Perasaan itu hadir berawal dari sebuah rasa penasaran, Setidaknya hal itu yang aku ingat ketika tuhan menghadiahiku anugrah berupa rasa CINTA ( mungkin )
Bukan hal asing bagiku ketika terbangun dipukul 07.00 pagi, yang asing bagiku saat rasa rindu mengahantui bersama mata sembab yang mungkin tak mampu aku sembunyikan.
“Mau pergi jam berapa ?” Satu suara mengagetkan lamunan singkatku
“Aku mau balik ke Malang nanti sore jadi buruan kalo mau diantar ke kampus” Suara itu kembali menyahut lagi.
“Tapi Lyn cuma ada kuliah siang bang” Aku menatapnya kesal.
“Mau minum kopi? biar mukanya nggak keliatan serem lagi?” Ia berusaha membujukku untuk terbangun, aku menggeleng.
“Voucher makan siangnya mau disia-siain juga nih?” lanjutnya.
Aku tersenyum jahil kearahnya sambil mengacungkan jempol.
“Kukira patah hati bakalan bikin kamu ngelupain makanan ternyata enggak” ia mengacak rambutku hingga benar-benar berantakan.
“Pacar aku itu makanan, mana bisa aku pisah sama dia” ucapku saat ia berjalan menuju pintu.
“Buruan aku tunggu lima menit, kalo nggak voucher makannya hangus”
“Abang gila, gimana aku bisa siap-siap dalam waktu lima menit?” Teriakku diiringi dengan ia yang menghilang dibalik pintu
***
Sentuhan warna abu-abu membuatku menunda menikmati segelas espresso panas dengan racikan whipped cream dan taburan kayu manis dihadapanku, aku dapat melihat tanaman kaktus berjejer rapi dibalik jendela disampingku. Dinding dengan sentuhan lukisan kecil tak beraturan yang membuatnya sedikit berantakan tapi mampu meninggalkan sedikit kesan.
Suasana yang sepi, hangat dan juga menenangkan ini sangat cocok untuk dinikmati oleh siapapun yang sedang merasa patah hati. Aku menghisap seteguk espresso dihadapanku dan yang kurasa hanya rasa pahit dengan aroma kuat kayumanis.
“Baik-baik aja kan?” Eriz bertanya kearahku.
“Nggak juga, hanya seperti rasa espresso murni mungkin” aku tersenyum kearahnya.
“Abang nggak marah ?”
“Tentang apa? Ryn? Aku rasa kalian bukan anak kecil yang bakalan berusaha buat saling nyakitin, jadi aku nggak perlu ikut campur dengan masalah kalian” Ia menatapku lekat.
“Ryn nggak pernah nyakitin aku, aku aja yang nyakitin diri sendiri juga nyakitin dia” aku tersenyum sambil menyeka air mata yang terus jatuh.
“Mau ganti kopi?” ia menatapku yang meneguk habis minuman dihadapanku, aku hanya diam.
“Aku harus ke Malang sekarang” Ia menatapku setelah menerima panggilan telphone.
“Makan siang?”
“Aku ganti ya? benar-benar urusan penting tentang pekerjaan. Oke? “ ia menatapku dengan rasa bersalah.
“No problem, semoga urusannya lancar. Dah” ia berdiri dari kursi dan membiarkanku kembali dengan suasana bisu.
***
Sudah limabelas menit sejak Eriz meninggalkan cafe tapi aku masih belum beranjak berdiri, aku melihat layar handphone dan melihat jam masih menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh menit. Masih ada waktu empat jam sebelum kuliah dimulai dan aku bingung harus kemana, tidak mungkin untuk pulang kerumah karena akan membutuhkan waktu tiga puluh menit.
“Orang patah hati harus nyobain ini” satu gelas Affogato diletakkan oleh seseorang diatas mejaku.
Aku menatap laki-laki dengan senyum lebarnya berdiri di dekat mejaku, rasanya seperti aku pernah melihatnya.
“Patah hatinya belum selesai?” Aku masih kesulitan dengan pikiranku, tapi dia tiba-tiba memberiku pertanyaan baru sambil menarik kursi dihadapanku.
“Apa kita pernah ketemu” Aku menatapnya menyelidik, apakah ia bisa membaca fikiran seseorang ? bagaimana dia bisa tahu tetang perasaan seseorang ?
“Hujan pernah bikin kita ketemu secara nggak sengaja” ia menatapku lagi.
Pikiranku sedang benar-benar kacau sehingga aku benar-benar sulit untuk mencerna semuanya.
“Kamu bisa datang kapan-kapan kesini, kalau malam bakalan ada penampilan dari band-band favorite Bandung” ia kembali bicara, lagi.
“Oke, aku bakalan datang lagi kalau disini udah sediain Wifi” aku tersenyum kearahnya dan pergi meninggalkan meja, sebelum keluar aku berbalik.
“Oh ya, aku nggak pernah pesan Affogato, itu bukan minuman yang cocok buat aku” Aku melangkah keluar dengan kepala yang benar-benar pusing.
