Lampu jalan didepan teras rumah nuansa abu-abu sedikit berkelap-kelip dengan warna sedikit remangnya.
“Hidup”
“Satu, dua, tiga Mati” Aku terus memperhatikan kelap-kelip lampu sambil menikmati cireng yang sempat aku beli diperempatan dekat rumah yang sedang aku duduki saat ini.
Sudah hampir tigapuluh menit aku duduk mengamati lampu jalanan dalam keheningan.
“Ryn, Kalo lampu jalan kelap-kelip itu tandanya ada hantu kan?” Aku tetap memandang kearah cahaya remang itu, kali ini lebih dalam.
“Itu lampunya yang rusak” Jawaban singkat dari laki-laki dengan rambut berantakan yang duduk dikursi rotan disampingku membuatku mengukir senyum.
“Terus kalo rusak yang ganti pemerintah apa orang rumah ? “
“Nggak tau” Seorang yang kupanggil Ryn tetap membalasku dengan acuh, aku tau saat ini ia pasti sangat kesal denganku. Bagaimana tidak, aku datang secara tiba-tiba dipukul tujuh malam dan mengganggu permainan game onlinenya.
“Lampunya benar-benar mati, pasti gara-gara hujan” Aku menggumam sendiri.
“Bukan gara-gara hujan Lyn, tapi emang lampunya aja yang udah lama nggak diganti” Ia meletakkan handphonenya dan ikut memandang lampu jalan yang sepenuhnya padam.
“Kalah ?”
“Kapan aku pernah kalah ?” Ia tersenyum kerahku.
Manis.
Satu kata yang terfikirkan oleh otakku ketika melihat ia tersenyum, dadaku benar-benar bergemuruh dan ini yang membuaatku sedikit kesusahan ketika berada disampingnya.
“Lyn” Panggilannya membuatku tersadar telah menatapnya lama.
“Ada yang mau dibicarain ke aku ?” Ia mengambil gelas Moccachino dihadapannya kemudian menghirupnya.
Aku menggeleng kaku.
“Terus kenapa liatian aku segitunya ? Baru sadar kalo aku cakep ?” Ia kembali tersenyum, kali ini ia berusaha menggodaku
“Apaan sih GR banget” Aku berkata dengan mata melotot kearahnya.
Ia tertawa dan aku semakin bingung.
“Mau melotot juga mata kamu tetap nggak keliatan” Ia kembali dengan lelucon garingnya.
Aku mendengus kesal dan ia menghentikan tawanya.
“Ryn”
“Nggak ada niatan panggil kakak, Abang, atau sejenisnya ya ?” Ia memotong pembicaraanku.
“Kamu maunya gitu?”
“Enggak maksa, Aku jadi inget waktu pertama kita ketemu. Kamu panggil aku kakak nggak kayak sekarang”
“Kebiasaan, Ngikutin Bang Eriz”
“Kalo Eriz ada dia pasti marah ke aku, ngebiarin kamu disini lama-lama” Ia mengambil satu batang rokok dan menghidupkannya.
“Ryn, aku nggak suka bau rokok” Aku mengambil batang rokok yang belum sempat ia hisap dan mematikannya.
Usiaku terpaut lima tahun dengannya, Saat ia kelas tiga sekolah menengah atas aku masih seorang gadis kecil tingkat kedua seragam putih biru. Aku masih ingat dengan jelas saat ia menjemputku dengan motor vespa cream lusuh yang sudah hampir hilang warna cat nya.
November 2010
“Eilyn kan ?” ia melepas helm jadulnya tepat dihadapanku yang berdiri digerbang sekolah SMP Bhakti Bandung.
“Siapa ?” Aku melihat kearahnya dengan tatapan menyelidik. Bukan hal asing jika ada siswa SMA menjemputku saat pulang sekolah karena mereka teman dari Eriz, tapi sepertinya kali ini aku melihat wajah asing yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
“Motor Eriz mogok, jadi dia suruh aku jemput kamu” ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya.
“Ryn.....” Aku berusaha menggeser tali tas punggung yang menutupi nametag di d**a sebelah kanannya yang membuat ia terkejut.
“Ryn Arzian T” Aku menatapnya dan tersenyum
“Tambunan, Tragedi atau..... t***l?” Aku tersenyum jahil
“Benar yang dibilang Eriz, Kamu cerewet”
“Kak Ryn T buruan antar aku pulang, udah laper” Aku mengambil helm yang tersisa dan memakainya, ia masih sedikit terkejut sebelum akhirnya menghidupakan mesin vespa tua yang terdengar sedikit bising.
“Kak Ryn” Tak ada sahutan
“Ryn....” Aku sedikit berteriak
“Kamu temen Bang Eriz Kan ? Kok nggak pernah keliatan main kerumah ?” Belum sempat ia menjawab pertanyaan tak pentingku tiba-tiba vespa yang kami tumpangi terhenti.
