meresahkan kota. Jadi, aku langsung menyerangmu tanpa bertanya terlebih dahulu. Apakah kau baik-baik saja?” tanya Condivs dengan sangat cemas.
Gadis itu memperlihatkan pada Condivs bagian tangannya yang terkena pisau yang dilemparkannya. Darah gadis itu juga berlumuran, m*****i baju yang dikenakannya.
“Sakit sekali. Beruntung hanya tanganku saja yang terkena. Bagaimana kalau area vital yang sampai terkena. Aku pasti sudah mati sekarang,” ucap gadis itu ketus.
“Sekali lagi, aku minta maaf. Lagi pula apa yang dilakukan seorang bangsawan di tempat seperti ini, malam-malam begini?” tanya Condivs heran.
Adrenalin gadis itu tersentak. Dia langsung berdiri begitu Condivs mengetahui identitasnya itu. Dia juga berusaha menutupi area lehernya, agar Condivs tidak curiga dengan kalung yang dipakainya.
“Begini saja. Sebentar lagi akan turun hujan. Aku akan mencabut pisau itu dan langsung memberikan penyembuhan. Ikutlah denganku,” ucap Condivs sambil menjulurkan tangannya, bermaksud menawarkan bantuan kepada gadis itu.
Gadis itu terlihat ragu dan tidak mau langsung percaya begitu saja. Dia kesakitan, tapi tetap waspada karena takut Condivs punya maksud lain.
Menyadari tingkah gadis itu, Condivs langsung menunjukkan gelang yang digunakannya yang menandakan kalau dia adalah seorang pasukan penjaga kota. “Bagaimana? Gelang ini tidak bisa dipalsukan. Sudah percaya sekarang?” tanyanya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya karena sudah percaya dengan Condivs sepenuhnya. Dia pun menggenggam tangan Condivs dan ikut bersamanya untuk mengobati luka di tangannya. Tapi, baru beberapa langkah berjalan, hujan deras mulai turun.
Condivs duduk membungkuk, menawarkan gadis itu untuk naik di punggungnya. “Naiklah, di dekat sini ada gua. Kalau tidak cepat, pakaian kita berdua bisa basah dan tubuh kita akan mengalami demam.”
Dengan terpaksa, gadis itu pun mau tidak mau naik ke punggung Condivs. Condivs langsung berlari menuju keberadaan gua yang dimaksudkannya. Hanya berlari beberapa saat, keduanya pun tiba di gua yang cukup dalam.
Karena tidak ada kayu untuk dibakar, mereka berdua hanya mengandalkan lampu minyak yang masih menyala sebagai penerangan sekaligus penghangat tubuh. Gadis itu duduk di dekat lampu minyak, sementara Condivs menyiapkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan sebuah botol rum dan juga selembar kain. Kemudian, dia menghampiri gadis itu dengan membawa kedua benda itu.
“Buka lengan bajumu,” ucap Condivs datar.
“Apa? Jangan kurang ajar,” ucap gadis itu yang langsung sedikit menjauh dari Condivs sambil melindungi dirinya.
“Kau mau pisau itu dicabut atau tidak? Kalau tidak ditangani, lama-kelamaan kau akan terkena penyakit.” ucap Condivs agak jengkel karena dikira m***m.
Sudah mengerti maksud dari Condivs, gadis itu pun membuka area lengan bajunya setelah Condivs merobek paksa bagian lengan sisanya yang sudah robek.
“Tahan sedikit. Ini pasti akan sakit. Aku tidak punya sihir penyembuh. Jadi, akan aku sembuhkan dengan peralatan seadanya, baru setelah itu ditangani lebih lanjut kalau kita sudah sampai di kota.” ucap Condivs dengan tersenyum.
Gadis itu terlihat ketakutan setelah Condivs mengatakan kalau pengobatan yang akan dilakukannya akan terasa sakit. Dia memalingkan wajahnya dari lengannya yang terluka, demi menjaga ketegarannya sekaligus pandangannya dari hal yang menakutkan.
