Membantu Rio mencarikan hadiah untuk mamanya bukan hal yang sulit. Lilith bahkan sudah mengira-ngira untuk mmbelikan apa saja. Yang ada di benak Lilith adalah sepatu olahraga, mengingat Tante Tari adalah wanita yang tak akan melupakan paginya untuk jogging dan selalu memimpin senam di setiap akhir pekan di depan komplek. Atau sesuatu yang biasa dipakainya adalah tas tenteng yang elegan, Rio bahkan sudah menyetujui pendapat Lilith sewaktu di perjalanan. Namun yang membuat semua itu menjadi sulit adalah opini Abimanyu dan Lusy yang saling bertentangan.
"Parfum aroma lavender atau mawar bulgaria, percaya sama gue Tante Tari pasti suka!" ia mengajukan pendapat ketika Lilith dan Abimanyu sibuk mencari ukuran sepatu yang pas.
"Ih, apaan sih, Abimanyu mah nggak tahu apa-apa soal cewek. Cewek tuh suka hal yang paling romantis kaya dikasih cokelat atau beruang gitu!" Lusy membantah.
Sementara itu Rio diam-diam bergumam, "Di saat situasi kaya gini, ereka tuh nggak berfaedah banget."
Lilith cuma mendenguskan tawa dan beralih ke toko lain. Sementara itu yang lain mengikuti di belakangnya untuk memilah tas. Ketika Lilith mengambil tas kulit berwarna mocca, Rio memberi komentar, "Mama gue nggak suka warna kaya gitu, dia suka warna yang gonjreng-gonjreng like pink, kuning—"
"Iya, paham. Mama lo memang unik," timpal Abimanyu.
"Tapi warna kaya gitu tuh silau banget, Gerioooo! Jangan sampai orang yang lihat jadi harus pakai kaca mata, kan nggak lucu," itu pendapat Lusy.
Lilith mendesahkan napasnya dan mencari yang lain. Ia mengambil warna pastel. "Warna ini gimana? warna merah mudanya soft dan nggak terlalu bikin sakit mata. Warna pastel ini lagi hits di kalangan remaja, lho."
"Mama gue bukan remaja lagi," Rio akhirta berkomentar, ia memberika senyum masam pada Lilith. "Warna peach ada nggak?"
"Warna peach itu kaya apa ya… eum…" Lusy tampak mengingat sesuatu. Lantas ketika ia menemukan jawabannya, ia segera melanjutkan. "Peach kan kaya p****t, Rio!'
"Tapi kan itu cuma warna, Nany Lusiana!" Rio gemas, ingin sekali mencubitt pipi gembil temanya itu.
"Nancy, bukan Nany! Nany itu bahasa Jepang, tahu!" protes Lusy.
"Artinya apa?" Rio bertanya.
"Apa!"
"Dih, ditanyain sewot!" Rio membalas sewot.
"Aku udah jawab, Rio! Nani nggak pake Y itu artinya apa!" Lusy memajukan langkahnya dan berhadapan dengan Rio.
"Iya, gue nanya, kalau memang bener lo tau, artinya apa? Kok lo malah balik nanya gue, sih?"
Lusy menghentakkan kaki. "Dah lah! Nggak usah berkawan sama Rio!" Lusy pura-pura merajuk dan hendak pergi ke luar toko. "Lusy pulang duluan! Lusy nggak mau bantu Rio!"
"Sejak awal yang minta dibantuin siapa, sih? Kan lo yang menawarkan diri," ujar Rio.
"Tau ah!" Lusy kembali berjalan keluar,
namun kerah belakangnya ditarik oleh Abimanyu. "Lo mau pulang naik apa?"
"Motor lah!"
"Lo kan bonceng Rio!"
"Kan bisa naik angkot!" Lusy pura-pura marah.
"Iya, besok kalau foto lo dipajang di tiang listrik tau rasa!" ejek Rio. Membuat Lusy kembali menghentakkan kakinya dan segera berbalik menghadap Rio.