“Kalo nggak suka aku tanya-tanyain bilang, jangan berhentiin aku dipinggir jalan dong” Aku mendengus kesal dan turun dari vespa diiringi dengan hujan rintik mengawali November tahun ini.
“Motornya mogok Lyn”
Ia turun dan menuntun vespa cream, aku berjalan mengirinya.
“Bengkelnya masih jauh, kamu naik ojek aja ya?”
“Kenapa sih kalian nggak ganti motor, betah banget sama motor jadul. Selalu gini, nggak Eriz nggak Temennya selalu mogok dijalan” Aku mengoceh dengan hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.
“Sorry ya, jadi bikin kamu kehujanan” Ia memberikan satu cup cilok denganku.
Aku masih memandangi butiran hujan yang mebuat kami berdiam diri dibawah rindangnya mahoni jalanan.
“Nggakpapa, udah lama nggak mandi hujan” Aku tersenyum kearahnya.
“Mau mandi hujan lagi ?” Ia melihat kearahku dan kubalas dengan anggukan.
“Lyn, hantu lampu jalan suka dengan orang yang sering ngelamun loh” Ia membuatku berhenti bernostalgia.
“Katanya lampu jalanan nggak ada hantu”
“Kalo liat orang ngelamun dia berubah jadi ada”
Aku tersenyum lagi dan lagi untuk malam ini, dan itu karenanya, Karena seorang Ryn.
“Hujannya kok malah semakin deras” Aku menghembus nafas kekesalan.
“Mau mandi hujan lagi ?”
Aku menoleh kearahnya dan tertawa keras diiringi dengan tawanya.
“Ryn kamu jadi pergi berlayar besok?”
“Iya, kenapa ? mau nitip gurita raksaksa atau megalodon?” ia menatapku kembali dengan senyum manisnya.
Aku akan mengatakannya, aku bosan memendamnya sendiri.
Aku sedikit ragu tapi ini harus jika aku ingin melangkah lebih jauh dengan atau tanpanya.
“Ryn, aku bukan anak kecil lagi kan?” Aku bertanya tanpa menatapnya, mataku tetap tertuju kearah lampu jalanan yang tetap padam.
“Oh iya, udah duapuluh tahun ya ?” Aku menoleh kearahnya
“Kata orang umur duapuluh memasuki masa dewasa, tapi bagi Eriz kamu tetap adik kecilnya” ia melanjutkan pembicaraan.
“Kalo menurut kamu?” Aku bertanya dan kali ini menatapnya
“Tetap Lyn cerewet seperti yang pertama aku kenal enam tahun lalu” Jawabannya menohokku dan membuatku kembali ragu.
“Jadi apa kamu bakalan marah kalo aku bilang aku suka Ryn?” Aku berbicara dibawah kesadaranku, dan aku mengutuk diriku sendiri.
Aku melihat keterkejutannya yang berusaha ia tutupi
“Sejak kapan?” Ia bertanya dengan nada yang nyaris tak terdengar, bukan karena suaranya kecil tapi karena hujan malam ini semakin deras.
“Dari awal aku memanggilmu kak Ryn” Aku menunduk menahan malu
Dering Handphonenya membuatku menengadah, aku merasaa sedikit beruntung bisa bersembunyi dari rasa malu.
“Ara ?” tanyaku melihat kelayar handphone diatas meja yang menunjukkan nama Ara dengan lambang hati kecil.
“Lyn”
“Aku malu” Aku bergumam sambil tertawa dan sekali-kali menahan isak.
“Aku pulang, Takut Bunda nyariin” Aku bergegas berdiri dan terhenti ketika kaki sampai dikotak terakhir keramik yang basah terkena hujan.
Suara gemuruh mulai bersahutan.
“Lyn Hujan, kamu mau mandi hujan lagi?” ia berusaha mencegahku dan berdiri disampingku. Handphonenya tetap berdering dan aku yakin itu Ara, aku benar-benar seorang pengganggu.
“Nggak ada lagi lampu jalan yang mati selain lampu didepan rumah kamu kan?” Aku bergumam seperti bertanya kepada diriku sendiri
“Aku mau mandi hujan lagi Ryn, tapi aku takut hantu lampu jalan makanya aku mau pastiin kalo gaada lampu lain yang mati sampe kerumah aku” Kali ini aku kembali bicara dengan suara bergetar.
“Aku antar ya?” ia mengambil payung yang terletak disamping kursi rotan, entah sejak kapan ada payung berwarna abu-abu tergeletak disana.
“Aku mau mandi hujan sendirian Ryn” Aku menatapnya sambil tersenyum dan berlari mengabaikan hujan November yang menyapa.