Condivs pun menarik pisau yang tertancap di lengan gadis itu, dan langsung membasahinya dengan rum yang ada di tangan satunya.
“Argh!”
Suara rintihan gadis itu dapat terdengar jelas karena sepinya gua yang mereka berdua tempati. Melihat gadis itu kesakitan, Condivs bergegas membungkus luka gadis itu dengan selembar kain yang dibawanya. Setelah selesai mengobat gadis itu, Condivs kembali duduk di hadapan gadis itu untuk mencoba mengajaknya bicara.
“Aku tidak bermaksud ikut campur atau semacamnya. Kenapa seorang bangsawan sepertimu ada di kota yang sangat jauh dari istana kerajaan ini? Pakaianmu juga lusuh. Apa alasannya kau kabur?”
Gadis itu memeluk erat kedua kakinya dan tertunduk. Mendengar pertanyaan Condivs membuatnya sedih kembali dan juga membuat batinnya terguncang. Dia pun menatap Condivs dengan sedikit tersenyum.
“Aku sudah muak menjalani hidup menjadi seorang bangsawan. Aku melihat berbagai hal kotor terjadi dan aku hanya bisa diam saja. Bahkan aku dijodohkan oleh seorang bangsawan yang sudah jelas-jelas sangat licik dan juga kejam. Aku tidak mau berakhir menjadi bonekanya. Itu sebabnya aku putuskan untuk pergi dari rumah dan nekad hidup seperti ini,” ucap gadis itu agak murung.
“Aku Condivs, siapa namamu?” tanya Condivs sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Gadis itu pun menjabat tangan Condivs. “Aku Ariesta, salam kenal, Tuan Condivs.” ucapnya dengan tersenyum.
“Melanjutkan pembicaraan yang tadi, apa yang membuatmu memiliki tekad yang kuat untuk pergi dari sana? Bukankah, melepas apa yang kau miliki itu sangat berat? Mengingat menjadi seorang bangsawan itu sangat tidak mudah,” ucap Condivs heran.
“Aku bertekad untuk mengubah Aculla menjadi lebih baik. Kalau terus seperti ini, lama-kelamaan Aculla akan hancur dibumi hanguskan oleh orang-orang yang serakah akan kekuasaan. Aku yakin aku pasti bisa melakukannya suatu hari nanti,” ucap Ariesta dengan yakinnya.
Ucapan Ariesta itu membuat Condivs langsung tertawa. Dia merasa kalau cita-cita Ariesta itu akan sangat sulit sekali untuk digapai. Mengingat, dia sendiripun juga tahu bagaimana busuknya seorang bangsawan.
“Jadi, kau terus hidup dalam pelarian karena terus dikejar oleh orang-orang yang mencari keberadaanmu?” tanya Condivs penasaran.
Ariesta menganggukkan kepalanya dan langsung tertunduk setelahnya. Condivs menjulurkan tangannya ke depan, lalu memegang bagian kiri dan kanan area kening Ariesta dengan ibu jari dan kelingkingnya.
“Aku Condivs, dengan tubuh gadis ini aku butuh bantuan wahai Dewi Arsyill. Ubahlah dia terlihat mirip seperti Hella Amalivs Parm, adik perempuanku.”
Ariesta hanya bisa tercengang. Secara perlahan sekujur tubuhnya perlahan berubah menjadi sosok gadis lain yang bukan dirinya. Setelah sihir Condivs selesai merubah dirinya, dia berkaca pada lampu minyak yang ada di hadapannya.
“Wajah siapa ini? Kenapa kau mengubahku jadi seperti ini? Apa maksudnya?” tanya Ariesta yang merasa sangat heran.
“Dengan rupa seperti itu, kau akan sulit untuk dicari. Rupa yang kau gunakan itu adalah adikku yang sudah meninggal enam bulan yang lalu,” jawab Condivs dengan tersenyum.
“Tunggu … bukankah ini sihir tingkat enam? Bagaimana bisa kau menggunakannya?” tanya Ariesta yang justru terlihat sangat penasaran saat ini.