Lilith lantas tertawa dan melirik Abimanyu. Saat itu lah, Abimanyu berucap, "Kamu tahan sama Lusy?" lalu tangan kanannya mulai merangkul Lilith.
Karena merasa canggung di depan Rio, jadi dengan gugup Lilith mengusulkan untuk mencari hal lain.
Melihat Abimanyu berjalan dengan merangkul Lilith, Lusy yang mulanya memasang raut merajuk kini menyikut perut Rio. "Tuh, kan, kalau nggak ada aku kamu bakal jadi obat nyamuk!" lalu ia tertawa saat Rio menatapnya seolah siap melahap gadis di hadapannya ini. Namun hal tersebut tak membuat Lusy takut. "Tuh, kan, udah bau obat nyamuk bakar, hati kamu berasap ya, Yo?" Seperti biasa, jika sudah dalam mode annoying, Lusy tak akan berhenti menggoda lawannya sampai ia merasa puas.
Rio menarik napas dalam dan berdoa semoga kesabarannya menghadapi Lusy masih cukup untuk malam ini. Ia lantas menyentuh bahu Lusy dan memutarnya. Mendorong punggung Lusy agar cepat menyusul Lilith dan Abimanyu.
Tak lama setelah itu, Rio berhenti di depan toko sepatu bayi. Mendadak, ia teringat adiknya Dara. Rio lantas menarik tangan Lusy untuk ikut dengannya ke dalam. Ia menemukan sepatu bayi yang lucu berwarna pink dengan kepala beruang berpita di bagiaan depannya.
"Aaa… Lucu!" komentar Lusy. Ia lantas meraih satu set sepatu imut itu. "Rio! mau iniiii!"
"Dih, apaan sih!" Rio membekap mulut Lusy saat penjaga toko tersebut menatapnya dan tertawa. "Nanti mereka ngira kita punya baby!"
Lusy yang baru menyadari pun ikut membekap mulutnya. Ia mendekati Rio. "Emang wajah aku kelihatan kaya tante-tante gitu, ya? Kok mereka ngira aku punya baby, sih?"
Mendesahkan satu hela napas, Rio lantas menjawab. "Enggak. Jelas enggak. Lo itu imut, kok!" Imut kaya bayi tikus, maksud Rio. Sebab jika ia menentang perkataan Lusy, tidak akan ada habisnya.
Jadi di sana, Lusy tersipu dan mendorong Rio. "Aw! Makasih, Sayang!"
Rio tersentak, penjaga toko tertawa lirih. "Kalian ini pengantin baru, ya? Tapi kaya masih SMA gitu."
Tidak, kok. Rio tidak malu karena ia didorong oleh Lusy. Ia hanya malu ketika gadia itu justru memanggilnya dengan sebutan sayang dan penjaga toko benar-benar mengira mereka seperti sepasang suami istri. "Ngadepin cewek kaya lo emang serba salah. Diiyain bikin malu, disangkal bikin jengkel!"
Karena mereka sudah membuat onar. Akan bertambah malu jika Rio tidak membelinya. Jadi pada akhirnya Rio membeli sepasang sepatu cinta pertamanya untuk sang adik, Dara. Setelah mereka membayar dan hendak keluar, ternyata Abimanyu dan Lilith sudah menunggu mereka di sana. Rio tak begitu memperhatikan Lilith karena gadis itu berada di balik punggung Abimanyu, namun Rio mengalihkan atensi untuk Abimanyu yang mengulurkan sebuah paper bag untuk Rio.
"Lo masih mau nyari lagi? Kalau iya, gue kayanya harus pulang duluan sama Lilith, dan ini tadi gue beli parfum buat mama lo."
"Segala beli parfum, padahal gue yang udah ngrepotin kalian. Tapi makasih deh, ya. Mama gue pasti suka." Rio tidak memperhatikan Lilith sampai Lusy yang mendekatinya dan bertanya, "Kakak kenapa? Kok nangis?"
To be continued...