Aku berlari hanya melewati tujuh rumah dan berbelok disebuah pertigaan, lima rumah setelahnya aku sampai dan disambut dengan lelaki jangkung yang amat kurindukan
“Bang Erizz” Aku berteriak hendak memeluknya tapi ia berjalan mundur dan memelototiku
“Anak perempuan pulangnya hampir jam sepuluh malem ya?” ia memberiku pertanyaan yang selama ini biasanya sering dilontarkan bunda.
Aku gelagapan, biasanya saat bunda bertanya aku akan menjawab “Dirumah Ryn” dan bunda akan mengizinkanku masuk. Aku hampir menjawab alasan yang sama sampai aku ingat jika dihadapanku bukan bunda, ia akan menelantarkanku dijalanan jika ia tau aku dirumah Ryn.
“Dirumah Ryn?” Ia menatapku sejenak yang membuatku tergagap.
“Keringkan badanmu, dari dulu kamu nggak bersahabat dengan hujan” ia melangkah kedalam rumah dan aku mengikutinya dari belakang.
Aku membaringkan badan diatas kasur, takpeduli dengan Eriz yang baru pulang kerumah. Hari ini aku benar-benar patah dan diselimuti rasa malu.
“Apa dia tidak menghubungiku hanya untuk bertanya apa aku sampai rumah dengan baik-baik saja? Biasanya ia akan menyarankan untuk meminum satu bungkus tolak angin atau menyuruhku menyeduh segelas cokelat panas jika ia melihat aku bersentuhan dengan hujan, tapi kali ini tidak. Aku tak mendengar dering handphone dengan nada khusus untuk notifikasi darinya.
“Lyn, mau bunda buatkan indomie kuah?” suara bunda terdengar dibalik pintu.
“Enggak bun, Lyn ngantuk mau tidur”
“Ryn barusan telpon bunda nanyain kamu” Kali ini aku bangkit duduk, apa aku mensilent handphoneku sampai-sampai Ryn menghubungi bunda?
Aku mencari handphoneku dan menghiraukan bunda,
Omaygat, aku merutuki diriku sendiri. Bagaimana bisa aku meninggalkan handphone diatas meja teras rumah Ryn. Aku benar-benar bodoh, bagaimana caraku mengambilnya besok.
“Lyn...” Ternyata bunda belum pergi dari pintu kamarku
“Bilang ke Ryn, aku udah tidur bun” Ucapku terakhir sebelum akhirnya membenamkan kepala diatas bantal biru muda dengan corak abstrak milikku.
...............................
“Lyn, bangun ada Ryn didepan” Suara bunda membuatku membuka mata
“Lyn ngantuk bun” aku berusaha menolak terbangun, aku tak ingin bertemu dengan Ryn lagi, aku malu.
Aku mendengar suara pintu tertutup memberi tanda jika bunda telah meninggalkan kamarku.
Aku berdiri membuka sedikit tirai jendela kamar, memberi sedikit celah untuk mataku mengamati dua laki-laki yang sedang duduk diteras dengan dua gelas kopi yang sudah tidak beruap lagi. Hal itu memperjelas jika mereka sudah cukup lama berbincang, atau bahkan saling diam.
Aku melihat lelaki jangkung dengan celana penek selutut berbaju kaos hijau tosca yang aku tahu itu abangku menepuk pundak laki-laki yang kalah jangkung darinya dengan pakaian rapi lengkap dengan topi hitam yang bertengger dikepalnya.
“Bye Rin....” aku bersuara lirih sambil menahan isak, sampai akhirnya aku tersadar mata itu tertuju kearah kamarku dan mata kami bertemu sebelum akhirnya ia pergi dan hilang dari pandanganku.
Aku merutuk kesal, ini bukan perpisahan untuk selamnya. Ia hanya pergi tiga bulan lalu kembali atau paling lama ia pergi enam bulan lalu kembali. Ia bukan seperti orang yang akan menjalankan wajib militer, Dua tahun pergi lalu kembali. Tapi entah mengapa aku merasa takakan ada lagi pertemuan menyenangkan seperti tadi malam atau seperti hari-hari sebelumnya.
Ryn..
Biasanya aku merindukanmu saat seminggu lebih kepergianmu,
Tapi kali ini aneh Ryn, aku merindukanmu bahkan saat kau masih terduduk manis didepan teras rumahku.
Ryn, aku taktau rahasia waktu
Tapi jika diizinkan aku ingin waktu menyembuhkan lukaku
Kukira enam tahun memendam rasa itu menyakitkan, itulah alasan aku menyatakannya, aku ingin terlepas dari belenggu rasa sakit itu.
Tapi nyatanya, bahkan setelah aku menyatakannya sekalipun ternyata rasa sakit benar-benar bersahabat denganku.
Ryn, apa aku harus tetap menunggu?
Atau aku harus menjelajah sampai Eropa dan kota-kota bersejarah didalamnya untuk melupakanmu ?
Atau aku harus mencari orang yang baru?
Kamu belum menjawab Ryn, dan itu yang membuat bimbang kembali memenuhi kepalaku.