“Aku menjaga rahasiamu, kau juga jaga rahasiaku, ya?”
Ariesta langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.
“Sebenarnya, setahun yang lalu aku tinggal di ibu kota kerajaan. Menempa diriku menjadi seorang prajurit yang tangguh, karena memang itu adalah cita-citaku sejak kecil. Hal itu pun membuahkan hasil. Setelah enam bulan bergabung, kehebatanku diakui. Rencananya, aku akan diangkat menjadi Komandan layaknya Lowasz. Tapi, berita tentang kematian adikku, sampai di telingaku.
“Aku hancur dan merasa sudah sangat egois. Demi menggapai cita-cita, aku meninggalkan adikku sendirian di kampung halamanku, Julla. Adikku tewas karena dibunuh oleh sekawanan perampok. Karena perasaan dendam yang bergejolak, aku kembali ke Julla dan berhenti menjadi seorang prajurit. Aku berhasil membalaskan dendamku dengan membunuh semua kawanan perampok itu tanpa ada sisa. Tapi, hidupku terasa sangat hampa setelahnya. Demi menebus dosa-dosaku kepada Amalivs, aku menjadi pemimpin pasukan untuk menjaga kota ini.” ucap Condivs dengan tersenyum.
Ariesta berdiri, diikuti juga oleh Condivs. Keduanya berjabat tangan, tanda bahwa keduanya sepakat untuk menjaga rahasia masing-masing sampai akhir hayat mereka.
***
Satu hari sudah semenjak Komandan Lowasz beserta prajuritnya keluar dari Kota Julla mencari Ariesta, gadis yang menjadi target incarannya. Pasukan itu tiba di sungai yang sebelumnya didatangi oleh Ariesta saat hari sudah mulai siang.
“Gadis itu telah pergi dari tempat ini, Komandan. Kita terus perjalanan atau beristirahat sejenak di sini?” tanya salah satu anggota prajuritnya.
“Beristirahatlah sejenak di sini. Gadis itu masih belum jauh. Dia berjalan kaki sementara kita menggunakan kuda, akan lebih mudah bagi kita untuk mengejarnya.”
“Baik, Komandan!”
Komandan Lowasz pun turun dari kudanya, melihat-lihat keadaan sekitar, mencari petunjuk yang bisa saja didapatkannya.
“Aku hanya mendapatkan perintah ini tanpa tahu siapa sebenarnya gadis yang sedang diincar ini. Siapa sebenarnya gadis itu sampai seorang Condivs, salah satu dari mantan prajurit kerajaan terbaik mau mengorbankan nyawanya?” gumam Komandan Lowasz yang masih terus berpikir-pikir siapa sebenarnya gadis yang sedang dicarinya ini.
***
Hari sudah mulai malam. Sejak sore datang, Ariesta terus berlari menghindari kejaran pasukan Komandan Lowasz. Dia tidak menyangka kalau dirinya sudah terkejar bahkan sudah sampai dipojokkan seperti ini.
“Aku tidak sanggup lagi terus menggunakan sihir kaki rusa ini. Kalau aku teruskan, lama-kelamaan aku akan kehilangan kesadaranku. Bagaimana ini?” gumam Ariesta yang mulai cemas dan panik karena terus dikejar oleh Komandan Lowasz.
Ariesta terus berlari dengan kencang memegang tali tas punggung yang dibawanya. Karena pandangannya yang mulai memudar, dia sampai tidak sadar kalau sudah memasuki semak-semak yang menjulang tinggi. Karena tidak ada waktu lagi untuk memutar balik, dia pun memutuskan untuk terus berlari.
Namun, keputusan itu ternyata adalah keputusan yang salah, karena dia tidak sengaja menabrak seorang pria berjubah hitam yang berjalan di hadapannya. Mata keduanya pun saling bertatapan, menggambarkan ekspresi bingung masing-masing. Pertemuan itulah, awal dari perubahan drastis dari kehidupan keduanya.
Bersambung.