Ryn, separah inikah dampak dari penolakanu ? membuatku terus berfikir tentang bagaimana aku kembali bertemu denganmu, tentang bagaimana aku kembali memulai percakapan tanpa rasa malu ? Aku benar-benar orang yang paling tak tahu malu dimuka bumi ini Ryn, bagaimana bisa aku dengan percaya dirinya mengungkapan perasaan yang seharusnya tak harus kukatakan.
***
" Apa kamu sama sekali tidak memperhatikan slide didepan ?" Suara Sasa teman baikku memecah lamunanku.
" Kamu tau aku nggak suka fisika bukan? pasang surut dan gelombang bukanlah sahabatku" ucapku tanpa menatap kearahnya.
"Setidaknya kamu jangan buang-buang kesempatan menatap dosen tampan kan?" Sasa menarik tanganku.
"Dosen dan matakuliah sama-sama membosankan" ucapku sambil memejamkan mata.
***
“Suka pertunjukkan seni juga ?” suara disampingku membuatku sedikit terkejut.
“Aku bukan anak kopi atau senja, bukan juga penikmat musik, apalagi musik sendu” aku menatap kearahnya, kurasa ini bukan kali pertama aku melihat orang ini.
“Ini pertunjukkan musik kampus, ternyata kamu benar mahasiswa kampus ini” ia kembali bercakap dengan senyuman yang sama.
“Oh iya kamu orang yang di kafe kemarin” aku sediikit mengeraskan suaraku dan ia hanya membalasku dengan tersenyum.
Alunan musik dengan suara masih terdengar diiringi suara sorai para mahasiswa yang lelah dengan tugas kuliah, Aku berdiri seperti anak yang kehilangan induknya, ya Salsyabilla Ananta atau yang biasa ku panggil Sasa pergi dari tiga puluh menit yang lalu dan belum kembali. Suasana dingin dan suara dengungan nyamuk menandakan jika hari benar-benar sudah malam, tak jarang aku menepuk pipi atau betisku yang terbungkus celana dasar berwarna cream untuk berusaha mengusir nyamuk yang hinggap.
“Sendiri ?” suara itu membuatku sedikit terkejut lagi.
“Kesini sendiri ?” ulangnya membuatku sedikit tersadar.
“Sama temen, tapi tadi bilang kebelakang sebentar dan belum balik, oh ya sekarang jam berapa ? Handphone aku mati habis batre” aku bertanya kearahnya setelah melihat handphoneku yang benar-benar mati total.
“Delapan lewat dua belas menit” ujarnya sambil menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
“Oke makasih” aku semakin bingung dengan Sasa yang tak kunjung datang, sedikit cemas bagaimana jika sesuatu terjadi dengannya.
“Bisa pinjem handphone kamu bentar?” aku kembali bertanya dengan laki-laki menjulang teman bicaraku yang bahkan aku sendiri belum tahu namanya. Ia mengulurkan handphone dengan case berwarna hitam.
“Nggak jadi” aku berkata pelan, ia mengernyitkan kening.
“Aku nggak hafal nomornya” aku menambahkan lagi.
“Teman kamu ?”
“Mau charger HP dulu ?” tanyanya beruntun.
“Nggak ada tempat charger disini”
“Dibelakang panggung biasanya ada, kamu bisa bilang sama panitia acaranya” ia berkata lagi kearahku.
“Emang boleh ?”
“Boleh, kan keadaan mendesak” ia tersenyum lagi.
Aku berjalan kearah belakang panggung tempat para panitia pertunjukan musik kampus dan melihat kearah tempat charger dan penuh dengan lilitan kabal yang mungkin digunakan untuk sambungan lampu disekitar tempat pertunjukan.
“Mau ke Oseana?”
***
Aku duduk dipojokan kafe yang pernah kudatangi dua hari yang lalu bersama Eriz, setelah laki-laki yang kutau Anonim tersebut menawarkan untuk ke Oseana dan ternyata kafe ini, aku terpaksa mengiyakan karena benar-benar khawatir soal Sasa, hujan mulai turun dan dapat aku lihat dijendela Oseana.
“Udah tau kabarnya?” suara tersebut kembali membuatku terkejut.
“Lupa bawa charger” aku tertunduk pasrah, kenapa aku bisa nggak bawa charger yang biasanya selalu bertengger didalam tasku.
“Pakai ini” ia menjulurkan charger handphone kearahku.
Lyn, aku duluan pulang. Papa aku pulang cepat hari ini, Sorry ya ninggalin kamu sendiri
Sasa, 07.45
Satu pesan w******p dari Sasa dan tiga miscall yang baru aku lihat membuatku menghela nafas.
“Aku duluan ya, ada kegiatan mendadak. Jangan lupa minum kopinya sebelum pergi- Osean ”
Satu kertas berwarna biru dengan segelas espresso panas dihadapanku, kapan ia meletakkan ini ? Aku terlalu sibuk dengan handphone sampai tidak sadar dengan ketiadaannya.
Ternyata, dia Osean ?